Garuda di Dada Sang Bocah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 April 2017

Di bawah sinar matahari pagi, sang bocah berjalan menuju lapangan sepakbola. Tangan kanannya menjinjing sepatu bola, sementara tangan kirinya mengapit sebuah bola di antara badannya. Aku alihkan pandanganku menuju lapangan sepakbola yang tampak masih sepi. Tidak lama kemudian sang bocah sampai di lapangan sepakbola yang ditujunya, dipakainya kaos kaki dan sepatu bolanya. Setelah selesai sang bocah melakukan pemanasan melemaskan otot-otot di kaki dan tangannya agar tidak kram, kemudian berlari-lari kecil mengitari lapangan sepakbola.

Aku yang dari tadi mengamatinya dari kejauhan, dari atas rumahku, bergegas turun menuju lapangan sepakbola untuk mengamatinya lebih dekat lagi. Sesampainya di lapangan sepakbola aku lihat sang bocah tidak lagi berlari-lari kecil mengitari lapangan sepakbola, sekarang sedang menimbang-nimbang bola (jugling) dengan kedua kakinya, bahunya dan kepalanya, seperti Irfan Bachdim ketika sedang membawa bola menyisir sisi kiri pertahanan lawan. Tidak hanya jugling, setelah itu sang bocah memainkan bola di antara kedua kakinya dengan sangat cepat, seperti Boaz Solossa ketika sedang menggiring bola melewati beberapa pemain di sisi kanan pertahanan lawan. Tidak hanya itu saja yang aku lihat, selanjutnya sang bocah memperlihatkan kecepatannya berlari sambil membawa bola disertai gocekan ala samba, seperti Bambang Pamungkas ketika sedang membawa bola menusuk jantung pertahanan lawan dengan skill dan akselerasinya.

Aku kagum pada sang bocah, skillnya sungguh luar biasa, diatas rata-rata untuk ukuran pemain sepakbola seusianya. Aku taksir usianya antara 9 atau 10 tahun. Kemudian aku mendekatinya,
“Hallo, apa kabar?” tanyaku mulai mengakrabkan diri
“Baik, Om!” jawabnya dengan memanggilku “Om”
“Skill kamu bagus. Kamu berbakat jadi pemain sepakbola” ucapku
“Terima kasih Om. Sepakbola olahraga favoritku, dari umur 6 tahun kelas 1 SD aku bermain sepakbola” balasnya
“Oh ya… kalau begitu kamu pasti punya klub favorit dan pemain idola?” tanyaku
“Klub favoritku AC Milan, pemain idolaku Kaka’. Kalau timnas, favoritku Italia dan Indonesia, Pirlo dan Boaz Solossa idolaku” jawabnya penuh semangat
“Apa kamu ingin menjadi pemain sepakbola kalau sudah besar nanti” tanyaku lagi
“Iya Om, cita-citaku ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Aku ingin mengenakan jersey Garuda, membela timnas Indonesia” jawabnya penuh semangat

Setengah jam kemudian, ketika sedang asyik ngobrol dengan sang bocah, pelatih dan teman-temannya datang untuk mulai latihan sepakbola. Aku pun berlalu meninggalkan sang bocah dengan perasaan senang dan bangga. Senang… ternyata klub favorit dan pemain idola sang bocah adalah AC Milan dan Kaka’, sama seperti aku. Bangga… karena dibalik semangatnya, sang bocah mempunyai cita-cita ingin mengenakan jersey Garuda, membela timnas Indonesia. Garuda di dada sang bocah, semoga bisa terbang lebih tinggi lagi. Semoga cita-cita sang bocah membela timnas Indonesia tercapai. Aamiin… Maju terus sepakbola Indonesia.

Selesai.

Cerpen Karangan: Doni Eka Saputra Oktora Siregar
Facebook: Donie Kaka Meravigliosi

Cerpen Garuda di Dada Sang Bocah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebungkus Rindu Untuk Sahabat Wanita

Oleh:
Tadi siang, di sekolah aku memperhatikan seorang wanita berpipi chubby itu. Dia menari di hadapan banyak orang, dia kurang tersenyum dalam setiap langkah yang ia tap, tap, tap kan

Teman Dekat Rumah

Oleh:
Sesekali aku melihat fotonya yang ada di laptopku, dia tampan, manis, baik, dan gak pernah berbuat yang tidak baik. Walaupun dia cowok, tapi dia gak gengsi seperti temannya yang

In Your Eyes

Oleh:
Lonceng yang terbentuk dari logam kuningan yang tergantung di depan ruang guru berdentang tiga kali tanda jam pelajaran berganti dengan waktu istirahat. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas dan menghambur

Latihan Drama

Oleh:
“Hey nanti kumpul ya untuk latihan drama?” kataku. “kenapa tidak besok saja? Sekarang gue mau pergi bersama saudara!” tanya Ernest. “Iya, sekarang gue juga sibuk” kata Gunawan dengan ikut

Deret Tinta Untuk Negeri

Oleh:
Apakah aku bisa banggakan orangtuaku, banggakan negeriku, banggakan bangsaku, banggakan tanah airku, apapun keadaanku? Aku ingin menjadi anak yang hidup normal seperti sebayaku. Menapaki setiap detik waktu belajarku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *