Hanya Satu Kali Setahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 December 2016

“Lo kenapa, Fel? Muka ditekuk kayak lepet begitu?,” tanya Riska saat melihat sahabatnya makan dengan lahap, namun seakan ia hendak memakan piringnya pula.
“Tahu lu! Ada apaan, sih?!,” tanya Bram.
“Kalo ada masalah cerita, Fel. Jangan lu pendem sendiri, terus keluar-keluarnya api dah dari mulut lu! Naga aja kalah panasnya,” ejek Billy dengan gurauan ringannya.
“Tahu ah! Pusing gue!,” decah Felly dengan mengunyah kasar makanannya.
“Masalah?,” tanya Bram.
“Acara HUT. Lo tahu, anak-anak setuju semua kan dan berjanji sanggup buat ngurusin ini, tapi buktinya apa, hah?! H-3, mereka nggak ada semua. Mereka pikir gue robot apa? Gue juga kewalahan masalah ini!,” kata Felly dengan seluruh nada kekesalan di setiap katanya.
“Kenapa nggak lu kumpulin aja ketua dari setiap kelas? Kan dari situ, kita bisa tahu kinerja mereka masing-masing. Kalau lo kayak begini terus, gimana lo bisa mantau mereka?,” ucap Riska santai.
“Eh! Lu bener juga ya. Tapi, gimana caranya?,” tanya Felly.
“Duh, Fel! Lu tuh kelas excellent, tapi begonya nggak ketulungan! Ya tinggal pengumuman di TU, kenapa?!,” kata Billy menyahuti dengan gemas.
“Lagipula, nggak ada yang namanya pemimpin nggak punya hak untuk mengumpulkan rakyatnya hanya untuk sekedar melihat kinerja mereka atau hanya sekedar menampung seluruh pemikiran mereka,” ujar Bram.
“Iya juga, sih!”
“Lu nggak sadar kalau lu punya wakil, gue?,” tanya Riska dengan melebarkan matanya.
“Hehehehe, ya maaf atu!,” kata Felly nyengir.
Mereka bertiga hanya menanggapi Felly dengan melanjutkan makannya. Karena merasa dicuekin, Felly pun ikut makan bersama mereka. Tapi kali ini, ia makan dengan begitu tenang. Seakan, seluruh permasalahannya selesai setelah sedikit perbincangan mereka tadi.

Felly memasuki aula setelah ia mengumumkan pengumpulan para ketua kelas untuk membahas perkembangan kinerja serta persiapan menuju HUT. Wajahnya yang damai kembali terasa terbakar saat ia mendapatkan laporan mereka. Bagaimana tidak? Hari perayaan hanya kurang tiga hari. Sedangkan, persiapan masih tersedia nol koma lima persen.
Seketika Felly naik darah. Mulut naganya seakan hendak menyembur. Begitu juga dengan tatapan tajam singanya yang hendak menyantab mangsanya. Namun, semuanya terhenti saat Riska menghentikan Felly hanya dengan sorotan matanya yang memperingatkan. Billy dan Bram yang ikut menjadi anggota, hanya bisa tertawa melihat hidung Felly yang kembang kempis karena menahan amarah.
“Ok, di sini saya akan membagi tugas kalian,” ucap Felly dengan seluruuh ketegasannya.
“Udah lah, Kak. Kita terima aja apa adanya yang diberikan sekolah. Toh, tugas kita kan belajar. Bukan membuat acara-acara seperti ini. Ditambah lagi, nggak semua dari kita yang menginginkan cita-cita sebagai pengisi acara,” kata salah satu anak dari kelas sebelas.
“Apa kamu pikir hanya belajar saja cara kita mengisi kemerdekaan? Apa kamu pikir negara kita sudah merdeka sepenuhnya? Enggak!!! Negara kita masih terjajah. Kalian nggak pernah sadar bagaimana bangsa lain menjajah kalian. Mereka menjajah kita dengan teknologi yang dapat merubah kebiasaan aktivitas kalian serta budaya kalian. Begitu juga dengan moral kalian. Jika kalian masih memiliki moral, kalian akan berpikir bagaimana caranya menjadikan negara kalian negara yang berbeda dengan seluruh persatuan berdasarkan pancasila. Kenapa saya bilang seperti ini? Kalian tidak dapat mengerjakan tugas secara kelompok, karena kalian mementingkan urusan kalian sendiri di dalam gadget kalian ketimbang, berbaur bersama yang lain, dan meninggalkan gadget sejenak,” ucap Felly panjang lebar.
“Guys! Kalau negara kita merdeka, nggak akan ada kemiskinan. Undang-undang bilang, kalau kemiskinan akan ditanggung oleh pemerintah. Tapi, apakah pengemis pantas mendapatkan hal itu? Sedangkan, mereka masih mampu mengasah kemampuan mereka? Jika bukan kalian yang memberantas, lalu siapa lagi? Apa kalian nggak miris, mendengar presentase bagian tambang emas yang hanya diberikan kepada Indonesia sebesar nol koma satu persen. Sedangkan, sisanya dikuasi oleh negara baian eropa? Ayolah coba kita berpikir kritis,” kata Riska menambahi.
Suasana musyawarah yang awalnya sangat ramai, seketika hening. Seakan, suara yang ada di sana tertelan oleh api ucapan Felly.

“Kalian itu maunya apa sih? Kita cukup berjuang kecil tanpa harus mengeluarkan darah dan sakit di medan perang. Kita cukup mengisinya dengan partisipasi. Ayolah, kita gotong royong dalam menangani masalah ini. Di sana juga, kita bisa membuat kenangan indah yang termasuk dalam perjuangan hidup kita untuk mencapai suatu tujuan,” tambah Felly.
“Ayolah, guys! Apa susahnya sih berpartisipasi? Kita bisa sekalian seneng-seneng loh dengan macam-macam lomba yang bisa kita tentukan. Kita juga bisa belajar hal baru dari solidaritas kita semua,” kata Bram yang ada di pojok belakang.
“Toh, dana juga udah tersedia. Kita tinggal melaksanakan tugasnya doang. Apa susahnya nyusun acara dan laksanakan,” lanjut Billy yang duduk di samping Bram.

Suasana masih hening. Bahkan suara jangkrik dan cicak, mungkin akan mengisi sunyinya ruangan itu jika mereka berdua ada di siang bolong bersama kembang kempis hidung Felly yang terus menanti jawaban dari setiap anggotanya. Karena merasa kesal, Felly turun dari kursi kekuasaannya dan mendekat ke peserta forum siang itu.

“Saya akan memberikan kalian keputusan. Saya nggak mau tahu, hari ini saya butuh tiga tim dari setiap kelas dengan anggota sepuluh orang. Sisanya, ikut Riska untuk menangani tugas lain. Saya akan membagikan absen setiap kelas, tulis di balik kertas ini mengenai tiga tim tersebut. Saya kasih waktu lima menit!,” kata Felly dengan mulai berjalan mengelilingi meja untuk membagikan absensi tersebut.
“Emang wajib, ya?!,” tanya seseorang saat Felly tengah ada di bangkunya dan memberikan kertas absensi.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia menggebrak meja dan menuding laki-laki itu dengan kobaran api yang ada di matanya. Billy dan Bram yang terduduk, seketika berdiri untuk melihat keadaan. Begitu pula Riska yang fokus dengan pengumpulan data, mengalihkan perhatiannya kepada Felly.
“Biasa aja kali, Mbak.”
“Seharusnya gue yang bilang kayak begitu. Lo ketua kelas!!! Tapi lo nggak pernah tahu moral serta aturan! Lo bukan makhluk individu yang bisa melakukan semau lo!!! Bapak Ibu lo mati-matian kerja buat bayar sekolah agar lo mendapatkan pendidikan dengan pribadi yang baik!!! Bukan kayak begini!!!,” bentak Felly.
“Fel-Fel! Udah!,” kata Bram dan Billy.
Felly tidak menjawab. Melainkan, ia ke luar kelas dengan meletakkan kertas di meja kehormatannya. Bram dan Billy mengejarnya. Sedangkan Riska mengendalikan ruangan dengan kepemimpinannya. Riska tahu, selama ini Felly berjuang sendiri menyelesaikan tugas sebanyak itu tanpa anggotanya.
Padahal, dia sudah berusaha mengajak, membaur serta bekerjasama dengan mereka. Felly bahkan berjuang demi ini semua sampai dia rela tidur di luar karena kadua orangtuanya mengunci pintu rumah Felly. Karena, Felly pulang sangat larut tanpa memberikan kabar setelah ponselnya lowbat. Memang, ada saatnya kita bergurau dengan pemimpin, ada saatnya pula kita menghormati dan juga mematuhi perintahnya. Karena sesungguhnya, tanpa ada pemimpin, maka negara tak akan dapat berjalan. Oleh karena itu, sejelek-jelek apapun pemimpin, menghormati dan menghargai sangatlah penting. Sesuai dengan apa yang sudah di katakan oleh Al-Qur’an.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook : Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
P.N.Z adalah nama yang selalu tercantum dalam setiap karya gadis ini. Ia lebih akrab di panggil Pratiwi Nur Zamzani.Terkadang, banyak orang yang memanggilnya nama Felly. Karena, ia selalu menggunakan nama tersebut di setiap karyanya.
Ia lahir di keluarga sederhana, dengan kelahiran Pasuruan 4 Juli 1999. Gadis ini telah menempuh pendidikan Menengah ke atas di SMA NEGERI 1 BANGIL, dan Menengah Pertama di SMP NEGERI 1 BANGIL.
Ia memiliki cita-cita sebagai seorang Dosen dan motivator. Ia berharap, dengan tulisan yang ia buat, ia dapat mengisnpirasi dan memotivasi kalian dengan karyanya. Sehingga, karya tersebut dapat bermanfaat dalam kehidupan kalian. Banyak karyanya yang sudah di muat di media masa. Kalian juga bisa melihat karyanya di cerpenmu.com dengan mengetikkan namanya di search pencarian. Atau menjadikan namanya sebagai kata kunci pencarian di google.
Jika kalian berminat, kalian bisa menyapanya dengan alamat Facebook Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih) atau melalui E-mailnya pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id

Salam dan Peluk Hangat
Pratiwi Nur Zamzani

Cerpen Hanya Satu Kali Setahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Uhh! Pengen Buang Air Besar

Oleh:
Pada saat bel istirahat aku langsung menuju ke kantin untuk membeli makanan dan minum karena pada saat pagi aku belum sarapan. Karena terlalu banyak makanan yang ku makan dan

New Year’s Eve Surprise

Oleh:
Bandung, 31 Desember 2013 at 06.30 WIB Aku terbangun dari tidurku, aku mulai membuka mata lalu aku mengerjapkan mataku saat mentari menyilaukan penglihatan ku dari sela sela jendela kamar

Pole In Love (Tiang Cinta)

Oleh:
Matahari mulai meninggi dengan sendirinya, Udara yang tadi hangat kini mulai perlahan panas, semerbak wewangian yang tak asing di hidungku terus menyengat. Ya, wewangian ini memang parfum alami dari

Siapa Namanya?

Oleh:
Ia memandangi situasi sekitar, langkahnya pasti dan terlihat anggun. Ia merasa semua orang mulai memandanginya karena kecantikannya, ia terus berjalan dengan pedenya dan saat ini malah semakin menjadi, ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *