Indestructible

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Ketika suara azan mulai terdengar, ayam mulai berkokok, cuaca semakin dingin, rasa malas pun mulai terasa oleh Dina, seorang siswi kelas VIII di sekolahnya. Tak lama setelah itu Dina pun bangun, ia segera berwudu dan kemudian segera salat dan bersiap pergi ke sekolah namun, setelah ia membuka pintu apa yang ia lihat bukanlah seperti yang ia lihat pada biasanya, ia melihat tanah tandus, gersang, dan seperti akan terjadi peperangan, seketika Dina menjadi syok ia merasa ingin pingsan dan pada saat itu juga, Dina pergi ke dalam rumahnya karena ia ketakutan, setelah beberapa lama, seseorang tentara masuk ke dalam rumah Dina.

“Cepat keluar!!!” kata tentara tersebut. Dina hanya diam sambil bersembunyi di dalam lemari baju, “cepat!!!” lajut tentara tersebut dengan suara yang lebih tinggi dan garang. Dengan perlahan Dina pun ke luar dari lemari baju tersebut. “Akhirnya kau ke luar juga, ayo ikut aku,” ujar tentara tersebut dengan nada tinggi.
“Mana orangtuaku?” tanya Dina, “Orangtuamu sudah ditembak mati,” jawab tentara itu dengan cuek. Seketika Dina langsung menangis dan pasrah akhirnya ia dibawa ke sebuah kandang sapi.

“Apa ini busuk sekali?” kata Dina mengeluh.
“Apa?! Seenaknya saja, apa yang kau katakan?! Jika kau katakan lagi maka aku akan membunuhmu,” kata tentara itu dengan kejam. “Tidak-tidak yang tadi hanya keceplosan,” jawab Dina memberi alasan.
“Tugasmu adalah membawa kotoran sapi ini untuk dijadikan pupuk,” kata tentara dengan suara yang keras. Dina pun menelan air liurnya hanya itu yang bisa ia lakukan, setelah itu ia lanjut mengerjakan pekerjaan itu, ia kumpulkan kotoran itu dan memasukkannya ke dalam ember, 1, 2, 3, 4… 7 ternyata telah 7 ember yang dibawa oleh Dina, saat ia membawa embar kedelapan..

“Plakkk!!!!” suara ember itu terjatuh karena tertabrak dengan seorang ibu-ibu.
“Maaf Bu maaf, saya gak sengaja,” kata Dina sambil mengemasi kotoran tersebut.
“Tidak, tidak apa-apa Nak, Ibu yang seharusnya minta maaf,” jawab ibu itu.
“Sini Ibu bantu,” lanjut ibu tersebut. Dan ibu pun membantu Dina membereskan kotoran itu.
“Huh, akhirnya selesai juga,” kata Dina lega. “Terima kasih ya bu,” lanjut Dina.

“Iya tidak apa-apa, Nak apakah Ibu boleh bertanya?”
“Nanya apa Bu? Tapi sebelum itu apakah tentara itu ada di sini?”
“Sekarang tentara itu sedang mengumpulkan orang dan setelah itu mereka akan mengadakan rapat,” jawab ibu itu.
“Rapat? Rapat apa?” Dina heran.
“Rapat tentang perang yang akan dilaksanakan besok,”
“Apa perang?” Dina terkejut
“Iya, jadi sekarang kita bisa lega sedikit tapi besok kita harus berjuang mati-matian,”
“Jadi begitu ya, jadi Ibu ingin bertanya apa?”

“Ibu ingin bertanya ini, kamu kelihatannya masih muda apakah kamu mengikuti perang ini?” tanya ibu tersebut.
“Tidak aku tidak tertarik,” jawab Dina polos.
“Tapi apakah kamu tidak ingin membela negaramu?”
“Iya juga sih,”
“Jadi bagaimana jawabanmu?”
“Aku tetap tidak tertarik,”
“Kamu memang keras kepala, setidaknya kamu pernah membela negara walaupun tak sampai satu kali,”

Lantas kata-kata itu membuat Dina menjadi termotivasi untuk mengikuti perang itu dan Dina pun memulai latihan dalam menggunakan senjata. Nihil, hanya dalam setengah hari latihan Dina dapat fasih menggunakan senjata. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu dan sekaligus menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Dina, bagaimana tidak? Hari ini adalah hari dimana perang akan dimulai, menang atau tidak yang jelas aku sudah membela negaraku itu kata Dina.

“Apa kau siap?” kata ibu.
“Aku siap, bahkan sangat siap,” jawab Dina dengan bersemangat.

Ibu itu hanya membalas dengan sebuah senyuman. Dan perang pun dimulai saat perang Dina menyadari bahwa ia sudah terkena kerja ‘rodi’ atau kerja paksa pada masa penjajahan Belanda, hidup matinya dipertaruhkan sekarang. Semangat perang Dina mematah saat melihat pihak lawan yang anggotanya sangat banyak dan senjata yang digunakannya jauh lebih modern daripada dia, Dina ragu apakah kemenangan ada di pihak Dina?

“Dorrr!!!!” suara sebuah senapan yang mengenai ibu yang sudah mengajarinya memakai senjata.
“Ibu tidak apa-apa Nak,” kata ibu itu sambil batuk berdarah.
“Tidak Bu, keadaan Ibu sangat parah,”

“Sudahlah lupakan aku, aku sudah tak ada lagi sebentar lagi aku akan pergi, tapi aku sudah melaksanakan tugasku untuk membela negara, bagaimana denganmu? apakah kau sudah membela negaramu? Belum kan? Dari tadi kau belum pernah menembak sekali pun, ayo laksanakan tugasmu belalah negara yang kau cintai ini walaupun tak sampai satu kali,” kata-kata terakhir ibu itu. “Oke, baiklah,” kata Dina sambil menangis. Dina langsung maju ke depan melawan para penjajah ia tak ingin negara yang begitu ia cintai ini dijajah orang asing 1, 2, 3, 5… 10 sudah 10 tentara yang ia bunuh, ternyata hasil latihannya kemarin cukup memuaskan.
“Dor!!!” sebuah senapan mengenai Dina.

Terbangun dari tidur.
“Apa? Jadi perang itu hanya mimpi?” Dina berkata dalam hati.
“Dina… cepat bangun udah jam setengah 7, kamu gak mau sekolah enggak?” terdengar suara teriakan ibu Dina berteriak. “Apa? Jam setengah 7? Entar aku terlambat,” kata Dina terkejut. Dina segera bergegas pergi sekolah, ia mendapat kata-kata motivasi dari mimpinya tersebut yaitu, “Setidaknya kita pernah membela negara walaupun hanya satu kali,”
“Oiya, Ibu yang dalam mimpi itu siapa ya? Kok bisa ada?”

Cerpen Karangan: Arina Azzahra
Blog: www.ryoko-rin.cf
Facebook: https://www.facebook.com/otagame.rin28

Cerpen Indestructible merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Indahku (Part 1)

Oleh:
Suatu hari, Tania menghadiri acara pernikahan temannya, Yogi. Acara pernikahan itu sangat meriah. Tania sempat membayangkan, acara pernikahannya dengan Sandy nanti akan lebih meriah dan megah dari pernikahannya Yogi

Notebook Pengungkap Rahasia Hati (Part 3)

Oleh:
“Kamu kalau mau deketin Afif, jangan kayak gitu. Kamu itu harus…” Aku sedang bersama Dinda dan memberi tau hal yang tidak disukai dan disukai Afif. Saat Dinda mendekati Afif

Inikah Yang Dinamakan Sahabat?

Oleh:
“Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita dalam suka maupun duka” adalah kata yang tak asing lagi untuk didengar. Kata tersebut mengingatkanku dengan seseorang yang “memanfaatku dengan sebutan sahabat.”

Bangkit

Oleh:
Di dunia ini aku punya banyak guru di antaranya orangtuaku, guruku di sekolah, dan Buku. Orangtuaku adalah guruku di rumah mereka mengajariku banyak hal. Mereka mengajariku sopan santun, tata

A Love In Paris (Part 1)

Oleh:
Terik matahari perlahan mulai menyinari kaca jendela kamarku yang mengarah ke tempat tidurku. “Nelly..” teriak mama yang super cerewet dari bawah. Mama dari dulu memang cerewet, itu keturunan nenekku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *