Restu Ibu Untuk Bela Pertiwi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 4 October 2021

Sebuah kehormatan aku diperintahkan untuk ikut serta dalam sebuah tugas operasi militer yang saat itu sedang memanas. Antara perasaan bangga dan rasa takut berkecamuk dalam hati.
Bangga terpanggil untuk membela Ibu Pertiwi. “Berperang bukanlah suatu pekerjaan tetapi kewajiban karena panggilan Ibu Pertiwi, jadikan kewajiban itu sebuah hobi agar tidak menjadi beban”. Aku ingat sekali kata-kata ini adalah nasehat pelatihku saat pendidikan di Akabri.

“Hobi Berperang”, kayaknya bukanlah karakter diriku karena aku lebih cinta kedamaian, aku lebih suka ketenangan, kenyamanan dan selalu berharap mendapat kesenangan sehingga wajar tolok ukur dalam kehidupanku adalah “Pikiran tenang, hati senang dan perut kenyang”.
Tetapi “Kewajiban dijadikan hobi”, kayaknya perlu diterapkan. Mayoritas kewajiban adalah sesuatu yang memberatkan tetapi jika jadi hobi, yang berat akan menyenangkan.

“Rasa Takut” itu manusiawi, tetapi rasa takut dapat kutepis ketika aku ingat pesan pelatih saat pertama latihan perang “Mati sekarang atau lusa, sama saja”, dengan tegas beliau mengatakannya. “yang berbeda alasan untuk mati dan bagaimana kamu mati”, jelasnya.
Kematian itu adalah pasti hanya waktu, tempat dan bagaimana caranya yang masih misteri. Hanya Tuhan yang mengetahuinya.

Sama seperti dulu aku meminta restu untuk mendaftar menjadi prajurit, kekhawatiran ibuku tentang profesi prajurit dinilai mendekati kematian tetapi aku berkilah “tidak ada yang terhindar dari kematian, Bu! tapi bagaiman cara mati yang membuat seseorang terhormat” jelasku agar mendapat restu.

Dengan segala bujuk rayu akhirnya restu itupun aku dapati dan hingga aku lulus pendidikan dan menjadi prajurit.
Sesaat akan berangkat ke medan perang, akupun meminta restu ibuku, dengan mata berkaca-kaca Ibuku pun merestui “Ibu antar kamu dengan Doa, semoga kamu kembali dengan selamat” Doa Ibuku.
“Ibu, jangan tangisi kepergianku karena sudah takdir nyawa ini aku gadaikan ke Ibu Pertiwi, Ibu hanya boleh menangis kalau aku pulang dengan selamat” aku kuatkan ibu untuk mengihklaskan puteranya berjuang.

Akupun berangkat ke medan perang dengan segala restu Ibuku.

Cerpen Karangan: Riyandi Mallay

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 4 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Restu Ibu Untuk Bela Pertiwi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita Berkerudung Nasionalis (Part 2)

Oleh:
Angin malam membelah keheningan di bawah siraman cahaya rembulan, semilir menikmati keanggunan yang tersuguhkan, benda-benda yang diam membisu seakan tersihir oleh keagungan Tuhan yang menciptakan purnama mengambang, seakan berisyarat

Hanya Satu Kali Setahun

Oleh:
“Lo kenapa, Fel? Muka ditekuk kayak lepet begitu?,” tanya Riska saat melihat sahabatnya makan dengan lahap, namun seakan ia hendak memakan piringnya pula. “Tahu lu! Ada apaan, sih?!,” tanya

Tabik Sang Pahlawan

Oleh:
Sebagian orang menganggap hari Senin adalah hari yang menyebalkan dan menjengkelkan, bahkan ada yang menjuluki hari Senin sebagai Monster Day. Tapi tidak untuk Kiana, baginya hari Senin merupakan hari

Generasi Tua Itu

Oleh:
Sisa hujan pagi tadi masih terasa di pucuk-pucuk daun kamboja dan melati, mengaburkan wangi tanah dan bunga-bunga yang ditabur di atasnya. Telat, orang-orang desa sudah kembali menuju rutinitas masing-masing,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *