Sosok yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 November 2018

Aku melihatnya lagi di sana, sendirian di samping gedung tua bersama buku lusuhnya. Membaca dengan wajah serius dan tatapannya yang setajam mata elang. Entah apa yang dibacanya, hingga membuatnya tak sadar akan lingkungan sekitarnya. Setiap jam istirahat aku selalu melihatnya duduk. Bersandar di belakang tembok gedung tua yang mulai retak termakan usia, sambil menatap jalan raya di depannya. Mungkin sekarang, gedung itu hanya menjadi tempat tidur hewan-hewan malam.

Namanya Gandy, siswa pindahan dari kota terpencil di Pontianak. Aku pertama kali mendengar namanya, ketika berpapasan dengan gerombolan siswa yang membicarakannya di koridor toilet.
“Oh si Gandy, si anak baru yang tampan itu ya… tapi sayang dari kampung pasti kudet,” kata santy salah satu dari gerombolan siswa kelas sebelas.

Dia berbeda, dua penggalan kata itu yang muncul saat pertama kali aku bertemu pandang dengannya. Saat tak sengaja, meliriknya membaca di samping gedung tua itu. Bukan tentang dia Yang katanya tampan, bukan tentang dia yang berasal dari kota terpencil seperti kata siswa yang lain. Dia bukan hanya ingin menuntut ilmu di sini tetapi dia mempunyai ribuan mimpi yang tersimpan di dalam mata itu untuk dunia.

“Renaa” aku tersadar dari lamunanku tentang si mata elang itu, ketika guru yang mengajar di depan kelas mendapatiku melamun.
“Maaf Bu” kataku sambil tersenyum dan menunduk malu. Guru tersebut hanya menggeleng kan kepalannya, mungkin sudah maklum dengan peristiwa seperti ini. Banyak dari siswa-siswi hanya menganggap, apa yang mereka sampaikan hanya sebatas angin lalu. Tanpa memikirkan ilmu tersebut akan berguna untuk masa depan kita sendiri.

Aku melihat ada koboran api dalam mata itu, mata yang menatap tajam langit di atasnya. Mata yang menyambut dunia ini dengan semangat yang berkobar. Mata yang setajam elang yang siap memburu mangsanya yang lengah.

“Hai”.
Aku terkejut sambil mundur, menghindari sih elang yang berdiri kokoh di depan. Entah Sejak Kapan Gandy tidak duduk bersandar lagi di tembok itu, atau dia melihatku terlebih dahulu yang bersembunyi di balik pohon ini. Aku kikuk setengah mati saat tertangkap basah kedua kalinya mengintip dia di sini.
“Maaf”, kataku sambil tersenyum. Aku mulai meng- atur napas dan keluar dari tempat persembunyianku.
“Hmm aku Rena”. Dia hanya melihatku sambil tersenyum. Aku mulai malu, apa ada yang salah dengan diriku. Apa aku selucu itu sampai dia hanya menatapku sambil tertawa.
“Aku pikir hanya orang yang seperti aku yang berminat mengunjungi tempat seperti ini, ternyata aku salah.” katanya sambil berjalan menuju pinggiran gedung.
Aku hanya mengekor dari belakang, aku penasaran seperti apa sosok yang seminggu ini menjadi bahan pembicaraan siswa di sekolah. Terutama siswa perempuan yang tak gentar mencari informasi mengenai si murid baru ini.

“Gedung ini dulunya adalah gedung sejarah. Tetapi karena jarang dikunjungi oleh para siswa, sekolah terpaksa menutupnya.” kataku sambil membuka pembicaraan. Setelah sekian lama, kami hanya duduk diam menatap kendaraan di depan yang berlalu lalang.
“Apa ada masalah sebelumnya” katanya sambil mulai mengalihkan tatapannya dari jalan raya.
“Banyak siswa di sini yang tidak terlalu menyukai sejarah, mereka berpikir sejarah itu membosankan”, kataku sambil melihat reaksi dari sosok di sampingku ini. Dia menarik napas panjang dan menegakkan punggungnya di dinding tembok.
“Sayang sekali kalau begitu, padahal apa yang kita dapatkan sekarang semuanya berasal dari sejarah. Seharusnya generasi kitalah yang harus terus menjaga sejarah tersebut bukan malah menguburnya.”
Aku hanya menatapnya dengan takjub, di jaman seperti ini masih ada remaja yang peduli terhadap sejarah. Ditengah arus globalisasi dan teknologi yang canggih. Di mana sebagian dari kami, hanya peduli dengan kepentingan masing-masing dan rela menghabiskan waktunya hanya bermain gandget maupun games dibandingkan berkumpul dengan keluarga.

“Apa jadinya generasi berikutnya kalau kita saja sudah acuh, bukan begitu kan Ren,” katanya sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya padaku.
Aku tersadar dari perdebatan kecilku tentang negeri ini, negeri yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Negeri di mana kita berasal dan kembali hingga tiba waktunya.
“Gandy, lengkapnya Gandy Pratama.”
Aku pikir dia tidak akan berbicara sampai bel istirahat berbunyi, mungkin dia mengira aku sama seperti siswa yang lain. Berteman dengan siswa yang memiliki latar belakang yang sama dengannya. Padahal kita semua sama, mempunyai tujuan untuk menuntut ilmu di sekolah ini bukan.

Dari pembicaraan awal mengenai gedung sejarah itu, Gandy mulai banyak bercerita mengenai keluarganya, alasan dia pindah dan mimpinya untuk masa depan. Dia juga banyak mengungkapkan pemikirannya terhadap masalah yang sedang banyak dihadapi remaja seperti kami. Dia bingung kenapa banyak remaja di zaman ini tidak mau mengingat sejarah, padahal apa yang mereka nikmati berasal dari sejarah. Sejarah para pahlawanlah yang dengan gagah berani, memperjuangkan negeri ini. Negeri yang seharusnya kita jaga, negeri dimana ribuan tetes keringat bahkan tetesan darah para pejuang melawan para penjajah.

Aku menyukai cara dia menyikapi semua masalah yang ada. Seandainya semua orang dapat berpikir seperti Gandy aku yakin perjuangan para pahlawan tidak akan sia-sia. Perjuangan untuk kita anak cucunya, terus apa yang akan generasi berikutnya lakukan jika kita mulai buta dengan sejarah.

“Renaa kantin yuk” ajak Olin teman sebangkuku.
“Udah, duluan aja gak laper”, kataku bohong. “Ya udah,” katanya sambil berjalan kepintu kelas.

Hari ini aku ingin menemui si Gandy di gedung sejarah, aku mempunyai banyak pertanyaan yang akan aku ajukan padanya. Aku mulai menyukai cara dia berpendapat, yang membuat siapa saja akan bersemangat.

“Terima kasih Ren, terima kasih sudah mau jadi teman pertama aku di sini”.
“Terima kasih diterima.” Kataku sambil menunjukkan raut bersahabat.
“Aku senang bisa bertemu denganmu. sekarang aku mulai sadar, bahwa kita sudah terlena terlalu lama dengan perkembangan jaman yang semakin maju ini. Melupakan bagaimana sejarah awal kita, hingga bisa mencapai di titik sekarang.” Aku mulai mengikuti kemana arah pandangan Gandy menjelajah.
“Aku pikir kalian yang memiliki kemudahan teknologi di kota, bisa lebih mengerti bagaimana cara menyelesaikan masalah global seperti ini. Dibanding kami yang hanya bisa mengamati dan bermimpi.”
“Terkadang apa yang terlalu dekat itu sulit di capai. Sama halnya dengan kami, mungkin kami sudah terlalu terlena dengan apa yang kami dapatkan sekarang.”
“Kamu benar, kalian sudah hampir dibutakan dengan kesenangan yang bersifat sementara ini. Kesenangan yang akan dan kapan saja, bisa direbut oleh siapa pun jika kalian lengah.”

Berbicara dengan Gandy memang tidak akan mengingat waktu. Aku jadi kasian dengan siswa sekolah ini, seharusnya mereka bisa berteman dengan orang seperti Gandy. Agar mereka bisa memiliki pemikiran yang bijak tentang negeri ini nanti. Bukan malah memandang seseorang dengan sebelah mata, karena dia berbeda golongan dengan mereka.
Jika bukan karena bel, aku akan sangat senang bisa mengobrol banyak dengan si mata elang itu. Walaupun lebih banyak mendengar. Dengan cara dia bertutur kata, kita bisa merasakan apa yang dia bicarakan. Melalui matanya yang berbinar saat menyampaikan, membuat kita akan yakin bahwa apa yang dia sampaikan memang benar adanya.

Aku sudah memutuskan, sepulang sekolah ini aku akan ke Kantor untuk menemui Pak Kepala Sekolah. Aku ingin menyampaikan saranku, untuk mempergunakan kembali gedung sejarah. Aku tidak ingin siswa di sini buta akan sejarah negerinya sendiri.

“Gandy tunggu!! Ada yang ingin aku katakan padamu,” kataku sambil melambai kan tangan dan mengejarnya yang sedang berjalan menuju gerbang.
Semoga dengan kembali dibukanya gedung sejarah, banyak siswa yang akan sadar bahwa sejarah untuk negeri ini penting.
“Aku ingin mengadakan sebuah pentas seni di gedung sejarah dan aku membutuhkan bantuanmu Gan,” kataku sambil berlari kecil mengikuti Gandy yang berjalan.
Aku sangat yakin, jika semua siswa di sini dapat mendengar apa yang dikatakan Gandy. Mendengar tanpa melihat dari mana dia berasal, mereka akan terbuka dan mulai mempedulikan sejarah.
Dia berhenti berjalan dan berbalik. “Aku yakin kamu bisa Ren, tanpa bantuanku.”
“Maksud kamu? Apa kamu gak setuju dengan pendapatku. Apa kamu punya ide lain. Kita bisa bicarain Gan.”

Aku berlari mengejar Gandy yang sudah sampai di ujung jalan. Aku tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan, bukankah dia sendiri yang berkata ingin membantu membuat siswa-siswa di sekolah ini tidak melupakan sejarah. Tapi sekarang dia pergi.

Sejak pertemuan terakhir sepulang sekolah itu, Gandy sudah tidak pernah terlihat di sekolah. Kata teman sekelasnya dia meminta izin untuk pulang ke desanya karena ibunya yang sedang sakit. Aku jadi maklum mengapa dia sangat terburu-buru waktu itu. Mungkin dia harus mengurus keberangkatannya yang tidak dapat ditunda.

Hampir tiga minggu sudah, Gandy tidak masuk. Apa sakit yang diderita oleh ibunya parah, sehingga dia tidak bisa kembali dalam waktu cepat. Aku merasa kehilangan, walaupun Gandy baru bersekolah selama 2 bulan di sekolah ini. Padahal aku ingin menyampaikan usulanku, tentang pentas seni yang akan dilakukan di gedung olahraga dua minggu lagi. Kepala Sekolah juga sudah meminta proposal untuk dana yang akan dibutuhkan. Para guru dan siswa juga banyak yang akan ikut perpastisipasi.

Untuk Rena. Aku senang bisa mengenalmu. Bisa mengobrol dan mengungkapkan apa yang selama ini hanya bisa kusimpan. Bisa merasakan apa yang selama ini banyak diimpikan oleh sebagian dari kami, yang tidak pernah merasakan majunya teknologi. Jika kamu membaca suratku Ren, aku ingin kau dapat mewujudkan mimpi-mimpimu. Aku percaya padamu, kau pasti bisa. Biarkan aku mewujudkan mimpiku di tempat lain dan Semoga kita dapat bertemu kembali di lain waktu dan mempersatukan mimpi kita untuk negeri ini. Temanmu Gandy.

Aku duduk bersandar di tembok itu, sambil mengamati kata demi kata yang tertulis indah di sebuah kertas putih. Kata-kata yang berasal dari seseorang yang mempunyai ribuan mimpi untuk kemajuan bangsa. Dan sekarang pergi entah ke mana.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli dengan nasib negeri ini. Negeri yang diwariskan untuk kita anak cucunya. Seperti kata seseorang bahwa kita adalah penerus bukan pengikut.
Sama halnya dengan ungkapan soekarno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghormati jasa para pahlawannya.” Kalau kita saja, sudah mulai buta dengan sejarah. Lantas akan seperti apa jadinya negeri ini selanjutnya.

Cerpen Karangan: Nur Uswatun
Seseorang Yang hanya ingin mencoba menyalurkan cerita

Cerpen Sosok yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah Sangka

Oleh:
“KRINGGG”. Bel berbunyi menandakan mata pelajaran matematika akan segera dimulai. Tapi, seperti biasa Pak Leon guru matematika kelas IX F terlambat masuk di kelas ini. Sehingga seluruh siswa berkeliaran.

Empat Kata Terindah (Part 3)

Oleh:
Ketika sampai di depan pintu rumahnya, gadis itu menghentikan langkahnya. Matanya memanas. Dengan air mata yang terus mengalir gadis itu berlari tanpa arah. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah

Acenk Si Superdonat

Oleh:
Telah lahirlah, anak bernama Acenk supiardi di kawasan taman segitiga yang tepatnya di jakarta pusat. Dia adalah anak dari keluarga golongan bawah yang hanya mengandalkan hasil dari penjualan donat

Pangeran Matahariku (Part 1)

Oleh:
Kringgg kringgg kringgg… Suara jam beker akhirnya membangunkan gue dari alam mimpi yang indah. Dengan rasa malas gue pun bangun dari tempat tidurku dan lagsung pergi ke kamar mandi.

Roman Tika Kutu

Oleh:
Tika tak henti-henti menggaruki rambut kepalanya. Rambut Tika bagus, panjang terurai, tebal, warnanya hitam legam. Tapi satu hal yang sangat Tika benci dari rambutnya itu. KUTU, K-U-T-U. Yup, rambut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *