Tabik Sang Pahlawan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Sebagian orang menganggap hari Senin adalah hari yang menyebalkan dan menjengkelkan, bahkan ada yang menjuluki hari Senin sebagai Monster Day. Tapi tidak untuk Kiana, baginya hari Senin merupakan hari istimewa untuk semua umat manusia terutama para pelajar di Indonesia.

Senin, merupakan hari dimana semua pelajar menunjukan rasa nasionalisme terhadap Indonesia dan rasa hormat terhadap Para Pahlawan yang telah banyak berkorban harta, tahta, serta nyawa demi mendapatkan dan merebut kemerdekaan untuk rakyat, bangsa, dan negaranya.

Hari ini, tepatnya pukul enam pagi, Kiana mencium tangan kedua orangtuanya lalu pamit untuk pergi ke sekolah. Saat sampai pukul setengah tujuh, dilihatnya masih banyak lahan parkir yang tersisa seperti biasanya. Apalagi ini Senin, banyak orang yang tidak menyukai hari Senin karena berbagai faktor.

Faktor utama untuk sebagian pelajar yang tidak menyukai hari Senin adalah; upacara bendera.

Jika melihat ke belakang, perjuangan para Pahlawan tidak sebanding dengan siswa yang hanya berdiri di lapangan upacara selama kurang lebih empat puluh lima menit. Apa yang dilakukan mereka? Hanya sikap sempurna dengan membuka mata, telinga dan hati.

Mata digunakan untuk melihat proses pengibaran Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan khidmat. Telinga digunakan untuk mendengar lantunan lagu Indonesia Raya sampai lagu Nasional yang dinyanyikan oleh para obade. Hati digunakan untuk merenungkan serta ikut merasakan kesedihan terhadap Pahlawan yang gugur dalam medan perang demi kemerdekaan rakyatnya.

Hanya itu, tidak ada yang sulit. Tapi, mengapa hampir semua orang yang mengikuti upacara saat ini seperti hatinya tidak terenyuh untuk memberikan doa kepada Para Pejuang Indonesia?

Sebenarnya batin Kiana menjerit, terheran-heran dengan kelakuan teman-temannya. Seperti saat ini, ia menemukan dua orang di depannya bercengkrama ria ketika prosesi pengibaran bendera merah putih berlangsung. Melihat itu, Kiana hanya mendengus sebal, tidak menegur mereka yang telah berbuat kesalahan.

Sampai prosesi pengibaran bendera merah putih usai, kedua perempuan di depannya masih berbincang-bincang dengan volume suara yang cukup keras.
Risi, Kiana pun menegur temannya dengan cara menepuk bahunya kemudian menempelkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai gerakan nonverbal agar mereka berhenti berbicara.

Sayangnya, cara itu tak mempan untuk mereka berdua sampai Kiana melakukan cara yang sama lagi, menepuk bahu mereka. Tapi kali ini berbeda, disertai tatapan tajam Kiana ketika mereka berdua– Ira dan Gina menoleh ke balakang dengan wajah yang sinis. Sepertinya kegiatan mereka terinterupsi.

“Kalau lagi upacara jangan bersuara,” kata Kiana akhirnya, menyuarakan sesuatu yang mengganjal sedari tadi.

“Pelanggaran HAM, kamu melanggar kami berbicara,” jawab Gina sengit disertai anggukan Ira.

Kiana hanya mendengus pelan, tidak menanggapi ucapan Gina yang menurutnya cukup menjengkelkan karena sirat akan makna pelanggaran HAM yang disalahgunakan.

Bahkan ketika Pak Baban selaku Kepala Sekolah menyampaikan amanat, dua perempuan di depannya masih melaksanakan sesi curhat. Ya, Kiana menganggap mereka sedang melakukan perbincangan dari hati ke hati yang melibatkan perasaan. Terbukti saat Kiana melihat Gina berbicara dengan emosinya yang menggebu-gebu.

Sontak, suasana hening tanpa komando ketika Pak Baban menunjuk salah satu siswa laki-laki dari barisan kelas 11 untuk maju ke depan.
Wajah Pak Baban terlihat geram, mungkin beliau terlihat seperti ingin bertransformasi menjadi harimau jika bisa, kemudian siap menikam siswa laki-laki yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.

“Kamu tahu ini sedang apa?” Pak Baban bertanya.

Laki-laki itu pun menjawab dengan kesan yang santai, “Upacara.”

“Kamu tahu ini sedang apa?!” tanya Pak Baban sekali lagi dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi. Yang ditatap pun langsung menunduk, terlihat gemetar. Pasalnya, Pak Baban memang terkenal galak, bukan galak sih sebenarnya, tapi terlampau tegas dan disiplin.

“Kamu tahu ini sedang upacara, tapi kenapa kamu malah cengengesan dan mengganggu teman-temanmu yang lain?”

Siswa itu pun diam, semuanya diam, terkecuali Pak Baban yang terus menyemprot siswa yang Kiana ketahui namanya adalah Jeno.

Kemudian Jeno kembali ke barisannya dan amanat yang disampaikan Pak Baban pun terpotong oleh nasihat-nasihat dadakan dari beliau.

“Kalian itu menginjak tanah Indonesia maka kalian harus menghormati Indonesia!”

Kiana tersenyum puas. Bukan, bukan karena Kiana tersenyum diatas harga diri Jeno yang turun seketika karena ditegur di depan umum, melainkan karena setiap kalimat yang keluar dari mulut Pak Baban mewakili suara hatinya saat ini. Jujur, Kiana merasa sedih ketika melihat teman-temannya tidak melakukan upacara dengan khidmat.

“Mau bagaimana negeri ini ke depannya kalau tidak ada yang meneruskan jasa-jasa Pahlawan kita terdahulu?” kata Pak Baban. Lalu, ia melanjutkan. “Jika kalian tidak cinta terhadap Indonesia, tidak menghargai Para Pejuang, maka kalian tidak memiliki sikap patriotisme! Mau bagaimana jika kita dijajah lagi? Apa kalian akan seperti ini?” Pak Baban menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Asal kalian tahu, melaksanakan upacara bendera dengan khidmat dan sempurna itu merupakan salah satu pembuktian kalian bahwa kalian cinta Indonesia!”

Semua bungkam, Ira dan Gina yang sepuluh menit lalu masih berisik dengan seribu satu kata pun ikut bungkam.

Tiba saatnya, upacara berakhir dan semua siswa langsung berhamburan meninggalkan lapangan upacara.

Seminggu berlalu dan hari ini tidak seperti Senin biasanya. Kiana tidak dapat menahan untuk tidak mengulum senyum saat upacara bendera berlangsung secara khidmat.

Karena bela negara tidak harus diwujudkan dengan senjata, tetapi wujud bela negara dapat ditunjukkan dengan rasa cinta tanah air, salah satunya dengan melaksanakan upacara bendera untuk mengenang jasa Para Pahlawan.

Cerpen Karangan: Dara Muthia
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100009036096055

Cerpen Tabik Sang Pahlawan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seruan Khiar

Oleh:
Cahaya mentari bersinar terang dalam embun pagi. Semburanya cahanya menerangi seluruh jagad raya. Tak ada yang bisa menandingin akan kekuatan cahayanya. Sungguh indah kuasa dari-Nya dan juga anugerah dari-Nya

Please Forgive Me

Oleh:
Tangan itu masih terus memencet nomor telepon yang ada di layar handphone. Lagi dan lagi nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Intan tampak mulai sebal

Masih Amatir

Oleh:
Siang itu aku berjalan dengan santai menuju ruang guru untuk melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepadaku, tak terbebani sama sekali aku ini namun mata-mata yang curiga dan sok tau

In Your Eyes

Oleh:
Lonceng yang terbentuk dari logam kuningan yang tergantung di depan ruang guru berdentang tiga kali tanda jam pelajaran berganti dengan waktu istirahat. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar kelas dan menghambur

Cinta Bersemi di Ruang OSIS

Oleh:
Tok! Tok! Tok! “Saya Sayang bangun udah jam 06.30.” suara mama yang membangunkanku. “Apa?”. Aku pun berlari menuju kamar mandi. Setelah mandi aku langsung turun ke bawah. “Ma saya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *