Tragedi 10 November

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

“Untukmu wahai kusuma bangsa yang telah korbankan jiwa raga demi pekikan sebuah kata penuh makna ‘merdeka’. Kami ucapkan terima kasih, karena cucuran keringatmu, karena tetesan darahmu, karena segenap pengorbananmu yang tanpa pamrih, kami dapat menghirup segarnya udara kebebasan. Kini, beban berat di pundak kami, para penerus bangsa. Dapatkah kami memikulnya? Entahlah. Tapi, jika engkau mampu, mengapa kami tidak?”.

Ada beberapa hal penting yang terkadang dihindari para remaja karena dianggap membosankan dan memusingkan kepala. Salah satunya, upacara. Berdiri di bawah teriknya matahari dengan posisi siap siaga selama kurang lebih empat puluh lima menit lamanya -bahkan bisa sampai dua jam kalau ada peringatan hari-hari tertentu- terkadang jauh lebih melelahkan ketimbang berlari memutari lapangan bola.

Kondisi itu kontan membuat beberapa siswa melarikan diri menuju warung terdekat, asalkan memesan segelas jus atau kopi, penjaga warung sudah tak mau peduli apalagi menasihati. Kegiatan itu terus dilakukan berulang-ulang, sampai lama-kelamaan berubah menjadi ritual tak terelakkan yang harus dilaksanakan demi mempertahankan tradisi yang sudah lama dijalankan.

Varo berjalan mengendap-endap menuju gerbang belakang, seperti hari-hari sebelumnya, saat upacara, ia akan melaksanakan ritualnya, mengendap-endap menuju gerbang belakang, berlari sekencang-kencangnya menuju warung di seberang jalan dan memesan jus alpukat yang tak pernah alfa hinggap di pikiran.

Dalam hati, dia terus merutuki Ivan yang bersikeras mengikuti upacara gara-gara takut diomeli Dea, yang -menurut kabar yang beredar- kalau marah bisa lebih sadis dari pada singa betina. Varo tentu saja tak percaya, tapi ia lebih tak percaya lagi saat Ivan, sobat karibnya yang setia menemaninya ke mana-mana lebih memilih Dea yang judes setengah mati dari pada ia yang sama-sama lelaki.

Varo membuka pintu gerbang perlahan, suara derit pintu yang mulai berkarat terdengar lirih di telinganya. Dia sangat menyukai suara itu, suara yang menandakan bahwa ia akan segera mendapat kebebasannya kembali.

“Alvaro Akbar Prasaja”. Baru selangkah keluar dari sekolah, suara lembut semerdu dentingan piano menginterupsi langkahnya, ia berbalik. Didapatinya Bu Asti, guru BK itu tengah berjalan sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah.

“Sial!”, Varo mengumpat dalam hati. Selama puluhan kali beraksi, ia belum pernah sekalipun dipergoki, aksinya selalu berjalan mulus tanpa kendala berarti.

“Alvaro, kamu mau ke mana?”, Bu Asti kembali bersuara. Varo mendengus, benar-benar mati kutu. Tak masalah kalau guru lain yang memergokinya, asalkan jangan Bu Asti. Wanita yang tahun ini berumur 28 tahun itu sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri, begitu pula ia telah dianggap layaknya anak kandung. Itu sebabnya, Vero tak tega bertindak nakal kalau ada Bu Asti.

“Kamu tahu hari ini hari apa?”.
Varo menjawab seadanya, “Hari kamis”.
“Selain itu?”.
“Sekarang tanggal 10 November, setahu saya 10 November itu hari… pahlawan”, gumam Varo. Bu Asti mengangguk, sementara mata Varo langsung terbelalak.

Seperti teman-temannya yang juga kepergok, Varo ditempatkan di barisan khusus yang menghadap ke timur, tepat menghadap ke arah mentari pagi, kompensasi atas tindakannya yang hampir melanggar aturan. Ia berdiri di barisan paling depan. Beberapa meter dari posisinya berdiri, Ivan yang berada di barisan kelasnya cengengesan sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk simbol ‘peace’. Varo hanya melengos tak acuh. Dia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ia tak mati kebosanan di sini.

Tak ada yang menyangka, upacara kali ini akan berlangsung dramatis. Diawali dengan salah satu pemimpin barisan yang suaranya sampai serak demi mengatur barisan yang kacau balau tak karuan. Dilanjutkan petugas pengibar bendera yang harus mengerahkan setiap tenaga demi mengerek bendera karena tambangnya super berat dan katrolnya berkarat. Diakhiri tangisan peserta upacara yang meledak tiba-tiba saat pembaca do’a melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an penggugah jiwa.

Tapi ternyata… belum sampai di situ saja, para siswa dan guru kembali dibuat haru saat grup paduan suara menyanyikan lagu penuh makna ‘gugur bunga’ karya Ismail Marzuki untuk mengenang para pejuang yang wafat di medan perang. Diiringi dentingan piano, grup paduan suara mulai bernyanyi.

Betapa hatiku tak kan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku tak akan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini pelipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti
Gugur bungaku di taman hati
Di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

Sekitar pukul setengah sembilan, upacara usai. Satu setengah jam lamanya mereka berdiri diguyur sinar mentari, panas memang, tapi tak ada seorang pun yang pingsan demi mengenang jasa pahlawan yang telah rela berkorban. Varo mengusap tetes-tetes keringat yang membasahi wajahnya. Upacara kali ini benar-benar penuh rintangan.

Tapi, bukankah rintangan yang lebih berat sedang menantinya? Bukan lagi Belanda dan Jepang yang jadi musuh, bukan pula Inggris dan Portugis, melainkan diri mereka, bangsa mereka sendiri. Rasa malas, kesombongan, rendah diri, rasa putus asa itulah yang kini harus diperangi. Akankah ia menang? Akankah ia bisa menjadi pahlawan bagi bangsa ini?.

Varo jadi teringat kenangannya dengan sang kakek. Dulu, saat ia masih kecil, kakeknya mengajaknya ke makam kakek buyut. Kakek pernah bilang kakek buyutnya adalah veteran pejuang. Varo yang begitu terkagum-kagum dengan kisah-kisah heroik kepahlawanan lantas bertanya, “Kakek, sekarang kan sudah tidak ada penjajah yang harus dilawan, bagaimana caranya menjadi pahlawan?”.

Kakeknya tersenyum sekilas, sebelum menyusun jawaban dalam kata-kata bijak. “Akbar…”, kakeknya berujar lembut memanggil nama kecilnya, “Setiap orang itu pahlawan. Orang tua adalah pahlawan bagi putra-putri mereka. Guru pahlawan bagi murid-muridnya. Dokter pahlawan bagi pasiennya…”.

“Kalau Akbar?”, Varo menyela penjelasan kakeknya dengan wajah penasaran.

Kakeknya tersenyum lagi, “Kamu pahlawan bagi dirimu sendiri. Laksanakan kewajibanmu, perjuangkan hakmu, cintai negeri ini dengan sepenuh hati. Itu saja, sudah cukup”.

Tak sadar, Varo tersenyum mengingat petuah-petuah kakeknya. Betapa ia rindu menatap wajah keriput itu, betapa ia ingin kembali mendengar kisah-kisah heroik pahlawan bangsa, dari mulai perlawanan Kapitan Pattimura hingga kisah mempertahankan negara setelah merdeka.

Ditatapnya sang saka merah putih yang terpasang rapi di tiang. Bendera itu berkibar-kibar ditiup angin, tampak begitu gagah dilatari langit biru dan matahari yang bersinar cerah.

Perlahan, ia angkat tangan kanannya ke depan alis, menghormat pada sang bendera pusaka. Ia tak peduli pada tatapan heran kawan-kawannya yang mulai membubarkan diri, karena ia cinta negeri ini.

Tanpa ia ketahui, seorang gadis yang berdiri agak jauh darinya, memandangnya dan tersenyum.

Cerpen Karangan: Abinaya

Cerpen Tragedi 10 November merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Cinta

Oleh:
Paskibra merupakan ekstra yang telah Icha pilih semenjak ia duduk di bangku SMK. Semenjak SMP Icha memang suka dengan ekstra ini. Dimanapun ada perlombaan paskibra Icha pasti datang untuk

Mimpi Indahku (Part 1)

Oleh:
Suatu hari, Tania menghadiri acara pernikahan temannya, Yogi. Acara pernikahan itu sangat meriah. Tania sempat membayangkan, acara pernikahannya dengan Sandy nanti akan lebih meriah dan megah dari pernikahannya Yogi

Jejak Kaki Misterius

Oleh:
Hari libur semester adalah hari kebahagiaan bagi setiap anak yang memiliki status di bidang pendidikan. Bahagianya adalah mereka bisa terbebas dari pelajaran-pelajaran sekolah yang melelahkan, walaupun hanya sementara waktu.

Nay’s Love Story

Oleh:
“Peringkat satu diraih oleh … Ananda KEYSHA MUTIARA.” seru Bu Laila. Nay termangu. Bukan dirinya, bukan dirinya yang meraih peringkat satu kali ini. Tapi, sahabatnya… “Mut, lo hebat banget,

Mantan Jadi Musuh

Oleh:
Namaku Devi, aku kelas 2 SMP dan aku memiliki cowok yang bernama Hendrik. Aku sekarang berada di rumah nenekku. Waktu menunjukkan pukul 12:15, tetapi aku masih belum tidur karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *