Untukmu Tanah Airku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Nasionalisme, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

Sudah beberapa tahun saya mengenyam pendidikan akademi militer. Dan hari ini adalah hari pertama saya bekerja sebagai TNI. Sejak dahulu saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi seorang TNI, sejak kecil saya ingin menjadi pemain sepakbola, toh sepakbola juga bisa membuat bangsa Indonesia bangga. Namun kedua orangtua saya sama sekali tidak setuju jika saya berkarir di sepakbola. Saya sangat kesal sekali ketika orangtua menyuruh saya untuk berhenti bermain sepakbola sebelum terlambat, karena menurut mereka sepakbola tidak menjamin masa depan saya nantinya. Karena kakek saya adalah seorang pejuang kemerdekaan, orangtua saya menyarankan saya untuk masuk sekolah kemiliteran. Apalagi ayah sangat ngotot untuk memasukkan saya ke sekolah kemiliteran walaupun ia sendiri adalah seorang pengusaha tekstil.

Awalnya saya tidak mau menuruti apa kata mereka, karena saya berhak menentukan masa depan saya sendiri bukan mereka. Tetapi lambat laun saya berpikir jika menjadi seorang TNI tampaknya akan membuat tantangan tersendiri bagi saya, apalagi jika saya nanti ikut berperang melawan musuh yang mencoba untuk memasuki wilayah Indonesia, dan semua bangsa Indonesia pun akan bangga dengan saya. Dan sejak saat itu pula saya memutuskan untuk menuruti apa kata orangtua saya.

Hari ini saya bertugas di Papua, saya ditugaskan oleh komandan untuk menjaga keutuhan NKRI karena di wilayah Indonesia belahan timur ini diduga ada teroris yang bersembunyi ditambah adanya konflik antara warga Timika, Papua yang semakin membuat wilayah Indonesia bagian timur ini sangat tidak aman. Saya harus meninggalkan istri dan satu anak saya di Jakarta selama beberapa bulan ke depan demi tugas dari negara. Saya dan beberapa rekan saya terus memantau wilayah Papua ini. Saya selalu bersemangat jika dalam tugas ini Boni rekan terbaik saya asal Maluku selalu diikutsertakan bersama saya, ia adalah rekan saya yang murah senyum dan selera humornya sangat tinggi. Boni selalu bisa membuat saya dan rekan yang lainnya tertawa dengan candaannya itu walaupun di kondisi yang sangat genting sekalipun.

Tak terasa, suara adzan pun berkumandang walaupun di tempat yang cukup terpencil ini. Saya dan rekan lain yang beragama islam langsung mengambil air wudhu dan solat maghrib di rumah warga. Saya sendiri dipercaya sebagai imamnya. Ketika selesai rakaat terakhir, terdengarlah suara tembakan dari arah belakang, suaranya sangat jelas sekali. Apa yang terjadi? Apakah para teroris itu datang untuk menyerang pasukan kami ketika kami sedang khusyuk beribadah? Saya sangat khawatir sekali dengan Boni yang sedang ada di belakang karena ia tidak ikut solat bersama saya karena Boni adalah seorang kristiani. Saya berharap jika Boni bisa menjaga dirinya. Saya dan rekan-rekan yang selesai solat langsung menuju ke arah tembakan, saya melihat salah satu dari kami yang terkapar dengan darah yang mengalir, syukurlah lukanya bisa ditangani dengan cepat. Kami pun menyusul Boni yang mengejar para tawanan yang diduga teroris itu ke hutan, nekat sekali mereka menyerang kami dengan gegabah. Kami yakin malam ini juga kami bisa menangkap mereka hidup-hidup atau mati. Nampaknya perang akan segera dimulai.

Selama pengejaran ke hutan yang sangat kurang penerangan, saya selalu ingat istri dan kedua anak saya yang ada di rumah. Saya rela mati demi mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia dan membuat rakyat Papua kembali hidup dengan tenteram tanpa adanya teror dari para manusia biadab. Kami terus berlari sambil menenteng senjata yang ukurannya cukup panjang dan berat. Kami kembali mendengar suara tembakan dari arah yang cukup dekat, kami pun mencoba untuk mempertahankan diri dan bersembunyi di semak-semak sambil melihat-lihat apabila ada musuh. Berani sekali mereka menantang kami, apa mereka tidak tahu jika kami dilatih selama bertahun-tahun untuk menangkapnya atau bahkan membunuhnya jika mereka terus-menerus meneror manusia yang tak bersalah? Saya melihat sekelebat bayangan berlari dengan baju serba hitam, dan jelas sekali itu adalah musuh kami, dan saya langsung menembak ke arah bayangan itu dan saya berhasil melumpuhkannya, kakinya terkena tembakan hasil bidikan saya. Ternyata ia bodoh sekali mencoba untuk berlari. Kami segera menangkap orang itu dan kembali mengejar mereka yang lolos.

Sekitar jam sepuluh malam kami berhasil melumpuhkan sekitar 4 terduga teroris itu dan berusaha untuk melumpuhkan sisa-sisanya yang masih berkeliaran di tempat ini. Di bawah pohon pinus itu saya melihat ada seseorang yang terkapar, dan jelas itu adalah pasukan dari kami. Orang itu adalah Boni rekan baik saya yang berselera humor tinggi, ia mengerang kesakitan dengan luka di perutnya, gawat sekali lukanya sangat parah sementara perlengkapan medis terletak sangat jauh sekali. Ketika akan saya gendong, ia malah menolaknya dan berkata kepada saya “Habisi nyawa mereka Boy, jangan sampai mereka lolos, selamatkan tanah Papua ini, tugasku berakhir di sini, ucapkan salam kepada mereka dariku Boy, selamat jalan..”, dan tak lama dari itu Boni memang benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya. Saya kehilangan kawan terbaik selama di akademi militer, Boni si pembuat tawa para TNI terutama saya. Saya tidak boleh bersedih, saya harus terus melanjutkan tugas ini dan menangkap semua manusia biadab itu.

Sembilan jam perang berlangsung, kami berhasil melumpuhkan mereka terduga teroris itu, sebagain dari mereka ada yang selamat dan sebagian lagi ada juga yang tewas. Boni dan kedua kawan saya yang lain gugur di medan perang. Saya sendiri menderita luka dibagian kaki sehingga saya harus segera dilarikan ke rumah sakit bersama rekan-rekan yang lain yang juga menderita luka untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Saya puas berhasil menuntaskan tugas saya dengan baik, tugas dari negara untuk menangkap mereka hidup ataupun mati. Dan saya pun berhasil mengabulkan permintaan terakhir Boni. Semoga Boni tersenyum melihat keberhasilan kami.

Satu minggu kemudian kami disambut bak pahlawan oleh pemerintah, saya hadir untuk menerima penghargaan dari presiden dengan tubuh terduduk di kursi roda. Istriku yang mendorong kursi roda itu. Di pojok sana, kedua anak saya tersenyum senang melihat ayahnya diberi penghargaan oleh presiden. Saya dan semua rekan yang lain yang bertugas di Papua diberikan kehormatan yang cukup tinggi dengan diberinya penghargaan ini atas berhasilnya menumpaskan para kawanan teroris yang beberapa tahun terakhir ini banyak sekali mengganggu rakyat. Yang hidup maupun yang tewas diberikan sebuah penghargaan dan kehormatan termasuk Boni si periang itu. Saya bangga dengan pencapaian ini, namun ini semua belum seberapa. Saya masih ingin menjaga kedaulatan NKRI ini dengan segenap jiwa saya sampai akhir hayat saya. Selepas terlepas dari kursi roda ini, saya akan kembali berlatih untuk menangkal ancaman yang mengganggu kedaulatan negara saya tercinta ini, Indonesia.

Cerpen Karangan: Erfransdo
Blog / Facebook: erfransvgb.blogspot.com / Erfrans Do
siswa di SMAN 1 PARUNGKUDA SUKABUMI

Cerpen Untukmu Tanah Airku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Muslihat (Part 1)

Oleh:
12, April, 1926, Saat penjajahan Belanda Latar belakang sebuah tebing-tebing tinggi yang curam, terletak melingkari perkampungan kecil yang begitu sederhana. Lima tebing tinggi yang saling terpisah menurut bagiannya, berdiri

Sepucuk Surat Dari Padang Pasir

Oleh:
Terik matahari menyambar wajahku. Hari sudah semakin siang, pikirku. Aku terbangun dari tidurku. Kulihat arlojiku. Sudah pukul 6 pagi rupanya. Segera aku menuju kamar mandi untuk mandi. Masih ada

Ann

Oleh:
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya

Terima Kasihku

Oleh:
“Ayo Adi, bangun-bangun”, kata ibu. “Adi masih ngantuk Bu”, jawab Adi dengan nada malas. “Sekarang sudah pukul 7 Adi!”, kata ibu setengah marah. Sontak aku terkejut. Mataku yang masih

Missing (Part 1)

Oleh:
Hari ini saat mentari bersinar sembunyi-sembunyi. Awan pekat kehitaman mendominasi langit pagi. Namun sepekat apapun langit, hari ini tetaplah hari ini. Hari dimana semua yang kami perjuangkan selama dua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *