A Strange Feeling From Best Friend To Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 August 2017

Hari ini ku duduk diam di teras rumah. Ditemani senja dengan hamparan langit jingga di hadapan. Serta semilir angin yang menyejukkan, yang mampu menerbangkan sang pikiran untuk mengingat kenangan di masa lalu.
Yah. Kenangan itu. Kenangan tak terlupakan. Kenangan tentangnya. Kenangan dengan sebuah cerita yang dimulai 4 tahun yang lalu.

Baiklah. Ini aku. Seorang gadis kecil dengan berbagai macam problematika kehidupannya. Namaky May. 4 tahun yang lalu, tepatnya di 2013, aku resmi menjadi salah satu siswi SMA yang ada di daerahku. Aku resmi memasuki zona putih abu-abu. Aku resmi menjadi bagian cerita di masa putih abu-abu. Masa yang katanya paling indah dan berkesan. Yah. Dan memang benar adanya. Aku membuktikannya.

Setelah hari terakhir MOPLS, kami para siswa baru bergegas mencari kelas baru kami. Dan yah, kudapati namaku “Nur Maya Sari” tertera di depan kelas X.3. Kucoba mencari nama yang Latin. Dan Alhamdulillah, secara kebetulan aku pun sekelas dengan dua orang teman SMPku.

Esoknya, aku datang dan masuk ke kelas dengan rona wajah penuh semangat. Namun suasana masih nampak asing. Hanya dua orang yang baru kukenali. Hal ini wajar terjadi di masa-masa awal seperti ini. Aku tak mempermasalahkannya dan aku pun menikmatinya.

Singkat cerita, kami menjalani hari-hari penuh semangat. Berminggu-minggu, aku sudah dekat dengan semua siswa di kelas. Dan berbulan-bulan setelahnya, di antara semua siswa pria yang dekat denganku, ada salah seorang diantaranya yang bisa dibilang “yang terdekat di antara yang dekat”. Yah. He’s my best friend. Namanya Wahdin. Entah bagaimana mulanya aku bisa sangat dekat dengannya. Mungkin karena seringnya kami ke sekolah di sore hari, untuk sekedar bersih-bersih dan membenahi kelas. Maklumlah, wali kelas kami memang sangat teliti dalam urusan kebersihan dan keindahan kelas. Dan wajar saja, kelasnya selalu mendapat juara umum I pada lomba 7K tiap semesternya. Selain karena itu, mungkin juga karena terlalu seeing debat tidak jelas. Akhirnya selalu ada obrolan setiap hari. “Debat” di sini dalam artian yang berbeda. Yang topiknya tak jelas tentang apa. Yang di dalamnya selalu ada tawa yang menyertai. Yah, mungkin karena itu. Mungkin.

Hari demi hari terlewati. Sejak itu, hariku selalu dipenuhi semangat yang tak pernah surut. Senyum dan tawa pun tak pernah pergi meninggalkanku sendiri. Hingga seiring berjalannya waktu, kuarasakan ada hal yang berbeda. Sangat berbeda. Aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku selalu ingin dia hadir di setiap bagian kecil dalam ceritaku. Dan yang paling berbeda adalah ada sesuatu yang terjadi pada hatiku. Sesuatu yang membuatnya mengusir semangatku pergi, ketika ku melihat Wahdin dengan yang lain. Apa INI? Aku tak tau. Seperti inikah rasa sebagai seorang Sahabat? Tidak. Aku pun tak tau harus bagaimana memaknai rasa ini. seiring berjalannya waktu, kami semakin dan semakin dekat hingga rasa “aneh” itu bukannya menghilang namun justru kian tumbuh dan tumbuh. Setiap hari ku bercanda dengannya. Aku sering membantunya mengerjakan tugas-tugasnya. Dia pun sering mengantarku saat pulang sekolah.

Hingga di suatu ketika, smangatku tiba-tiba hilang entah ke mana. Senyum dan tawaku tak lagi ingin menemaniku sesering dulu. Ketika kudapat fakta yang benar-benar mengejutkanku. Fakta bahwa dia menjalin hubungan dengan salah seorang teman kelasku, Ervi. Yah, entah kenapa ada sesak. Seolah oksigen menolak masuk ke tubuhku. Apa ini? Wahdin adalah Sahabatku. Seharusnya aku pun bahagia. Tapi tidah. Yah, Tidah. Ini bukan rasa sebagai sahabat, tapi lebih dari itu. Sejak itu, sikapnya tetap tak berubah denganku, masih seperti yang dulu. Sedangkan aku? Aku pun masih sama. Meski sebenarnya, di dalam hati, ku ingin menjauh dan menjauh, sebagai suatu cara untuk mengusir rasa “aneh” itu dari dalam hatiku. Rasa aneh yang takkan menjadi rasa manis di masa depan. Berbagai cara ku coba lakukan. Tapi tak pernah berhasil. Memang suatu hal yang sulit. Aku sekelas dengannya. Setiap hari bertemu dengannya. Dan dia tidak pernah gagal membuatku tertawa.

Setelah sekian cara kucoba lakukan, tak ada yang berhasil. Justru rasa aneh itu tak kunjung pergi. Sakin bertambahnya rasa aneh itu, semakin besar pula sesuatu yang seolah menyumbat saluran napasku. Seolah menghalangi oksigen masuk ke tubuhku. Sesak. Sakit. Namun tak tau di mana obatnya.

Beberapa bulan setelahnya, hubungan Wahdin dan Ervi terhenti. Sudut bibirku mulai mengukir senyum kembali. Namun lagi-lagi, fakta bahwa Wahdin ternyata masih menyimpan rasa untuk Ervi, membuat ukiran senyum itu hilang kembali. Aku tau itu. Yah, karena aku sahabatnya. Tak lama setelah itu, ternyata Ervi telah menjalin hubungan dengan seorang kakak kelas. Aku pun tau bahwa Wahdin merasakan sakit saat itu. Namun ketika pikirannya telah terbuka, dia pun mencoba melupakannya. Hingga cerita kami seolah kembali seperti di awal cerita. Dekat dan sangat dekat. Ukiran senyum itu kembali. Namun tidak dengan hatiku. Masih ada sakit dan sesak. Karena apa? Karena aku tak pernah tau, apakah rasa aneh itu juga ada dalam hatinya. Ah …. Entahlah… Aku tak pernah berani mengatakannya. Rasa takut selalu saja menghampiri.

Di akhir semester dua, aku mendapatkan tanda. Tanda kecil yang selalu berhasil membuat otakku berfikir keras. Tanda kecil yang membuat kepalaku selalu dipenuhi tanda tanya. Kurasakan bahwa dia pun memiliki rasa aneh itu dalam hatinya untukku. Dari test psikologilah, yang iseng kucoba padanya. Dan dari ucapan teman-temannya yang spontan.

Tapi lagi dan lagi, rasa sesak dan sakit karena sebab lainnya kembali datang. Di kelas XI, aku berada di kelas yang berbeda dengannya. Aku di XI IPA 3 dan dia di XI IPA 1. Dan bersama Ervi. Mulai saat itu, kekhawatiran selalu saja berada di sampingku. Terlebih di saat itu aku makin ada jarak dengannya. Dan jarak itu seolah terus bertambah dan bertambah saja. Terlebih lagi, ketika di suatu malam, saat ada obrolan dengannya di sosial media. Konflik itu muncul. There’s a little problem at the time. Tapi kata “little” itu kian lama berubah menjadi “big”. Yeah, there is a big problem. Yang membuat jarak kami jauh dan sangat sangat jauh. Bahkan tak ada komunikasi sedikitpun hingga berbulan-bulan. Yang semakin menambah sesak di dadaku. Ingin kujadikan hal itu sebagai upayaku untuk menjauh dan menghilangkan rasa aneh itu, tapi faktanya logika dan hatiku benar-benar tak sejalan. Hatiku masih mengunci rapat-rapat rasa aneh itu di dalamnya. Tak ingin melepasnya. Sangat lama. Hanya sesak yang setia berada dalam hatiku.

Hingga tibalah, hari Ied, kuputuskan untuk meminta maaf padanya meski tak secara langsung. Lama dan lama tak ada balasan. Baiklah, aku pasrah. Namun dua hari setelahnya akhirnya ada balasan. Dengan ucapan yang sama. Sejak itu, sudah ada sedikit komunikasi. Hanya sedikit. Dan dari situ kuketahui, bahwa rasa penasaranku belakangan ini juga dirasakan olehnya. Terbukti dengan kuterimanya tiga Kali “salam” darinya melalui tiga orang yang berbeda pula.

Hingga di suatu malam. Tepatnya Sabtu malam, 28 February 2015, ada obrolan dengannya. Via SMS. Awalnya biasa saja. Hingga ada balasan yang seolah memberiku sayap dan membuatku terbang. Seolah membuka gembok di hatiku dan melepaskan rasa sesak yang tak mau pergi itu. Apa yang dia katakan?

“Aku sayang kamu, May”. Lama kudiamkan. Kuanggap dia bercanda karena memang dia orangnya sangat humoris. Hingga kucoba mengirimkan balasan “Jangan bilang begitu, nanti ada yang marah”. “Tidak May, aku hanya suka padamu”. Balasan kali ini kembali membuat kepalaku tak tau harus memikirkan apa. Kucoba tanyakan tentang keseriusannya itu. Dari sekian banyak pertanyaanku, sebanyak itu pula dia meyakinkanku. Aku masih tak percaya, hingga kucoba mengalihkan pembicaraan. Dan ku berharap dia akan mengatakannya langsung di hadapanku.

Tapi lagi dan lagi, rasa “sesak” itu kembali masuk dan terjebak dalam hatiku. Karena di sekolah, tak ada tanda bahwa kalimat itu pernah ia keluarkan untukku. Dia cuek dan sangat cuek. Apakah ia lupa dengan yang pernah ia katakan malam itu. Kenapa sikapnya sangat berbeda. Seolah menjauh. Ah …. Apa ini hanya lelucon? Tidak. Ini masalah hati yang take bisa dijadikan lelucon. Dan kenapa pula rasa “aneh” itu tak kunjung keluar, pergi dan menjauhi hatiku.
Ah…. Hati dan logikaku kembali beradu.

Baiklah, sejak itu aku dan dia masih seperti biasa (bukan seperti di awal cerita). Biasa. Seolah hanya teman. Bukan lagi Sahabat. Dan lagi-lagi kupertanyakan. Apa hati ini gila? Kenapa ia tak ingin melepaskan rasa aneh itu.

Lama dan lama dia kembali dekat denganku. Namun dengan alasan yang berbeda. Dia selalu meminjam buku-bukuku. Dia selalu memintaku mengerjakan tugas-tugasnya. Bahkan hingga di kelas XII sekalipun. Entah kenapa, logikaku menjadi antagonis, “Sadarlah.. Dia hanya memanfaatkanmu”. “Ah.. Tidak. Tidak. Dia baik, dan tak mungkin ia berniat seperti itu”, hatiku sangat membantahnya.

Kucoba membantunya semampu, sebisaku, dan seikhlasku. Ada perasaan puas setelah aku dapat membuatnya tersenyum. Namun setelah ia berlalu, “rasa sesak” itu lagi-lagi mendominasi. Ah… Apa lagi ini?.

Menjelang semester akhir, lagi-lagi kudapati fakta yang menyesakkanku. Ketika telingaku menangkap sebuah kalimat dari teman-temanku, “Ituloh, anak kelas XII ada hubungan dengan anak kelas X, Wahdin dan Fatimah”. Aku berlagak acuh dengan berita itu, namun tidak dengan hatiku yang seolah ingin melompat keluar dan meninggalkanku. Oh, inikah arti dari sikap cueknya selama ini. Kucoba tanyakan padanya, namun ia tak pernah mengakuinya. Ah sudahlah… Aku mulai bosan dengan rasa aneh dalam hatiku. Kucoba mengikuti alur, mengikuti takdir dan membuang jauh-jauh harapan itu. Harapan yang hanya akan menjadi sekedar harapan hingga di hari perpisahan.

Di hari terakhir kami di masa putih abu-abu, sebenarnya ingin kuceritakan ini. Namun nyaliku tak sebesar itu. Keberanianku tak sampai pada tahap ini. Because, actually I’m an introvert person. Hingga rasa itu dan cerita itu hanya bisa kusebut “Cinta dalam Hati” yang tak pernah terungkapkan

Sekarang. 2017.
Aku di Makassar melanjutkan studyku. Dan dia? Aku tau di mana ia sekarang dan bagaimana pula kabarnya. Kadang ku hanya bisa tersenyum mengingat kisah itu. Tak menyangka. May si pendiam pernah masuk ke dalam zona itu. Zona dengan rasa aneh yang tak pernah terungkapkan.
Itu dulu. Dan sekarang, hidupku terasa lebih bahagia dan bermakna. Rasa sesak itu telàh pergi dan menjauh. Begitu pula dengan rasa yang aneh itu.
Memorable. Funny. Hurt… Entah kata apalagi yang dapat menggambarkan kisah itu…

END

Cerpen Karangan: Helvi Mei Sari
Blog: catatanhelvi.blogspot.com
Nama Helvi Mei Sari, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Jurusan Bahasa Inggris
Facebook : Helvi Mei Sari
Instagram : helvimei12
Twitter : @helvi_mei

Cerpen A Strange Feeling From Best Friend To Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apakah Semua Masih Bisa Seperti Dulu

Oleh:
Kata orang masa putih abu-abu itu adalah masa-masa menyenangkan dimana kita sudah mulai bisa belajar kedewasaan. Cerita ini kuawali sewaktu aku duduk di bangku SMA. Disini aku mulai mengenal

I like You, She like You, You like…

Oleh:
“Nay, cepet dong!” keluh Shina, sahabatku. “Iya Shina cerewet!!” ucapku sambil menekankan nada bicaraku. “Yuk Shin!” ajakku. Kami segera naik Taksi yang sudah di pesan Shina. Rencananya, hari ini

Khayalanku

Oleh:
Siang itu, sinar matahari terlalu sengit untuk dilihat secara langsung hingga menembus kaca mobil. Aku (Sesil), Kirin, Didi, dan Julian yang sedang menyetir mobil, sedang menuju Dunia Fantasi yang

Friendzone

Oleh:
Sore itu hujan membawa ku bernostalgia, mengingat teman-teman semasa SLTP dulu. Melalui akun instagram ku, aku melihat-lihat akun instagram milik Fafa. Salah satu teman akrab ku semasa SLTP dulu.

Salahku

Oleh:
Matahari mulai menampakkan diri, gelap kini berubah menjadi terang, bukan siang hari, tetapi masih pagi hari, masih dengan suasana yang sejuk dan dingin yang alami. aku terduduk di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *