About You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 July 2016

Oke, cinta memang tak pernah salah. Ia akan menentukan sendiri kemana muara yang ia tuju. Tapi bagaimana nasib cintaku? Salahkah aku bila mencintai cowok seperti ini.

Agustus 2015

“Lagi masak apa?” tanyanya tiba-tiba.
“Ohh.. Ini lagi masak air teh buat anak-anak tuh lagi pada olahraga, lumayan dapet tanda tangan nanti sama kakak pembinanya.”
Ya, aku dan beberapa temanku memang sedang tidak di sekolah. Kami sedang melaksanakan semacam Jambore Pramuka Penggalang selama 3 hari.
“Megang pancinya biasa aja atuh, kan gak panas. Nih..” dia memberi contoh. Memang tidak panas, tapi caraku memang tidak sengaja (bisa dibilang refleks). Aku hanya ketawa.
“Oh ya, gak olahraga?” sekarang giliranku yang mengomentari dirinya.
“Gak ah males, gaperlu tanda tangan. Mending disini aja masak teh.”
Aku refleks menatapnya. Kan aku yang lagi masak, kenapa dia yang ngaku-ngaku? Sudahlah lupakan.
“Ihh manis gak ya? Takut gak manis atau kemanisan.” gumamku.
“Nih cobain dulu.” dia menyodorkan sendok yang dipegangnya kearahku. Aku gugup karena tingkahnya yang tiba-tiba. Dia masih menatapku. Akhirnya aku menyodorkan tanganku bermaksud ‘taro aja di tangan gak usah disuapin’, dan dia pun sepertinya mengerti lalu langsung menuangkan di tanganku.
“Gimana pas gak?”
“Hmm.. pas kok. Udah matiin kompornya.”

Oktober 2015

Sudah 2 bulan ini aku berhubungan selayaknya sahabat dengannya. Tapi 1 hal yang entah bagaimana aku ceritakan, kita bersahabatan seperti orang pacaran. You know what, kita ada panggilan sayang lah, nanyain udah makan atau belum, dan lain-lainnya yang sebenarnya gak penting.
Aku tergabung dalam suatu organisasi di sekolah yang bersaing ketat dengan OSIS. Dia adalah ketuanya. Kebetulan besok ada acara yang organisasi kami lakukan. Aku sekretarisnya.
“Ya ampun ini gimana makalahnya sih.. Proposal juga belum diacc lagi, harus direvisi lagi.” aku marah-marah sendiri. Sebenarnya sudah dari kemarin aku janjian dengannya untuk mengambil makalah yang dibuatnya untuk membantuku.
Handphoneku berbunyi. Aku membuka pesan yang masuk.
‘Sayang, jadi ga? Tapi hujan nih, gimana dong?’
Aku membalasnya dengan cepat, ‘Yaudah nunggu hujan reda ya..’ Aku deg-degan sekali karna ini adalah pertama kalinya dia datang ke rumahku.

Xxx : Sayang, udah reda nih. Tapi mau maghrib..
Aku : Ya udah sebisanya kamu aja deh.
Xxx : Sehabis maghrib ya sayang?
Aku : Iya

Aku sengaja jarang memanggil dia sayang, karena aku tahu ini hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
Sehabis Maghrib.

Xxx : Sayang aku udah di depan gang kami nih.
Aku : Iya bentar tunggu ya.

Aku segera memakai sendal dan menemuinya.

“Nih ada di flashdisk ya” katanya.
“Iya, makasih banyak.” aku sadar tingkahku sangatlah kaku. Mungkin dia menyadari dan ingin membuat suasana tidak kaku dia mengajakku ngobrol lagi.
“Rumah kamu yang mana sih?” khawatir semakin jelas kalau aku gugup aku berbisaca menjawabnya dengan cepat dan panjang.
“Itu tuh yang tingkat, cat abu, pager coklat.” dia hanya termaut-maut. Oke giliran aku yang mencairkan suasana.
“Mau mampir?” serius ini butuh keberanian yang super duper untuk mengatakan ini. Dia menatapku seakan berbisaca ‘apa yang kamu bilang tadi aku tidak mendengarnya’. Akhirnya kuputuskan untuk menjawab “Hahaha bukan apa-apa.”
“Yaudah aku pulang ya, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam, hati-hati.”

Tiba di rumah aku mendapat sms dari dia.
Xxx : Gugup amat ketemu sama akunya?
Aku : Iya tah? Aku emang begitu ah rasaan.
Xxx : Gugup tau keliatannya. Oh ya td kamu bilang apa?
Aku : Hahaha, ga denger ya?
Xxx : Engga, apaan emang?
Aku : Mampir dulu ke rumah.
Xxx : Jangan ah nanti dikira mamah kamu, aku ngapelin anaknya. Lagian aku bingung mau ngomong apa sama mamah kamu.
Aku : Ihh ga papa padahal nanti juga ngobrol.
Xxx : Yaudah lain waktu ya?
Aku : Iya sekalian ajak adek-adek kamu sama mamah kamu.
Xxx : Nanti mamah-mamah kita ngerumpi, kita ngomongin kerjaan, hahaha.
Aku : Hahaha iya sih ya, kacau gitu mah.
Xxx : Aku ngebayangin kalau jadi ke rumah kamu, hahaha.

Banyak obrolan manis di antara kita, seperti:

Xxx : Jalan deh yuk, daripada kamu marah gitu.
Aku : Kemana?
Xxx : Ke pure atau ke ampera.
Aku : Ampera tempat apa tuh?
Xxx : Pokoknya bagus banget tempatnya kayak perkotaan diliat dari atas gitu. Tapi sore aja kita kesananya, kalau malem aku takut ada hal yang ga diinginkan terjadi.
Aku : Hahaha berdua?
Xxx : Terserah kamu.
Aku : Pasti ga boleh sama mamah, lagian takut ketauan sama temen-temen, nanti dikira kita ada apa-apa.
Xxx : Ga papa dikira ada apa-apa sama kamu.
Aku : Ga berani izin ke mamah.
Xxx : Aku yang izinin deh.
Aku : Kalau jadi, dimana izinnya tuh?
Xxx : “Mah, pinjem …. nya sebentar ya, pulang perginya dijamin deh.”
Aku : Hahahaha parahhh.

Atau seperti ini:

Aku : Kamu sakit apa?
Xxx : Kaki aku sakit.
Aku : Udah di pijet atau minum obat pereda nyeri?
Xxx : Belum di pijet, bapak aku belum pulang. Ga mau minum obat akunya.
Aku : Hhhh, kamu beruntung aku ga ada disitu.
Xxx : Emang kenapa?
Aku : Nanti aku yang paling cerewet sama kamu.
Xxx : Emang berani tah?
Aku : Adek aku cacar aja aku teriakin supaya gak keluar.
Xxx : Kalau kamu disini aku diapain tuh sama kamu?
Aku : Banyak, apa yang ga mau kamu lakuin, aku paksa. Dari minum obat, dipijet, diurut, dikompres, istirahat, makan, minum, dll.
Xxx : Nginep atuh kamunya?
Aku : Jangan nanti banyak hal yang perlu ada kalau aku nginep.
Xxx : Apa aja tuh?
Aku : Boneka desi, bantal, guling kesayangan, makanan juga harus banyak.
Xxx : Kesini aja kamunya, sekalian aku nikahin.
Aku : Nikahin siapa?
Xxx : Kamu

Dan masih banyak percakapan romantis lainnya.

Sebenarnya, aku tahu dia menyukai orang lain. Aku tahu itu, dia sering cerita kepadaku setiap saat tentangnya. Menanyakan kabarnya, ataupun hal lain yang ga penting. Tapi bagaimana jika rasa ini seakin tumbuh? Aku mau persabahatan kita murni, gaada yang berharap lebih. Kalau kamu bilang ‘Hati-hati sabahat bisa jadi cinta loh’ aku akan menjawab ‘Bukan sahabat menjadi cinta, tapi cintaku yang memaksa aku menjadi seorang sahabat dari apa yang kucinta’.

Ya memang aku menyukainya telah lama, kita satu sekolah terus dari kecil hingga saat ini. Dan aku mengagumimu dari lama sebelum kita menjadi seorang sahabat. Tidak ada yang tahu menahu tentang hal ini. Ini rahasiaku.

Tapi sekarang apa? Itu semua hanya menjadi kenangan. Itu semua hanya bagian dari manisnya hidupku. Benar kata-kata orang ‘Hidup seperti roda’ mungkin aku sedang berada di bawah. Berada jauh dari dirimu. Aku tidak tahu apa alasanmu meninggalkanku.
Apakah kamu sudah tahu bahwa aku memiliki rasa terhadapmu? Kalau iya, mengapa kamu tidak menghargaiku? Aku selalu mencoba memposisikan diriku sebagai sahabatmu. Aku tidak meminta lebih darimu, sayang. Aku ingin kita yang dulu. Aku ingin kamu.
Tapi aku sadar kalau aku ini hanya dimanfaatkan olehmu. Ketika kamu menyukai temanku, kamu memanfaatku sebagai media informasi gratis.
Tapi ketika kamu telah meninggalkan temanku, kamu juga meninggalkanku. Benarkah aku?
Satu hal yang aku pinta, ucapkanlah kata perpisahan untukku agar aku akin dengan keputusanku untuk melupakanmu, atau jika tidak… kembalilah bersamaku. Aku tak keberatan menjadi seorang sahabatmu lagi asal aku selalu bersamamu.

Cinta tak harus memiliki kan?

“I’m alive but I’m losing all my drive. ‘Cause everything we’ve been trough and everything about you.” – Goodbye by Secondhand Serenade

Cerpen Karangan: Secret Admirer

Cerpen About You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Kecil Biru

Oleh:
Pintu kafe berdecit pertanda bahwa ada seseorang yang telah mendorongnya, seseorang itu adalah Varsha Ranegin. Untuk sesaat gadis berjilbab merah muda itu terpaku di depan pintu, tanpa bisa menggerakkan

Aku Akan Belajar Mencintai Dirimu

Oleh:
Seorang gadis melangkahkan kakinya di lorong kelas 11 MIPA, saat ini ia menuju ke kelas barunya 11 MIPA 3. Terlihat dalam kelas para siswa dan siswi tengah bercengkerama satu

Tuhan Memang Baik

Oleh:
Hari pertama sekolah, memang menyenangkan bagiku. Aku sangat suka lingkungan baru. Tetapi, aku tidak yakin bisa mendapat teman baru secepat petir menyambar. Aku termasuk anak yang pendiam, tak banyak

Tertipu

Oleh:
Guyuran air dingin mengembalikkan kesadaranku hingga penuh. Bulir air yang menghantam kepala dan pundakku mental tak beraturan, kadang membasahi handuk yang ku gantung di dekat pintu. Suara hempasan air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *