At Least Wait For Me To Express

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 June 2015

Dia tersenyum manis..
Aku yakin bertambahnya umurku, kini lah yang membuat arti senyuman itu lebih dari sekedar senyuman. Ragu-ragu aku membalas senyuman itu, mata ku beralih dan mencuri perhatian untuk sekedar melihat plat nama di baju putih yang ia kenakan. Mungkin saja aku mengenalnya. Dafara Qultom A, hanya itu yang terlihat karena sebagian lagi tertutup tas yang ia sandangkan. Dari awal aku sudah menduga bahwa aku memang tidak mengenalnya. Aku pun memilih duduk di samping seorang ibu-ibu dengan bayinya yang tampak tertidur pulas. Oh astaga.. sambil menerka-nerka, tak sengaja aku melirik lambang sekolah lelaki dengan senyuman manis itu. Pantas saja dia ramah padaku. Mungkin dari awal ia memperhatikan rok abu-abu dengan biku belakang yang aku kenakan. Di kota ini memang hanya sekolah ku yang pelajar wanitanya memakai rok biku belakang, lambang kelas memang tak ada. Aku terus memikirkannya sambil memainkan handphone ku agar tak terlihat melamun.

Entah apa yang saat ini ia lakukan, senyuman manis itu membuat aku hanya terus penasaran dengan apa yang ia lakukan saat ini. Melamunkah? Memperhatikan-ku kah? Atau apa saja yang pasti aku ingin melihatnya lagi. Tapi yang benar saja, aku pemalu dan hanya bisa membuat diriku terlihat biasa saja. Terlihat angkot yang ku naiki ini hampir penuh, sebab seorang wanita yang umurnya kira-kira setengah abad ini hendak naik. Tapi sayang, tempat duduk di angkutan ini hampir penuh. Wanita itu masih sibuk mencari tempat duduk yang mudah dijangkauannya. Tiba-tiba.. jantungku berdebar kencang.
“Eh… eh, dek. Lebih baik kamu duduk disini saja” tawar lelaki yang ku kenal saat ini namanya Dafara Qultom A sambil tersenyum manis. Ia menyuruhku duduk di sampingnya, matanya menunjuk seorang nenek-nenek yang masih sibuk mencari tempat duduk yang mudah dijangkauannya. Dengan wajah agak polos aku mengangguk pelan dan pindah untuk duduk di sampingnya karena aku mengerti maksud baiknya mungkin agar nenek tersebut tak susah untuk segera duduk. Aku sangat kagum pada lelaki yang saat ini berada di sampingku, ia sangat sopan dan tak malu menuntut kebaikan. Aku beruntung satu sekolah dengannya, entah kenapa pujian itu datang untuknya..

Keesokan harinya aku mulai memasuki ekskul yang ku ambil saat mulai masuk sekolah, yaitu paduan suara. Dari hasil seleksi, aku dipilih sebagai suara sopran dan beberapa kali dalam seminggu harus dilatih. Benar-benar tak ku sangka, lelaki bernama Dafara itu berada di ekskul yang sama. Aku melihatnya dari arah berjauhan. Setelah ku cari tahu, ternyata ia juga salah satu dari anggota paduan suara. Namun ia mendapat suara bass dan dia juga sudah kelas 3, jelas aku harus memanggilnya dengan sebutan kakak. Jujur saja di dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat senang. Hal ini bagaikan penyemangat tersendiri bagiku.

Dari hari ke hari aku semakin ingin tau tentangnya bahkan karena tau separuh namanya aku cari tau tentang dirinya melalui sosial media seperti facebook, twitter dan lainnya. Walau di dalam diriku masih ada rasa malu, terkadang aku masih ragu untuk membuat keputusan pertemanan kepadanya walaupun hanya sekedar di dunia maya. Aku hanya melihat isi profil miliknya, selalu melihat hal-hal baru yang ia masukan dan sedikit mengagumi ketampananya. Mungkin itu memalukan, tapi rasa suka ku padanya kini menghapus semua kata malu. Toh, juga tidak ada yang tahu. Perasaan ini tak sanggup ku pendam sendirian, jadi aku memutuskan untuk berbagi dengan kakak kandungku dan seorang sahabat satu kelasku. Aku bersyukur karena mereka tidak menertawaiku karena jujur saja aku sangat malu mengakuinya namun mereka malah selalu men-support-ku walau juga sering menggodaku jika ada sesuatu yang berhubungan dengan kak Dafara. Kini aku mulai memanggilnya dengan sebutan kakak.

Kakak seniorku yang bernama Cici memang sangat sangat cantik dia juga satu ekskul dan juga satu suara denganku. Suaranya sangat bagus sampai aku minder untuk bisa duduk di sampingnya. Dia sangat baik, ramah, manis, bahkan pintar. Aku sampai ngefans sama itu orang. Semua yang dia lakukan itu spesial di mataku, dia sudah seperti kakak sendiri.

Malam itu tiba-tiba saja terasa hening dan aku pun menangis, aku bergetar memegang handphone-ku yang masih terbuka. Terpampang lah profil kak Dafara dari facebook. Aku memang tak melihat semua isi profilnya dan ini membuatku merasa kecewa. Aku mendapati bahwa kak Dafara sudah punya pacar. Aku jadi malas untuk mengetahui siapa wanita yang beruntung itu. Saat itu aku hanya bisa diam dalam hati, merasa tak adil. Aku mulai malas mengikuti seluruh kegiatan ekskul, apalagi jika bertemu dengan kak Dafara. Tapi untung saja aku mengetahui kalau kak Dafara tidak latihan untuk hari itu.

Aku baru tahu ternyata salah satu temanku juga mengagumi kak Dafara hingga sampai gosip-gosip tentang pacar kak Dafara pun sampai di telingaku. Aku ingin sekali berteriak sambil mengatakan bahwa aku membenci kak Cici. Aku kaget beserta tak terima, ternyata kak Cici lah pacar kak Dafara. Ini sangat memalukan, sudah begitu lama kenapa baru sekarang aku mengetahuinya? Memang benar, kak Cici tidak terlalu agresif jika ada sosok kak Dafara di hadapannya. Mungkin hal ini membuatku tak menyadarinya. Semenjak itu aku tak pernah lagi menyapa kak Cici, apalagi dari waktu ke waktu hubungan mereka semakin terlihat dan tersebar kemana-mana.

Hingga Maulid Nabi Muhammad SAW pun tiba. Sebelumnya aku mengetahui bahwa di acara itu kak Dafara akan membaca alquran —karena ia juga salah satu pengisi acara. Hampir setiap kali latihan aku bertemu dengannya. Aku sendiri merasa kesal, padahal aku ingin perasaan ini berakhir dengan sedikit menjauh dari hadapannya. Tapi pertemuan-pertemuan ini tidak bisa dicegah. Dan saat ini aku kembali melihat senyum miliknya, tapi kali ini berbeda. Kulihat lesung pipi kecil di pipinya, ternyata ia tertawa begitu cerianya.

Saat ini kak Dafara sangat tampan, ia memakai baju putih polos dengan peci hitam yang melingkar di kepalanya. Ia akan membacakan alquran. Entah surah apa dan ayat berapa, hatiku bergetar mendengarnya. Kalau orang lain menikmati suaranya yang merdu, pasti responnya akan sama persis sepertiku. Kini aku malah diselimuti rasa paham, aku termenung hampir meneteskan air mata. Tanganku berkeringat dingin, aku pun mengusapnya sambil berkata di dalam hati “Kau memang bukan milikku. Kau tak pantas untukku. Kau jauh di atas dibandingkan aku. Kini siapapun memilikimu, ia pasti begitu cantik. Pasti dia sangat pantas untukmu dan memiliki derajat yang seimbang denganmu. Aku ingin melupakanmu dan maaf aku hanya sekali membalas senyumanmu..”

Kak Dafara beserta saritilawahnya pun kembali duduk setelah ia membacakan ayat suci Al-Qur’an yang baru saja selesai. Tepukan tangan dari para undangan acara tersebut pun terlihat begitu kagum saat mendengar suaranya. Tak lama kemudian, seorang Ustadz yang menjadi tamu di acara itu pun berkata sebelum memulai ceramahnya. “Berebutlah kalian wanita-wanita di sini untuk mendapatkan Dafara..”.

END

Cerpen Karangan: Mahyar Diani Sembiring
Facebook: Mahyar Diani

Cerpen At Least Wait For Me To Express merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Richy

Oleh:
Masih pagi. Dari bawah aku melihat laki-laki yang berada di depan kelasku. Pandangannya sangat mengganggu. Wajahnya sama sekali tak kukenal. Pasti dia bocah baru disini. Namun setelah aku menginjak

Cinta Yang Tak Terbalaskan

Oleh:
Ketika pulang sekolah, dan mau les nge-band di sekolah Happy mengejarku.. “Sasha tunggu.” kata Happy. “Ada apa Happy?” kataku. “Aku pengen ngomong sama kamu.” kata Happy. “Iya tapi ngomong

Langit Biru

Oleh:
Pertengahan semester ini aku pindah ke Jakarta bersama kedua orangtuaku. Karena nilai UN ku bagus, aku keterima di SMA Bani Bangsa, SMA swasta favorit di sini. “Silahkan perkenalkan dirimu!”

Kau dan Pendakianku

Oleh:
Pagi ini aku sudah siap dengan semua peralatan, perlengkapan pribadi serta logistik di dalam ransel seberat 40 liter. Sepatu bertali serta jaket anti air pun tak lupa ku bawa.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *