Awal Yang Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 May 2016

Kisah ini berawal dari pesan singkat yang dikirim temanku atas nama kakak kelasku yang sebelumnya tak aku kenal, mungkin ini konyol, tapi inilah yang aku rasakan, perasaan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan pada siapa pun. Perasaan yang selalu menyiksaku setiap waktu seiring berjalannya waktu perasaan ini tumbuh. Benih-benih cinta ini mekar di dalam hatiku. Ku tarik tangan sahabatku menjauh dari teman-temanku yang lain, karena aku takut nanti ada yang mendengarkan percakapan kami, setelah cukup jauh dari yang lain ku pelan-pelan ngomong.

“Ra aku mau ngmong sesuatu,”
“Ngomong aja kali, mau ngomong apa sih sampai kamu menjauh dari yang lain,” Rara kaget dengan sikapku yang tak seperti biasanya.
“Tapi sebelum aku ngomong, kamu janji dulu ya jangan kasih tahu siapa-siapa, janji,” sambil menjulurkan jari kelingkingku. Rara pun menyambut jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya dengan sedikit heran.

“Emangnya apa sih yang ingin kamu katakan, sampai harus janji dulu?”
“Aku suka sama Dimas,” kataku agak takut.
“Ha… Kamu suka sama,” belum sempat meneruskan kata-katanya aku membungkam mulutnya dengan tanganku. Mungkin dia masih terkejut dengan apa yang barusan aku ungkapkan padanya.

“Jangan keras-keras percuma nanti aku menjauh dari yang lain, kalau kamu ngmongnya aja kayak speaker masjid,” aku agak kesel.
“Tapi beneran kamu suka sama Dimas,” Rara seperti tak percaya dengan apa yang aku katakan tadi. Tiba-tiba suasana menjadi hening beberapa detik. Rara membuka percakapan, “Tak pa jika kamu menyukainya, tapi udah tahu kan kalau yang sms kamu itu bukan Dimas tapi Ratih,” Rara mengingatkanku tentang sms itu, sms yang mengenalkanku siapa itu Dimas.

“Iya aku tahu, tapi aku tak tahu perasaan ini muncul begitu saja saat ku tahu siapa yang bernama Dimas,” Rara menepuk bahuku, aku melihat mata Rara seperti mengerti apa yang aku rasakan saat ini. “Kring…Kring…Kring,” tiba-tiba bel tanda jam istirahat telah berakhir berbunyi membuat percakapan kami selesai sampai di sini, kami pun masuk ke kelas masing-masing karena memang kelas berbeda dan pelajaran pun dimulai seperti biasanya.

Hari berganti hari seperti biasa aku lewati sebulan setelah rasa cinta ini muncul dalam hatiku, tiba-tiba semua orang tahu tentang rasa cinta ini, mungkin dia juga tahu, dia yang sebelumnya bersikap biasa padaku kini berubah, hanya tatapan sinis yang ku lihat sekarang. Aku tak tahu siapa yang mengatakan semua karena yang ku tahu hanya aku dan Rara yang mengetahuinya, apakah mungkin Rara yang mengatakan semuanya, itu tak mungkin karena yang ku tahu Rara tak pernah mengingkari janjinya dan dia adalah sahabatku. Mungkinkah Rara mengatakan pada orang ketiga. Tapi aku tak mau berpikiran negatif kepada sahabatku sendiri, aku akan mengakhiri rasa penasaran ini saat nanti aku bertemu dengan Rara. Bel istirahat berbunyi inilah saatnya aku akan menghilangkan rasa penasaranku.

“Ra tunggu,” kataku yang menghentikan Rara, “Ada yang mau aku tanyakan padamu,” lanjutku.
“Iya apa?” sepertinya dia heran.
“Kamu nggak tahu apa pura-pura nggak tahu apa apa yang ingin aku tanyakan,”
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku tiba-tiba emosiku tak bisa ku kontrol karena itu memang rahasia kami berdua.

“Apa kamu menuduhku aku yang mengatakan semuanya?” sepertinya Rara masih tak percaya apa yang aku katakan barusan.
“Bukan begitu Ra, tapi memang hanya kita yang mengetahui ini,” kataku sambil merasa bersalah karena menuduh sahabatku sendiri.
“Tapi bukan aku yang mengatakan itu semua,” katanya, suasana menjadi hening untuk beberapa detik, “Aku tahu Sil, kamu belum sepenuhnya percaya denganku, tapi aku tak pernah mengatakan itu semua pada siapa pun,” lanjutnya.

“Maafkan aku Ra,” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku Rara telah memotongnya.
“Tak apalah Sil aku juga sama saat aku ada di posisimu, ya udah kamu yang sabar ya, ayo kita ke kantin,” katanya.
“Enggak Ra, aku nggak laper kok,” kataku.
“Ya udah aku duluan,” lalu ia berdiri dan berlalu meninggalkanku sendiri.

Lalu siapa yang menyebarkan semua ini pikiranku melayang dan biarkan sang waktu yang mengungkapkannya nanti. Apakah aku salah mencintainya hingga dia membenciku, bukankah cinta hak semua orang, apa terkecuali aku, apakah aku tak berhak mencintai dan dicintai. Apa aku begitu buruk untuk mencintaimu, inikah rasanya mencintai tanpa dicintai, begitu sesak di dada. Begitu menyakitkan mungkinkah cintaku harus berakhir seperti ini, mungkin ini sudah jalannya yang maha kuasa untukku. Aku akan belajar mengikhlaskan semuanya, walaupun hatiku masih belum ikhlas, hati kecil ini masih banyak pertanyaan yang masih belum terjawab.

“Kring…Kring…Kring,” Bel tanda berakhirnya jam istirahat pun berbunyi dan mulailah pelajaran seperti biasa.
“Kring…Kring…Kring,” Bel berakhirnya pun berbunyi.
Semua murid berhamburan ke luar agar cepat sampai di rumah masing-masing tak terkecuali aku. Hari ini hari yang sangat melelahkan bagiku dengan semua masalah yang ku hadapi saat ini, kakiku mulai melangkah ke luar kelas. Mata ini menangkap sosok itu, tatapan itu tak sengaja melintas, tatapan sinis itu, ku keluarkan semua keberanianku.

“Tunggu,” kataku sambil menahan rasa takut yang membakar sekujur tubuhku.
Dia berhenti tanpa menengok ke belakang, “Apa?” katanya datar.
“Kenapa kau begitu membenciku?” Dengan suara terbata-bata dan menahan rasa takut yang sangat besar tapi ku beranikan.
“Karena kamu menyukaiku,” katanya.
“Apa aku salah?” kataku, dia membalikkan badan menghadapku walau kami tak dekat tapi rasanya aku tak kuasa menatapnya.
“Ya kamu salah besar,” katanya, saat itu juga rasanya aku disambar petir yang membuat aliran darah ini membeku, membuat jantung berhenti, dan ku merasa kehabisan oksigen yang menyiksaku, “Aku membenci itu, kau paham,” Ia melanjutkan kata-katanya.

Aku hanya diam dan menunduk karena aku tak tahu apa yang aku lakukan sekarang tak sepatah kata pun yang ke luar dari mulutku karena semua kata yang akan ku keluarkan akan percuma baginya aku selalu salah di matanya. Dia meninggalkanku sendiri tanpa mengatakan apa pun setelah jarak yang cukup jauh aku menatapnya, “Aku juga tak ingin mencintai cowok sejahat dan seegois kamu,” kataku yang cukup keras, dia langsung berhenti dan berbalik menghadapku.

“Maka dari itu lupakan aku dan jangan ganggu aku,” dengan kata tanpa rasa bersalah dan dia pergi meninggalkan tempat yang sebelumnya dia pijakkan, aku hanya seperti manusia bodoh yang hanya menangis tanpa berbuat apa pun dan aku seperti orang gila, gila karena cinta. Mungkin ini sudah takdir cintaku.

Cerpen Karangan: Rohmah
Facebook: DeezZa

Cerpen Awal Yang Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan (Pertama)

Oleh:
Hari ini hari kelulusanku. Kini aku sedang berfoto bersama teman-temanku. Karena foto tersebut akan menjadi kenangan yang nantinya akan mengobati rinduku dengan kebersamaan bersama mereka. Jika kalian bertanya kenapa

Kamu Tahu Ayat Ayat Cinta?

Oleh:
“Ah, masa sih?” Sambil mengerutkan dahi tanda tak percaya “Beneran, tapi kan ini bicara kagum loh ya. Bukan cinta atau suka. Gua nggak tahu kenapa, waktu pelajaran bahasa inggris

Indahnya Hanya Sebulan

Oleh:
Di kantor RW yang saat itu disulap menjadi warung kecil. Pak…pik…puk… krek..krek.. Suara meja, kursi yang digusur di lantai hendak dikeluarkan, lengkap dengan peralatan lainnya. “Vi, sapuin tuh ruangan

Sendu Menyayat Luka (Part 1)

Oleh:
Ini kisah sepasang anak yang berada di persimpangan jalan hidupnya.. Ini kisah sepasang hati yang baru merekahkan kuncupnya.. Ini kisah yang berakhir sebelum semuanya dimulai.. Langit kota Palembang hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *