Bagian Terbaik Dari Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 January 2018

Hari ini, akhirnya perpisahan itu terjadi. Perpisahan dengan kakak kelas 12. Itu artinya, aku harus jauh dari seseorang yang hampir satu tahun terakhir aku kagumi, orang yang telah memberi banyak pelajaran untukku, orang yang membuat aku lebih giat datang ke sekolah, orang yang selalu aku pandangi dari jauh, sekaligus orang yang telah benar-benar mematahkan hatiku di hari perpisahan ini.

Semuanya bermula di suatu hari pada Bulan Juni, namaku tertera jelas di papan penerimaan murid baru di sebuah SMA favorit di kotaku, sekolah berasrama, dan punya kelas luar asrama, aku terdaftar menjadi murid luar asrama karena aku memang tidak pernah mendaftarkan diri untuk masuk asrama. Realina Putri, ya, itulah namaku.

Hari yang ku tunggu-tunggupun tiba, yaitu hari pra dan MPLSB atau dikenal dengan sebutan MOS untuk murid-murid baru di SMAku. Pagi itu aku datang terlambat ke sekolah, ketika aku datang, semua murid baru telah berbaris di lapangan, bagaimana mungkin aku tidak telat, salah satu persyaratan pra-MPLSBnya yaitu harus membawa pot bunga ukuran menengah beserta tanah dan bunga, dan itulah yang aku bawa dengan berlari ke sekolah. Aku rasa aku terlalu bodoh untuk hal ini, tak sedikitpun terfikir untuk naik kendaraan umum.

Pada saat aku datang, semua kakak pengurus OSIS telah berbaris untuk memperkenalkan diri. Protokol pada acara pengenalan itu berkata, “Adik-adik semua, perkenalkan ini ketua OSIS kita, kak Risqi Pratama” begitulah namanya disebut. Itulah kali pertama aku mulai memikirkan seberapa bangga dan beruntungnya menjadi kak Risqi, menjadi ketua OSIS di sebuah sekolah diidam-idamkan banyak siswa.

Jarak antara pra-MPLSB dan MPLSB di sekolahku dua hari, di sini kami melaksanakan MPLSB yang berbeda dari sekolah lain, kami harus menginap di sekolah selama 3 hari 2 malam. Selama itu kami melalui banyak pembinaan. Siangnya pembinaan MPLSB seperti biasa, malamnya kami dibina secara agama, mulai dari tilawah, ceramah agama, dll. Ini adalah bagian terberat selama aku sekolah. Meskipun begitu, inilah bagian dari usaha untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup.

Sebulan bersekolah di sana, diumumkanlah bahwasannya murid kelas 10 harus dipindahkan ke beberapa kelas kosong karena akan diadakan pembangunan kelas baru untuk menggantikan bangunan kelas kami sekarang. Aku dan teman kelasku akan berada satu gedung dengan kelas kak Risqi dan bersebelahan dengan ruang kepala sekolah. Suatu keberuntungan sekaligus memberikan kami tanggung jawab lebih dari kelas lain untuk menjaga nama baik kelas dan sekolah.

Lama tak terdengar kabar tentang kak Risqi. Suatu siang, aku mendengar kabar dari teman laki-laki kelasku bahwa semua murid kelasku harus mendukung mereka di acara pertandingan sepakbola antar kelas, kelasku melawan kelas 12 A (kelas asrama), kelas kak Risqi. Ini adalah pertandingan sepakbola antar kelas di tahun ke 16 yang diadakan sekolahku. “Kalian wajib dukung ya! Ini adalah salah satu ajang untuk memperlihatkan kalau kita kompak!” ucap Didi, salah satu teman kelasku. Sore itu kami semua berkumpul untuk memberi dukungan, aku sengaja membawa terompet untuk memberi semangat teman-temanku, dan ya! Alhamdulillah. Kami menang.

Usai pertandingan, kami berkumpul untuk foto bersama anggota kelas. Aku melihat kesedihan di wajah kak Risqi dan teman-temannya. Rasanya aku ingin berbicara dengannya, tapi apa boleh buat, aku tidak punya keberanian akan hal itu, bahkan kami belum saling kenal.

Semenjak saat itu, aku sering bercerita tentangnya kepada temanku tapi dengan nama samaran, sampai suatu hari semuanya ketahuan oleh temanku. “Rea! Sini!” ucap Iza, salah satu teman dekatku. “Ada apa?” balasku. “Ayo ngaku, yang kamu ceritain selama ini, kakak ketua OSIS yang cuek itu kan?” sambung Iput. “Enggak kok, bukan bukan. Nggak mungkinlah”. Serangan pertanyaan mereka membuatku tak lagi bisa menutupi, bukti-bukti yang mereka berikan tak bisa kusanggah.

Selama semuanya aku sembunyikan dari teman-temanku, aku mulai sadar, kalau rasa kagum yang selama ini aku pendam telah menjelma menjadi rasa suka yang secara tak tertulis telah membuatku terdaftar menjadi stalker barunya.
Hari-hariku telah berubah, setiap malam aku berusaha keras mencari tahu tentangnya dan keluarganya, perjuanganku tak sia-sia, aku tahu banyak tentangnya. Bahkan aku memberanikan diri untuk meminta pertemanan di akun medsosnya. Butuh waktu beberapa hari sampai ia menerimanya.

Beberapa hari setelah itu, tepatnya di pertengahan ujian semester 1. Aku memberanikan diri untuk menyapanya di pesan, “Kak Risqi” sapaku. “hai~” jawabnya, chattingan itu terus berlanjut, bahkan pandanganku kepadanya yang awalnya beranggapan bahwa dia adalah kakak kelas yang cuek, berubah seratus delapan puluh derajat. Rasanya, setiap hari, kedekatan itu semakin terasa, bahkan aku merasakan bahwa ia adalah orang yang care.

Berbagai macam bentuk perhatiannya telah membuatku benar-benar merasakan cinta pertamaku di SMA. Dia juga pernah memujiku. Ditambah lagi dengan dukungan teman-temanku. Aku terlalu larut dalam perasaan ini. Sampai keinginan yang sempat aku ingin lakukan, yaitu menghapus rasa ini, tak pernah terwujud.

Hingga suatu hari, sekitar 6 minggu menuju UNnya, ia sempat mengatakan kepadaku bahwa ia ingin bertemu denganku diluar jam pelajaran, karena kesibukannya, ajakan itu hilang begitu saja, 3 hari setelah itu, ia mengatakan kepadaku bahwa ia harus fokus UASBN, itu adalah penentu kelulusannya, ia juga mengatakan bahwa sebaiknya aku fokus untuk ujian tengah semesterku yang bersamaan dengan tanggal UASBNnya, serta memintaku agar tidak menunggunya untuk chattingan karena ia bakalan sibuk. Ia mengatakan dengan kata-kata terbaiknya kurasa, sampai aku tidak merasa tersinggung sedikitpun.

Semenjak saat itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya, bahkan aku tidak memberinya semangat untuk UNnya. Banyak hal yang aku pertimbangkan, aku takut akan mengganggunya. Hingga hari perpisahan itu tiba, iya, hari ini, harapan-harapanku dihari perpisahan untuknya, mulai dari ingin menyapanya dihari terakhirnya di sekolah, sampai keinginan untuk berfoto dengannya. Hancur bersama kabar yang aku terima, ia memberikan warisan (sebutan untuk kenang-kenangan dari kakak asrama kepada adik-adik asrama) kepada adik kelas perempuannya. Rasanya aku ingin cepat-cepat melihat acara ini selesai, dan berharap bisa melupakannya.

Kini aku sadar, Tuhan akan mematahkan hatiku ketika aku berharap lebih kepada manusia dibanding berharap kepada Tuhan. Aku tidak seharusnya larut dalam perasaan ini. Meskipun begitu, ia adalah salah satu kakak kelasku yang paling baik. Kini, aku akan melepaskan semuanya, aku akan belajar untuk membiasakan diri dengan situasi yang tak lagi sama. Aku akan mengenangnya sebagai “bagian terbaik dari mimpiku”.

Ada hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, setiap jam olahraganya aku berusaha mencari alasan untuk keluar kelas, sekedar melihatnya dari jauh. Aku sering lewat di depan kelasnya kalau-kalau aku bisa menyapanya, walau hampir tak pernah bertemu. Menyimpan foto-foto tentangnya yang berhasil aku temukan. Satu hal yang paling penting, aku selalu mencatat kapan, di mana dan ketika dia sedang apa aku melihatnya. Catatan itu aku simpan di buku, di hp, di tempat-tempat yang memang hanya aku yang tahu.

“Kak, aku selama ini mengagumimu. Sukses ya untuk masa depan kakak, semoga kakak bisa diterima di perguruan tinggi yang kakak cita-citakan. Tetap istiqomah dengan ilmu agama yang kakak dapat selama ini, terutama di asrama SMA. Jangan lupain aku ya, banyak hal yang sesungguhnya ingin aku sampaikan ke kakak, tapi aku tidak punya keberanian untuk itu kak. Sekali lagi sukses ya kak, walaupun mungkin kakak udah lupa sama aku, aku nggak akan lupain kakak kok, karena kakak telah mengajarkanku banyak hal.” ini adalah kata-kata yang ingin tapi tak pernah aku sampaikan.

Cerpen Karangan: Resti Hawa Salsabilla
Facebook: Resti Hawa Salsabilla

Cerpen Bagian Terbaik Dari Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Payung Hijau

Oleh:
Gadis itu duduk di bangku stasiun, tangannya dimasukkan ke dalam saku sweater yang berada di bagian pinggangnya dengan rok berwarna abu-abu yang sedikit basah karena kehujanan. Matanya melirik kanan-kiri

Setelah Aku

Oleh:
Di keheningan malam, kusandarkan tubuhku pada tembok di dekat ranjangku sambil memeluk boneka kesayanganku. Sejenak air mata mengalir basahi pipiku yang tak berlapis bedak lagi, kuingat kembali apa yang

My Soulmate

Oleh:
Hari itu hujan rintik-rintik, aku senang berjalan kaki di saat hujan. Aku ingin minum cappuccino di cafe yang sering ku singgahi. Sampai di depan cafe aku tercengang melihat laki-laki

Jadikanlah Aku Lebih Dari Teman

Oleh:
“Hayooo… Lagi ngelamunin siapa?” Tiba-tiba suara Rini membuyarkan lamunan ku… dengan sedikit gelagapan aku mencoba mengalihkan perhatiannya.. “ah… gak ngelamunin siapa siapa… aku lagi dengerin musik kok.. ini dengerin

Ketika Hujan Turun

Oleh:
Kenangan bersama orang yang pernah kita sayang tidak akan pernah terlupa begitu saja. Kadang kala kita mengingatnya di waktu-waktu tertentu. Namun, jangan terus terpaku pada kenangan itu karena semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *