Bear Brand dan Gebetan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 10 February 2019

SUSU Bear Brand terteguk habis melewati kerongkongan.
Keningku mengernyit. Rasanya hambar. Aku memang baru pertama kali mencicip si merek beruang dan terkagum-kagum saat menelusur kolom komposisi di permukaan kalengnya lalu hanya menemukan tiga kata tercetak di sana: Komposisi: Susu Sapi. Oke, rasa boleh tidak meninggalkan kesan apa-apa tapi susu sapinya yang murni telah membuatku ingin sekali lagi meneguk cecair putih pekat itu.
Tapi—
Sungguh jangan tertipu prolog. Aku tidak mengiklankan si merek beruang ini, hanya bingung saja bagaimana memulai cerita.

Susu sapi murni telah membuatku ketagihan. Dengan sisa selembar uang berwarna biru di kantong celana kolor, aku keluar-rumah keluar-komplek untuk mampir ke konbini dan membeli lima kaleng si merek beruang sekaligus. Empat kaleng bersemayam di plastik putih bercetak logo konbini bersama sebungkus kentang kering, terkait erat di lima jemariku, menggantung menarik perhatian. Kaleng susu beruntung yang mendapat kecupan pertama dari bibirku kini ada di genggaman tangan kanan, berseteru dengan panas matahari di luar konbini. Bersentuhan lagi dengan bibirku yang kering, membanjiri lagi kerongkonganku yang senang mendapat air bah putih dadakan. Lalu apakah kalian bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi?

Karena sesungguhnya ceritaku bukan ber-plot-kan Bear Brand yang bikin ketagihan itu, namun satu yang mendapat afeksiku paling banyak selain keluarga, kopi, ponsel dan kuota internet— ya, gebetan!

Sebagai cewek introvert yang hanya hobi membaca fanfic dan menulis fanfic (abal-abal, tentu saja) juga minum kopi hari baik dan berselancar di rumah Mbah, punya gebetan terselubung memang sedikit memberi kehangatan hati sekaligus menyiksanya habis-habisan. Aku senang dia yang kunamai ‘objek afeksi’ mengenalku dan sering menyebut namaku (misalnya saat bertanya tentang pelajaran atau minta jawaban soal. Yeah.), kalian pasti paham istilah kupu-kupu atau kembang api yang memenuhi perut itu, dan aku bahagia juga terhangati dengan sensasinya. Tapi ya namanya juga cewek introvert, jarang main dan tak banyak bergaul, dekat dengan teman tapi hanya sekedar menjadikannya pelampiasan rasa sepi —aku tak bisa ceplas-ceplos secara gamblang mengenai siapa saja cowok yang mengaku menyukaiku, siapa cowok yang sudah menyatakan perasaan padaku, dan juga siapa cowok yang mendapat rasa suka dariku akhir-akhir ini.

Lumayan menyiksa. Terlebih dia banyak dekat dengan cewek lain (meski aku tahu si cewek itulah yang mendekatinya duluan), dan sudah dipastikan aku tak bisa curhat pada siapapun ketika hatiku menjerit minta pelampiasan. Aku terlalu malu untuk empat mata dengan orang lain bahkan yang sudah kuanggap sahabat dekat, kalau urusannya adalah orang yang disukai—pengalamanku agak pahit karena seorang teman yang hampir-hampir membocorkan curhatanku dulu.

Tapi perasaan menyiksa ini lumayan terobati kala beberapa teman cewekku langsung beralih profesi sebagai orang tuanya—Ibya mengaku sebagai ibunya, aku berteriak ingin menjadi kakaknya, dan yang lain-lain ingin menjadi etcetera. Aku makin terhibur saat semua teman sekelas kini menganggapnya adik bayi bersama. Ketika semua khawatir adik bayi mereka tertinggal angkot pemberangkatan praktek renang, aku ikut dalam euforia khawatir —dengan kata khawatir yang dalam tanda kutip (pasalnya aku memutuskan ikut renang juga karena dia ikut). Lalu ketika dirinya ditemukan berada di angkot lain dengan selamat, semua menyurakinya dan aku hanya tersenyum kecil melihat wajah terlampau mungilnya dibingkai jendela angkot dengan senyum lebarnya seperti biasa. Dan perlakuan lain-lain yang membuat perasaan mendalamku tersamarkan menjadi perasaan bohongan yang sama seperti yang lain.

“Hai, gebetan terpendam, cinta tak terbalaskan,” sapaku dari jauh dengan senyum tipis kala menangkap figurnya turun dari motor bututnya yang biasa. Ia jauh di lahan parkir sana, aku hampir mencapai pos jaga gerbang konbini. Bibirku masih tersenyum tipis.
Aku menenggak susu si merek beruang sampai habis, melangkah pelan-pelan dan sama sekali tak melihat di depanku ada tiang listrik yang menjulang dengan diameter lumayan besar. Dan ya begitulah—
Aku jatuh.

Harus merelakan kaleng-kaleng susuku berhamburan menggelinding tak tentu arah, merasakan dahi berdenyut-denyut, dan juga bokong yang nyeri karena menghantam bumi lebih dulu. Juga harus merasa kehilangan pasokan oksigen kala mendongak untuk mendapat pemandangan di depan lagi, tapi yang kudapat bukanlah pemandangan yang kuharapkan.

Ia memang turun dari motornya seorang diri tadi, tapi ternyata di balik mobil sana sudah ada sesosok perempuan bergaya kekinian yang menunggunya dan langsung saja menggamit lengan kirinya. Aku menghela napas, bangun dari posisi memalukanku dan memunguti kaleng-kaleng yang bertebaran di sekitar pos jaga. Enggan menengok lagi ke belakang. Tak mau kehilangan lebih banyak lagi oksigen.
Dan tak mau pusing saat kaleng si merek beruangku hilang satu. Apa peduliku dengan susu enak manapun jika hati sedang meradang seperti ini?

Ya memang—hidupku bukan FTV yang sekali jatuh kejedot gerobak ketoprak, lalu ditolong oleh cowok tampan dan akhirnya mereka bahagia di ending cerita. Hidupku tidak seperti itu.
Sama sekali tidak seperti itu, dan memang butuh perjuangan untuk menjalankannya dengan hati ikhlas dan penuh.
Aku melupakan sekaleng Bear Brand yang entah kemana hilangnya—
—juga merelakan tigaperempat hatiku yang masih ingin berjuang untuk gebetan nihil harapan.

Cerpen Karangan: Dian Nitasari
Blog / Facebook: Dian N JeonggukieYoongiya

Cerpen Bear Brand dan Gebetan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Balik Jendela Kelas

Oleh:
“Teng… teng… teng…” Jam istirahat sudah berbunyi, pelajaran matematika kali ini ditutup dengan pr yang diberikan oleh guru. Kami menarik nafas lega. Akhirnya bisa santai setelah tegang pelajaran tadi.

Mati Rasa

Oleh:
Matahari telah bangun dari tidurnya, dan aku yang sudah selesai mandi dan siap-siap, berjalan melakukan rutinitasku ke sekolah, sesampainya di sekolah, aku pergi ke kantin, dan aku melihat seorang

Dia

Oleh:
‘Apa Abang pernah dengar cerita ini?’. Dia membuka kisah gosip di sekolahnya dengan pertanyaan yang mustahil kutolak. Jarang –atau bahkan tak ada– lelaki semacamku yang tertarik dengan cerita murahan

Penantian di Bagian Halte

Oleh:
Subuh ini aku mulai menulis kembali. Berani menyita semua waktu tidurku untuk menceritakan kembali tentangmu disana. Aku, saat ini merasakan bahwa kehadiranmu sungguh ada dan duduk di sampingku. Memberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *