Berakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 June 2021

Suga namanya, harus tepat dalam pengucapannya, nggak usah ditambah R, cukup Suga saja. Orang bilang dirinya manis, tapi dia tidak merasa demikian dia hanya merasa dirinya sangat tampan saja. Saat dirinya berusia tujuh tahun kala itu kelas 2 SD seorang ibu guru bertanya kepadanya kenapa namanya Suga kenapa nggak Sugar aja soalnya dia manis seperti gula. Dengan muka sebal dan tatapan songongnya Suga menjawab, “Kalau nama saya Suga, ibu mau apa? Emang masalah? Jangan sembarangan ganti nama orang ya bu. Saya aduin ke mama saya.”. Sejak saat itu ibu guru tidak pernah bertanya lagi, biar tampangnya manis begitu ternyata mulutnya nggak kalah pedas dengan bon cabe level 30.

Suga adalah sosok pria manis dengan tampang badboy incararan para ciwi-ciwi di sekolah. Bahkan saat dirinya kelas 6 SD ada seorang siswi SMP yang terang-terangan mengajaknya berpacaran. Yang sudah jelas ditolak anak laki-laki itu, dirinya masih kecil kinyis-kinyis malahan diajak pacaran sama anak ABG SMP hellow? 12 tahun tahu apa soal cinta-cintaan. Bahkan ibu-ibu komplek sering kali gemas melihat Suga, mereka akan mencubit pipi atau menoel-noel wajahnya saking gemas. Memang tampan kadang membuatnya tersiksa.

Namun saat ini Suga tengah galau, remaja SMA kelas XII itu menatap isi Chat Whatsapp dari Wendy pacarnya sembilan bulan belakangan, yang menyatakan ingin menyudahi hubungan. Isi Whatsappnya sederhanya hanya berisi kalimat “Udah ya.” Singkat sekali. Saat itu Suga memilih cuek dan mengiyakan saja toh nanti balikan lagi seperti yang sudah-sudah.
Namun, seakan sadar bagaikan mengendarai sepeda motor menunggu lampu hijau saat kamu berhenti di lampu merah, waktu sudah berlalu begitu cepat.

Sudah seminggu sejak chat putus singkat itu Wendy tidak menghubunginya lagi, bahkan Instagramnya sudah diblock Wendy dan juga dia tahu bahwa segala postingan foto kebersamaan mereka sudah dihapus oleh Wendy yang diketahui saat meminjam akun adiknya Victor. Bahkan nomor WA-pun sudah diblock saat itu dia mulai sadar bahwa mereka beneran putus. Karena di zaman sosial media seperti ini kalau sudah block akun berati udah putus.

Akhirnya Suga harus menerima kenyataan bahwa ini benar-benar sudah berakhir. Tanpa kejelasan yang pasti. Hatinya ingin mencari Wendy dan meminta kejelasan tapi apa daya ego tinggi, baginya cowok coolboy dan tampan ini sangat amat tidak keren kalau harus mengejar yang sudah berakhir. Tapi pada dasarnya kemakan gengsi tinggi malah dia yang galau begini. Ditengah pandemi begini selain jenuh dan stress dengan tugas sekolah yang menumpuk ternyata ada yang membuatnya menambah stress lagi, ya itu putus dengan Wendy.

Suga menatap foto kebersamaannya dengan Wendy di Handponenya. yang membuatnya terlempar kemasa saat mereka di sekolah. “Itu kenapa dasinya nggak dipasang dengan benar sih?” protes Wendy. “Ya kamu benerin dong.”
“Kenapa harus aku yang benerin?”
“Ya biar diperhatiin aja sama kamu.”
“Emang kurang?”
“Iya kuranglah, pengennya diperhatiin terus sama kamu.”
Saat itu Wendy hanya bisa geleng-gelang kepala atas sikap mas pacarnya. Biar dikata muka Suga manis dan suka cuek kalau berhadapan dengan Wendy dia bisa Bucin akutlah.

Suga menangis keras di balkon kamarnya di lantai dua. Suga menangis hingga tidak menyadari bahwa ada Mama dan Papanya yang tengah menikmati teh panas di taman belakang rumahnya tepat di bawah balkon kamarnya.
“Ihh, pa denger orang nangis nggak sih?” tanya Ranti sembari mengusap tengkuk belakangnya yang terasa meremang.
“Tumben ada suara aneh, kunti mana yang mampir disini?” sebuah geplakan di lengan Guna membuatnya mengaduh kesakitan. “Sembarangan ngomong ish.”

Suara tangis Suga rupanya menimbulkan kesalah pahaman antara orangtuanya. “Suaranya kayaknya dari lantai atas deh ma.” ucap guna “Kayak dari kamar Suga. Udah tiga hari papa nggak liat dia deh.” lanjutnya.

Ranti dan Guna bergegas masuk menuju lantai dua kamar Suga. Victor yang lewat akan menuju dapur untuk mengambil susu melihat kedua orangtuanya berjalan dengan cepat ke lantai dua. Dengan dahi mengkerut melihat ibunya membawa air seember membuat dirinya penasaran. Mengurungkan niat untuk ke dapur Victor memilih menyusul orangtuanya yang ternyata menuju kamar kakaknya. Belum sampai suara teriakan mamanya terdengar nyaring, dengan segera Victor menuju ke kamar kakaknya itu. Saat sampai disana Victor dibuat terkejut dengan sosok yang tergantung dengan piyama tidur yang sangat dikenalinya dekat pintu balkon. Ember yang awalnya dipegang mamanya sudah luruh bersama dengan tubunya yang jatuh ke lantai, Papanya juga terlihat panik namun dengan segera menangkap tubuh mamanya sembari menenangkan mamanya yang berteriak histeris. Victor hanya bisa membeku, tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah. Dengan tubuh bergetar hebat Victor berusaha sekuat tenaga menghampiri sosok itu, melewati mamanya yang masih berteriak histeris ditenangkan oleh papanya. Tangan Victor bergetar hebat berusaha meraih sosok yang tergantung itu, nafasnya terasa memberat sebulir air mata jatuh di pipinya.

Saat tangan Victor hampir sampai, tiba-tiba seseorang muncul dari arah depan tepat dibelakang sosok yang tergantung itu, membuatnya berteriak kaget hingga terjungkal kebelakang. “Setann!!!” teriaknya.
“Mama ada setan!!!” Victor semakin berteriak histeris melihat sosok putih pucat dan lingkaran mata hitam, mengenakan piyama putih berdiri tepat didepannya. Mama dan papanya juga ikut berteriak melihat sosok tersebut. Perlahan sosok tersebut melangkah mendekatinya membuat tiga orang dalam ruangan tersebut saling merangkul ketakutan.

“Pergi lu dengan tenang bang! Jangan gentayangan disini lagi,” ucapan keras Victor membuat sosok itu berhenti. Tanpa pikir panjang Victor meraih ember yang sempat dibawa mamanya tadi dan melempar kearah sosok tersebut.
Bugh!!! “Aduh-” ember itu tepat mengenai wajah sosok tersebut dan ambruk seketika.
“Ngapain loe lempar ember di muka gue bego!!” dengkikan sosok itu membuat tiga orang tersebut tersadar dan menatapnya. Sosok itu mendongakan wajahnya dan menatap nyalang kearah Victor.
“Lah bang Suga?”

Guna beringsut mendekat dan menoel-noel lengan sosok tersebut yang memang benar Suga. “Ihh hidung kamu berdarah.” ucap Guna dengan pelan. Suga menyetuh atas bibirnya dan benar hidungnya berdarah.
Sesaat kemudian tubuh Suga ambruk, dia pingsan. Hal terakhir yang dia lihat dengan adalah teriakan Ranti yang memanggil namanya kemudian semua menjadi gelap.

Sebulan berlalu sejak kejadian dirinya dilempar ember hingga pingsan. Suga mendapat omelan dari Ranti dan Guna karena membuat mereka khawatir. Dirinya ingat bagaimana beringasnya sang mama mencubit dan mukul dirinya.
“Maksud kamu apa gantung guling di atas kusen ah?”
Sambil meringgis menahan perih hasil cubitan sang mama Suga menjawab. “Ya aku kesel habis putus. Nggak ada samsak tinju ya pake guling aja.”
“Ya kamu nggak perlu pakein piyama juga dong ah!” kini papanya menimpali.
“Biar greget kalau mau mukul. Berasa ninju manusia beneran.”
“Emang dah sinting kamu ya, putus cinta doang sampe kek gitu. Katanya kamu ganteng banyak cewek suka. Kemaren-kemaren putus sama Salsa, Monika, Angel biasa aja tuh. Pake drama nangis-nangis pula.” Sindir mamanya
“Apaan sih mama mana ada aku nangis ya. Aku itu cuma kelilipan doang makanya keluar air mata.” Elaknya
“Iya deh yang nggak nangis. Yang nangis kemarin kuntilanak bojong gede kali tuh.” Ucap Victor. Mendengar ucapan Victor yang ikut-ikutan Suga melemparnya dengan bantal. Lalu terjadilah keributan lagi antara Suga dan Victor. Victor yang terus menyindir kakaknya yang belum move on dan Suga yang mengamuk tidak terima dirinya disindir terus. Guna dan Ranti hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan anak mereka.

Saat ini Suga tengah berjalan santai di sebuah mall menuju bioskop di lantai tiga. Sudah jenuh diam di rumah selama tiga bulan akhirnya dirinya bisa mengunjungi bioskop. Menuju kounter makanan memesan cemilan dan minuman. Setelah itu Suga masuk dan mulai mencari kursi. Terlihat ada sekitar lima puluh orang duduk berjarak dalam studio. Memilih duduk di tengah-tengah Suga mulai menikmati cemilan dan minumannya film sudah mulai diputarkan. Saat ini dirinya tengah menonton serial After: We Collided.

Saat tengah asik menonton dan menikmati cemilanya sesorang tiba-tiba duduk disebelahnya dan merebut PopCorn yang sedang dipegangnya. Suga menoleh terkejut kemudian mengerutkan kening, manusia darimanakah yang berani merebut cemilannya itu. Baru akan membuka mulut orang itu menurunkan masker mulut yang menutup sebagian wajahnya.
“Kamu ngikutin aku?” tanya orang itu. Suga mengangkat satu alisnya “Ngikutin?” balasnya.
“Iya ngikutin, kamu ngikutin aku kan yang lagi nonton didepan. Terus aku nengok kebelakang ternyata kamu. Serem tahu Ga,”
Suga menatap sosok wanita cantik yang tak lain adalah Wendy mantannya. Sudah hampir tiga bulan sejak sekolah diliburkan dirinya belum bertemu Wendy secara langsung. Meski dirinya melihat wajah Wendy melalui vidio call namun setelah dilihat secara langsung masih sangat cantik. Rambut hitam legam sebahu, mata sipit dengan bolamata yang selalu bersinar, kulitnya putih khas Korea dan jangan lupa senyum manis yang memikat.

“Aku nggak ngikutin siapa-siapa.”
“Terus ngapain kamu disini?”
“Ya kayak orang lainnya. Ya nonton doang.”
Tidak ada lanjutan lagi, suasana terasa canggung. Suga masih menatap Wendy yang masih asik menikmati Popcorn miliknya. Gadis itu masih tetap fokus pada film yang ditayangkan.

“Kenapa kamu putusin aku?” tanya Suga. Pandanganya tidak beralih dari Wendy.
Wendy tidak menjawab. Namun dia menoleh dan membalas tatapan Suga. Tidak ada yang berubah Suga pria manis dan tampan ini masih sama sejak terakhir kali ia lihat di kelas.

“Beneran mau dibahas, nih?” tanya Wendy
“Ya dong. Aku pengen semuanya jelas.”
“Kurang jelas gimana sih? Aku udah bilang udahan, terus aku udah block semua akun kamu. Emang kurang jelas?”
“Bagi aku belum. Kamu nggak ngasi alasan yang jelas ke aku.”
“Udah nggak ada perasaan aja.”
“Itu kamu sebut alasan? Aku nggak bisa nerima alasan seperti itu.”
“Ya udah hilang aja. Udah nggak ada perasaan apa-apa lagi. Maaf, tapi itu udah yang sejujurnya aku bilang. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin, sekarang kita udah jadi orang yang berbeda.”
“Sembilan bulan kita menjalin hubungan. Kamu pikir itu gampang buat aku?”
Wendy tersenyum. “Mungkin aku dalam fase bosan. Aku nggak mau harus berpura-pura masih mencintai kamu. Aku nggak mau kamu sakit hati.”
Suga menatap Wendy tajam. “Kamu salah Wen. Hanya karena bosan dan alasan kamu kita nggak sama lagi itu salah besar. Aku masih orang yang sama. Aku orang yang sama saat kita ketemu di Gramedia saat itu kamu minta tolong buat bayarin buku novel karena kamu lupa bawa dompet. Saat itu kamu bilang. “Kak kita seragamnya sama ya, kita satu sekolah loh. Aku lupa bawa dompet bayarin aku novel ini ya,” habis itu aku beneran bayarin buku buat orang yang bahkan nggak pernah aku kenal dan liat sebelumnya. Lalu semua berlanjut saat kamu nonton aku lagi pertandingan basket di sekolah. Aku inget semua Wen. Satu haripun aku nggk pernah lupain kenangan kita.”

Wendy hanya menatap Suga dalam diam. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Suga ucapkan selama mereka menjalin hubungan. Dia tahu benar anak laki-laki dihadapannya ini bukan tipe orang yang banyak berbicara. Dia akan berbicara seperlunya saja, lebih memilih banyak bertindak daripada banyak berucap. Itulah salah satu kelebihan yang membuat Wendy kagum, dibalik sifat cueknya sebenarnya terdapat sifat hangat yang membuat nyaman.

“Kamu benar. Tapi aku bukan orang yang sama lagi.”
Suga dengan gusar berkata. “Aku juga yang ada saat kamu buat tugas, aku yang ada saat kamu berantem sama Dinda masalah piket kelas. Aku yang selalu ada bawain kamu pisang goreng tiap Jumat sore. Semudah itu bagi kamu buat lupain?”
“Aku tahu Ga, aku juga masih ingat. Tapi perasaan aku udah hilang begitu aja. Udah nggak ada rasa lagi. Jadi menurut kamu apa aku harus berpura-pura menjadi orang yang kamu suka. Sementara aku nggak bisa memberikan balasan yang sama.”
“Kamu juga kalau ada diposisi aku pasti akan melakukan hal yang sama Ga. Kamu masih pacaran tapi pasangan kamu udah nggak ada rasa sama kamu. Itu nggak adil Ga. Akan ada saatnya orang berubah itu wajar, ada saatnya kita berpisah. Kamu nggak salah, aku juga nggak salah. Tolong mengerti, suatu saat akan ada orang yang bisa membalas perasaan kamu sama seperti kamu mencintai dia.” lanjutnya.
Suga terdiam sesaat, kemudian menganguk. Argumen Wendy benar adanya. Kamu akan merasakan sakit hati jika pasangan kamu sudah tidak menyukai kamu tapi tetap memaksa untuk bertahan. Mereka akan sama-sama tersakiti.

“Kamu berhak bahagia Ga, kamu berhak mencari yang lebih baik dari aku.” Ucap Wendy tersenyum.
“Kamu tahu?, aku tulus mencintai kamu. Kamu tahu bagaimana cueknya aku. Cuma kamu yang paham dan buat aku jadi bucin ke kamu.” ucap Suga pelan sambil menundukan wajahnya.
“Tentu aku tahu, namun kamu tidak bisa memaksa Ga. Aku nggak mau buat kamu makin terluka. Aku ingin kita berteman aja.”
“Nggak ada mantan yang masin bisa temenan.”
“Ada, itu aku dan kamu. Jangan buat akhir kita menjadi rumit. Kamu pernah bilang ke aku-kan dulu. Kalau sejauh apapun aku menjauh dan berlari jika kita memang ditakdirkan untuk bersama aku pasti akan kembali ke kamu.”
Wendy menyerahkan PopCorn yang masih sisa setengah kepada Suga. Mengangkat tangan untuk mengelus kepala Suga dengan lembut. Kemudian Wendy bangkit dan pergi meninggalkannya.

Suga mengalihkan tatapanya kedepan, film sudah berakhir. Seperti kisahnya dengan Wendy sekarang. Sudah berakhir.

Cerpen Karangan: Minlia
Blog: Penaminlia.blogspot.com

Cerpen Berakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Finding Love (Part 1)

Oleh:
“Hay Lis?” Sambil menepuk bahu dan tersenyum kearahku “eh iya? Kak Dio, loh? Ada apa?” Sungguh terkejut karena cowok yang paling keren dan tampan se SMA Nusa Bakti menyapaku

Peringkat 1 (Part 1)

Oleh:
Ada satu pertanyaan yang selama ini selalu ada di benakku terus-terusan. Pertanyaanya seperti ini. Apa di usiaku yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun ini? Setidaknya 1 saja… Apakah

I Hope You’re Happy (Part 1)

Oleh:
‘Willing to do all this just for you’. Ya, mungkin itu ungkapan hati ku untuk saat ini. mengapa aku bilang seperti itu? karena aku berharap pengorbananku untukmu tidak sia-sia.

Inikah Akhirnya

Oleh:
“Rasanya tidak mungkin!” gerutuku dalam hati. “Hai, kenapa kamu melamun?” tanya Safa sambil memegang pundakku. “Tidak, aku tidak melamun!” ucapku. “Kamu pasti sedang memikirkan seseorang?” tanya Safa. “Tidak,” kataku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *