Berharap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Ditengah kesunyian malam, seorang Pria sedang menantikan sebuah balasan pesan singkat yang dikirimkannya pada seorang wanita. Malam semakin larut, ia masih terjaga walaupun dengan mata yang sedikit berat, semakin lama mulai beberapa kali menguap dengan mata yang sudah sedikit sepat. Beberapa kali dirinya melihat ke arah telephone genggamnya, namun belum ada balasan. Dering pesan mulai terdengar, namun bukan dari seseorang yang ia nantikan. Sampai pada akhirnya ia terlelap karena merasa tak sanggup menahan lelah dan kantuk yang ia rasakan.

Keesokan harinya ia terlambat untuk bekerja, ia berfikir betapa bodoh dirinya menunggu hingga larut malam seperti itu. Membuatnya membuang waktu istirahat dan membuat pekerjaannya pun berantakan. Apa yang ia rasakan, apa yang ia lakukan, ia benar-benar tak habis fikir saat itu. Kembali ke rumah dengan begitu lelah dan letihnya. Menjatuhkan diri dan segera berbaring di tempat tidur yang serasa sangat nyaman saat itu. Ia mematikan telephone genggamnya agar tak terganggu hal-hal lain.

Sampai pada saatnya ia terbangun dari tidur lelapnya. Betapa terkejut dirinya, ia merasa bahwa ia tidur sangat lama, namun pada kenyataannya ia hanya tidur beberapa saat. Tak lama, ia bangkit dari tempat tidur untuk mengganti pakaiannya yang masih mengenakan seragam kantor. Lalu ia bergegas membersihkan dirinya agar lebih segar.

Setelah selesai, semua lelah dan rasa kantuk terasa hilang. Merasa bosan, ia pun meraih telephone genggamnya, namun ia merasa ragu untuk menghidupkan telephonnya itu, ia takut pesan dari wanita itu tak kunjung dibalas dan hanya menyebabkan dirinya merasa semakin memikirkannya, namun jika tak dihidupkan bagaimana ia mengetahui wanita itu membalas atau tidak.

Setelah beberapa lama ia mengalahkan keraguannya, namun kali ini ia tak salah, wanita itu ternyata membalas pesannya. Betapa senang dan bahagianya ia saat itu, mereka pun terus berbalas pesan hingga larut malam, sesekali ia melihat ke arah jam dan ingin menyudahi pesan saat itu. Namun di pikirannya selalu menolak, karna kapan lagi mereka bisa melakukan hal seperti itu. Setelah beberapa lama mereka pun mengakhiri kebahagiaan singkat itu.

Keesokan harinya ia lagi dan lagi terlambat untuk bekerja, ia benar-benar masih kelelahan. Namun bedanya hari itu tidak ada penyesalan dalam dirinya, karena ia merasa bahwa malam itu memang tak seharusnya dilewati begitu saja. Hari itu juga ia mengirim pesan untuk mengajak bertemu dengan si wanita setelah bekerja. Hari itu pun seakan menjadi hari terbahagia dalam hidupnya, karena si wanita menerima ajakannya. Pekerjaannya pun diselesaikan secara cepat. Rasa lelah dan letih seperti hilang begitu saja, bahkan ia terlihat begitu bersemangat. Ia begitu tak sabar bertemu dengan si wanita.

Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua bertemu di sebuah mall. Waktu yang ia tunggu pun datang. Namun dirinya terlihat sangat gugup, ia hanya sibuk dengan telephone genggamnya, atau lebih tepatnya menyibukan diri dengan telephone genggamnya itu. Karena disaat itu pula si wanita sedang bersama teman-temannya, ingin rasanya masuk dalam pembicaraan dan mencairkan suasana. Namun tak bisa, karena ia bukanlah tipe orang yang terbuka, jelas saat itu adalah posisi yang sulit untuk dirinya.

Saat yang dinanti pun akhirnya tiba, beberapa temannya nampaknya mengerti suasana yang tengah ia alami, mereka memilih untuk pulang dan yang lain memilih untuk berkeliling di sekitar mall.
Mereka pun akhirnya mengobrol dan bercanda bersama, betapa perasaannya sangat senang kala itu. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, namun jelas terlihat di wajahnya. Waktu sudah menunjukan larut malam, mereka pun pulang, tak lupa diantarnya si wanita.

Sesampainya kembali ke rumah ia langsung menuju tempat tidur yang menjadi landasan kelelahannya. Dengan memandangi langit-langi kamar, ia benar-benar masih merasa tak percaya dengan yang ia lewati malam ini. Wanita yang selalu ia impikan, dan harapkan setiap hari untuk ia temui, malam ini ia mendapat kesempatan itu bertemu dengan bidadari dalam mimpinya .

Beberapa hari kemudian ia lewati dengan hubungan yang lebih intensif, ia pun tak menyianyiakan kesempatan ini. Karena sifatnya yang terburu-buru ia pun langsung mengutarakan perasaannya. Namun bukan secara terang-terangan, sedikit demi sedikit ia memberi sebuah pertanda bahwa dirinya ingin menjalani hubungan spesial dengan si wanita. Respon yang didapat terlihat begitu baik, sehingga dirinya mencoba untuk mengajaknya bertemu kembali agar dapat mencurahkan perasaanya. Sampai di suatu pertemuan kedua. Untuk kali ini mereka menghabiskan waktu yang cukup lama, mereka membaca novel, dinner, dan diakhiri dengan menonton sebuah film.Yang uniknya adalah bahwa novel yang dibeli oleh si wanita dan tema di film yang mereka lihat, sama dengan apa yang sedang dialami mereka saat itu.

Setelah pertemuan itu mereka pun semakin dekat. Sampai saat dimana ia menyatakan perasaaan yang sesungguhnya, si wanita sebenarnya sudah mengetahui dan merasakan hal itu, karena si wanita juga merasakan hal yang sama, namun ada sesuatu yang membuat ia tak bisa menjalani ke hubungan yang selanjutnya. Walau merasa terpukul dan jatuh ke dalam sakitnya rasa kecewa, namun ia merasa ada sesuatu harapan kecil, ia harus bisa mendapatkan wanita itu. Ini adalah kesempatan yang tak bisa dipikir dua kali, ini harus menjadi kenyataan dari mimpi yang selanjutnya.

Namun setelah beberapa pekan mereka lewati, dirinya merasa seperti menunggu dan berjuang sendirian. Tak ada sesuatu tujuan pasti yang menjadi akhir, apalagi si wanita mengatakan bahwa si wanita tak bisa memberi kepastian. Meski sudah mendapat penjelasan seperti itu, dirinya tak menyerah untuk mendapatkannya. Mata hatinya telah tertutup rasa cinta yang begitu menggebu, seakaan ia tak mengerti bahwa itu hanyalah penolakan halus yang terungkapkan.

Sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan ia mengerti hal tersebut. Sampai pada akhinrya, dirinya mendapatkan alasan dan jawaban atas keraguannya. Si wanita mengatakan bahwa tak bisa menjalani hubungan dengan dirinya karena tak ingin kecewa lagi. Pria itu pun seperti benar-benar tertampar keras, betapa pengorbanan dan penantiannya sia-sia. Ia menganggap bahwa itu alasan yang tak dapat ia fikirkan, karena ia tak sama dengan yang mungkin dulu pernah mengecewakan si wanita. Akhirnya adalah ia sadar bahwa bukan saatnya lagi berharap kepada seseorang yang tak mengharapkannya, dan tak berharap kepada seseorang yang tak bisa melihat siapa dirinya sendiri.

Cerpen Karangan: Fitra Karuniawan
Blogk: Brainf7.blogspot.com
Fitra Karuniawan
Ingin menjadi penulis karena cara terbaik mengungkapkan perasaan adalah dengan cara menulis untuk menjadi kenangan dimasa yang akan datang tak terlupakan.

Cerpen Berharap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menghitung Hari (Part 2)

Oleh:
Keesokkan paginya di kantor aku melihat ke meja Tio dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Aku masih penasaran ada apa dengan dia dan Putri. Firasatku berkata jika kedekatan di antara

Lukaku

Oleh:
“Maafkan aku,” ucap pria itu tepat di hadapanku sambil memegang kedua tanganku. Kulihat matanya menyiratkan penyesalan tapi aku tidak percaya lagi dengannya, aku sudah kecewa padanya. Aku menghela napas,

Hidup Akan Berlanjut

Oleh:
Sepatu satin itu masih ada di meja belajarku. Masih terbungkus kotak sepatu dengan plastik mika bening di atasnya. Aku enggan mengambilnya, saat tau siapa yang mengirim. Arman, lelaki yang

Siapa Yang Salah

Oleh:
Sebenernya kamu tidak salah, hanya saja aku yang bodoh melepaskan kekasihku demi dirimu. Kamu tidak salah, hanya saja aku yang bodoh terlena kata kata manismu. Kamu tidak salah, hanya

Masa Masa Indah di Kampus

Oleh:
Namaku mariel al fahd, panggilan ku riel. kadang ri. aku kuliah di akademi bahasa indonesia jurusan sastra indonesia. semester 2. jam di dinding kelasku menunjukkan pukul 2.30 siang. berarti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *