Berharap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 February 2018

“Kamu manis”
Ungkapan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku, seperti tidak sadar aku barusan mengatakan itu. Asataga, sangat memalukan. Wajar kalau seandainya yang berkata seperti itu adalah laki-laki, lah aku perempuan. Gengsi cewek tinggi, kok bisa kebablasan gini sih.

Parahnya respon orang di depanku malah tertawa sangat renyah, lagi-lagi aku fokus padanya. Lelaki ini bisa membuatku jatuh hati tanpa ia sadari.
“kamu lucu” katanya.
Masih ada tawa pelan darinya.

Aku merasa pipiku memamas, pasti ada semburat merah. Hah memalukan, tapi aku suka. Hihi.
“kamu orang kesekian yang bilang aku lucu” sahutku setenang mungkin dengan nada bercanda. Padahal saat ini detak jantungku berdetak sangat keras.
Lagi-lagi dia tertawa renyah.
Kata orang, salah satu cara membuatnya jatuh cinta adalah dengan membuatnya tertawa. Tapi setiap kali dia tertawa aku yang dibuatnya jatuh cinta. Ah, hatiku terlalu mudah jatuh tapi sulit jika harus bangkit.

“dan kamu orang pertama yang bilang aku manis secara langsung tahun ini. Hehe”
Aku tersenyum mendengarnya, tidak apa-apa tahun ini yang penting jadi orang pertama secara langsung. Ada kebahagiaan tersendiri bagiku.

“ini sudah kali kedua kita ketemu ya Ra, sejak kenal setahun yang lalu. Maaf loh jarang ngehubungin kamu, apalagi sekedar nyapa.”
Fahri, nama lelaki manis yang ada di depanku ini. Nama yang bagus kan? Sama seperti kepribadiannya.
“iya ya. Gak papa kok, entar kalau kamu sering ngontek aku, akunya malah baper terus ngarep lebih, kan gak banget”
Aku bohong! Faktanya aku sudah baper sama dia malah udah ngarep banget. Tiap hari ngarep di chat sama dia, ngarep lebih juga.

“ih sok. Bilang aja udah baper, udah ngarep. Cewek mah gitu, bilangnya enggak padahal iya”
Fahri menatapku dengan sebelah alis dinaikkan.
“iya iya kamu bener. Aku gak bisa boong”
Zonk!!! Ini kelemahanku, dipancing dikit aja langsung jujur. Polos emang.

“nah kan ngaku. Jadi sekarang kamu maunya apa?”
“mau kamu”
“sekarang kan aku udah di hadapan kamu, otomatis jadi punya kamu”
“aku punya ragamu, tapi tidak hatimu”

“kok kayak lirik lagu ya Ra”
“hehe iya. Oke, waktunya serius.”

Fahri menatapku dengan ekpresi yang tidak bisa kubaca, lelaki ini terlalu sulit untuk diterjemahkan. Sedangkan aku berusaha menghindari tatapannya itu. Ibaratnya sih, matanya melemahkanku.

“Maaf, sedari awal aku gak ada niat buat kamu baper sama aku. Aku gak pernah ngira kalau kamu beneran ngarepin aku. Dan jujur, aku Cuma nganggep kamu teman. Gak lebih, sekali lagi maaf Ra. Aku emang gak mau pacaran, tapi aku udah ada untuk calon masa depan, mungkin kamu gak kenal siapa dia”
Pernyataannya barusan membuat dadaku sesak, oksigen seakan tidak ada lagi di sekitarku. Ya Allah, kuatkan hamba. Sedari awal aku yang salah, aku yang menaruh hati padanya, aku yang terlalu berharap padanya. Benar, jika berharap pada manusia maka harus siap kecewa.

Aku menatap manik mata Fahri, kali ini aku bisa membacanya. Lelaki ini jujur, terlalu jujur malah. Ah ternyata jujur itu memang pahit, tapi melegakan. yah, melegakan untuknya, tapi menyesakkan untukkku. Mungkin seandainya gadis lain yang ada di posisiku pasti mereka tidak sekuat aku, aku bisa untuk tidak meneteskan air mata. Tanda-tanda menangis pun tidak ada, ya aku kuat. Prinsipku jangan menangis karena lelaki, apalagi untuk cinta yang tidak pasti.

Benar kan kata-kata yang tadi aku ucapkan, yang seperti lirik lagu kata Fahri. Aku sekarang mungkin punya raganya, tapi tidak untuk hantinya. Hatinya dimiliki orang lain, seseorang yang menurutku sangat beruntung mendapatkan cinta seorang Fahri.

“Harusnya aku yang minta maaf karena terlalu baper sama kamu, seseorang yang terlalu aku harapkan. Sedari awal aku yang salah, fakta bahwa aku menyukaimu tidak bisa aku hindari. Dan terimakasih karena sudah jujur padaku, aku akan berusaha senetral mungkin. Aku mohon jangan menjauh, tetaplah menjadi Fahri yang aku kenal, aku tidak akan berharap lebih lagi. Tetaplah di sini, kita berteman tanpa ada perasaan lebih. Permintaanku mungkin sedikit konyol, tapi kuharap kamu mengerti”

Fahri diam, seolah dirinya sedang mencerna perkataanku. Entahlah kenapa aku bisa berbicara seberani itu, terlalu jujur mengutarakan isi kepalaku. Aku sudah terlalu sering menjadi tempat persinggahan orang sementara, setelah itu mereka pergi menghilang karena mendapatkan hati yang baru, menyisakan harapanku yang ternyata semu. Ya mereka hanya datang menyapa, memberi perhatian, membuat nyaman, setelah mendapatkan hatiku mereka pergi menghilang, bukankah itu php yang brengsek? Tidakkah mereka merasa bersalah? Mereka yang membuat nyaman tapi mereka pula yang meninggalkan seolah tidak terjadi apa-apa, mereka salah karena telah membuat berharap. Bukan salahku yang terlalu berharap, tapi dia membuatku nyaman. Bodoh. Ah kata-kataku cukup pedas, efek patah hati mungkin, terlalu sering dikecewakan. Ini bukan cinta, harusnya cinta memberi hal postif.

“Aira, aku janji gak akan ninggalin kamu. Kita tetap teman”
“aku gak perlu janji. Cukup kamu buktiin. Aku harap kamu gak berubah setelah ini. Karena kau tau, jaman sekarang janji itu hanya kalimat penenang, selebihnya bullsh*t.”
Benar kan? Itu tidak bisa dipungkiri lagi, aku sudah terlalu sering mendapati hal seperti itu.

“Ya udah sekarang aku pamit pulang dulu. Udah hampir petang, anak gadis gak boleh pulang kemaleman. Hehe”
“mau aku anterin? sekalian pengen tau rumah kamu, ya kali aja dapat makan gratis”
“gak usah, kasian kamu nganter kejauhan. Kan kita juga beda arah. Makan gratis maunya, jaman sekarang mah gak ada yang gratis.”

“ya udah kalo gak mau. Pelit banget mbak, saya bayar cibumangatus deh”
“gak usah mas. Saya gak tertarik sama bayaran masnya.”
“Ya udah hati-hati di jalan ya Aira, kalau udah sampai chat aja. Aku duluan”
“oke boss. Hati-hati juga”

Sosok Fahri menghilang, lelaki itu mengendarai motor Ninja hitam, membuatnya terlihat sangat gagah.
Sekarang aku sendiri, menunggu taksi untuk segera pulang. Seandainya gengsiku tidak tinggi, aku bisa saja mengiyakan ajakannya untuk diantar pulang ke rumah, tapi resikonya malah membuatku terus berharap padanya. Mulai detik ini aku harus berhenti berharap, apalagi mengharapkan cinta Fahri yang sudah sangat jelas tidak untukku. Kenyataan memang pahit, tapi bagaimanapun aku harus bisa. Hidupku terlalu singkat jika hanya berharap pada manusia. Lebih baik aku memantaskan diri, lebih mencinta pencipta-Nya daripada ciptaan-Nya.

Cerpen Karangan: Novitasari
Blog: novitasari-a.blogspot.com
Penulis amatir! South Borneo. Lulus tahun ini.

Cerpen Berharap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Can’t Be Special For Him

Oleh:
Tak pernah aku semangat seperti ini berada di sekolah. Entahlah. Kurasa ini tak wajar. Aku merasa, ada seseorang, yang membangkitkan semangatku, yang menjadi mood booster, yang, entahlah, mungkin yang

Kenangan Indah Sulit Dilupakan

Oleh:
Libur pun telah tiba, aku merindukan semua teman-teman sekolahku dan termasuk dia. Hari kedua, ketiga aku bete di rumah tanpa ada hiburan apapun hanya ditemani oleh keluargaku dan handphone

Resah Rasa

Oleh:
Semua berkumpul jadi satu ketika keegoisan, amarah, kesal dan rasa suka menerpa tak ada yang bisa mengerti kala itu. Mungkin hanya diriku yang dapat mengerti, memang banyak para sahabat

Hati yang Terluka

Oleh:
“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *