Can’t Be Special For Him

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 May 2017

Tak pernah aku semangat seperti ini berada di sekolah. Entahlah. Kurasa ini tak wajar. Aku merasa, ada seseorang, yang membangkitkan semangatku, yang menjadi mood booster, yang, entahlah, mungkin yang kusukai. Haha. Konyol.

Aku melangkah pelan memasuki gerbang sekolah. Deg. Deg. Deg. Hey, apa ini? Jantungku berdebar-debar. Kenapa? Aku selalu mengalami perasaan ini ketika aku mulai berada di lingkungan sekolahku. Perasaan seperti, saat aku sedang bertemu seseorang yang amat kucinta. Haha. Berlebihan rasanya.

Jam istirahat
“Vin, cari makan yuk. Laper.” Ajak Nurul.
“Iya jajan yuk.” Timpal Rosi.
“Ke mana? Kantin apa ke luar?” Tanyaku
“Ke luar aja. Aku pengen bakso.” Kata Nurul.
“Okay. Yuk.”

Aku melihat seseorang. Pemuda yang tampan dan gagah. Seperti… Sepertinya aku terlalu berlebihan. Yang jelas menurutku dia tampan. Mendekati sempurna seorang pria. Namanya Redy. Tapi entahlah. Terkadang ada yang memanggilnya Rere, namun juga ada yang memanggilnya Didy. Tapi aku lebih suka memanggilnya Redy. Maksudku, Kak Redy.
Aku melewatinya. Dan aku merasakannya. Rasanya, jantungku berdebar-debar dan sepertinya aku ingin terus tersenyum. Aneh.

Jumat -Jam pulang sekolah-
Aku tidak bisa langsung pulang hari ini. Karena masih ada ekstrakurikuler. Aku duduk di balkon. Memandang para siswa yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di pendopo yang berperan ganda sebagai aula juga.

“Vin..”
Seseorang menepuk bahuku pelan. Kemudian duduk di sampingku.
“Ya?”
“Bolehkah kutanyakan sesuatu padamu?”
“Tentu saja. Jika aku bisa menjawabnya.”
“Apakah, ada seseorang yang menarik hatimu di sini?”
Aku tersenyum. Entah apa yang harus kukatakan. Aku bahkan tak yakin pada diriku jika aku menyukai seseorang hanya karena aku selalu berdebar setiap melihatnya.
“Entahlah, Ros. Aku tak yakin akan hal itu.”
“Kau tak yakin, tapi kau merasakannya. Artinya itu iya, bukan?”
“Sepertinya.”
“Ceritakan padaku. Siapa gerangan dia?”
“Eennggg… Lihatlah di bawah. Siapa gerangan yang ada di sana?”
“Vindri.. Banyak orang ada di bawah sana. Tapi hanya ada 3 laki-laki. Lalu, siapa yang kau maksud?”
“Dia. Yang entah kenapa berputar-putar mengelilingi aula sedari tadi. Aku rasa dia mencari sesuatu. Atau seseorang.”
“Kak Redy, maksudmu?”
“Ya. Tapi aku tak yakin akan hal itu.”
“Tentu saja kau menyukainya. Lihatlah, dia tampan, tinggi, putih, cerdas, ramah, dan gagah. Pastilah kau suka padanya.”

Sabtu -Jam pramuka-
Aku duduk di barisan paling belakang sangga pencoba 4. Jenuh sekali pramuka seperti ini. Duduk berdesak-desakan dengan sangga-sangga lain di aula. Mendengar demo tali-menali yang sama sekali tak kupahami. Aku bisa menali seperti itu, tapi aku tak bisa mengaplikasikannya.

“Aku bosan, sungguh. Mengantuk sekali rasanya.” Kataku.
“Iya. Aku juga tidak mendengar apa yang DA itu katakan.” Balas Rosi.
“Nob, paham?” Tanyaku.
“Apa? Tali?” Jawabnya. Aku mengangguk.
“Jelas paham. Lihatlah, ini tali jangkar, ini simpul pangkal, ini…” Nobita (sebenarnya namanya Novita, tapi aku lebih suka memanggilnya Nobita. Tokoh kartun favoritku.) memperagakan cara menali dengan antusias.

Aku mengalihkan pandanganku menyapu sekitar. Hey. Dia di sana. Kak Redy. Berdiri di sana. Menatap kemari. Tapi entahlah apa yang dilihatnya. Dia tak bergerak sama sekali. Hanya berdiri dan tersenyum. Tidak seperti teman-temannya yang sibuk mengobrol mengelilinginya.

Tak bisa kualihkan pandanganku darinya. Tak lama, diambilnya handphone dari sakunya. Senyumnya mengembang lebih cerah dari sebelumnya. Entah siapa gerangan yang mengirim pesan untuknya. Dan dia menepuk bahu semua temannya satu persatu. Lalu pergi.

Senin
Saat semua siswa telah sampai di rumah masing-masing dan mungkin sekarang mereka telah berbaring terbalut selimut hangat sambil memainkan ponsel mereka, aku masih berada di sekolah menunggu jemputan. Sebenarnya masih ada beberapa siswa yang tersisa. Tapi mereka kelas 11.

Aku menunggu di kursi yang terletak di depan mushola. Pukul 17.25. Cukup gelap di sini. Hanya mendapat penerangan dari mushola. Tak lama, aku melihat Kak Redy keluar dari dalam gedung. Berjalan menuju pos satpam. Dan bertahan di sana, mengobrol bersama pak satpam dan beberapa gadis kelas 11 yang lain.

Aku senang bisa melihatnya dari sini. Kemudian Kak Redy mengambil gitar dan memainkannya. Serta bernyanyi. Sungguh, suaranya merdu. Dengan perpaduan gitar dan lagu yang pas dinyanyikannya. Ini cukup menghibur kejenuhanku. Hingga adzan maghrib berkumandang.

Kak Redy berjalan menuju mushola. Dan membuka kata begitu ia melihatku.
“Aku kira tidak ada seorangpun di sini.”
“Mungkin memang aku bukan seseorang. Hehe.” Candaku.
“Sendirian di sini sedari tadi?” Tanyanya
“Iya, kakak mau sholat?”
“Iya. Kamu sendiri?”
“Aku sedang berhalangan. Kakak sholat saja, selamat menunaikan ibadah sholat maghrib.”
“Terima kasih.”
Andai kau tau betapa bahagianya aku saat ini. Bisa sedikit mengobrol dengannya. Rasanya aku ingin teriak saat ini juga.

Selesai sholat maghrib, Kak Redy kembali menghampiriku.
“Apa tidak gelap di sini?”
“Bisa kakak lihat sendiri. Menurut kakak bagaimana?”
“Cukup gelap. Apa kamu tidak takut sendirian di sini?”
“Aku tidak sendirian. Ada banyak orang di pos satpam. Termasuk kakak, kan?” Jawabku
“Baiklah. Terserah apa katamu. Mau kunyalakan lampunya?”
“Boleh. Jika tidak merepotkan kakak.”
“Tentu tidak. Tunggu sebentar.”

Lampu menyala. Sangat terang sekarang. Begitu lampu menyala, Kak Redy kembali.
“Nah, sekarang aku bisa melihat wajahmu.”
“Haha. Terima kasih untuk penerangannya.”
“Tentu. Siapa namamu?”
“Vindri.” Jawabku dengan senyum semanis mungkin.
“Aku Redy. Panggil saja Rere, Didy, atau Redy. Terserah kamu saja bagaimana nyaman memanggilku.”
“Baiklah, Kak Redy.”

Cahaya lampu kendaraan menyorot terang sekali. Dan ternyata, itu adalah motor kakakku. Aku telah dijemput. Aku sangat menyayangkan kedatangan kakakku. Kenapa ia menjemputku saat aku sedang bersama dengan Kak Redy.
“Kak, aku telah dijemput.”
“Yah, padahal baru saja kunyalakan penerangan untukmu.”
“Hehe. Terima kasih banyak. Kakak sangat membantu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa.” Pamitku.
“Baiklah. Hati-hati di jalan.”

Selasa
“Kau terlihat begitu bahagia, Vin?” Tanya Rosi.
“Tentu saja. Aku sangat bahagia karena kemarin sore.”
“Ada apa dengan kemarin sore?”
Aku menceritakan semuanya pada Rosi.

“Benarkah? Waaaahh beruntung sekali dirimu.”
“Ya, aku juga merasa begitu.”
Aku tak bisa berhenti bahagia. Hingga waktu menghentikan kebahagiaanku.

Sore ini aku menunggu Rosi mengambil helm di penitipan helm. Aku menunggu di depan mushola. Tak lama, Kak Redy keluar. Aku ingin menyapanya, tapi urung karena sepertinya ia tak melihatku. Dan di sini banyak siswa. Takut diberitakan yang tidak-tidak jika aku menyapa Kak Redy.

Kak Redy mengambil motornya. Kemudian berhenti di depan pos satpam. Tak lama, seorang gadis keluar dan duduk di jok motornya. Tepat di belakangnya. Deg. Siapa gadis itu? Apakah ia adalah kekasih dari Kak Redy? Tuhan, ini tidak pantas kurasakan. Sakit dalam hati ini tidak layak. Tidak seharusnya aku rasakan. Terlalu banyak pertanyaan dan terkaan. Dan semua terjawab, saat Risa bercerita kepada Syifa.
“Kemarin aku lihat Kak Redy pulang bareng sama pacarnya. Kak Sasha. Wah, mereka itu romantis sekali.”

Cerpen Karangan: Vety Indriyani
Facebook: Vety Indriyani
Hi! Thanks for reading, guys…
Maaf apabila ada kesalahan kata atau kesamaan cerita dsb. Aku bikin cerpen ini karena terinspirasi oleh banyak orang. Perpaduan antara kisah pribadi, temen-temen, dan kakak kelas yang selalu romantis. Yang menginspirasi aku. Semua inspirasi yang mengendap numpuk di otak aku campurin jadi satu di cerpen ini. Jadi yaa seperti yang kalian baca tadi hasilnya.
Makasih yaa buat semua warga SMKN 1 yg menginspirasi aku. Maaf kalo aku abadiin di cerpen ini. Hehe. Makasih juga buat kalian yang udah baca ^_^
Follow yuk instagram @VIndriyan13 comment di sana ya kalo kalian baca cerpenku ini, nanti aku follback;) hehe. Thanks.

Cerpen Can’t Be Special For Him merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Bad Day

Oleh:
Kring.. kring.. kring.. Jam weker gue berbunyi dengan keras di samping gue, menarik gue keluar dari petualangan di dunia fantasi. Segera gue matikan jam weker peribut itu dan melompat

Tukang Ngekhayal

Oleh:
Jeeddeeerrr!! Suara petir menyambar nyambar seakan tiada hentinya mewarnai pagi hari kala itu. Dengan mata yang masih 2 watt aku berusaha menembus derasnya hujan kala itu. Tanpa terasa hujan

Haflah Akhirussanah

Oleh:
Perpisahan… Bukan berarti kita tidak akan bertemu kembali… Perpisahan… Hanyalah agar kita tetap akrab saat bertemu kembali… H-12 sebelum Haflah Kriinggg… Bel telah berbunyi menandakan UN hari terakhir telah

Permainan Menyebalkan

Oleh:
“Ngapain sih?” Tanya Aku kesal “Udah ayo! Kita ‘kan udah biasa main ini!” Timpal Niko “Gue enggak mau lagi ah! Gue trauma, masa kemaren gue tantangan disuruh bilang love

Akhir Dari Penantian (Part 1)

Oleh:
Dia tak pernah peduli dengan amarah ayah, yang penting aku tidak lagi sedih. Dia juga tidak peduli dengan sikapku yang nakal dan selalu menjahilinya, yang penting aku tidak menangis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Can’t Be Special For Him”

  1. salsa says:

    Kisahnya sama seperti apa yang ku alami saat ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *