Cinta 24 Jam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Di malam itu, di sebuah ruangan kamar kost, di atas sebuah kasur terbaring seorang lelaki bernama Sam, dengan mata memandangi televisi yang sedang menyala di hadapannya. Sesekali terlihat melihat hp-nya, berharap ada sms yang masuk dari mantan pacarnya di kampungnya yang baru saja tadi sore mereka putus. Namun alhasil tak ada satu pun yang bersarang. Dengan kondisi hatinya yang lagi galau berat, akhirnya memaksa Sam ke luar dari kamar tersebut, dengan menuju ke depan kamarnya. Terlihatnya di depan kamarnya ada seorang temannya yang sedang berdiri. Sam pun lalu menghampiri temannya itu, dan mengajaknya berbicara. Hingga akhirnya dengan penuh keterpaksaan akibat dorongan hatinya yang mengalami galau berat, Sam mencoba menanyakan nomor cewek pada temannya tersebut.

“Din, ada nggak nomor cewek di hp-mu?” Tanya Sam.
“Ada bro,” Jawab Udin.
“Memangnya kenapa bro?” Sambung Udin.
“Boleh nggak aku ambil bro?” Tanya Sam.
“Boleh, tunggu yah aku carikan dulu!” Seru Udin.
Tidak lama berselang, Udin menyodorkan hp-nya pada Sam.
“Ini bro nomornya!” Seru Udin.
Sam pun mengambil hp itu, dan kemudian mencatat nomor tersebut. Dengan terlihat memencet-mencet tombol hp-nya.

“Ngomong-ngomong, siapa namanya yang punya nomor ini bro?” Tanya Sam. Bertanya untuk memastikannya, sebab nomor yang diberikannya tidak ada namanya.
“Namanya Mirna bro,” Jawab Udin. Tidak lama setelah Sam mencatat nomor tersebut, Sam pun mengembalikan hp tersebut dengan terlihat menyodorkan pada Udin.
“Ini hp-nya bro! Terima kasih yah,” Seru Sam.
“Sama-sama bro,” Ucap Udin.
“Mau tahu nggak Mirna yang punya nomor tadi itu?!” Seru Udin.
“Memangnya Mirna siapa bro?” Tanya Sam
“Mirna, yang adik kelas kita dulu waktu SMA. Orangnya yang berkulit putih dan berpostur tubuh yang tinggi itu!” Seru Sam. Terlihat Sam berpikir keras dengan tangannya menjanggal dagunya, mengingat waktu masa SMA dulu, dan rupanya Sam pun telah mengetahui Mirna yang dimaksud oleh Udin.

“Oh, aku sudah ingat Din,” Seru Sam.
“Wah, berarti bisa nih agak cepat, soalnya kan sudah kenal sejak dulu,” Sambung Sam.
“Iya, semoga berhasil yah bro,” Ucap Udin. Menyemangati Sam, dengan terlihat tangannya menepuk bahu Sam.
“Oke bro, sekali terima kasih yah.” Ucap Sam. Terlihat Sam bergegas meninggalkan tempat itu, dan kembali masuk ke kamarnya untuk memulai menelepon Mirna.

“Teeet… teeet… teeet,” Suara hp-nya Sam yang sedang memanggil.
“Halo,” Suara Mirna di awal panggilan.
“Iya halo,” Sahut Sam
“Apa betul dengan Mirna?” Tanya Sam.
“Iya betul,” Jawab Mirna
“Ngomong-ngomong dengan siapa?” Sambung Mirna.
“Aku Sam,” Jawab Sam.
“Maaf dengan Sam siapa?” Tanya Mirna.
“Sam, yang Kakak kelasmu dulu waktu SMA.” Jawab Sam.
Mirna terdiam untuk mengingat kembali masa SMA-nya dulu.

“Oh, yah saya sudah ingat!” Ucap Mirna.
“Ada apa Kak?” Sambung Mirna. Dengan bertanya.
“Nggak, cuma mau telepon-telepon saja Dek,” Jawab Sam.
“Eh, ngomong-ngomong pacarnya adek sekarang siapa?” Tanya Sam.
“Nggak ada Kak,” Jawab Mirna.
“Ah, serius,” ucap Sam.
“Iya Kak, aku serius,” ucap Mirna.
“Ngomong-ngomong nih, boleh nggak aku jadi pacarmu Dek?” Tanya Sam.
“Wah, aku bingung nih Kak.” Jawab Mirna.

“Kenapa bingung Dek?” Tanya Sam.
“Sebenarnya begini Kak,” Seru Mirna.
“Bukan berarti aku tidak mau, namun aku trauma Kak dengan yang namanya pacaran,” Sambung Mirna.
“Trauma kenapa Dek?” Tanya Sam.
“Saya takut untuk sakit hati lagi Kak,” Jawab Mirna.
“Kan tidak semua lelaki suka mempermainkan perasaan perempuan.” Seru Sam. Berusaha menghilangkan rasa trauma di hati Mirna.
“Iya juga sih Kak,” Ucap Mirna.

“Jadi bagaimana aku bisa diterima jadi pacarnya Dek?” Tanya Sam.
Mirna terdiam sejenak.
“Yaa… iya deh Kak, aku terima kakak sebagai pacarku,” Ucap Mirna dengan perasaan seolah dipaksakan.
“Terima kasih ya Dek,” Ucap Sam.
“Sama-sama Kak.” Ucap Mirna.
Hingga akhirnya, mereka berdua pun menutup pembicaraan. Tidak terasa waktu pun telah menunjukkan pukul 20.00 wita. Sam pun mulai membereskan kasurnya untuk ia gunakan untuk tidur.

Mentari telah memancarkan sinarnya, menandakan pagi telah datang menyapa. Sam pun bangun, dan kemudian menuju ke kamar mandinya. Setelah selesai mandi, Sam pun kemudian sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Sam pun bergegas ke kampusnya, terlihat menarik pintu kamarnya lalu menguncinya. Namun di saat Sam melintas di dekat kantin kostnya, ia pun berjumpa dengan Udin yang kebetulan lagi duduk di kantin tersebut.

“Hei bro,” Sapa Sam pada Udin.
“Hei juga bro,” Sahut Udin.
“Bagaimana urusan teleponan sama Mirna semalam bro?” Sambung Udin.
“Alhamdulillah. Aku diterima jadi pacarnya bro,” Jawab Sam.
“Ehem… berarti ada yang lagi berbunga-bunga nih hatinya?!” Ucap Udin.
“Pantas hari kelihatan sangat bersemangat bro,” Sambung Udin. Jari telunjuknya menyolek pinggang Sam.
“Iya bro. Hehehe,” Ucap Sam dengan wajah berseri-seri.
“Oh ya, aku berangkat ke kampus dulu ya!” Seru Sam. Terlihat melangkah meninggalkan Udin.

Setibanya Sam di kostnya sepulang dari kampusnya, terlihat memasuki kamarnya. Mengganti pakaian lalu berbaring untuk beristirahat. Hingga terlihat cahaya matahari berangsur-angsur cahayanya tak nampak, pertanda malam segera menyapa. Sam pun bergegas bangun dari istirahatnya. Ia kemudian bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi, dan setelah selesai ia kemudian makan malam. Terlihat Sam sedang duduk bersantai di depan kamarnya dengan seorang diri. Namun tidak lama berselang saat duduk bersantai, rupanya terdengar hp-nya berbunyi menandakan ada sms yang masuk. Sam pun masuk ke kamarnya mengambil hp-nya, dan kemudian membuka sms di kotak masuknya. Ternyata sms dari Mirna, pacarnya. Namun alangkah terkejutnya Sam, isi sms tersebut berbunyi,

“Maaf Kak saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini!” Nada sms Marni. Sontak Sam pun menghubungi balik Marni untuk memastikan ucapan tersebut melalui sms yang dikirimnya melalui via telepon. Panggilan Sam tersambung ke Mirna, dan tanpa kata pengantar, Sam pun langsung ke inti pembicaraannya pada Marni saat itu.

“Dek, apakah betul adek mau putuskan hubungan cinta kita?” Tanya Sam dengan hati terkaget.
“Iya betul Kak!” Jawab Marni. Sam pun hanya bisa terdiam seolah tersambar petir, dan membuat badannya terasa lemas. “Kenapa adek mau memutuskan hubungan cinta kita?” Tanya Sam dengan suara lesu.
“Aku mau fokus kuliah Kak, dan lagi pula aku pun sebenarnya belum bisa ke luar dari perasaan trauma tentang pacaran Kak!” Seru Marni.
“Ya kalau begitu maunya Dek, mau bagaimana lagi,” Ucap Sam dengan pasrah. “Ya aku nggak bisa berbuat apa-apa.” Sambung Sam. Hingga tidak lama berselang, Sam pun mengakhiri teleponan dengan Mirna. Tidak terasa waktu pun menunjukkan pukul 20.00 wita. Jam yang sama saat cintanya diterima oleh Marni di malam kemarin.

Cerpen Karangan: Juanda Putra
Blog: juandaputra.blogspot.com
Tempat, Tanggal Lahir: Kampuno, 1 Januari 1989.

Cerpen Cinta 24 Jam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kayla

Oleh:
Kayla menatap gusar ke halaman sekolah yang kini mulai dibasahi tetesan hujan. Memasuki bulan Januari hujan semakin menjadi-jadi. Perlahan awan hitam mulai menutupi sinar matahari seiring dengan berhembusnya angin

Mengagumi Orang Yang Salah

Oleh:
“bi.. udahlah lupain dia… air mata loe terlalu berharga cuma buat orang itu” Teriak kevin yang sedari-tadi terus mengikuti bintang, semenjak keluar dari gerbang kampus bintang tak henti-hentinya menangis.

Kado Terakhir Untukmu (Part 1)

Oleh:
Dunia terang disinari mentari yang mencerahkannya bersama hembuasan angin yang menyejukan suasana namun bising motor dan mobil membuat buyar pikiran yang mencoba untuk tetap tenang. “Selamat Pagi Pak”. “Pagi”.

Nafasmu Sakiti Jiwaku

Oleh:
Mendua bagaikan madu di tangan kanan dan racun di tangan kiri. Berkali aku mencecap rasa itu dari mulut para pria. Tentu sudah berkali-kali aku jatuh bangun dan terpuruk. Sekali

My First Love

Oleh:
Suatu pagi aku terjaga dari tidur ku dan bergegas ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tuk pertama kalinya. mengapa pertama kalinya? karena itu adalah hari pertama ku duduk di bangku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *