Cinta Bukan Ilmu Pasti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Hari yang terasa lelah, karena ia merasa segalanya harus nyata, indah dengan realitas yang ada. Bak cerita sinetron belaka, kenyataan sungguh berbeda. Hanya ragawi yang memahami keberadaan diri.

Mahasiswi S2 Universitas terkemuka, bernama Dina. Hanya tugas kuliah dan pekerjaan lah yang membuat sibuk hari-harinya. Bukan menunggu ia tertawa tapi membuatnya tak pernah diam, atau sekedar jalan-jalan melepas lelah dari keseharian yang menyibuki harinya.

“Din, ada yang nanyain kamu lho?” celoteh Asri.
“Apa sih Ci!” jawabnya singkat.
“Kamu tuh ya jangan cuek melulu, nanti cowok pada kabur tau.” kata Asri spontan.
“Iya bu iya, sudah berapa kali percakapan kaya gini diulang-ulang! Bosen tau, hahaha.” jawabnya sambil bercanda.
“Kamu tanya siapa ke gitu, ya udah aku cerita aja sendiri ya namanya Aldi. Dia kayanya udah lama deh naksir kamu. Lucu kok Din, Suer deh!” ungkap Asri.
“Mau kamu suer tak kewer-kewer juga gak ngaruh hahaha” ejeknya.

Mereka tertawa terbahak, sambil berjalan di depan kantor tempat mereka bekerja. Mereka bekerja di sebuah perusahaan periklanan sudah 3 bulan lamanya. Sama lamanya dengan perkuliahan S2 yang sedang dijalani Dina. Berbeda dengan Asri yang sudah menikah dan memiliki anak yang masih kecil. Sehingga mereka menjalani kehidupan yang berbeda. Asri yang hampir tak lupa mengingatkan Dina supaya cepat menikah. Sedangkan Dina yang cuek dan terlihat sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya.

Selengkap apapun kehidupan seseorang, sekuat apapun bertahan dan berdiri tegak di atas kaki sendiri. Takkan pernah bisa dipungkiri semua orang butuh cinta. Kasih yang nyata dari bukan jenisnya. Hal lumrah yang banyak orang tanyakan pada kesendirian. Apalagi dalam kehidupan yang mapan. Kecukupan materi atau kecerdasan butuh kasih temani kehidupan.

“Selamat pagi!” sapa seorang lelaki di balik pintu.
“Iya selamat pagi” jawab Dina sambil menoleh ke arah pintu.
“Permisi ya mbak saya mau meeting sama Pak Asep. Ruangannya sebelah mana ya?” tanya lelaki itu.
“Kebetulan Pak Asep belum datang. Mari saya antar ke ruang meeting!” jawab Dina dengan lantang.

Kemudian mereka berdua menunggu Pak Manager di ruang meeting. Kebetulan Pak Asep mengabari Dina bahwa beliau akan telat sekitar 40 menit karena macet. Keduanya pun saling berdiskusi mengenai projek kerjasama yang akan didiskusikan nanti.

“Nama saya Aldi.” sambil mengulirkan tangan kanan hendak berjabat tangan.
“Nama saya Dina.” Jawabnya dengan raut sumringah.
“Saya sering ke kantor ini tapi baru kali ini saya melihat mbak. Mbak baru ya?” tanya Aldi.
“Tidak mas, saya sudah tiga bulan kerja di sini. Namun saya sambil kuliah pagi, kalau tidak ada kelas baru saya sift pagi di kantor.” Jawab Dina perlahan menjelaskan.
“Wah hebat ya sambil kuliah. Mbaknya nggak pusing ya?” kata Aldi
“Pusing kalau banyak tugas dan kerjaan bentrok mas, hehe. Tapi alhamdulillah masih bisa dijalani.” Jawabnya.
“Iya sih yang penting kita menikmatinya” kata Aldi sambil tersenyum.

Tak lama kemudian Pak Asep dan rekan kerja yang lain datang. Meeting pun dimulai. Aldi semakin tertarik dengan Dina. Selain paras yang cantik Dina begitu lancar memaparkan presentasi kerjaannya.

Saat pertemuan datang, ia diam menduduki ruang yang tak pernah mati bermalasan. Kantor dimana ia bekerja, barangkali ini adalah kesempatan tak ada duanya. Seorang pria mapan, relasi perusahaan tempat ia bekerja mnghampirinya. Tampan nan berwibawa, cukup menerangkan sosok lelaki yang berusaha menjajaki wanita cantik serta cerdas ini.
Entah darimana datangnya, turun dari langitkah. Yang jelas ia bahagia. Memiliki hidup yang lebih bermakna dibandingkan harinya saat sendiri tak ditemani seseorang yang berarti.

Mereka mencoba mengerti satu sama lain. Belum ada keseriusan terlampau istimewa. Sampai suatu hari Dina dimintai jawaban atas perasaan. Laki-laki itu mulai bertanya ketegasan, seolah menginginkan sesuatu darinya. Apa itu teman ataukah lebih.
Dina ia tak punya pengalaman banyak tentang cinta. Hingga jawabannya hanya “iya”. Tak ada yang lain, atau penjabaran sesuatu lain yang ia rasa selama ini. Tak ada perkataan lagi betapa besarnya perasaan keriangan saat-saat dekat bersamanya. Laki-laki itu pun senang walau pun merasakan kekurangan dalam jawaban Dina tak seperti pengalaman lain yang ia temukan bersama angan dan keinginannya.

Laki-laki itu beberapa bulan menemani harinya. Tak ada kekurangan berarti yang Dina temukan dari sesosok ini. Ia bahagia. Benar-benar sangat bahagia. Bahkian ia seringkali memimpikan sesuatu menakjubkan akan segera datang, tentu saja bersama Aldi. Laki-laki yang selama ini ia kenali lebih dekat setiap hari.

Lambat laun persamaan karakter yang membuat pasangan sempurna ini sedikit berbeda dari pasangan biasanya. Begitu teman dekat mereka seringkali bergumam. Entahlah iri, syirik, cemburu dengan kesempurnaan pasangan mapan rupawan, atau begitu nyatanya. Tak lama laki-laki itu menjadi semu di hadapan seorang Dina. Tak ada lagi yang memperhatikan. Dan ia tak tahu mengapa menjadi begitu jadinya.

Tak lama kemudian sosial media yang jarang dicarinya. Menjadi teman dikala sepi sendiri menyelimuti. Seketika ia klik mesin pencarian, diketik kata Aldi. Malang menimpa, raga lemah tak berdaya. Ia melihat sendiri Aldi yang selama ini dekat dengannya telah tunangan dalam sosial media. Tak hanya status facebook tapi beberapa foto yang diupload menjadi lebih jelas dalam benak Dina.

Bagaimana tidak sakit hati ia yang selama ini cuek terhadap lelaki. Namun karena rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya stalking pada media sosial Aldi. Foto dua tangan yang saling bersentuhan dilingkari cincin yang sama persis membuat hati Dina semakin teriris.

Hari yang berjalan tiada henti, memaksa Dina untuk bangkit kembali. Ditemaninya asa sendiri, dengan atau tanpa Aldi seharusnya hidup ini dinikmati. Gumamnya dalam hati. Tak peduli orang lain berkata apapun tentang diri. Dina tak ingin bertemu lagi dengan Aldi. Harapan hilang harus berganti. Yang ia yakini hanya Tuhan akan selalu menemani, memberikan kebahagiaan pasti yang entah kapan datang tak hanya dinanti.

Cinta itu hitam putih. Ada gelap ada terang. Ada saat ketika kita senang. Ada suatu ketika untuk bersedih ataupun menangis. Tak selamanya cinta penuh kejelasan. Tak selamanya pula cinta itu pasti, pasti hitam atau putih.

Cerpen Karangan: Fenny Sugih
Blog / Facebook: www.fennysugih.com / fenny sugih
Fenny Sugih seorang blogger lulusan DIV Bidan Pendidik yang menyukai aktivitas menulis dan berenang. Karyanya pernah dibukukan dalam buku antologi Hati Ibu Seluas Samudra. Penulis ini senang memiliki banyak teman dan sangat terbuka dengan kritik dan saran, bisa dihubungi di blog www.fennysugih.com, Halaman FB : Keepthankful and Dothebest, IG fennysugih, twitter @fennyfefew

Cerpen Cinta Bukan Ilmu Pasti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waiting To Lose (Part 1)

Oleh:
Setiap kali waktu mempertemukan Edo dan Emily. Setiap kali mereka dihadapkan pada sebuah keputusan, hal itu semakin buram dan kelabu. Dua orang yang saling mencintai namun tak pernah ingin

Mengapa Harus Ayahku?

Oleh:
Siang itu panas begitu menyengat, matahari seakan ingin membakar seisi dunia. Tak terkecuali di pangean, kampung tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan. Dimas, begitu orang-orang memanggilku. Lengkapnya Dimas Randika.

Teristimewa

Oleh:
Semua berawal dari kesalahanku yang terlalu peduli akan setiap detail situasi, hingga pada suatu siang yang terik, aku menempatkan pandang pada sebuah objek spesial di antara objek lainnya. Hanya

Saat Aku Kembali

Oleh:
Bruumm… Bruumm.. Suara stom kedua kapal mengaum membelah sunyinya malam di kota ini. Pun seperti mengamuk mengalahkan bisingnya keramaian di pelabuhan. Orang-orang hilir mudik, entah apa yang mereka kerjakan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *