Cinta Pertama Riri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 November 2019

Malam ini Riri tidak bisa tidur karena memikirkan seseorang. Entah. Sejak kejadian tadi siang, Riri mendadak berubah. Di kelas Riri, ada seorang lelaki bernama Jo alias Jono. Tepatnya di parkiran sekolah Riri tidak sengaja berpapasan dengan Jono. Seketika ia merasakan sesuatu yang aneh saat laki-laki tampan itu tersenyum, senyum yang pertama kali dilihatnya. Riri sebelumnya tidak pernah melihat Jono tersenyum padanya meskipun sudah dua tahun mereka satu kelas. Bahkan tidak pernah mengobrol kecuali ada tugas bersama. Awalnya Riri biasa saja namun akhir-akhir ini ia selalu terbayang akan senyum yang indah itu.

“Aku harus gimana La?,”
“Ya kamu deketin lah,”
“Kamu yakin?,”
“Udah coba aja dulu,”
Ela adalah teman dekat Riri. Pertemanan mereka sudah selayaknya persaudaraan.

Riri tidak pernah merasakan hal ini terhadap siapapun tapi kali ini ia benar dibuat jatuh hati oleh sosok Jono. Jono termasuk orang yang menyukai kesederhanaan meski dia punya orangtua kaya, dia tidak pernah menunjukkan keangkuhan. Jono sangat suka membantu orang lain. Seperti yang dilakukannya di siang ini. Di bawah terik matahari Jono berusaha memperbaiki motor Riri yang mogok di tengah jalan.

Sejam berlalu akhirnya berhasil.
“Emmm, makasih ya Jo. Untung ada kamu,” kata Riri dengan wajah memerah karena tidak menyangka Jo ada di sampingnya
“Iya sama-sama. Ri, aku buru-buru nih. Aku duluan ya,”
“Oh iya hati-hati Jo,” kata Riri sembari melambaikan tangan yang di balas Jo dengan sedikit senyuman.
Di perjalanan pulang Riri tidak henti-hentinya tersenyum sendiri. Serasa kebahagiaan menyelimuti hatinya saat ini.

Kian hari kian bertambah kegilaan Riri pada Jo. Di pagi yang berawan hitam ini. Riri berjalan santai melewati koridor menuju kelasnya. Pelan-pelan Riri membuka pintu kelas yang terlihat hanya sebuah kesunyian. Riri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Huuff pantas aku yang terlalu pagi” gumamnya sembari duduk di bangku paling depan. Hati Riri tidak sabar untuk bertemu Jo, pujaan hatinya. Sambil menunggu teman yang lain datang Riri mengutak-atik ponselnya.

“Ela, kamu dimana aku udah sampai,”
Sebuah pesan terkirim
“Iya ini lagi di jalan,” balas Ela

Sebuah langkah kaki berjalan memasuki kelas. Riri harap itu adalah Ela ternyata bukan.
“Hei, Ri. Tumben sepagi ini udah datang,”
“Eh Pe, iya soalnya takut kalau nanti hujan,”
Pandi Wijaya adalah ketua kelas. Dia baik, pintar dan tidak kalah tampan dari Jo. Pandi sering disapa pw(pewe) oleh teman-teman di sekolah.

Dentingan waktu terus bergulir. Baru saja jam pelajaran telah usai. Tadi pagi hanya mendung dan siang ini terasa dingin oleh guyuran hujan. Anak-anak lain nekat menerobos hujan deras untuk pulang. Riri berdiri sendirian berharap hujan akan reda.

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Riri.
“Hei, Ri. Belum pulang?,”
“Iya nih Pe,”
“Kamu gak bawa jas hujan?,”
Riri hanya menggelengkan kepalanya. Riri tampak gelisah karena sedari tadi hujan belum juga berhenti malah bertambah deras. Pewe melepas jas hujan yang melekat di tubuhnya.
“Nih pake aja, kayaknya hujan gak reda-reda. Lagian semua orang di sekolah juga udah pada pulang,”
“Tapi, Pe…,”
“Udah. Aku gampang gak usah khawatir,”
Sebenarnya Riri tidak ingin merepotkan tapi Pewe terus saja memaksa. Riri pun memakai jas hujan itu. Sementara Pewe harus kehujanan dan basah kuyup.

Riri merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Kemudian terlelap dengan mimpinya. Baru saja ia memasuki ruang mimpinya ia harus terbangun karena gedoran pintu kamarnya yang mengusik kupingnya.
“Ada apa sih ma?,”
“Itu ada temanmu datang,”
“Siapa ma? Ela?,”
“Udah sana lihat sendiri,”

Dengan mata masih mengantuk Riri menuju ruang tamu. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti. Matanya terbelalak tidak percaya.
“Ini beneran Jo kan,”
“Iya kenapa Ri? kok kaget gitu?,”
“Oh eh iya gak, gak apa apa” Riri dibuat gelagapan

Kedatangan Jo ke rumah Riri memang mengundang berbagai pertanyaan di hati Riri.
“Aku kesini mau ngasih buku kamu yang ketinggalan di kelas,”
“Oh iya aku kira buku ini hilang. Makasih ya Jo. Untung ada kamu,” kata Riri sembari tersenyum
Yang lagi-lagi Jo ikut tersenyum. Riri dibuat tidak karuan. Hatinya bagaikan bunga yang sedang bermekaran.
Setelah Jo pergi. Riri melanjutkan tidur siangnya yang tertunda.

Hari berganti hari. Langit tetap biru. Hati Riri masih tetap pada Jo. Namun Riri tidak melihat ketertarikan Jo pada dirinya. Semua seperti biasa saja. Karena kegilaannya pada Jo. Riri nekat mengajak Jo bertemu di taman dekat rumahnya.

“Maaf Ri, aku buat kamu nunggu,”
“Oh iya gapapa aku juga baru datang,”
“Ada apa nih tumben Riri ngajak ketemu disini?,”
Riri menarik napas pelan
“Jo, aku… aku… aku…, aku sebenarnya suka sama kamu Jo, lebih dari sekedar teman,” Riri sangat gugup sampai tidak ingin menatap mata Jo
Sementara Jo terdiam. Selang beberapa detik Jo akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Ri, bukannya aku mau buat kamu kecewa tapi…,”
“Tapi apa Jo?,”
“Aku udah punya cewek namanya Sena,”
“Apaaa?? Tidaaaaaaaaaakkkk!!!,”

Riri terbangun dari mimpi buruknya. Ia menepuk pipinya yang terasa sakit. “Cuma mimpi” kata Riri bernafas lega.

Keesokan harinya Riri dan Ela sengaja membuntuti kemana Jo akan pergi sepulang sekolah. Riri ingin memastikan bahwa mimpinya itu bukanlah kenyataan. Hasilnya pun mengecewakan dan benar Jo menjemput kekasihnya, Sena. Sena adalah anak sekolah lain. Pantas saja Jo selalu buru-buru pulang.

Cinta pertama Riri harus menelan kekecewaan.
“La, Jono jahat banget sih,” kata Riri terisak di pelukan Ela.
“Udah Ri gak usah sedih. Jono gak jahat kamu nya yang suka sama orang yang gak tepat. Lagian masih ada Pewe,”
Riri menatap Ela.
“Maksudnya apa?,”
“Ya gini nih kalau gak peka. Pewe itu suka sama kamu tapi dia gak mau bilang soalnya kamu sih sibuk merhatiin Jono,”
“Serius?,”
“Iya dua rius malah. Gak sama Jono jadi sama Pewe nih,” ledek Ela

Riri memang harus kecewa dan membiarkan cinta pertama

Cerpen Karangan: Swegi

Cerpen Cinta Pertama Riri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setabah Kursi Kosong

Oleh:
Malam ini, malam yang sangat kutunggu-tunggu. Untuk menjelaskan kepada dia, terkait kelanjutan kedekatan kami selama ini. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk ke gadgetku. “Maaf ya, malam ini kita batalkan

Love Street (Part 3)

Oleh:
Di dalam mobil. “Kita ke mana?” tanyaku. “Banyak nanya.” ucapnya datar masih fokus menyetir mobilnya. Aku mengeluarkan hpku. “Sekarang tutup mana lo.” ucapnya sambil mengulurkan selembar kain. “Gak mau.”

Jatuh Cinta Atau Jatuh Hati?

Oleh:
Saat-saat yang mendebarkan, apakah mungkin aku akan berada di Sekolah favoritku? Ternyata Tuhan berkehendak lain, aku gagal putus asa dalam nyatanya aku tidak bisa menorehkan perasaanku untuk sekolah favoritku.

Too Late

Oleh:
Ia masih diam tanpa banyak bicara. Aku juga masih dengan bisuku sendiri. Ini kesekian kalinya kami bertemu namun pertama kalinya sejak satu minggu yang lalu. Sejak ia salama hampir

Mengapa Aku Berbeda

Oleh:
Hari-hari yang kulalui semenjak menginjak bangku Tsanwiyah lumayan menyibukkan. Tugas demi tugas yang harus kuselesaikan di setiap pertemuan. Tak jarang aku memiliki waktu untuk sekedar holiday. Bahkan untuk sarapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *