Cintaku Tak Akan Punah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 May 2015

“Siapa ya namanya? Dia begitu indah bak bidadari saja” lamunku.

“Hey Dik! Melamun saja kau dari tadi?” suara Roy mengagetkanku.

“Oh, enggak ada apa-apa kok Roy” jawabku sambil tersenyum.

“Halah, tak usah lah kau bohongi sahabatmu ini! Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku!”.

“Beneran.. Gak ada apa-apa Roy” elakku.

Teett.. Teett.. Suara bel masuk pun terdengar, pertanda semua siswa harus segera memasuki kelas masing-masing.

“Sudah bel tuh, mari kita masuk ke kelas” Ajakku sambil berdiri dari kursi kantin.

Selama perjalanan menuju kelas, Roy selalu menanyakan hal tadi kepadaku. Namun, aku hanya menjawabnya dengan seutas senyuman. Sebelum masuk ke kelas tiba-tiba pandanganku terhenti di sesosok gadis berjilbab yang ada di lamunanku tadi.

“Aku baru sadar, bahwa dia adalah tetangga kelasku” ucapkku dalam hati.
Belum puas memandangi wajahnya yang elok. Aku pun sudah ditarik Roy masuk kelas.

“Ayo lah Dik, Bu Dita sudah menuju kesini tuh!”
“Iya-iya..” jawabku singkat.

Disaat pelajaran sedang berlangsung, si Roy pun tetap menanyakan hal yang sama kepadaku. Dengan agak berbisik, ia bertanya.

“Dik.. Dika.. ceritalah kepadaku. Apasih yang kau pikirkan tadi?”.

Aku hanya terdiam, saat itu yang kupikirkan hanya gadis tadi. Namun, semua pikiranku itu hilang disaat Bu Dita dengan suara yang mengagetkan menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku. Aku yang dari tadi hanya melamun kontan saja menjawab “Iya, benar bu!!” di ikuti dengan tawa teman-temanku sekelas.

“Dika.. Dika.. Makanya kalau dikelas jangan melamun saja” kata Bu Dita.

“Iya bu, maaf.” jawabku sambil tertunduk malu.

Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Seperti biasa, aku dan Roy selalu pulang paling akhir karena harus merapikan pakaian olahraga dan buku-buku yang ada di laci meja kita masing-masing. Setelah semuanya selesai, kita beranjak keluar kelas. Tak kusangka, aku melihat kembali gadis manis itu. Ia sedang berbincang-bincang bersama dua orang teman perempuannya di depan kelas. Belum sempat memandanginya lagi, aku sudah ditarik oleh Roy.

“Cepatlah dik, aku mau cepat-cepat pulang nih” ucapnya sambil menarik ku.

“Halah Roy, kamu itu ganggu suasana saja sih dari tadi” balasku.

“Lhoh.. Emang ganggu gimana?” ucapnya kebingungan.

“Ini tadi, kamu sudah dua kali ganggu aku melihat seseorang!”

“Hehe.. iya maaf lah, emang kau lagi melihat siapa Dik?” tanyanya penasaran.

Karena aku tidak tahu namanya dan kita sudah berada agak jauh maka, aku menjawab pertanyaan Roy dengan menunjuk dia sambil berkata.

“Itu yang berjilbab biru!”

“Oh.. Gita maksud kau? Itu sih temanku waktu Sekolah Dasar dulu. Kau suka ya?”

“Huss.. ya enggak lah” elakku

“Tak usah lah kau bohong, aku sudah paham sama sifat kau. Tenang saja, nanti ku kasih kau nomor handphonenya“

Aku pun hanya tersenyum. Setibanya di rumah, aku langsung mengambil Handphoneku dan memasukkan nomor Gita pemberian si Roy. Tak berselang lama, aku mengirim pesan singkat kepadanya, dan ia pun membalas pesanku. Dari pesan singkat inilah kita berdua berkenalan dan menjadi lebih akrab. Hampir selama lima minggu kita selalu mengobrol lewat pesan singkat, dari situ aku mulai merasakan sesuatu. Rasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya mungkin, rasa inilah yang biasa orang sebut dengan “cinta”. Dan aku merasa bahwa Gita juga mempunyai rasa yang sama, hal itu terlihat dari perhatiannya yang besar kepadaku bahkan, kita pernah bicara dari hati ke hati tentang perasaan ini.

Setelah perkenalan itu, hampir setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa Gita dan bercengkrama sebentar dengannya walaupun, sesekali aku masih merasa canggung bila didekatnya. Semakin lama kita pun semakin dekat, karena kedekatan itu pula banyak teman yang menganggap kita sudah berpacaran.
Namun, rasa cinta yang sudah besar ini tiba-tiba terasa musnah ketika aku mulai mengetahui bahwa Gita sudah memiliki kekasih. Aku tak menyangka sebelumnya, karena Gita tak pernah membicarakan hal itu kepadaku. Aku mengetahuinya disaat meminjam handphonenya, aku yang tak percaya akan hal itu langsung bertanya padanya.

“Gita sudah punya pacar ya?” tanyaku pelan. Gita hanya diam membisu dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun, karena aku sangat butuh jawabannya, aku pun menanyainya kembali.

“Gita, lihat aku.. Aku mau kamu jujur, kamu itu sudah punya pacar ya?”

“Iya Dik, aku sudah punya kekasih” jawabnya lirih.

Mendengar jawaban itu, aku merasa semua hal yang kulakukan ke Gita sia-sia, padahal selama aku sudah sangat mencintainya. Dan kejadian ini seakan membuat cintaku hampir punah, cinta yang bersemi belakangan ini. Aku yang merasa kesal dengan jawaban itu kontan saja berkata

“Ya sudah!!” jawabku sambil meninggalkannya.

Kurasa Gita juga menyadari hal itu, ia berkali-kali mengirim pesan minta maaf kepadaku namun, tak satu pesan pun yang kubalas. Di sekolah, aku juga lebih memilih menghindar bertemu dengannya.

Si Roy melihat ada sesuatu yang aneh denganku dan disaat jam pelajaran sedang kosong ia mendekatiku dan menanyaiku.
“Hey Dik, kau kulihat kok tidak pernah sama Gita lagi? Tanyanya penasaran.

“Tak usah bahas itu Roy!” jawabku.

“Kau itu selalu begitu, cobalah sesekali cerita kepadaku. Ya barangkali aku bisa bantu kau” jawabnya menyakinkan.

“Aku lagi kesal sama Gita!”

“Kok bisa?”

“Iya, kamu tahu kan aku suka sama Gita?”

“Iya, aku tahu. Terus apa masalahnya?”

“Dia sudah ada yang punya dan ia tak pernah menceritakan hal itu kepadaku” jawabku pelan.

“Oh.. Begitu ceritanya. Ya kalau begitu kau lupakan sajalah dia Dik! Kan masih banyak gadis di luar sana” Mendengar saran si Roy aku hanya terdiam. Nampaknya, Roy tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia pun kembali melanjutkan sarannya.
“Kalau kau tidak bisa melupakannya, sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menanti. Cobalah tunggu dia, tenang saja Dik semua itu pasti ada akhirnya kok”.

Mendengar ucapan si Roy aku tersadar dan hatiku terasa tergerak untuk segera meminta maaf ke Gita. Sepulang sekolah, aku menemuinya dan berkata.

“Hai Gita, maaf ya soal kemarin lusa aku sudah men..” belum sempat selesai bicara, Gita sudah menjawab.

“Iya, enggak apa-apa kok Dik, aku mengerti kok. Maaf juga ya, aku sudah buat ka..” Belum sempat Gita melanjutkan ucapannya, aku sudah memotongnya.

“Iya, enggak apa-apa kok” Jawabku sembari tersenyum.

Dan setelah kejadian itu, aku dan Gita menjadi teman akrab. Aku lebih memilih untuk menantinya, walau aku tak tahu sampai kapan harus menanti? Hal itu ku lakukakan karena aku yakin, sebuah penantian pasti ada akhirnya dan aku juga yakin bahwa cintaku tak akan punah, cintaku akan tetap lesatari, disini.. di hati kecil ini.

Cerpen Karangan: Rezki Dharmawan
Facebook: Rezki Dharmawan

Cerpen Cintaku Tak Akan Punah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Titt… Tiitt!” ku raih segera handphoneku yang lagi nagkring di meja belajarku, ku buka segera sebuah pesan singkat di layar handphoneku. From: Faza Hai Neisya?, met pagi ya:D! Huft,

Pangeran Impian dan Cincin Lumba-lumba

Oleh:
Kalau aku mendengar cerita cinta teman-temanku, aku pasti akan merasa iri. Mereka bisa jatuh cinta kepada siapa saja. Bisa saling bergandengan tangan dengan kekasih mereka. Bisa pacaran, kemudian putus

Rei Oh Rei

Oleh:
Sejak dulu aku selalu terpaku ketika menatap Rei, sahabatku yang selalu mengenakan seragam putih lusuh yang agak jorok, rambut cokelat tua gondrong yang dihighlight kuning, lengkap dengan matanya yang

I Hate U

Oleh:
Hai, namaku Handayani Brad Kyano. Aku kelas 10. Gue punya pacar. Namanya Amelia Putri Rahmat. Aku punya temen. Namanya Lala, Dhee dan Alifah. Walaupun nggak punya teman cowok 1

Sihir Kata

Oleh:
Semua ini dimulai dengan musim panas tanggal 23 Juni di kotaku. Dan layaknya kota-kota besar pada umumnya, jalanan selalu ramai dan padat kendaraan. Menjelang siang, panas matahari semakin menyengat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *