Coretan Tinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 25 November 2016

Rangkaian kata indah penuh makna berjejer penuhi selembar kertas putih. Bukan sebagai noda melainkan cerita indah. Gundah gulana dan suka ria bertumpah ruah di dalamnya. Dengan telaten, tangan menulis satu per satu abjad hingga menghasilkan karya yang luar biasa untuknya. Teruntuknya yang kini tengah menjalin asamara bersama gadis usia sebaya. Tak cukup berat menerima kenyataan seperti itu. Sudah biasa bagiku justru dari kisah merekalah banyak memberiku inspirasi di setiap waktu. Sejuta harapan terbayang jauh di masa depan. Meski tiada kenyataan yang sesuai keinginan.

Sedari masa sekolah ku sudah kagum padanya. Kekaguman yang amat sangat luar biasa hingga tak lagi terlihat kekurangan dalam dirinya. Sungguh sempurna bak merpati putih yang terbang dengan kepakan sayap seirama. Tiada puas ku melihat setiap kali berjumpa. Bibir tak sanggup menyapa juga tangan tak mampu melambai. Seketika itu hati bergetar hebat membuatku terpaku. Lirikan mata yang sungguh tajam ditambah aura berkarisma menjadi daya tarik tersendiri. Pantas saja banyak yang mengharap akan dirinya. Sebagai gadis biasa, hanya bisa kupendam dalam-dalam pengharapanku untuknya. Keberanian akan pengucapan bukan bagian dalam diri. Namun tekad semakin kuat setiap saat. Selalu ada semangat untuk raih semua keinginan hati.

Perasaan iri jelas adanya. Sampai pernah hingga ku merasa sesak dalam dada. Tiada hak atas semua perasaan yang kurasa. Sering kali seolah hati bertengkar hebat juga sesaat diam tak berucap. Satu keyakinan memaksaku untuk bertahan meski terkadang merasa tak sanggup harus menerima begitu banyak tempaan. Pertahanan hati tak semudah mempertahankan diri. Dikala terdapat luka goresan akan terlihat dan mudah untuk diobati. Namun ketika hati yang terluka, siapa yang mau untuk bertindak dan siapa pula yang peduli? Karena semua itu tak terlihat jauh di dasar nurani. Hanya diri sendiri yang mampu mengatasi. Sebesar apapun luka hati, tiada insan yang mampu untuk mengerti.
Sebenarnya semua ini hanyalah perjuangan sederhana tapi tidak sembarang orang bisa melakukannya. Kosekuensi akan akan hati menjadikan nilai lebih bagi siapapun yang berhasil mencapai tujuan. Tak hanya itu, kepuasan juga kebanggan bagai medali perlombaan. Bukan berebut kekuasaan, bukan pula perusak hubungan orang namun semua ini masalah kekuatan. Kuat akan segala macam cibiran, olokan bahkan makian menyakitkan. Pandangan sebelah mata pun menjadi salah satu yang harus dihadapi dari sekian banyak bahan ujian. Disaat seperti itu, hati seolah membeku tiada peduli dengan pendapat orang.

Meski hati terus menangis tiada henti, kesempurnaan akan bayangnya berhasil menutupi. Betapa besar harapku padanya. Hingga selalu terinspirasi di setiap hari. Perasaan dalam diri yang tak pernah ia ketahui saat ini atau mungkin nanti. Dan entah sampai kapan pengharapanku selalu tertuju padanya. Padahal ku paham betul sama sekali ia tak menganggapku bahkan tak menggenalku. Jalinan pertemanan pun kupikir tiada antara aku dan dirinya. Terkadang ku terbayang akan perasaan. “Apa yang sedang ia rasakan ketika ku merindukan? Terganggukah, kagumkah atau malah tiada pernah ia rasa?” Pertanyaan konyol penuhi benakku yang pada akhirnya hati harus menanggung rasa akan angan semata.
Malam ini terasa begitu sunyi. Kupejamkan mata dan berharap ia datang dalam mimpi. Meski tak ada dalam nyata setidaknya mampu untukku bersamanya hari ini. Sekali saja sudah cukup bagiku. Beribu kegembiraan akan datang padaku ketika itu. Lagi-lagi khayalanku melambung tinggi akan sosoknya yang selalu terekam dalam memori. Seketika kerinduan penuhi ruang hati. “Bagaimana ia melewati hari-hari? Bersama siapakan ia menceritakan isi hati?” Mustahil bila ia sama sepertiku yang hanya bisa terdiam di relung terdalam. Waktu yang tepat untukku meluapkan rasa rindu di atas kertas putih bergariskan warrna merah hati. Sungguh warna yang melambangakan ketulusan. Senyuman seringkali terlontar dari bibirku tanpa kusadari. Sembari kugoreskan tinta hitam, kembali bayangku melambug jauh ke awan. Cukup tinggi memang, hingga akhirnya tercipta satu cerita mendalam dengan penuh kejujuran.

Tak terasa, penantianku terhitung lama bagi mereka. Namun masih kulakukan sampai saat ini. Meski berkali-kali harus kutanggung perasaan sedih. Ketika kudapati informasi ia menjalin hubungan, sempat melajang dan kembali merajut kasih hingga tiada lagi rayuan ungkapan isi hati. Semakin ku terpacu untuk memantaskan diri. Satu per satu anak tangga kunaiki dengan penuh usaha bersusah payah. Terlihat jelas sosok bayangnya di puncak menanti siapapun yang berhak atas segalanya. Harus bisa kuraih anganku tentang dirinya. Banyak orang bilang kalau saja tiada usaha yang sia-sia. Pikirku inilah saatnya untukku berusaha. Tak lagi menunggu ia menghampiriku. Akan butuh waktu lama untuk itu. Bahkan mustahil akan terjadi. Tak ada seorangpun membantuku karena kuingin mencapai puncak dengan cara terbaikku. Dengan begitu, mungkin saja ia akan sedikit menoleh padaku.

Ketika ku berhasil mencapai puncak, bayangnya seolah sirna tertutup kabut kelabu. Dalam sekejap, beribu pertanyaan ada di benakku. Kegelisahan hati tak lagi bisa kupungkiri. Sorot mataku tak hentinya memandang sekeliling duniaku. Hingga terhenti pada sosok perawakan yang sangat kukenali betul. Mengapa ia berpindah tempat tanpa ada seorangpun yang mengetahui? Mungkinkah ini satu bentuk pelarian atau apapun itu aku tak tahu. Satu hal yang pasti adalah kembali ku belum berhasil mendapatkannya. Memang bukan perkara wajar jika ku terus mengejarnya. Tak selayaknya ku berbuat demikian. Namun apa daya, perasaan kagum yang amat berlebih itulah yang selalu menuntunku untuk tetap mempercayakan harapku padanya.

Gambaran wanita cantik dengan polesan bedak tipis dan bibir merona sontak membuatku berdecak kagum. Kesempurnaan seorang wanita jelas tergambar. Dan aku pun yakin begitulah wanita idaman para pria. Pantulan diri pada cermin membuatku berfikir berulangkali sebelum ku kembali melangkah. Tiada satupun hal yang menarik dalam diriku. Pantas saja tak pernah sekalipun ia melirikku. Pendapat macam apa ini yang mencela diriku sendiri. Memanglah paras bukan menjadi hal utama untuk menjamin masa depan cerah. Bagi pria, justru kecantikan menjadi syarat yang memiliki poin tertinggi dari sekian banyak kriteria. Melihat 2 kesempurnaan berbaur menjadi satu membuatku berani berfikir jauh. Ditambah dengan rencana melenggang di pelaminan seolah membuatku hampir putus asa. Namun satu keyakinan timbul dalam diriku. Tidaklah semudah dan secepat itu ia akan menikah. Butuh cukup banyak proses untuk menuju pernikahan.

Entah setelah kuketahui banyak hal tentangnya membuatku sakit hati. Mungkin perasaan ini timbul karena ku merasa iri. Meski terbiasa dengan semua ini tetap saja hati tak bisa kubohongi. Inginku menangis namun air mata tak mau menetes. Ingin ku mengeluh, tiada seorang pun yang mengerti keadaanku. Cukup banyak saran dan petuah dari mereka. Memanglah kalau tidak diri merasa, sungguh mudah berkata. Tanpa mereka tak akan tahu begitu berat melakukannya. Setelah sekian lama berusaha untuk memperbiki diri hingga tingkatan setara. Dalam diamku akan tetap menunggu hingga kutahu akhir dari semua penantianku juga jawaban dari segala harapku.

Dari sekian lama penantian, aku mulai sadar kesetiaan tak bisa dijadikan jaminan untuk masa depan. Turuti kata hati, ingin ku lebih lama menanti dan terus menanti. Namun kesempatan itu kurasa sudah tiada lagi. Lembaran kertas tertumpuk rapi di antara sekian banyak buku di lemari. Tak sempat terfikir olehku, segera dikirimkan ke alamat yang terdapat pada buku kenangan masa sekolah. Harap-harap cemas akan hal itu. Sama sekali tak pernah kusangka akan perilakunya. Coretan tinta yang kutulis dengan sunguh-sunguh dan sesuatu yang kuanggap berharga juga indah seolah tiada harganya. Satu karya tentang kekagumanku padanya kini harus berpindah tempat yang sama sekali tidak terduga.
Hanya selembar saja ia membaca dengan kerutan di kening. Entah apa yang ada di benaknya ketika membaca harta terindahku yang memang kupersembahkan untuknya. Harapanku ia tersadar akan kehadiranku dalam penantian. Tak lagi inginku ia menghampiri, hanya saja anggaplah aku ada. Namun penantianku hanya dianggapnya sebagai sampah yang tak lagi berguna. Tumpukan kertas yang telah dibacanya segera ia lempar masuk ke dalam kotak sampah yang ada di ruang pribadinya. Cukup! Kurasa cukup disini penantianku untuknya. Tak lagi ingin ku mengingat masa lalu. Tidak! Aku tak akan menyalahkannya dalam hal ini. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mempercayakan harapan berlebih padanya. Akhir dari sebuah penantian panjang merupakan kesalahan. Lega sekali, kini ku dapat menangis. Air mata yang dulunya enggan untuk menetes, kini bercucuran membasahi wajahku. Jauh di atas sini bersama malaikat bersayap dengan jelas ku melihat semua yang telah ia perbuat terhadap apa-apa tentangku.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Coretan Tinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dan Akhirnya

Oleh:
Mungkin tidak hanya aku yang berpikir bahwa hadirnya sebuah kabar itu adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh disepelekan. Kabar terkini ataupun kabar terbaru itu sangat aku hargai

Kamu, Dia dan Hujan

Oleh:
Rintikan hujan mengiringi langkahku, hanya ada aku dan bayangan aku pulang ke kosan yang tidak jauh dari tempat kerjaku. “De, hati-hati ya” Ucap lelaki itu sembari menepuk pundakku. Aku

Bodohnya Diriku

Oleh:
Kriiiiiing! Bunyi alarm kamar devi bersamaan dengan kokokkan ayam jantan tak juga bisa membangunkannya dari mimpi indahnya itu. Namun seketika itu devi baru teringat kalau dia ada janji dengan

Luka Perjuangan

Oleh:
Mengapa memberiku alasan perpisahan? Bahkan di awalpun kau tak memberiku pertanyaan “Mengapa kau memilihku”. Coba ingat, berapa puluh kilo meter kita berjalan di atas kaktus? Berdiri dalam deras badai?.

Cinta Tak Direstui

Oleh:
Saat matahari berjalan menuju barat dan terbitlah bulan dari ujung timur, bertanda sore akan berganti menjadi malam. Sore itu Amel duduk di depan teras menikmati pemandangan dan menikmati udara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *