Cupid Tetaplah Cupid

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 January 2018

Jika harus memilih, siapa yang kau pilih antara orang yang kau suka, dan orang yang membuatmu nyaman?
Mungkin, kau akan memilih orang yang membuatmu nyaman kan? Tetapi, bagaimana jika orang itu adalah orang yang disukai sahabatmu sendiri? Akankah kau tetap memilih orang itu?

Jika kau sahabat yang solid, kau akan mengubah haluanmu, yaitu memilih orang yang kau sukai. Namun, bagaimana jika orang itu adalah orang yang mustahil membalas perasaanmu?
Sulit memang, berada di antara pilihan yang tak dapat kita pilih. Inilah yang terjadi padaku, ditengah kebimbangan hati yang menyiksa nalar dan naluri.

Ray, lelaki yang membuatku merasa nyaman. Ia begitu berbeda, ia bisa membuat siapa saja yang merasa asing ataupun terasingkan menjadi satu dengan yang lain. Kesepian dan udara dingin, hilang sekejap mata. Melebur menjadi satu menciptakan senyuman.

“Ra, Ke kantin yuk?!” ajak Ray. Ia tengah berdiri di hadapanku, sambil menyunggingkan senyum maskulinnya. Tangan kanannya ia letakkan di atas meja untuk menyangga tubuhnya, dan tangan kirinya berkacak pinggang. Lengan kemeja yang ia gulung sampai sikutnya, membuatnya terlihat santai dan simple, namun mempesona.
“Yuk!” jawab Wendy lugas. Sesaat Ray mengalihkan pandangannya ke arah Wendy, lalu melempar senyumannya. lalu ia kembali menatap kearahku dan berkata.

“Tunggu apa lagi? Ayo!” Ray bergegas, begitu pun dengan Wendy.
“Raaa!! Ayo!” seru keduanya saat menyadari bahwa aku tak kunjung beranjak dari tempatku.
Aku pun tersenyum. Lihatlah betapa bahagianya Wendy, aku benar-benar tidak tega jika egoku menguasai diri ini.

Kupandangi mereka dari belakang, sengaja menjaga jarak dengan mereka. Mereka terlihat begitu senang, dan sudah pasti mereka merasa nyaman satu sama lain. Mungkin dengan kebahagiaan Wendy, aku akan ikut bahagia.

Aku pun mempercepat langkahku lalu merangkul mereka berdua, mentap mereka dan tersenyum lebar sampai deret gigiku terlihat.

“Kalian tahu?” tanyaku yang membuat mereka mengalihkan perhatian mereka padaku.
“Apaan?” tanya Wendy penasaran.
“Kalian itu cocok.”

Kening mereka mengernyit, sesaat tatapan mereka bertemu lalu mereka menatap ke arahku lagi.

“Kalau menurut penglihatanku… kalian cocok 99,9%”
Tepat setelah kalimatku berakhir, mereka menjitak kepalaku secara bersamaan, sambil berujar “Ngaco kamu, Ra!” itupun secara bersamaan, dengan nada dan kata-kata yang sama persis.
Sebelumnya aku meringis, namun setelah melihat mereka yang menjadi canggung satu-sama lain, aku yakin, pilihanku tidak salah. Aku akan menyatukan mereka berdua.

“Ciee ada yang salting nih…” godaku, sedikit geli melihat mereka yang menjadi salah tingkah. Apalagi Wendy, wajahnya begitu merah dan sesekali menggaruk tengkuknya.
“A-apaan coba?” ujar Ray lalu pergi mendahului kami.
“Kode tuh, dia salting haha.” ujarku sambil merangkul Wendy, ia mulai tersipu karena godaanku.
“Apaan sih? Ayo ke kantin” jawab Wendy dengan senyum yang masih menempel di wajahnya, lalu kami pun melanjutkan langkah kami.

“Aurora!” teriak Sandy, dengan Patrick di sampingnya.
Aku pun melambaikan tangan kananku, mengajaknya untuk bergabung bersamaku.

“Di mana yang lain?” tanya Sandy, yang segera duduk di sebelah kiriku dan Patrick di sebelah kiri-nya.
“Tuh” ucapku sambil menunjuk tiga orang yang sedang berjalan ke arah meja kami.

“Hey! Ashley datang!” teriak salah satu sahabatku, dengan nampan di tangannya. Diikuti Ray dan Wendy di dan mereka pun ikut duduk.
“Hai!” sapa Sandy, sedangkan Patrick hanya melepar senyumnya.
“Wiiihh, kalian benar-benar tak terpisahkan ya?” tanya Ashley sambil menggelengkan kepalanya, melihat Sandy dan Patrick yang selalu bersama, dan itu membuat Sandy dan Patrick hanya tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah.
“Tentu saja, aku kan Cupid profesional. Siapa pun yang aku persatukan, pasti akan lengket seperti permen karet!” timpalku bangga.

Ya, aku yang mempersatukan Sandy dan Patrick. Aku yang menghubungkan mereka yang pada dasarnya dikuasai oleh ke-gengsi-an dan ego masing-masing, namun aku tahu mereka itu teguh pada perasaan mereka masing-masing.

“Aneh” ujar Sandy tiba-tiba. Kami semua pun mengalihkan pandangan kami untuk menatapnya yang menatap ke arahku. Ia pun melanjutkan perkataannya.
“Kau bilang, kau adalah Cupid profesional, tapi kau sendiri tak bisa mempersatukanmu dengan dia.”
Deg! Skakmat! Seketika tubuhku mematung, seperti manekin yang terpajang di toko-toko pakaian. Begitu juga dengan yang lainnya, seketika suasana menjadi canggung.

Patrick berusaha menyadarkan Sandy atas perkataanya, dengan menyikut tangan Sandy. Namun Sandy sama sekali tak menggubris ataupun merasa bersalah.
Perkataan Sandy memang benar, aku selalu mempersatukan orang lain. Tapi aku? Miris memang, menyukai seseorang tanpa peluang.

“I-itu sudah menjadi prosedurnya, adakah Cupid yang berpasangan? Tidak kan? Lagipula aku menikmatinya.” Ujarku lantang, dan berusaha terlihat santai.
“Ya, kau memang menikmatinya. Dengan mata berkaca-kaca, tenggorokan tercekat, dan dada sesak” celetuk Sandy lagi, lalu menyeruput minumannya sambil memajang wajah tanpa dosanya. Aku terdiam, aku tak bisa menyangkalnya.

“San, sebenarnya apa maksudmu?” tanya Ray, mungkin ia mengerti apa yang kurasakan saat ini. Namun, Sandy tak menggubris pertanyaannya lalu kembali berucap.
“Lupakanlah dia, jangan menyiksa perasaanmu sendiri. Masih banyak lelaki di dunia ini. Lagipula, dia hanya orang asing kan? Kenal saja hanya sekedar kenal.” Nasehat Sandy panjang lebar. Aku hanya bisa menarik senyumku, berusaha terlihat baik-baik saja.

Tanpa sengaja, sudut mataku menangkap bayangan seseorang yang tak asing lagi bagiku, Alex.
Ya, ialah lelaki itu. Seseorang yang serius, namun karena keseriusannya-lah yang membuatnya terlihat konyol. Entah apa yang membuatku bisa jatuh hati padanya, yang jelas senyumannya berhasil membuatku terpikat olehnya.

Diam-diam aku memperhatikannya, Alex mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kantin, mungkin ia sedang mencari meja kosong untuk menyantap makanannya.
Entah hanya perasaanku atau memang kenyataannya, ia tengah menatap ke arah meja dimana tempatku berada. Kakinya mulai melangkah dengan pasti, dengan senyum yang memamerkan gigi putihnya. Aku pun segera mengalihkan pandanganku, menundukkan kepala dan menyantap makananku untuk mengalihkan perhatianku.

“Boleh aku gabung?” Terdengar suara bassnya, mengintrupsi semua yang berada di meja untuk mentap kearahnya. Ah, ternyata benar. Dia ingin bergabung.
“Tentu saja, Bro!” sahut Ray segera. Kemuadian Alex memilih tempat di samping Ashley, tepat di hadapanku. Beberapa detik pandangan kami beradu, namun aku segera mengalihkannya. Aku dan Alex memang tidak dekat. Walaupun ia adalah sahabat Ray, ia lebih sering bergabung dengan sahabat lekakinya yang lain.

Kami mulai menyantap makanan masing-masing, sesekali kami mendengarkan gurauan Ray yang memang memiliki rasa humor yang lebih kental di antara kami semua.

Kami semua sekelas, kecuali Sandy dan Patrick. Mereka berada di kelas yang berbeda. Tentu saja, mereka tergolong orang jenius di antara kami semua.

“Oh ya, Tugas Seni budaya tentang group vocal itu, bagaimana kalau kita sekelompok saja?” usul Ray tiba-tiba.
Semua tampak menimang-nimang perkataannya, lalu aku pun mengangguk. “Boleh juga” ujarku, “Tapi kita kekurangan satu orang, kita kan hanya berempat” lanjutku.
“Kata siapa? Alex akan ikut” ujar Ray lalu menatap Alex yang berada di ujung meja. Semua mata menatapnya, begitupun denganku.
Iya iya iya, katakan iya, aku mohon, batinku.

Satu detik
Dua detik

“Boleh juga” ucap Alex sambil menganggukkan kepalanya.

Ya? Dia mengatakan ya? Oh my God… unbelievable! kukira saat seperti ini takkan pernah datang.

Pandangan kami sempat beradu, kini ia tersenyum kearahku. Awalnya aku tak percaya, namun Sandy segera menyikutku lalu menunjuk Alex yang masih tersenyum. aku pun membalas senyumnya lalu menyentuh tengkukku. Ini kali pertama kami melepar senyum satu sama lain.
“Lupakan nasehatku tadi, fighting!” bisik Sandy tepat di telingaku, aku mengaggukkan kepalaku pelan lalu tersenyum. Mungkin dengan ini, aku dan Alex bisa dekat, semoga saja.

Sejak saat itu, Alex selalu bersama kami. Hampir setiap saat kita selalu bersama, mengerjakan segala hal. Mengerjakan tugas, makan di kantin, pulang bersama, dan itu membuatku dekat dengan Alex. Kita berdua sangatlah akrab, sampai yang lainnya iri karena keakraban kami.

Ternyata tidak ada yang mustahil di dunia ini. Aku selalu mengira bahwa saat-saat terakhirku di tingkat SMA ini akan sangat panjang dan membosankan. Namun, kenyataannya berbanding terbalik dengan perkiraanku.

Tiga bulan kemudian…
Akhirnya Wendy dan Ray berpacaran. Aku bahagia sekali, dan aku sadar, kebahagiaan sahabatku adalah kebahagianku. Itulah yang aku pelajari dari semuanya, dan aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

“Aku menyukaimu, apa kau mau menerimanya?” Alex menggenggam tanganku. Menatapku dengan tatapan seriusnya, dengan satu tangkai mawar merah di tangan kirinya.

Hati dan degub jangtungku masih sama seperti waktu itu, bahkan mulutku terasa kelu hanya untuk mengatakan kata YA.

“Y-ya, a-aaku juga”

Detik itu juga, Alex memelukku. Begitu erat, sangat erat. Aku merasa bahagia, namun entah mengapa air mataku lolos begitu saja.

“Yes! Aku bisa Ra!” ujarnya setelah melepas peluknya, ia terlihat begitu senang. Aku hanya bisa tersenyum ke arahnya. Alex kembali memelukku, namun tak seerat tadi. Kini ia memelukku hangat, aku bisa merasakannya.
“Thanks ya? Kau memang sahabat terbaikku!” ujarnya di sela pelukkan kami.

Aku hanya mengulas senyum tipis, dan menganggukkan kepalaku pelan. Aku benar-benar akan meridukan pelukkan hangatnya, namun aku harus melepasnya sebelum air mataku jatuh di pelukkan Alex.

“Apa aku bilang? Kau itu pasti bisa.“ ujarku, sambil mengulas senyum yang lebih lebar, berusaha untuk menahan tangisku.
“Sekarang, temui dia! Dan nyatakan perasaanmu!” ujarku memberinya semangat.
Alex menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangan kanannya untuk melakukan tos, Aku pun menyambut tanganya dengan tangan kananku. Namun ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah, ia terlihat murung.

“Tapi…, bisakah kau tinggal sebentar? Untuk menyaksikan peristiwa yang paling bersejarah di hidupku?” pinta Alex.

Aku terdiam, senyumanku perlahan memudar. Entahlah, mulutku berkata ya, tapi hatiku tidak. aku tak bisa menyaksikannya, aku tak bisa bertahan sampai akhir.

“Maafkan aku Lex, aku tidak bisa” lirihku. Aku tak mungkin melihatnya, setidaknya di detik terakhirku di Indonesia, aku tidak mau berakhir dengan tangisan.

Alex terlihat benar-benar kecewa, aku pun berusaha menghiburnya.

“Tenang saja, kalau kalian rindu padaku, banyak media yang bisa kita gunakan. Jadi, kalian bisa berbagi kebahagian denganku nanti.”

Alex pun mengulas senyumnya, lalu aku menepuk bahunya. “Jaga dirimu baik-baik, Ashley juga” pesanku dengan senyuman lebar. Alex membalasnya dengan senyuman hangatnya.
“Jaga dirimu juga ya? Kau tahu, aku iri padamu. Kau bisa masuk Oxford dengan Sandy dan Patrick” ucapanya sedikit terdengar kecewa.
“Aku hanya beruntung” ucapku lembut, lalu melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiriku.
“Hhh, sebentar lagi” ucapku pelan, sesekali menghela napasku.

Entah mengapa, berat rasanya untuk melangkah pergi.

“Kalau begitu cepatlah, kejar cita-citamu!” Alex menepuk bahuku pelan, menatapku dengan tatapan teduhnya.
Aku terdiam sesaat, setidaknya aku ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum aku pergi.

Alex menyentuh kedua bahuku lalu ia pun berkata. “Aku pasti akan merindukanmu, jadi luangkan sedikit waktumu untuk mengobrol denganku nanti. Okay?” pesannya, lalu mencubit pipiku. Hal yang sering ia lakukan padaku, kesal namun entah kenapa aku menganggapnya sebagai perlakuan manisnya padaku.
“Huh mulai deh” ujarku dengan nada sebal sambil menyentuh pipiku yang sedikit sakit.
Alex tertawa renyah melihat tingkahku lalu tangannya bergerak mengacak puncak kepalaku.

“Kau ini..” ujar Alex sambil terus mengacak puncak kepalaku. Refleks tanganku mencoba untuk menghentikannya, namun entah mengapa waktu terasa berhenti saat itu. Kami terdiam, tatapan kami terkunci untuk waktu lama. Tangannya masih berada di puncak kepalaku, dan aku masih menggenggam tangannya.

Oh Tuhan, mengapa perasaan ini semakin menguasai diriku? aku benar-benar tak bisa malepasnya.

Sadar dengan apa yang terjadi, Alex pun memutus kontak mata kami dan menarik tangannya kemudian ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sesekali aku berdeham untuk menetralkan perasaanku dan mengalihkan pandanganku dari Alex.

Suasana sempat hening beberapa saat sampai perkataanku memecah keheninggan.

“Mm sepertinya aku harus pergi sekarang” ujarku membuatku mau tak mau melihat kearahnya lagi. Alex tersenyum dan mengangguk. Aku pun melambaikan tanganku dan mulai melangkah pergi.
“Eh Ra!” teriakan Alex membuatku menghentikan langkahku, lalu berbalik untuk menatapnya.

Alex berlari kecil ke arahku lalu menyodorkan mawar merahnya.
“Ambilah, hitung-hitung tanda terimakasihku” ucapnya.
Aku menatap mawar itu lekat, tanda terimakasih, bukan cinta. Aku menatap wajah Alex sejenak lalu mengangguk, aku pun mengambil mawar merah itu. Menggenggamnya erat, lalu tersenyum semanis mungkin walau rasanya pahit.
“Thanks mawarnya, aku pergi” Aku melambaikan tanganku sebagai ucapan selamat tinggal, lalu berjalan menjauhi Alex yang tengah melambaikan tanganya.

Aku Berjalan menghampiri mobil putih dengan Sandy yang telah berdiri menunggu kedatanganku. Ia pun menyambutku lalu membiarkanku masuk ke dalam mobil itu.

“Kau siap?” tanya Patrick yang duduk di depan setelah aku memasuki mobil, Aku hanya mengangguk dan berusaha menahan tangisku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Sandy khawatir.
Jatuh sudah, airmata lolos begitu saja tanpa kusangka. Tak terbendung oleh kelopak mataku, meluapkan semua kesedihanku.

Sandy segera memelukku, menepuk-nepuk punggungku pelan. Aku membalas pelukannya, menangis sejadi-jadinya.
“Sudahlah…, mulailah hidup barumu di London nanti” ucap Sandy lirih. Aku hanya mengangguk dalam pelukannya.

Lalu kutatap sendu mawar pemberian Alex. Sebenarnya aku tidak ingin akhir yang seperti ini, namun apa daya? Cupid, tetaplah Cupid.

Perasaan yang tidak terbalaskan memang menyakitkan, namun perasaan yang tak tersampaikan lebih menyakitkan.

Cerpen Karangan: QlightStory
Facebook: Luwita Qori Lutfiah

Cerpen Cupid Tetaplah Cupid merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Scouts Selamanya (Part 4)

Oleh:
Aku bangun lalu berjalan dan berhenti di tengah-tengah mereka semua. “Teman-teman semua,” panggilku lemas, mereka semua mengarahkan pandangannya kepadaku, juga teman-teman Ulfa. “Semuanya harap tenang, dalam situasi seperti ini

How To Love

Oleh:
Perasaan cinta yang masih kupendam tentunya sulit untuk aku lupakan selama ini sayang. Apa kabarmu hari ini? semoga kau tetap bahagia dengan keadaanmu saat ini, aku yakin. Hai ini

Cintaku Bersemi di Lorong Hijau

Oleh:
“Laura!” teriakku dengan suara yang membahana. “Astaga Rin, kurang kenceng manggilnya!” katanya dengan nada setengah terkejut. “Hahaha! Jangan ngambek dong!” Laura ini sahabat aku kami udah temenan dari SD

Aku Cuma Punya Hati

Oleh:
Setidaknya, kami pernah memiliki hubungan spesial, walaupun hanya aku yang beranggapan seperti itu. Waktu itu aku sangat bahagia, walaupun hanya beberapa hari saja. Tetapi kebahagiaan itu cukup membekas hingga

The Best Farewell

Oleh:
Dag dig dug… degup jantungku, tubuh bergetar langkah terpaku terdiam, terlihat mata memerah di hadapanku ia berusaha meraih kedua tanganku dan Bibir itu mulai berbicara “Maafkan aku ran, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *