Darimu Aku Belajar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 February 2018

Berangkat sunrise pulang sunset. Itulah kalimat yang selalu orang lontarkan kepadaku ketika menemuiku berangkat dan pulang dari sebuah tempat yang selalu aku rindukan. Sekolah. Ketika para ayam jantan milik tetangga dibangunkan malaikat untuk segera menyuarakan suara emasnya, aku pun ikut terbangun pula. Ku mulai kegiatan dengan membaca doa bangun tidur tanda syukurku karena Allah telah menjaga tidurku sepanjang malam dan mengizinkanku untuk tetap menikmati indahnya dunia. Lalu kubuka ikatan setan satu per satu. Karena aku pernah mendengar, jika kita tidur maka setan akan mengikat kita sebanyak 3 ikatan. Kubuka ikatan pertama yang telah setan lingkarkan pada setiap orang yang tidur dengan cara duduk dari tempat tidur. Menurut medis duduk setelah tidur juga lebih baik daripada langsung berjalan. Kubuka ikatan kedua dengan menikmati kesejukan tetes demi tetes air wudhu yang mengalir dalam tubuhku. Lalu kubuka ikatan ketiga dengan menikmati sepertiga malamku bersamaNya. Kulalui detik demi detik dengan penuh rasa penyesalan dan penuh doa yang tiada hentinya kupanjatkan. Kunikmati betapa indahnya dunia ketika aku bisa mencurahkan segala curahan hatiku kepadaNya tanpa diketahui seorangpun. Tak tertahan lagi tetes demi tetes kebahagiaan bercampur kesedihan mengalir dari mata indahku. Kututup kebersamaanku denganNya dengan sholat wajib yang pertama dalam hari itu. Sholat subuh.

Kupersiapkan diriku untuk segera pergi sekolah. Sembari mengisi kekosonganku, kubuka lembar demi lebar buku pelajaranku dengan harapan waktu yang ada di dunia ini tak pernah aku sia-siakan sedikitpun. Setalah menikmati indahnya kebersamaan sarapan dengan keluargaku, sekarang waktunya aku memulai aktivitas rutinku yang amat menyenangkan. Sekolah.

Kukendarai motorku dengan penuh hati-hati. Jalan demi jalan yang kulewati tak kulupakan untuk selalu menyebut namaNya juga. Karena di manapun kita berada, Allah selalu bersama kita. Kuperhatikan semua orang yang ada di sekitarku. Mata indahku tertuju kepada seseorang yang dengan gigih menggayuh sepeda gunungnya. Dalam hatiku aku sedikit menyalahkannya, karena di jalan yang sangat padat ini beraninya ia tidak mengenakan helm untuk keselamatannya. Tapi begitu aku melewatinya, dengan sekejap aku telah melupakannya.

Keesokan harinya kulalui aktivitasku seperti biasa. Tak kusangka aku bertemu dengannya lagi hari ini. Ya, dia yang sangat gigih menggayuh sepedanya seperti tak kenal lelah. Namun ada yang berbeda dalam diriku. Entah kenapa dan mengapa sampai beberapa meter jauhnya setelah bertemu dengannya, aku masih tetap memikirkannya. Beribu hingga jutaan pertanyaan muncul di dalam otakku begitu saja. Satu pertanyaan yang paling menggetarkan pikiranku. Siapa namanya? Tapi aku tau, tak mungkin aku bisa mengenalnya karena aku hanya bisa melihatnya ketika perjalanan menuju sekolah saja.

Hari ini aku melewati jalan yang berbeda dari biasanya. Ya memang jalan ini agak sedikit jauh, tapi aku belum siap bila bertemu dengannya lagi. Entah kenapa setelah pertemuanku yang kedua dengannya aku selalu memikirkannya. Tak kusangka walaupun melewati jalan yang berbeda ternyata aku masih dipertemukan lagi dengannya. Tambah tak kuasa hati ini menahan berontaknya untuk melihat wajahnya dari kaca motorku. Kupandangi wajahnya beberapa detik dari kacaku hanya untuk memenuhi keinginan hatiku. Langsung kutancap gas motorku agar aku cepat jauh darinya.

Sejak saat itu aku selalu berharap ingin bertemu dengannya. Entah dari manakah perasaan ini datangnya. Tapi yang jelas aku selalu melewati jalan yang kulewati ketika aku bertemu dengannya pertama kali dengan harapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Namun beberapa hari ini aku tak pernah menemuinya berangkat menuju sekolahnya. Semakin penasaran aku dibuatnya.

Hingga suatu hari, aku bertemunya lagi di jalan yang begitu curam. Kupandanginya dengan dalam ketika ia menuntun sepedanya di jalan yang curam itu. Ingin sekali aku membantunya. Namun apa yang bisa aku lakukan? Mengenalnya saja tak mungkin bisa kulakukan. Di sisi lain ada kebahagiaan yang kurasakan. Dengan memperlambat kecepatan motorku ketika berada di dekatnya, kini aku mengetahui secuil identitasnya. Ya, aku melihat badge kelas yang ada di pundaknya. Namun, aku hanya bisa melihat nama sekolahnya saja. SMA Bina Bangsa.

Tugas demi tugas yang diberikan oleh guruku sangat banyak sekali. Tentu hal ini sangat menyusahkanku. Belum lagi kepadatan ekstrakurikuler dan organisasi yang aku ikuti. Namun, disisi lain aku merasa senang, setidaknya aku tak menyia-nyiakan waktuku begitu saja. Hari ini aku sangat malas sekali untuk berangkat sekolah. Karena begitu banyak tugas yang belum aku kerjakan. Bukannya aku sengaja tak mengerjakan tugas semua. Melainkan kemarin aku tertidur ketika belajar. Mungkin dikarenakan kondisiku yang telah lemas. Namun tumpukan rasa malasku hilang seketika ketika aku bertemu dengannya pagi itu. Tumpukan malasku yang sudah kubangun sejak berangkat dari rumah kini telah sirna tergantikan seolah ada cahaya matahari yang telah menyinariku hingga merasuk ke dalam setiap sel dalam tubuhku.

Aku sangat kagum kepadanya. Bagaimana tidak, dengan kondisi jalan seburuk apapun aku tak pernah melihat semangatnya luntur sedikitpun. Tak pernah pula kulihat ia menekuk mukanya. Hanya senyuman yang bisa kulihat dari wajahnya. Terlebih lagi aku sangat kagum ketika melihat tas coklat yang sangat berat yang ada di punggunggnya. Aku heran dengannya. Setiap hari ia selalu menggunakan sepeda untuk dikendarainya. Mengapa ia tak menaruh sebagian bukunya di sekolah atau di rumahnya? Karena aku dulu juga merasakan betapa beratnya membawa barang di punggung ketika sedang menggayuh sepeda. Sejak hari itu aku selalu bersemangat untuk pergi sekolah. Entah aku bersemangat agar aku bisa bertemu dengannya atau aku benar-benar bersemangat untuk menuntut ilmu. Tak tahu. Yang jelas aku sudah membangun semangatku lebih baik lagi daripada sebelumnya.

Pagi ini aku tak bertemu dengannya. Tapi aku tak mengapa karena aku sudah puas bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Tetap kujalani aktivitas sekolahku seperti biasa. Hingga akhirnya waktuku untuk kembali ke rumah. Tetap kulewati jalan seperti biasa. Dalam hati kecilku aku masih tetap berharap untuk bisa bertemu dengannya. Alhamdulillah doaku telah dikabulkannya. Sore itu aku melihatnya lagi. Kuselipnya dengan pelan karena aku ingin merasakan ada di dekatnya beberapa detik saja. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Rupanya hujan rindu yang amat sangat dengan dunia ini. Sehingga walaupun ia tahu betapa sakitnya jatuh, ia tetap melakukannya lagi. Segera kupinggirkan motorku dengan penuh perhitungan. Kukenakan mantelku segera agar aku tak terkena hujan lebih lama. Disela-sela aku mengenakan mantel, ia melewatiku dengan segera. Tak berani aku memandangnya. Walaupum sebenarnya saat seperti inilah aku bisa memandanginya lamat-lamat. Namun aku tak akan sanggup untuk melihat parasnya yang begitu indah dengan diselimuti semangat membaranya.

Setelah kukenakan mantelku, kulanjutkan perjalananku menuju rumah. Kehilangan aku akan jejaknya. Sampailah aku di persimpangan. Sangat penasaran hatiku ke manakah ia melanjutkan perjalanan. Tak berpikir lama, aku memutuskan untuk belok ke arah kiri saja. Tak terduga, ternyata ia juga belok ke arah kiri. Kuikutinya dengan perlahan. Hingga aku mengetahuinya masuk ke dalam sebuah gang yang bernama “Melati”. Bertambah senang hatiku karena sedikit demi sedikit aku lebih jauh mengetahui tentangnya.

Hari ini diadakan seleksi perlombaan olahraga tingkat Kota Malang di sekolahku. Kuikuti apel pembukaan pagi itu. Dari berbagai sekolah yang ada di Kota Malang mengikutinya dengan hikmat. Pandanganku tertuju kepada segerombalan siswa berbaju putih yang ada di depan Laboratorium Fisika. Kupandangi satu per satu dari mereka. Hatiku bertanya-tanya siswa dari manakah mereka itu. Hingga akhirnya aku memandangi tas coklat yang dibawa salah satu siswa disitu. Dalam hatiku berfikir, seperti pernah melihat tas itu. Setelah kuputar kembali ingatanku yang telah lalu, aku baru teringat. Ya benar, tas itu seperti yang biasa dibawanya ketika menuju sekolah. Sesegera mungkin aku berusaha menengok lebih jauh untuk mengetahui apakah benar dia orangnya. Tapi beberapa siswa lainnya menutupiku untuk ingin melihatnya. Setelah sekian lama aku berusaha melihatnya, aku berhasil melihat wajahnya yang sejuk itu. Ya benar dia orangnya. Dia yang selama ini aku pikirkan pagi, siang, dan malam. Ternyata dia sekarang di sini. Di sekolahku.

Dalam hatiku aku bersyukur aku telah dipertemukan dengannya lagi. Aku bingung aku harus melakukan apa. Aku senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang mabuk kepayang. Salah satu temanku menyadari akan perubahanku. Ia menanyakan kepadaku.
“Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?”
“Hehe gapapa kok. Aku cuma senang aja hari ini pelajaran kita dimampatkan.”
Hanya kata-kata itu yang bisa kukatakan untuk menutupi rahasiaku. Karena jika salah satu dari temanku mengetahui keadaanku yang sebenarnya, tak taulah betapa hebohnya kelas ku akan hal ini.

Apel pun benar-benar telah usai. Kami para siswa disuruh kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.
Sampai di kelas, aku masih teringat oleh sosoknya. Sesekali kupandangi seluruh sudut sekolahku untuk melihat keberadaannya. Tapi aku tak berhasil menemukannya. Aku tak terlalu memaksakan keinginanku untuk melihatnya. Aku pun memutuskan untuk tetap di dalam kelas saja. Namun, hati ini meronta-ronta untuk ingin mengetahui apa yang ia lakukan di sini?

Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan apa yang aku alami tadi pagi kepada salah satu temanku.
“Wulan, aku mau cerita boleh enggak?”
“Iya boleh kok. Kenapa?”
Kuceritakan kejadianku kepadanya dari awal mula aku bertemu dengannya hingga yang terjadi pagi tadi. Betapa terkejutnya ia karena kita dipertemukan lagi di sini.

Tak kurasakan ternyata salah satu temanku mendengarkan saat aku bercerita kepada Wulan.
“Ya Allah so sweet sekali kamu Za. Pasti kamu suka banget ya sekarang.” Ucap Nisa yang ternyata mendengarkan obrolanku dengan Wulan.
“Kok kamu ndengerin sih Sa. Aku kan malu.” Balasku.
“Halah santai aja lo Za. Cinta itu fitrah kok. Datangnya dari Allah. Jadi wajar saja kalau kita sekarang mengalaminya. Apalagi sekarang kita sudah menginjak usia remaja.”

“Tapi kan aku tidak suka jika diketahui banyak orang.” Jawabku.
“Hehe maaf ya Za, udah terlanjur ini.” Balasnya dengan senyuman yang tak merasa bersalah sedikitpun.

“Aku mau tau dong dia yang mana sih.” Tanyanya.
“Kamu ini Sa udah nguping mau tau orangnya lagi.” Timpal Wulan.
“Lah kan biar ngak setengah-setengah.” Jawabnya.

Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang, akhirnya kuberitakuhan kepada Wulan dan Nisa sosok yang kukagumi selama ini. Namun aku hanya bisa menjelaskan ciri fisik dari sosoknya saja, karena aku belum mengetahuinya lagi di mana ia sekarang.

Kukira mereka sudah puas ketika mengetahui sosoknya. Dungaanku salah ternyata Nisa menceritakan apa yang aku alami kepada temanku yang bernama Siya dan Atul. Sungguh aku bingung apa yang ada dipikiran Nisa hingga ia dengan mudahnya menceritakan kepada siapapun. Mengetahui akan hal itu, aku langsung menyergap Nisa agar tidak memberitahukan kepada siapapun lagi. Akhirnya ia berjanji untuk menjaga rahasia itu dalam-dalam.

“Za mau nganterin aku ke koperasi?” Tanya Siya kepadaku.
“Iya, ayo.”
Kami pun bergegas menuju koperasi. Di perjalanan Siya sedikit menggodaku tentang sosoknya. Ia heran kenapa aku bisa mengagumi seseorang secepat itu. Jika ia saja heran bagaimana denganku? Aku juga bingung kenapa sosoknya bisa kupikirkan setiap hari.

Setelah dari koperasi aku mengajak Siya untuk memutari sekolah karena aku ingin bertemu dengan sosoknya lagi. Laboratorium Kimia terlihat penuh dengan para siswa yang mengenakan seragam berbeda-beda. Pasti mereka dari segala penjuru sekolah. Terlihat di jendela laboratorium sebuah tulisan ‘TEMPAT LOMBA CATUR’. Kuteliti satu per satu dari mereka. Betapa kagetnya aku ketika mata indahku menemukan sosoknya berada di sana. Tak tahu lagi apa yang terjadi denganku saat itu. Namun yang jelas, perubahanku ternyata disadari Siya.

“Hayo ada dia ya di sana. Ayo beritahu aku yang mana orangnya.”
“Apa sih enggak kok.”
“Ah enggak mungkin. Ayolah kasih tau yang mana dia.”

Karena Siya terus memaksaku akhirnya kuberitahukan kepada dia yang mana sosoknya. “Itu yang pakai jaket putih.” Kataku dengan terpaksa.
“Oh yang itu. Hidungnya mancung ya.”
Kusadari hal itu sejak dari lama. Karena sepertinya ia memang keturunan Arab dari keluarganya.
“Udah ayo cepat ke kelas Siya.” Ajakku pada Siya.

Di kelas Siya ternyata sama halnya dengan Nisa. Ia menceritakan apa yang kami alami beberapa menit yang lalu kepada Atul. Sungguh aku heran kepada semua teman-temanku. Tak kalah dengan Siya dan Nisa, Atul pun penasaran akan sosoknya. Ia mengajakku untuk melewati Laboratorium Kimia sekali lagi. Tapi aku tak menyanggupinya saat itu juga. Karena aku takut ia menyadari seringnya aku berlalu lalang.

Jam istirahatpun telah tiba. Dari kelas aku selalu melihat sosoknya karena memang kelasku dengan laboratorium berhadapan. Sekarang saatnya aku pembelajaran biologi.
“Teman-teman kita ke Laboratorium Biologi ya.” Ucap ketua kelasku.

Aku bersama Atul dan beberapa teman lainnya menuju Laboratorium Biologi. Ternyata di depan Laboratorium Kimia banyak sekali anak yang sedang beristirahat dari lomba catur. Aku memberanikan diri untuk lewat di depannya. Karena memang Laboratorium Biologi bersebelahan dengan Laboratorium Kimia.

“Anak-anak hari ini kita pembelajaran di kelas saja ya. Tidak jadi di laboratorium, karena ternyata laboratoriumnya digunakan juga untuk lomba catur. Peraganya dibawa ya.” Jelas guru biologiku. Satu per satu dari kita yang sudah datang membawa alat peraga ke kelas.

“Eh Za tadi ada temenku SD di sana.” Ucap Atul
“Oh ya? Yang mana Tul?”

“Eh bentar-bentar aku mau tanya yang mana sih yang kamu kagumi Za?”
“Kasih tau gak ya? Hehe”
“Ayolah kasih tau Za pliiss.”

“Iya aku kasih tau. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Dia itu yang tinggi, memakai jaket putih.”
“Sumpah yang itu?” tanya Atul dengan nadanya yang sedikit naik.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Dia itu temenku SD Za.”

“Sumpah? Kamu gak bohong kan Tul.” Tegasku kepadanya.
“Iya beneran aku gak bohong. Ya Allah dunia ini sempit ya ternyata.”
“Iya sempit banget. Eh namanya siapa Tul hehe.”
“Kalau gak salah itu Arsyil El Shirazi. Tapi aku lupa soalnya aku udah lama enggak ketemu sama dia.”

“Ayo kita cari di instagram Tul.”
“Ayo-ayo.”

Aku dan Atul pun mencari namanya di sebuah sosial media yang bernama instagram. Ternyata ada salah satu akun yang id nya sama seperti namanya. Dengan gesit aku membuka akun itu. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihatnya berfoto dengan seorang wanita. Tak puas dengan foto itu, aku melihat foto yang lainnya. Ternyata ada salah satu foto lagi yang bertempat di sekolahnya dengan wanita yang sama. Aku tak tahan menghadapi semua ini. Ku teriak kesana kemari hingga semua temanku memperhatikanku. Mereka semua kaget karena mereka mengira aku tak pernah mengagumi seorang pria, tiba-tiba aku berkelakuan seperti itu. Ya mereka tidak tau kebahagiaan apa yang selama ini aku alami, karena memang aku tak menceritakan itu semua kepada siapapun. Hanya coretan manis dalam buku indahku yang mengetahuinya.

Aku sangat terpukul dengan kejadian yang beberapa menit lalu aku alami. Aku menyesal karena aku sudah stalking sosial medianya. Tapi aku yakin walaupun ia sekarang sudah mempunyai sepasang kekasih, jika ia memang jodohku Allah akan mempertemukan kita kembali. Aamiin. Dari kejadian ini aku juga belajar bahwa mengagumi seseorang tidak boleh hanya melihatnya sekali dan dua kali saja. Tapi aku harus mengetahui semua yang ada pada dirinya, baik itu perilaku dan segalanya. Aku juga belajar jika aku ingin mengungkapkan suatu rahasia aku harus memilih teman, tempat, dan saat yang tepat untuk mengungkapkannya.

Cerpen Karangan: Nufi Zahrotul Izza
Blog: flames-nufi.blogspot.co.id

Cerpen Darimu Aku Belajar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Kisahku

Oleh:
Semua orang pasti punya sahabat. Begitu juga denganku. Ini kisahku dengan sahabatku. Kisahku yang penuh dengan canda tawa juga kesedihan. Semua kulalui dengan mereka. Ya mereka, sahabat-sahabatku. “Sasa! Buruan

Jatuh Ke Atas

Oleh:
Aku menempelkan pipiku di atas meja kosong yang entah dimana pemiliknya. Di sini sepi, ruangan ini dingin tanpa karbondioksida 28 manusia yang entah sekarang bayangannya berada dimana. Hanya ada

Bahagiaku Terhalau Kata Walau

Oleh:
Pintu kelas berdecit, pertanda ada seseorang yang datang membuka pintu. Aku merasa lega, akhirnya aku tidak sendirian lagi di dalam kelas dengan suasana yang mencekam. Aku berangkat terlalu pagi,

Aku dan Pelangiku

Oleh:
Ku ingin jumpa dia, berjumpa dengan mereka sahabat kecilku. Mereka bagaikan pelangi dengan lima warna yang berbeda, tapi perbedaan itu seperti saling melengkapi, aku sangat senang jika dapat bertemu

Surat Di Laci Meja

Oleh:
Nama gue Cinta. Sekarang gue duduk di kelas X SMA. Gue lagi naksir sama seseorang, dia senior gue. Namanya Ciko. Gue gak tau kenapa gue bisa suka sama dia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *