Di Balik Pohon Pinus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 May 2018

Terlihat butiran-butiran hujan memandikan bumi sewaktu malam itu. Sayangnya angin malam itu mencoba menggetarkanku dengan kedinginannya yang memuncak layaknya salju. Menggigilkanku disetiap detik hembusannya. Namun, tubuhku berusaha kuat untuk berdiri tegap menghadapi suasana tak karuan itu. Aku menatap langit dikala itu walaupun bintang-bintang indahku sedang bersembunyi dibalik awan kelabu yang tiba-tiba menghitam dalam jangka waktu yang instan. Mataku tak berkedip seakan melotot melihat gemerlapnya langitku pada malam yang sunyi.

Terdengarlah suara rintikan hujan di atas ubun-ubun kepalaku dan diiringi lantunan suara angin sepoi-sepoi seakan menari riang dan bercanda bersamaku. Dinginnya malam menusuk qalbu dan ragaku. Bibirku yang masih kaku dan terpaku melihat suasana pada malam itu. Sesekali aku dengarkan suara daun-daunan pohon pinus yang berjatuhan hingga mengenai rambut ikalku. Suara sayupan angin malam itu seakan mendorongku. Tertawanya yang terbahak-bahak atas kepolosan dan kebodohanku karena aku masih menunggunya di situ. Angin itu kembali bertiup kencangnya hingga bersorak-sorai membisikkan ke telingaku, alangkah bodohnya dirimu menunggunya. Menunggu seseorang yang telah meninggalkanmu di Jl. Soedirman nomor 29 blok G.

Tubuhku kembali gamang mengingat kejadian 5 bulan yang lalu. Dalam beberapa menit aku termenung di balik pohon pinus. Andai ia punya tangan, ia akan menghapus air mataku saat itu dan mengecup pipi merahku, namun dia hanya memberikanku tempat berteduh meskipun daun-daunnya berterbangan oleh hujan yang sangat derasnya di kala itu.

Beberapa menit kemudian, aku mengumpulkan daunan yang jatuh. Aku kumpulkan daun itu seraya aku menatapnya dengan mata pandangan yang miris. Aku meraba dan membolakkan tulang belulang daunan pohon pinus selayaknya menghitung jumlah kata-kata indah yang aku terima dari surat pertamanya untukku beralaskan amplop merah jambu dengan hiasan pita yang berwarna biru. Hatiku kembali senyap ketika mengingat nostalgia di akhir ceritaku bersamanya.

Aku makin jenuh pada malam itu, hujan yang aku tunggu belum juga reda. Sesekali aku masih mendengar suara angin sepoi-sepoi itu seakan telah menjadi nada musik yang aku rasakan. Suasananya makin mencekam kian membisu. Lalu, aku mendengarkan suara kaki berjalan di atas daunan di sebelah kananku, aku menoleh ke arah kananku dan aku melihat 2 jiwa dengan bayang-bayang sudah memberikan gambaran nyata kepadaku. Iya, aku melihat 2 jiwa itu menatapku dengan sinis berpandangan terbelalak berpakaian hitam seakan ingin membuat suasanaku menjadi sepi dan menakutkan. Iya, sekarang di hadapanku itu adalah wanita yang aku cintai, namun hubunganku telah usai bersamanya disaksikan oleh ranting-ranting kayu di tepi sebuah gang pada suatu malam tertentu sedangkan yang satunya tak jauh bukan adalah sahabat lelaki di masa kecilku.

2 jiwa itu terus menatapku dan seakan berkata, kami sudah menjalin sebuah ikatan hubungan.
Aku pun enggan menoleh ke arah 2 jiwa waktu itu. Keadaanku melemah tak berdaya. Kelopak mataku tertutup dan tak ingin terbuka ketika melihat mereka telah bersama. Hatiku cemburu, sakit, pilu, teriris perih dan duka lara yang aku rasakan dalam batinku. Sukmaku tak mampu lagi berteriak untuk melepaskan benih-benih kesakitan yang aku rasakan di malam itu. Nyata dan nyata 2 jiwa itu di hadapanku dalam waktu lebih kurang 23 menit.

Aku berlari dan terus melaju seakan badai mengejarku Dan aku meninggalkan mereka berdua di tempat semula. Sesekali aku terjatuh di atas kerikil tajam pada bebatuan malam itu. Aku terus bangkit dan berdiri lalu berlari kembali di atas rumput-rumput yang menghijau dan ilalang-ilalang tajam seakan menusuk telapak kakiku hingga aku sampai di sebuah batu besar, aku terhenti dan menyandar pada batu itu hingga aku bercerita kepadanya tentang apa yang aku alami pada malam yang penuh tangisan itu.

Cerpen Karangan: Akmal Khairi
Facebook: Akmal Khairi Zein

Cerpen Di Balik Pohon Pinus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengkhianat

Oleh:
Hmmmm, pagi yang indah mentari pagi mulai menyinari indahnya dunia ini, kulihat semua orang bersemangat awali hari yang indah ini. Setiap hari adalah hari baru bagiku dengan semangat dan

Kamu, Dia dan Hujan

Oleh:
Rintikan hujan mengiringi langkahku, hanya ada aku dan bayangan aku pulang ke kosan yang tidak jauh dari tempat kerjaku. “De, hati-hati ya” Ucap lelaki itu sembari menepuk pundakku. Aku

Secret Admirer

Oleh:
Aku menutup buku diaryku sambil tersenyum puas. Suasana pagi ini benar-benar terasa sejuk. Pancaran sinar matahari pagi yang beriringan dengan suara gemerisik daun-daun dari atas pohon yang terkena angin.

Baja Yang Rapuh

Oleh:
“Jangan sekali kali kau mendekati putriku!.” bentak seorang lelaki berkumis berwajah garang pada seorang pemuda berbadan gagah namun berwajah ramah. “Tetapi saya hanya membantunya membawakan tas dia, Pak.” jawab

PHP dan PHO

Oleh:
Aku berusaha untuk ceria hari ini, walaupun sebenarnya hatiku masih sakit setelah kejadian hari itu. “Ah sudahlah” pikirku berulang kali. Entah kenapa aku bisa sebodoh itu mempercayai seorang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *