Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Aku mengenalnya sejak lama. Walau dia tidak mengenalku. Aku juga mengenalnya hanya sebatas nama. Dia temannya temanku. Temanku pernah bercerita tentangnya kepadaku. Sejak itu aku mengenalnya.

Namanya Renha. Renha terkenal dengan kepintarannya dalam Subyek Matematika. Dia anak kelas sebelah kelasku.

Selasa, pagi, mungkin 07:10, aku dengan seragam kotak-kotak merah menaiki tangga demi tangga. yang mana kelasku berada di lantai 4. Betapa lelahnya, namun untungnya ada temanku, Ben, yang juga menemaniku berlelah-lelah.
Tak kusangka, kami bertemu di tangga. Aku dengan si Ben dan dia dengan 4 orang temannya. Aku sudah melihatnya dari bawah tangga. Tapi dia tidak melihatku saat aku melihatnya. Lucunya, aku dengan penuh usaha mengupayakan ia melihatku saat aku melihatnya. Setelah menundukkan kepala, aku dengan berani menegakkan kepala dan melihat ke atas tangga. Ternyata di atas sana, ia juga sedang melihatku. Anehnya, belum lama kami bertatapan aku langsung memalingkan wajah. Padahal itu momen yang kutunggu.

Aku mengenal Renha semakin dekat ketika kelas kami sama-sama mengikuti kegiatan rekoleksi dari sekolah. Temanku yang sering bercerita tentangnya, ternyata satu kelompok dengannya. Ketika itu, aku mengatakan “wow, kalian sekelompok lagi” lantas Renha saat itu heran. Tergambarkan dari wajahnya yang seikit bertanya-tanya.

Hari terakhir rekoleksi, aku ingin ke dapur untuk mengisi air minum. Aku melihat ada lelaki di dekat meja makan yang sedang mengambil air minum dari dispenser. Namun tidak kuperhatikan lebih. Aku memajukan langkahku. Hingga aku sampai di dapur. Lalu aku tertegun. Ketika melihat air minum masih di dalam galon yang terisi penuh. Aku memutar badan. dan ternyata Renha tepat di sana. Ternyata ia juga yang berada di depan dispenser tadi.

Lalu dia tetap berdiri di tempatnya dengan cangkir di tangan tanpa berkata apapun.

“Bisa bantuin gak?” Tanyaku sambil mengarahkan ia ke galon itu. Dia diam saja. Namun langsung bergerak, membantuku. Saat kami menuangkan air, tubuh kami begitu dekat.

Ia mengisikan airku dahulu. Lalu kubantu ia mengisi punyanya.

“Makasih ya” ucapku. “Ya” katanya
Lalu kami keluar dari dapur. dengan aku yang memimpin jalan. Lalu kami berpisah arah.

Aku tidak tahu singkatnya kisah kami berdua itu, begitu melekat di otakku selepas dari rekoleksi.

Pertemuan pagi itu membuatku lebih semangat memulai hari itu. Aku selalu permisi ke toilet, agar melewati kelasnya. Berharap ia juga melihatku saat itu. Aku juga sering main ke kelasnya, dengan banyak alasan yang sebenarnya tidak begitu penting. Tapi tetap saja, aku berusaha.

Perlahan aku tidak sadar aku dibutakan oleh dirinya. Padahal ia hanya diam di tempat, tanpa suatu pergerakan pun. Tanggapanku tentang aku dan dia tidak terdefinisikan. Aku tidak jatuh cinta, namun aku selalu teringat padanya.

Baru kusadari aku hanya jatuh hati pada kisah kami di dapur yang tidak seberapa itu.

Banyak pertemuan setelah itu, namun tidak ada sesuatu yang jelas. Pertemuan yang singkat tanpa tujuan. Bagiku, perasaan berlebihan ini harus dihapuskan.

Esoknya ku tahu ia sedang menyukai perempuan di kelasku. Aku baru tahu. Awalnya menyakitkan bagiku. Namun bisa kuterima.

– Banyak pertemuan tanpa arti, banyak perkenalan tanpa menyatukan namun dengan perpisahan –

Cerpen Karangan: Teny Putriyana Tarigan
Facebook: Teny Putriyana

Cerpen Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Realized, Who Am I

Oleh:
Kring, kring, kring… Jam weker Fio berbunyi. Lagi, lagi, dan lagi ia bangun kesiangan. Yups!!! Fiona atau yang sering dipanggil Fio ini akhir-akhir ini memang sering bangun kesiangan. Biasalah

eX…

Oleh:
Semua mata mengarah padanya, pada seorang gadis yang berpenampilan sangat sederhana dan apa adanya, polesan make up yang tadi sempat digunakannya terlihat telah terhapus oleh keringat yang dari tadi

Cinta Pertama

Oleh:
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama

Bisakah Aku Kembali

Oleh:
Minggu pagi itu aku berbaring di atas kasur yang seperti magnet, melekat dan sulit untuk terlepas dari punggungku. Ditambah lagi dengan penyesalanku yang masih terus berputar di dalam kepala

Menolak Rasa (Part 1)

Oleh:
Namamu siapa? Belakangan ini pertanyaan konyol itu selalu memenuhi pikiranku. Konyol karena baru kali ini aku ngerasa penasaran dengan nama seseorang, dan itu laki-laki. Padahal untuk tahu namamu semudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *