Ekspektasi Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 October 2017

“Pakai ini ya, Ta! Nanti malam, aku jemput. Sekitar jam 7 lah.” Mulutku sedikit terbuka melihat ia menyerahkan satu bingkisan yang tak kutahu isinya. Mungkin jika aku bisa melihat diriku sendiri, aku sudah seperti orang bodoh yang sedang berdiri dengan mulut terbuka sedikit itu.
“Mau ngapain, Fa?” Pertanyaanku tak seharusnya seperti itu. Harusnya aku bertanya, “Ini apa, Fa?” tapi, tidak masuk akal juga jika aku bertanya seperti itu, karena tanpa ku bertanya pun, aku bisa melihat isi bingkisannya nanti. Akhirnya, aku tidak jadi menyesal mengajukan pertanyaan, “Mau ngapain, Fa?”
“Liat nanti aja, Ta. Aku udah gak sabar banget, nih!” Dia terlihat sangat kegirangan. Aku belum pernah melihat ia segembira itu. Aku pun hanya tersenyum menerka.

Namaku Aleta, panggil saja Tata. Dan pemuda yang memberiku bingkisan tadi adalah Alfa, seseorang yang selalu menghiasi hari terindah dan terburukku. Sudah 2 minggu belakangan ini sikap Alfa sedikit berubah. Dia biasanya selalu siaga mengantarkanku bekerja juga menjemput tepat waktu. Tetapi, sekarang ini dia hanya menjemputku seusai bekerja saja, itu pun aku harus menunggu lama. Dia yang biasanya selalu meneleponku sebelum tidur, sekarang ini handphoneku sepi tak ada panggilan, sampai menjadi kedinginan. Dia yang biasanya selalu menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan denganku ketika aku sedang libur, sekarang ini hari liburku hanya diisi dengan berbaring di kasur atau sekedar menonton tv. Sangat tidak berfaedah!
Tetapi, semenjak kejadian tadi —ketika Alfa memberikan bingkisan— prasangkaku tentang sikap Alfa yang berubah seakan sirna!

Selepas di rumah, aku bergegas membuka bingkisan darinya. Memastikan apa yang dia berikan. Ternyata di dalamnya ada sebuah gaun hijau tosca tanpa lengan. Satu pita kecil menghiasi pinggang sebelah kiri gaun. Di bagian dada gaun, terdapat aksen brukat yang membuat gaun menjadi elegant tetapi tak meninggalkan kesan simplenya. Tak lupa, sang pemberi bingkisan menyertai sepatu yang senada dengan gaun pemberiannya.

Alfa mau ngapain, sih, nanti malam?
Pikiranku mulai bekelana ke mana-mana. Membayangkan apa yang akan terjadi di malam nanti. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Ini pertama kalinya Alfa mengajakku berkencan setelah sekian lama aku berteman dengannya. Ya, kami sudah lama berteman, mungkin satu tingkatan status yang lebih sedikit tinggi lagi, yaitu bersahabat, bukan hanya berteman. Tetapi sejujurnya, aku menginginkan lebih dari status bersahabat itu. Entahlah itu status apa, kalian mungkin mengerti.

Kami pertama kali bertemu ketika orangtua kami —tepatnya Ibu— berpapasan di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, aku dan Alfa masih berumur 9 tahun.
Eh, kalian ingat tadi aku bilang apa? Berkencan?

Matahari sudah selesai dengan tugasnya sejak 2 jam yang lalu. Malam ini, pukul tujuh kurang lima menit, aku sudah tampil sempurna. Tubuhku sudah diselimuti dengan gaun pemberian Alfa tadi siang. Wajahku sudah kupoles sedemikian rupa tetapi tidak terlalu menor. Tidak lupa aku memakai sepatu yang senada dengan gaun yang kupakai, yang juga pemberian dari Alfa. Tiba-tiba telingaku menangkap suara klakson mobil dari luar. Oh, sudah pukul 7 tepat!

“Kamu ngapain ngajak aku ke sini, Fa?”
Malam ini aku diajak Alfa ke Restoran bintang lima di Jakarta. Entah untuk apa. Jujur, aku akui malam ini Alfa terlihat sangat tampan dari biasanya —yang memang sudah tampan— dengan mengenakan jas hitam juga rambut barunya yang cepak.
“Bentar, Ta. Mungkin lagi terjebak macet.” Jawab Alfa tidak nyambung.
“Kamu lagi ngeliatin apa, sih, Fa? Nunggu seseorang?” tanyaku bingung setelah melihat Alfa yang sedari tadi selalu menengok ke pintu restoran, terlihat seperti menunggu sesorang.
“Nanti kamu juga bakal tahu, Ta.” Alfa tersenyum menenangkan. Ah, Alfa! Kenapa harus senyum seperti itu, sih?

Aku terus memikirkan siapa orang yang sedang Alfa tunggu. Hatiku menebak jika aku akan diberikan kejutan malam ini. Bisa saja, kan, Alfa mengajak orangtuanya untuk makan bersama malam ini? Bisa saja, kan, Alfa sedang menunggu seseorang yang mengantarkan cincin berlian untuk diberikan kepadaku malam ini? Atau, bisa saja, kan, Alfa akan melamarku di depan orangtuanya malam ini? Mungkin tadi yang ia bilang ‘lagi terjebak macet’ itu untuk orangtuanya. Otakku terus menerka-nerka beriringan dengan jantungku yang degupnya luar biasa cepat. Tanganku dingin. Tidak sabar untuk melihat kejutan apa yang akan Alfa berikan. Tetapi, aku harus tetap menjaga hatiku agar tidak melambung lebih tinggi lagi dari ini.

“Hai! Lusi!” Alfa melambaikan tangannya kepada seorang perempuan yang baru memasuki restoran. Prediksiku salah! Anganku kalah! Ekspektasi hatiku lemah! Bukan orangtua Alfa yang datang dan ditunggu-tunggu Alfa. Bukan seorang pengantar cincin berlian yang ditunggu-tunggu Alfa. Bukan kejutan lamaran seperti apa yang kutunggu-tunggu. Tapi, seorang perempuan yang kelewat menawan. Perempuan itu sungguh anggun dengan gaun hitamnya, satu warna dengan jas yang Alfa kenakan. Dia tersenyum manis sambil jalan mendekat ke arahku dan Alfa.

“Hai, Alfa.” Perempuan itu mengecup pipi kanan Alfa. Tentu saja nafasku memburu, dibakar api cemburu. Aku saja yang sudah bersahabat lama dengan Alfa sama sekali belum mengecup pipi lelaki itu. Memangnya dia siapa, cium-cium pipi Alfa sembarangan?!
“Kenalin, Ta, ini Lusi.” Seakan bisa mendengar kata hatiku, Alfa berucap sambil tersenyum bahagia. Memperkenalkan perempuan berambut pirang itu kepadaku. Sebenarnya aku sudah tahu siapa nama perempuan itu, karena tadi Alfa memanggil namanya; Lusi.
“Lusi.” Dia tersenyum sambil menjabat tanganku, terpaksa kubalas uluran tangannya sambil berkata, “Aleta.” Aku tersenyum paksa.
“Ta, Lusi ini, tunangan aku.”

Tu-na-ngan.
Jantungku seakan behenti berdetak saat itu juga. Setelah tiga suku kata dari sepuluh suku kata yang keluar dari mulut Alfa. Aku serasa ditertawakan semesta. Dan aku merutuki otakku yang sedari tadi membeku, tak menanggapi lontaran hatiku. Merutuki otakku yang tak memberontak akan argument hatiku. Merutuki otakku yang mau menjadi antek-antek hatiku. Sungguh, kukatakan hati, argumenmu terlalu dramatis!

Aku (pura-pura) tersenyum bahagia mendengarnya. Persis ketika Alfa memberikan gaun kepadaku siang lalu. Hatiku terus memberontak untuk menghentikan senyum tipuan itu, agar segera digantikan dengan sungai air mata. Tapi, aku sudah benci akan kata hatiku ini. Argumennya terlalu tinggi untuk aku ikuti. Sehingga aku katakan, “Wah! Selamat ya, Fa. Akhirnya dapat juga,” sambil terkekeh.
Alfa tersenyum, “Makasih ya, Ta.”
Lusi juga tersenyum. Senyumnya itu, sama seperti Alfa. Menenangkan.

“Fa, kayanya aku nggak bisa lama-lama, deh. Ditunggu Ibu soalnya, minta ditemani ke rumah bibi,” aku hanya beralibi. Ibuku tidak mungkin malam-malam begini ke rumah bibi. Yang mungkin adalah, ibu sudah tertidur karena terlalu lelah menjaga toko roti dari pagi sampai sore hari.
Alfa langsung percaya, juga tidak ragu berkata, “Oh, ya udah. Hati-hati ya, Ta.”

Tanpa basa-basi lagi, aku segera keluar dari restoran yang sungguh sesak udara itu. Air mataku sudah tak bisa ditahan keluar. Selalu seperti ini. Hatiku selalu menang untuk mengendalikan. Air mataku semakin deras keluar beringingan dengan hujan yang juga menjadi partisipan. Jalanan lengang. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu lalang. Restoran yang sesak udara tadi sudah jauh dari jalanan tempatku berdiri ini. Berbeda dengan yang aku harapkan, Alfa ternyata tidak mengejar. Alfa tidak datang memayungiku yang sedang terguyur hujan. Memelukku yang sedang kedinginan. Membisikkan kalimat menenangkan bahwa semua itu hanya candaan. Tapi, di sini hanya ada aku, jalanan, pepohonan, serta hujan. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Teriakanku itu seakan teredam oleh suara hujan yang semakin deras. Kali ini, aku sangat berterima kasih kepada langit yang sudah mau ikut bersedih. Untuk yang kesekian kalinya ekspektasi hatiku salah. Dan mungkin akan seterusnya salah. Setelahnya, semuanya gelap.

Nafasku memburu. Mimpi yang barusan datang kepadaku seperti kenyataan. Sangat bersyukur sekali itu hanya mimpi. Tidak mungkin Alfa sudah memiliki tunangan. Dia tidak pernah bercerita kepadaku bahwa dia sedang dekat dengan seorang perempuan. Dan setahuku, Alfa memang jarang sekali bereman dengan perempuan, tercekuali aku. Di tengah pancaran sinar matahari yang memasuki kamarku lewat jendela tanpa izin ini, aku hanya dapat berharap; Mimpi itu tidak akan —dan tidak akan pernah— menjadi kenyataan. Tapi, harapan itu musnah lagi, ketika Alfa siang ini memberikan gaun persis seperti yang Alfa berikan di mimpiku malam tadi. Setelahnya, mimpiku malam tadi seakan dicopy paste. Mimpi itu kenyataan. Dan untuk yang kesekian kalinya lagi, sampai aku lelah mengatakan; Ekspektasi hatiku salah.

Cerpen Karangan: Aryadila

Cerpen Ekspektasi Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putra Sang Dekan (Part 2)

Oleh:
Bulan berlalu, daun berguguran, burung-burung berkicau (hubungannya? kagak ada sih) Reva akhirnya tiba pada sesi sidang keduanya. Wacana perjodohan kak ikwan dan nunung lenyap bak ditelan bak mandi. Nunung

Bisakah?

Oleh:
Aula PKM penuh sesak kali ini. Banyak mahasiswa satu program studi berkumpul serta bercakap-cakap di sini. Setidaknya, itu yang dilihatnya ketika menginjakkan kaki di depan pintu kaca dengan tambahan

Kita yang Tidak Saling Mengerti

Oleh:
“loe ga waras ya, Bel? Cewek secantik Vina loe tolak! Mau cari yang kayak gimana lagi bro.” Ibel hanya senyum-senyum mendengar ocehan Radit yang tak jelas baginya. ‘siapa yang

Regret

Oleh:
Aku hanya ingin sekedar bercerita tentang pengalamanku yang menyedihkan. Namaku Denny aku sekarang duduk di kelas IX. Orang-orang menganggap aku “Orang yang tidak pernah merasa susah” dan selalu membuat

Peluang Hebat yang Terdekat

Oleh:
Pindah sekolah? Siapa yang menginginkannya? Aku rasa tak ada, kecuali mereka yang punya masalah di sekolahnya, tapi aku bukan mereka. Aku tak menginginkan apalagi membayangkan riwayat pendidikan SMPku di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *