Fotografi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Sudah beberapa hari ini Tara pulang agak larut dari sekolah. Seperti hari ini saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Tara baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. “Ke mana aja sih, Dek? Kak Reyna lihat akhir-akhir ini pulang sore mulu,” Kak Reyna langsung memberondong Tara yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah. “Ekskul fotografi Kak,” jawab Tara tersenyum sambil berlalu. “Fotografi? Sejak kapan dia suka fotografi,” Kak Reyna bergumam dengan ekspresi bingung. Tara cuek saja, berlalu masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.

“Gue seneng banget, Des,”

Tara memulai pembicaraan dengan semangat dengan mata berbinar. Ya, sudah beberapa hari ini semenjak Tara ‘tak sengaja’ bergabung dalam klub fotografi, Tara tak pernah absen dengan girangnya menceritakan kegiatannya di klub barunya itu. “Lo semangat ikut klub fotografi gara-gara ada Kak Felix kan,” goda Desy. Yang digoda malah senyam-senyum sendiri. “Salah satunya!” senyum Tara makin lebar. Pikiran Tara melayang membenarkan apa yang diucapkan Desy, sahabatnya. Ya, Tara memang tak sengaja tergabung dalam klub fotografi. Pasalnya Tara tak berminat sama sekali mengikuti ekskul fotografi. Itu dulu, sebelum Tara tahu bahwa Kak Felix yang akan membimbing klub itu, dengan sigap Tara segera mendaftarkan diri dan mulai rajin hadir di tiap ekskul fotografi.

Sebenarnya sebelum menjadi pembimbing klub fotografi, Tara sudah kenal dengan Kak Felix. Gara-gara mama menyuruh Tara mengantarkan kue untuk tetangga baru di komplek rumah Tara. Sejak pertemuan pertamanya dengan Kak Felix, Tara tak bisa berhenti memikirkan sosok Kak Felix yang ehm! Menarik. Matanya indah, rahangnya tegas berbentuk persegi dan dia terlihat tampan, bagi Tara. Kak Felix yang baik, Kak Felix yang perhatian, sosok Kak Felix tidak pernah bisa hilang dari pikiran Tara semenjak mereka berkenalan hingga hari ini.

“Jadi besok sabtu kita akan melakukan praktek di studio foto di kawasan Pluit. Kita mempraktekkan materi yang sudah saya sampaikan, modelnya Tara Hastari ya, jangan lupa bawa wadrobe dan make up. Jangan sampai terlambat,” suara lantang Kak Felix menutup pertemuan di klub fotografi sore itu. Apa? Praktek di hari sabtu? Ah malas sekali rasanya Tara membayangkan hari liburnya yang tersita.

“Kak Felix..” Tara berlari-lari kecil mengejar Kak Felix yang sudah siap menyalakan mesin motornya di halaman sekolah. “Hei Tara, ada apa?” Kak Felix tersenyum manis menatap Tara. Membuat Tara salah tingkah. Tara memang terlalu mengagumi Kak Felix hingga disenyumi saja bisa membuat Tara kikuk.
“Hm, besok aku berangkat ke studionya bareng Kak Felix ya,” bola mata Tara membesar penuh harap. Kak Felix diam sejenak. Berpikir. “Baiklah, besok pagi ku jemput di rumah ya Tar,” Kak Felix tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih sambil mengacak rambut Tara. Ah, Tara ingin meloncat saking girangnya. Tak sabar menunggu esok.

Hari itu Tara berdandan manis sekali sampai Kak Reyna pangling dibuatnya. Tara memang tak mau melewatkan kesempatan hari ini akan menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan Kak Felix. Sepanjang perjalanan Tara tak henti-hentinya bercerita. Cerita tentang banyak hal. Tara memang gadis yang ceria apalagi bila ia sedang bahagia seperti hari ini. Bahagia saat sedang bersama Kak Felix, yang Tara kagumi. Kak Felix mendengarkan cerita Tara yang menggebu-gebu sesekali tertawa dari balik kemudi mobilnya yang terus melaju menuju studio foto.
Sesampainya di studio foto, teman-teman Tara sudah ramai berkumpul. Kedatangan Tara langsung disambut Seby, teman satu angkatan Tara -sekaligus asisten Kak Felix dalam klub ini.

“Buruan ya make up-nya Tar, anak-anak udah ready,” kata Seby mengulaskan senyum melihat Tara.
“Ok boss,” Tara segera mengganti bajunya.

Setelah itu teman-teman Tara sibuk menjepretkan kamera ke Tara. Tara memang gadis yang menarik dengan postur tubuh yang mungil, bola mata yang bulat ditambah lesung pipi, Tara tampak sangat luwes bergaya di depan jepretan kamera, tak heran bila Kak Felix suka menjadikan Tara objek foto klub fotografi. Di tengah-tengah blitz kamera teman-temannya, Tara mencari sosok Kak Felix yang sejak tiba di studio langsung menghilang.

Tiba-tiba mata Tara tertuju pada sosok Kak Felix di sudut ruangan studio, siapa gadis yang sedang asyik berbincang dengan Kak Felix? Tara tak mengenalinya. Mereka masih asyik berbincang hingga pemotretan usai, saking asyiknya sampai-sampai mereka tak sadar telah membuyarkan mood Tara selama pemotretan, Tara gigit jari. Tara cemburu melihat keakraban Kak Felix dengan gadis yang tak ia kenal itu.

“Maaf ya Tara, aku gak bisa antar kamu pulang. Gak apa-apa kan?” Kak Felix dan gadis itu menghampiri Tara sesaat setelah Kak Felix menyadari pemotretan sudah berakhir.
“Oh iya gak apa-apa Kak, aku bisa pulang naik taksi,” Tara memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Kami mau menghadiri acara keluarga di daerah sini, jadi aku tidak bisa antar kamu,” Kak Felix memberi penjelasan. Acara keluarga? Apa-apaan ini? Siapa sebenarnya gadis ini? Tara penasaran. Perasaannya campur aduk.

“Aku sampai lupa mengenalkan kamu dengan Jenny, pacar aku. Dia baru tiba dari Singapura aku tadinya mau menjemput Jenny di bandara sebelum ke studio tapi karena kamu minta bareng ke sini jadi aku suruh dia naik taksi menyusul kita hahaha,” Kak Felix melanjutkan pembicaraan. Gadis itu -Jenny namanya- mengulurkan tangan dan tersenyum sangat ramah pada Tara.

“Felix banyak cerita tentang kamu. Katanya sejak kehadiran kamu, Felix jadi tidak merasa sepi lagi saat aku harus menetap di Singapura beberapa minggu terakhir. Terima kasih sudah menemani Felix dan menjadi adik yang baik. Senang berkenalan dengan kamu,” Jenny berbicara panjang lebar seraya merangkul Felix. Tara memandang Felix dan Jenny bergantian. Menahan air matanya yang sudah di pelupuk mata. Tara berusaha keras untuk tetap tenang. Dan tersenyum.

Studio foto sudah sepi, teman-teman Tara sudah pulang beberapa menit yang lalu, begitu juga Kak Felix dan Jenny mereka berpamitan pada Tara dan langsung meluncur pergi. Tara memilih tetap tinggal di studio foto. Berusaha mengendalikan perasaannya. Tara duduk di sudut studio foto sambil menatap ke arah jendela yang menyisakan butiran air sehabis hujan turun. “Gue tahu lo patah hati gara-gara tahu Jenny adalah pacar Kak Felix,” suara Seby membuyarkan lamunan Tara. Tara mendongak, menatap Seby dan buru-buru mengusap air mata yang berlinang membasahi wajahnya. Ia tak menyangka Seby belum meninggalkan studio.

“Gak apa-apa kok kalau lo mau nangis, wajar namanya juga patah hati. Apalagi lo ngefans banget kan sama Kak Felix,” Seby berbicara dengan nada datar namun entah mengapa kalimat Seby membuat tensi darah Tara meninggi. “Sok tahu banget sih lo, emang lo tahu apa tentang perasaan gue,”
“Tahu banyak,” Seby terdiam sejenak menatap Tara.

“Gue tahu lo ngefans setengah mati sama Kak Felix. Kelihatan dari cara lo memperhatikan dia, selama kelas fotografi yang ada di pikiran lo tuh cuma Kak Felix kan? bukan materinya. Lo suka cengar-cengir sendiri kalau ngelihat dia. Apa artinya kalau gak ngefans setengah mati,” penjelasan Seby membuat Tara tersentak. Air matanya tak lagi jatuh. Berganti dengan perasaan bingung. “Lo ngomong apa sih, gak usah sok tahu tentang gue deh,” Tara menjawab tegas.

“Gue gak sok tahu Tara, gue tahu karena gue peduli sama lo, gue memperhatikan lo, meskipun lo gak pernah tahu,” Tara menatap Seby. “Kata orang kalau suka harus usaha, tapi kali ini beda Tar.. bukannya gue gak mau usaha biar lo tahu ‘gue ada’ masalahnya adalah tiap gue di dekat lo, yang lo perhatiin cuma Kak Felix dan Kak Felix. Ya gue gak mau ganggu lo yang lagi tergila-gila makanya gue simpen aja perasaan gue ke lo,” Seby menghela napas. Ia seakan-akan sedang mengumpulkan keberaniannya untuk meluapkan perasaan yang lama terpendam.

“Asal lo tahu sejak menyadari betapa ngefans-nya lo sama Kak Felix, tekad gue cuma satu.. harus selalu ada di saat lo butuh teman. Seperti sore ini..”
“Mungkin gue gak bisa sembuhin patah hati lo, karena lo gak bakal tergila-gila sama gue yang ‘biasa aja’ gue gak seganteng Kak Felix, gue gak sepinter dia, yang pasti gue jauh banget dari tipe lo. Tapi paling enggak, dengan adanya gue di sini, lo gak sendirian kan meratapi Kak Felix? Dan yang paling penting lo gak perlu pulang naik taksi,” Seby nyengir. Tara mencubit lengan Seby. Mereka tertawa. Suasana menjadi cair. Tak lagi tengang seperti tadi. Diam-diam Tara baru menyadari bahwa Seby sosok yang menyenangkan.

“Ehm, yang pasti lo gak akan keluar dari klub fotografi gara-gara Kak Felix udah punya pacar kan?” Seby bertanya sambil dengan ekspresi wajahnya yang polos.
“Sebyyy!!” Tara memukul lengan Seby. Tanpa disadari Tara merasa jauh lebih baik.

Cerpen Karangan: Yosie Novianlius
Facebook: Yosie Novianlius

Cerpen Fotografi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siklus Air

Oleh:
Tiap menatap wajahmu, hatiku patah untuk ke sekian kalinya Bila aku jatuh cinta, gravitasi tidak lagi berkuasa menarikku ke bumi, Bila aku jatuh cinta, hatiku digemakan simfoni spektrum pelangi,

Dibalik Huruf N

Oleh:
Hujan turun dengan ria, menari bersama satu dengan yang lainnya. Mengingatkanku tentang masa ketika ku di smp, mengingatkanku tentang dia. Dia lah alasanku untuk tetap tegar. Dulu kami deket

Katakan Saja Tidak Suka

Oleh:
“Aku sebenarnya… selama ini menyukaimu Ken.” Ujarku sembari menunduk menyembunyikan semburat merah di pipiku. Rasanya aku ingin mati saja sekarang, jantungku tak henti-hentinya berdetak dengan keras. Aku mendongakkan kepalaku

Secret Admirer

Oleh:
Aku menutup buku diaryku sambil tersenyum puas. Suasana pagi ini benar-benar terasa sejuk. Pancaran sinar matahari pagi yang beriringan dengan suara gemerisik daun-daun dari atas pohon yang terkena angin.

Pangeran Masa Laluku

Oleh:
Namanya SANISA seorang gadis berusia tujuh belas tahunan yang mempunyai paras nan cantik dan rambut yang terurai sebahu… “Prangg” minuman itu tumpah tempat di kertas putih tempat dimana namanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *