Gigil Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 7 October 2015

Kau benar, Mas. Hidupku tidak bahagia. Semua ini hanya sandiwara. Seharusnya aku bisa memilih. Tidak ada kata terlambat. Ku sadari, pintu terbuka untuk melangkah ke luar. Namun, aku terlalu takut di luar sana. Tentang cinta, semakin erat kau genggam, lenyaplah ia pelan-pelan. Begitulah yang terjadi padaku. Egois. Itu diriku. Setiap saat ku ucapkan cinta padamu. Namun, lakuku tidak. Tak pernah melayanimu dengan baik. Ku biarkan kau makan sendiri, mencuci sendiri, setrika sendiri, semua sendiri. Aku egois. Sungguh terkutuk wanita sepertiku. Dan kini tinggal menunggumu melepasku.

Lalu ku bertanya pada siapa? Cinta itu apa sesungguhnya? Aku ingat saat kau sakit, aku hampir pula meregang nyawa karena panik dan mengalami kecelakaan. Panik saat sepertiga malam kau menelepon dan katakan panas tubuhmu sudah sampai empat puluh dua derajat celcius. Hanya orang konyol yang berkendara pagi-pagi buta dan menerobos jalan salah jalur lalu menabrak tukang sari kedelai lalu terlempar tiga meter dan mengalami gegar otak.

Aku juga ingat ketika dengan berat hati menerima dikatakan hanya seorang pengasuh saat kau malu memperkenalkan diriku seorang istri kedua kepada beberapa teman wanitamu.
Karena cintakah? Ah entahlah. Kebaikan yang ku lakukan memang sedikit. Tak ada artinya bila dibanding semua perlakuanmu padaku. Mungkin kau menyesal telah menikahiku. Tapi aku tidak menyesal mencintaimu. Walau cinta yang ku punya hanya keegoisan saja. Apa kau pikir, semua wanita itu sama? Gila harta? Doyan selingkuh? Meski kesempatan itu ada, hatiku memilih berdiam di rumah. Rumah yang adalah kau.

Sungguhkah kau tak mengenaliku? Kesetiaan macam mana lagi yang harus ku buktikan? Aku tak sama seperti dia. Yang pergi meninggalkanmu demi berlembar-lembar uang untuk sekadar membeli bedak mahal. Aku tak pergi ke luar sana dan memamerkan keindahan cantik rupaku. Tidak. Jangan samakan aku dengannya. Aku bukan peselingkuh! Kini apa yang bisa ku harapkan? Bila orang di luar sana tak mempercayaiku, aku tak peduli. Tapi kau? Sungguh hancur hati ini bila orang terdekatku tak mempercayaiku lagi. Lantas buat apa aku ada?
Tidak, tidak. Aku tidak meminta apa-apa padamu, lagi. Cukup sudah.

Hal paling menyakitkan di hati wanita adalah saat ia dikatakan tak setia. Tahukah kau, sesungguhnya dalam keadaan luka sekali pun, wanita tetap bisa menjaga hati demi lelaki yang ia cintai? Ah, kau memang tidak mau tahu. Bagimu semua wanita sama saja. Pengkhianat! Sudah. Jangan menyesali diri. Aku tak menyesal ada di sini. Kau sudah membuatku memilih. Puaskah kau? Ya, sekarang sampai nanti, kau akan tetap percaya, hatiku tak kan ke mana-mana.

Jangan. Jangan mengisak. Ingat, kau pernah bilang aku tak boleh cengeng. Kau tak suka melihat wanita menangis. Aku juga tak suka melihat air matamu jatuh. Apalagi untukku. Ya, aku tahu kau mencintaiku. Sangat. Dan kau takut dunia mengambilku darimu. Aku tak kan selingkuh. Tak pernah selingkuh. Dan kini kau yakin, perkataanku tentang setia adalah benar. Tersenyumlah. Jangan menangis. Aku baik-baik saja. Simpan hatiku, ya.

Jangan lupa tuliskan di nisanku, “Istri paling setia.”
Aku tahu, pilihan ini akan membuatmu percaya. Cinta itu konyol.

Cerpen Karangan: Rina Rinz
Blog: www.lovrinz.com
Facebook: Rina Rinz

Cerpen Gigil Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Pujaan Hati

Oleh:
Dimulai dari sebuah pertemuan singkat yang terjadi pada hari minggu di taman rindang terlihat seorang gadis yang sedang berjalan dengan kekasihnya. Mereka terlihat sangat bahagia, bercanda dan saling terbuai

Hanya Terlukis Pedih

Oleh:
Berawal dari tempat kerja, kami memulai komunikasi ini, komunikasi awal yang masih jelas tersimpan dalam ingatanku adalah saat dia meminta tolong padaku untuk menemaninya pergi merujuk pasien ke rumah

Retak Jiwa

Oleh:
3 tahun sudah aku menapaki kehidupanku sebagai siswa SMA. Panas, hujan, badai, salju (Lebay) sudah kulalui di tempat ini. Tak terasa aku akan menghadapi akhir dari kehidupan SMA ini.

Kenyataan Pahit

Oleh:
Aku terus berlari menjauhi tempat menyedihkan itu. Tempat dimana aku mengetahui fakta miris. Aku benar-benar sangat kecewa. Air mataku tak berhenti mengalir. Hujan semakin deras dan menghatam tubuhku. Tapi

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Jam 2 siang bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Begitupun aku dan Imink. Imink adalah sobatku dari pertama mulai sekolah di SMA ini. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *