Hanya Pelampiasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 30 September 2018

Kuawali pagi ini dengan senyuman. Pagi-pagi sekali aku datang ke sekolahanku. Terlihat suasananya masih sepi. Tak banyak siswa yang datang. Aku pun menuju kelas.

“Karin” pangggil seseorang di belakangku. Ternyata itu aldo, pria yang paling tampan di sekolahku (menurutku).
“eh aldo, ada apa?” tanyaku
“kamu mau ke kelas? Jalan bareng yuk, kita kan sekelas” ajaknya.
Aku hanya menganggukan kepala. Entah apa yang membuat aldo bersikap aneh, tak seperti biasanya aldo yang selalu cuek dan dingin pada wanita.

Bel berbunyi menandakan seluruh siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Hari ini di kelasku pelajaran bu ani, guru matematika yang sangat galak. Kelas sangat hening tak ada murid yang berbicara semua memperhatikan bu ani yang mengajar.

Bel istirahat pun berbunyi, banyak siswa yang berpergian ke kantin atau semacamnya termasuk juga aldo.
Hanya ada aku di dalam kelas, setiap harinya aku mengisi jam istirahat dengan membaca buku. Tiba-tiba aldo menghampiriku “Hey rin, lagi sibuk ya?”
“Enggak kok aku udah selesai baca bukunya, ada apa ya do?” tanyaku keheranan.
“kamu gak capek seharian belajar, ke kantin yuk aku traktir” ajakan aldo sangat mengagetkanku. Dan aku tak bisa menolak kesempatan itu.

Hari demi hari pun berlalu, aku semakin dekat dengan aldo sampai kami pun menjadi sahabat. Mungkin aldo tak tau jika aku mempunyai perasaan padanya.

Pagi itu tepat tanggal 27 Februari 2017 ulang tahunku yang ke 16 Tahun. Tapi seperti tahun lalu orangtuaku tak bisa menemaniku di hari paling berarti ini. Dalam kesunyianku aku menangis dalam hati.

Tok… Tok.. Tok, pintu kamarku berbunyi. Terdengar suara dari luar. “rin, aldo nyamperin tuh dia di ruang tamu” ternyata itu suara tanteku. Aku bergegas turun menuju ruang tamu.
“Eh aldo, kok kamu gak bilang-bilang mau ke sini?” tanyaku
“Emang kenapa gak boleh aku ke sini? Aku kangen sama kamu, nanti malem kita makan yuk ke Restoran kesukaanmu aku yang traktir deh” ajak aldo tiba-tiba.
“Beneran nih? Ya udah nanti malem jemput aku ya jam 7 oke!” seruku padanya.
“Siap bos, jangan lupa dandan yang cantik ya! Aku mau pulang dulu”
“Oke deh sampai jumpa nanti malem.” jawabku kegirangan.
Aldo pun pulang, sejenak aku melupakan soal orangtuaku.

Malam pun tiba aldo pun menjemputku.
“Waw… Kamu cantik banget malam ini, dandannya khusus buat aku ya?” kata-kata aldo menghanyutkan pikiranku.
“Emang dari dulu aku cantik, Eh ya udah berangkat yuk” ajakku padanya

Dalam perjalanan aku hanya terdiam, aldo hanya menatap heran diriku dan tak berkata apa-apa.
“Oke kita sampai” aldo pun mengajakku turun dan masuk restoran itu. Sudah disiapkan meja khusus untukku dan aldo malam ini, berhias bunga dan lilin mrmbuat suasana menjadi romantis diiringi dengan musik yang menambah suasana. Pelayan pun datang aldo memesan beberapa hidangan. Kami sangat menikmati malam ini. Jam pun menunjukan pukul 21:00. Tiba-tiba aldo memegang tanganku.
“Rin, sebenernya aku ngajak kamu kesini buat ngucapin selamat ulang tahun dan ini kado buat kamu” sambil menyodorkam sebuah kado yang berbentuk hati.
“makasih banget ya do, aku gak nyangka kamu tau kalo sekarang aku ulang tahun ” jawabku dengan menerima kado pemberiannya.
“Dan aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu”
Deg jantungku berdegub kencang. “Apakah dia akan mengungkapkan perasaannya?” Pikirku dalam hati.
“Aku udah lama suka sama kamu, aku pengen hubungan kita lebih dari seorang teman jadi kamu mau gak jadi kekasihku?”
Pertanyaan itu sontak membuatku sesak nafas. Betapa bahagianya aku mendengar perkataannya. Aku hanya mengganggukan kepala sebagai isyarat aku menerimanya.
Aldo pun berjanji padaku bahwa akan setia dan tidak akan meninggalkan ku. Sejak malam itu aku dan aldo berjalin kasih, sudah 5 bulan kami bersama. Dan hari adalah pengumuman kelulusan dan Ya! aku menduduki ranking pertama di kelasku dan ranking kedua adalah aldo. Wisuda pun telah usai. Kini tinggal libur panjang dan menanti masa kuliah.

Saat malam itu aldo datang ke rumahku, mengajakku ke suatu tempat.
“Ngapain kita ke taman?” tanyaku padanya. Tak berlangsung lama hujan pun turun lebat aku mengajaknya berteduh tapi aldo menarik tanganku.
“Rin aku mau putus”
Deg.. jantungku sejenak tak berdetak, air mataku menetes berbaur dengan air hujan.
“Aa, apa katamu? Kamu jangan bercanda do, kamu tau kan aku sayang banget sama kamu kenapa kamu tega do kenapa?” tanyaku dengan tersedu sedu.
“Aku gak bercanda, sebenernya dari dulu aku gak suka sama kamu. Aku cuma pengen ngelupain amel, mantan pacar aku yang terpisah saat SMA. Jujur aku belum bisa ngulupain dia dan aku deketin kamu karna kamu mirip sama amel, sekarang aku mau sekolah di Bandung tempat amel Tinggal. Aku akan mengejar cinta amel lagi. Sebelum perasaan kamu sama aku semakin dalam lebih baik kamu lupain aku, aku akan pergi selamanya darimu” kata kata itu sangat menyayat hatiku. Aldo pun pergi meninggalkanku di tengah hujan lebat. Kaki ku lemas tak bisa melangkah, badanku lesu tak bisa menerima kenyataan tak kusangka orang yang aku sayangi kini telah pergi, meninggalkan luka yang terukir jelas di dalam hatiku. Aku pun terjatuh pandangaku kabur hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Aku pingsan.

Aku membuka mata agak kabur dan semakin jelas. Di sampingku berdiri 3 orang yang sangat ku kenal, tak lain mereka adalah orangtua dan tanteku.
“mama, papa sejak kapan kalian pulang?” tanyaku sambil memeluk mereka.
“kemarin malam rin, papa melihatmu sendirian di taman kota.” ucap papa menjelaskan.
“kamu ngapain rin malam-malam sendirian di taman, kamu kan tau hujan turun lebat” mamaku bertanya.
Aku hanya terdiam dan air mataku menetes dengan sendirinya, aku menceritakan kejadian yang menimpaku. Keluargaku mencoba menguatkanku.

Tak terasa satu minggu aku dirawat dirumah sakit. Akhirnya dokter pun mengizinkanku pulang karna keadaanku telah membaik.
Di rumah aku hanya melamun dan menangis kata-kata aldo masih menggentayangi fikiranku. Nafsu makanku berkurang aku sering ngengurung diri di kamar, hasratku untuk melanjut kan sekolah sudah tak ada. Banyak cara yang di lakukan keluargaku untuk membuat ku pulih dari kesedihanku. “untuk apa aku bersedih itu tak membuat aldo kembali” ucapku dalam hati dengan menguatkan diri. Selalu kuingat kejadian itu di saat aku hanya pelampiasanmu. Tapi aku tetap menjalani hidupku dan mencoba melupakan masalalu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Vira Ulandari
Blog / Facebook: Oxsa Cha Virra

Cerpen Hanya Pelampiasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luka

Oleh:
Suara burung itu mengagetkanku. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Saat ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10 batinku. Cukup lama juga

Hanya Allah yang Tahu

Oleh:
Sejenak kita saling berpandangan, menatap bola mata yang berbinar-binar menahan haru satu sama lain. Haru karena bertemu insan yang dirindu-rindu, sejak lama tak bertemu. “Hari ini aku senang dapat

Semangat Cinta Pertama

Oleh:
Masa SMP adalah masa dimana peralihan menuju ke remaja, setiap jam istirahat pasti masih main lari-larian sama teman-teman khususnya kelas tujuh. “Tangkap aku kalau bisa Wil, cemen kan loe

Fine

Oleh:
Aroma petrichor menemani hujan pertama yang turun tahun ini. Aku memejamkan mataku, menghirup dalam-dalam aroma yang menenangkan tersebut. Aku berdiri di balik jendela kamarku, tangan kananku memegang mug berisi

Hay Dev (Untold Stories)

Oleh:
Sejatinya aku bingung mau bercerita tentang apa, karena memang sudah sering kuceritakan baik dalam catatan pribadi maupun di berbagai linimasa media sosial. Oh iya aku adalah seorang mahasiswa perantauan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *