Harus Berakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

Minggu pagi di akhir bulan Januari aku memutuskan untuk berangkat ke Jombang menemuinya, Sebelumnya aku harus mengantar ibu yang main ke rumah saudara di Sidoarjo membicarakan soal rumah kontrakan. Sidoarjo pagi itu riuh dengan pasar tumpah daerah taman pinang orang-orang berjualan memakan separuh jalan sehingga kendaraan hanya bisa berjalan pelan. Aku memutuskan memilih jalan lewat Krian ke arah mojokerto jalan yang aku belum pernah lalui sebelumnya. Di perempatan Mojokerto aku menelepon Ditta.

“Aku lagi perjalanan ke sana. Kamu di rumah kan?”
“Loh aku mau ke Sella di Trowulan mau ngerjain laporan. Kamu gak ngomong mau ke sini,” jawab Ditta yang seolah menghindar dariku.
“Bentar aja kok aku mau ambil jersey-nya aja,” jawabku agar Ditta tidak segera pergi.
“Iya, iya,” Ditta menjawab dengan nada ketus.
Kemudian telepon itu putus.

Aku melanjutkan perjalananku dengan motor Vega tahun 2005 warna biru yang sudah aku pakai sejak mulai kuliah. Motor yang sebelumnya pernah dipakai kakakku, motor yang juga mulai kehilangan tenaganya. Belakangan ini juga rem belakang mulai kehabisan cengkeramannya. Aku lihat awan mulai gelap, aku harus mempercepat laju motorku tapi sayang hujan deras turun. Aku pun harus berhenti sementara agar motorku tidak mogok karena hujan deras. Tapi di sisi lain aku tidak mau kehilangan Ditta yang akan ke rumah Sella teman kampusnya. Beberapa menit kemudian hujan mulai reda seketika aku melaju kembali. Hujan yang tidak sederas di awal tetap menerjangiku tapi aku tidak boleh kalah oleh hujan. Tidak boleh.

Aku masih melaju sampai di Jombang hujan kembali deras tapi aku bergegas menuju rumah Ditta yang tak jauh dari alun-alun kota. Akhirnya sampai di depan rumahnya setelah aku menjagang motorku yang kepayahan, aku melihatnya di ruang tamu. Aku yang basah kuyup tidak Ditta perbolehkan masuk. Ditta mengacuhkanku yang rela ke sana hujan-hujan. Ada dua bangku di terasnya dan Ditta menyuruhku duduk di sana. Aneh saat kami ngobrol di teras bukan di ruang tamu tempat biasa kami berdua. Mungkin Ditta tidak mau untuk bernostalgia dengan saksi bisu tempat aku menembak Ditta juga tempat biasa kita pacaran nonton film di laptop barengan. Ditta memberikan sebuah jersey pesananku yang aku titipkan ke rumahnya. Jersey AS Roma tim yang aku idolakan sejak SD.

Seharusnya jersey itu sudah ada di tanganku saat Ditta datang ke Surabaya di bulan Desember tapi sayangnya aku harus membatalkannya. Ada orderan barang yang tidak bisa aku tolak. Perintah bos yang juga sepupuku tidak enak aku tolak. Aku pun mengecewakannya yang harus pulang setelah Ditta menginjakkan kaki di terminal Bungurasih tanpa menemuiku. Aku yang basah kuyup mulai meminta Ditta untuk menimbang kembali saat seminggu sebelumnya meminta kita untuk putus lewat WhatsApp. Saat itu seolah sebuah tombak menghujam jantungku. Hal yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya Ditta menyerah dengan Long Distance Relationship yang kita jalani selama 6,5 tahun.

Seolah tidak percaya aku sempat menanyakan apa Ditta serius dengan ucapannya atau Ditta mencoba mengetesku tiba-tiba. 6,5 tahun atau 78 bulan tepat kami menjalin hubungan Surabaya-Jombang yang tidak terlalu jauh tapi kami terkadang hanya bertemu sebulan sekali terkadang sampai tiga bulan entah Ditta yang ke Surabaya atau aku yang ke Jombang. Ditta mengatakan aku banyak mengacuhkannya, terutama yang terakhir saat Ditta mau curhat tentang masalah dengan bapaknya sampai Ditta menangis terisak, aku mementahkan chattingnya saat itu karena aku juga ada masalah dengan keluargaku sendiri. Batas kesabarannya mencapai puncak. Beberapa hari setelah kejadian itu Ditta mengucapkan kalimat haram dalam sebuah hubungan. “Aku nyerah sama hubungan ini. Aku pengen kita udahan,”

Di teras rumahnya aku mencoba kembali mempertegas kalau aku masih sayang ke Ditta dan aku bahkan berjanji akan melamarnya saat aku sudah mantap dalam bekerja. Tapi Ditta kukuh pendirian bahwa hubungan kami sejauh ini harus berakhir sia-sia. Ditta bolak-balik mengingatkanku kalau dia akan dijemput oleh temannya untuk mengerjakan laporan. Tapi aku masih bertahan di sana untuk memintanya balikan. Beberapa menit kemudian bapaknya datang.

“Itu kok di luar sih ngobrolnya. Diajak masuk gih,” bapak Ditta melihatku di luar dan meminta Ditta untuk mengajakku masuk.
“Iya gak apa-apa Pak di sini aja,” tapi Ditta seolah cuek saja dengan ajakan itu. Tidak ada air minum yang disediakan selayaknya orang yang bertamu. Aku datang ke sana tanpa dihargai seperti sebelum-sebelumnya aku ke sana. Aku mulai menyerah dengan keadaan itu.
“Ada cowok yang deketin kamu Ta?” aku mulai bertanya ke Ditta karena kau merasa ada yang aneh dengan Ditta tidak seperti sebelum-sebelumnya.
“Ya jujur aja yang deketin ada tapi aku masih biasa aja sama dia,” Ditta menjawab dengan santainya.
“Tapi aku masih boleh kan main ke sini?” aku menanyakan hal yang bodoh yang tidak mungkin aku lakukan lagi setelah putus.

“Ngapain? Aku udah gak mau ngasih harapan lagi,” Ditta kembali menegaskan tidak mau balikan bahkan untuk ketemuan.
Jawaban Ditta membuatku pasrah dan putus asa. Seketika seorang cowok dengan motor Tiger-nya menjemput Ditta.
“Eh tunggu bentar ya,” Ditta meminta temannya untuk menunggu.
“Bukan itu kok anaknya. Itu lo cowoknya temenku. Ya udah aku tak berangkat ya,” Ditta memberitahuku bukan cowok dengan motor Tiger itu yang mendekatinya.

Aku dengan berat hati harus merelakannya pergi. Aku sadar aku bukan cowok yang bisa menemaninya setiap saat. Aku memiliki banyak keterbatasan. Hubungan kami memang sulit, batinnya harus tersiksa apalagi dengan sikapku yang sering terasa datar sehingga membuatnya harus kecewa. Aku pun harus pulang dan berpamitan dengan bapaknya untuk terakhir kalinya. Pertemuan terakhir dengan Ditta dan keluarganya terasa menyakitkan. Aku menjabat tangannya dan meminta agar Ditta tidak mendendam kepadaku dan berharap kami bisa menjadi teman ke depannya.

Dengan rasa sedih dan sakit hati aku kembali menunggangi motorku untuk kembali kehidupanku sebelum bertemu Ditta. Aku berharap agar motorku tidak mogok dan hujan tak kembali turun. Aku juga mendoakan agar skripsi yang sedang Ditta susun cepat selesai dengan lancar. Semua kisah indah itu sudah berakhir. Ditta melanjutkan hidupnya tanpa aku sementara aku masih berusaha mencoba agar terbiasa tanpa Ditta, tapi aku masih belum mampu. Aku terkadang masih menanyakan kabarnya di sana tapi Ditta hanya mengacuhkannya.

Saat aku kembali menanyakan kabarnya tiba-tiba ada chat balasannya masuk. “Maaf aku jarang bales soalnya aku lagi ngebut skripsi. Kedua aku lagi deket banget sama cowok. Jadi aku jaga hati dia,”
“Secepat itu kamu move on dari aku? Aku sekarang lagi gak enak badan kamu pun gak peduli. Kemarin aku kehujanan kamu juga gak peduli. Separah itu kesalahanku? Aku mau buktiin aku ke sana buat perjuangin hubungan kita,” Seketika perasaanku terasa panas mendengar Ditta sudah mulai move on. Aku yang masih sayang banget ke dia terasa berat apalagi badanku tidak enak karena sering kehujanan akhir-akhir ini.

“Pertahanin mati-matian? Emang kamu pikir aku dulu gak kayak gitu. Tiap ada masalah, tiap omongan kamu yang gak sengaja nyakitin perasaan aku tapi aku masih sabar. Buat apa dikit-dikit aku minta putus, aku gak mau kayak gitu. Aku udah nyoba sabar tapi ujung-ujungnya kamu tetep gak berubah dan ini batas sabarku,” Ditta menjawab chattingku dengan nada tinggi Ditta membuka semua dosa-dosaku. Ditta ternyata masih menyimpan dendam dari semua perkataanku yang terasa menyinggungnya.

Aku kemudian mengirim beberapa foto kami berdua yang ada di HP-ku. Tapi sayang balasannya terasa pedih. Aku juga membuka semua postingan lama Ditta di blognya yang menyanjungku setinggi langit lalu aku kirimkan semuanya lewat chatting. Aku berharap agar Ditta tak melanjutkan pendekatannya dengan teman kampusnya itu. Ditta membacanya tapi tak ada kata yang terucap lagi di malam itu. Hatiku hancur-sehancurnya, seorang gadis yang pernah aku miliki saat itu kini telah berpaling dengan cowok lain.

Pikirku benar kalau ada yang mengatakan cinta itu lawan kata dari logika. Banyak hal-hal gila yang seseorang lakuin demi cinta dan terkadang mengacuhkan nalar mereka. Tapi saat sebuah hubungan mulai mengunakan logika, cinta pelan-pelan akan hilang. Itu yang terjadi antara aku dan Ditta. Ditta yang dulu rela mati-matian mempertahankan hubungan denganku sekarang sudah berubah. Aku pun curhat kepada teman kampusku bernama Rista yang sebelumnya banyak memberiku saran agar memperjuangkan hubunganku dengan Ditta.

“Ya udah ikhlasin aja. Akuin aja semua kesalahanmu. Tetap bersyukur loh dia beda kota sama kamu. Coba dia ada di Surabaya makin sakit hati kan kamu. Mungkin saatnya ini kamu cari yang normal,”
“Normal? Normal gimana?” tanyaku yang tak mengerti maksud Rista.
“Hahaha. Yang nyata lah. Yang kelihatan orangnya. Gak pacaran sama HP mulu. Kayak orang gila yang senyum-senyum sendiri. Hehe,” jawab Rista yang mencoba menghiburku.
“Aku lagi sedih gini kamu malah ketawa,”
“Sedih itu wajar. Kamu nangis juga wajar kok tapi jangan lama-lama. Kamu kumpul sama temen-temen cowok biar gak galau terus,” Rista memberiku masukkan untuk tidak galu terus.
“Makasih ya udah banyak dengerin curhatku selama ini,”
“Iya,”

Benar kata Rista, aku harus memulai semua yang baru. Ditta menyerah dengan keadaan LDR yang kami jalani selama ini. selama 78 bulan memperjuangkan banyak hal, mengorbankan banyak hal dan terkadang mengorbankan perasaan kita terhadap orang lain yang kita sukai. Ditta memilih melabuhkan hatinya kepada seseorang yang selalu ada untuknya, yang selalu mendengarkan curhatannya dan menemani di saat dibutuhkan. Tidak sepertiku yang memiliki banyak keterbatasan.

Cerpen Karangan: Susanto P S
Facebook: Susanto Panji Satrio

Cerpen Harus Berakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Let it Past

Oleh:
Yang berlalu terkadang datang menghampiri memamerkan keindahan-keindahan masa yang tidak akan terulang, masa lalu membuatku belajar bagaimana sakitnya melepas dan perihnya sebuah penyesalan. Seperti melihatnya bahagia bersama yang lain

Karma

Oleh:
Di sebuah malam yang indah. Pantulan sinar rembulan dapat dilihat dari permukaan danau Tjaviir di Delhi. Di tepi danau terlihat seorang pria dan wanita yang sedang memandangi sinar rembulan.

LDR

Oleh:
Jenny, seorang cewek SMA yang berambut panjang dan berhidung mancung itu kerap disapa Jen oleh teman-teman sebayanya. Jen masuk sekolah SMA dengan tujuan mencari ilmu dan mencari pengganti Jono,

6 Tahun 5 Hari

Oleh:
6 Tahun 5 hari? Apa yang bisa dan kalian lakukan dengan kurun waktu tersebut? Banyak!!! Yah, banyak hal yang kalian bisa lakukan dan apapun bisa terjadi dalam 6th 5

Ilusi Hati (Part 1)

Oleh:
LAKI-LAKI itu menekan beberapa tuts di atas piano melantunkan sebuah nada. Matanya terpejam rapat di tiap alunan melodi yang menyayat. Terkadang tangannya bergetar begitu melodi yang ia mainkan membawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *