Harus Melepasmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 17 May 2016

Semua yang bertemu dan yang berpisah telah tertulis rapi dalam catatan takdir. Tak ada satu insan pun yang mampu berlari melampaui takdir yang tertulis untuk hidupnya. Begitu pula pertemuanku dengan sosok gadis lembut nan jelita bernama Shopia. Yang datang ke dalam kehidupanku tanpa pernah aku undang dan tanpa permisi, membawa ke takdirku untuk menorehkan sebuah kisah yang sering dinamai cinta. Aku adalah salah satu anak OSIS kelas 8 di sekolah yang memberi pelajaran MOS ke anak kelas 7 yang diterima sebagai murid baru. Namun, aku telah memiliki kedekatan khusus dengan salah satu geng perempuan di sekolah yang bernama 4 sekawan.

Kumpulan dari 4 gadis yang cantik bernama Erlin, Sandra, Yase, dan Shopia. Geng di sini bukanlah kelompok yang suka anarkis ataupun rasis. Melainkan, kelompok anak yang sering bermain bersama saat istirahat sekolah. Seiring dengan berjalannya waktu aku pun memiliki rasa dengan Shopia, salah satu anggota geng 4 sekawan. Walaupun sebenarnya aku mengerti kalau Erlin dan Sandra memiliki rasa ke aku. Karena tak mampu menahan perasaan yang melumpuhkanku setiap bertemu dengan Shopia. Aku berusaha mengumpulkan keberanian dengan setumpuk cinta untuk diungkapkan. Tepatnya di belakang ruang kelas 7 aku menumpahkan semua perasaanku ke Shopia.

“Shop, bolehkah aku ngomong sebentar?”
“Ada apa, Kak? Ngomong aja.”
“Aku tak tahan dengan perasaan aneh ini, Shop.”
“Perasaan aneh gimana, Kak?”
“Aku cinta sama kamu, Shop. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Secepat ini, Kak. Kita baru kenal dua bulan yang lalu. Apa kamu gak tahu kalau Erlin dan Sandra yang adik kelasmu SD juga sayang kamu? Aku anak baru di kediri, Kak. Aku gak mau kehilangan teman-teman baruku, Kak.”

“Jadi intinya kamu nolak aku, Shop?”
“Bukan gitu, Kak. Jujur aku juga sayang Kakak. Tapi, ngertiin posisiku dong. Aku baru pindah dari malang. Jadi, belum kenal siapa-siapa di sini. Beri aku waktu untuk mikirnya.”
“Kamu butuh waktu berapa hari? 3 hari cukup?”
“Seminggu, Kak. Beri aku waktu seminggu untuk mikirnya.”
“Oke, berarti sabtu depan ya, Shop? Aku tunggu setelah pulang sekolah di depan gerbang utama. Ya udah, kelas udah ada gurunya tuh.”

Setelah itu, hari demi hari berjalan seperti wajarnya. Waktu istirahat pun aku tetap berkumpul dengan 4 sekawan. Canda dan tawa selalu menghiasi perkumpulan kami. Dan Shopia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara dia denganku. Sehingga anggota 4 sekawan yang lain tak menaruh sedikit rasa curiga. Tepat hari sabtu 26 agustus, istirahat sekolah hari ini aku tak berkumpul dengan 4 sekawan. Sebelum bel pulang mengeluarkan deringnya, buku-buku pelajaran telah masuk ke tasku. Setelah mendengar bel berdering merdu, aku bergegas menunggu di depan gerbang utama. Jarum penunjuk menit dan jam berputar cepat bak moto gp yang saling mendahului.

Namun, sampai jam menunjuk 5 tepat Shopia tak kunjung datang untuk memberikan untaian jawaban. Ku putuskan untuk pulang membawa kecewa tanpa sekecap kepastian. Namun, sesampainya di rumah aku mendapatkan kejutan. Setelah aku membuka hp, ada sebuah pesan singkat dari Shopia yang berisi, “Kak, maaf aku gak bisa nepatin janjiku. Hari ini ada lomba dance, jadi aku gak bisa nemuin kakak. Tapi, aku mau kok jadi pacar kakak dengan segala resikonya.” dengan pesan singkat itu, aku putuskan hari ini sebagai hari jadian aku dengan Shopia. Setelah aku dan Shopia pacaran, kami tak berani blak-blakan di depan 4 sekawan. Namun, tubuh dan mataku dan Shopia tak mampu membohongi anggota 4 sekawan lainnya.

“Shop, Kak, kalian apa pacaran?” tanya Erlin yang seketika memecah heningnya perkumpulan kami. Shopia dan aku pun menundukkan kepala ingin menjawab bohong, tapi takut nanti jawaban kita malah berlawanan.
“Ow, jadi ada pengkhianat di antara kita?” sahut Sandra memojokkan kami.
“Sudahlah, mau mereka pacaran atau gak? Ya terserah mereka dong.” bela Yase yang kasihan dengan Shopia.
“Tapi kita berempat kan sudah sepakat tidak pacaran dulu. Kalau ada yang pacaran namanya pengkhianat.” banta Erlin menunjuh wajah Shopia.
“Ya udah, kalau gitu 4 sekawan bubar aja. Ayo Shop, Kak kita pergi aja. Mana ada sahabat yang tidak bisa lihat sahabatnya bahagia. Bilang aja kalau kalian berdua iri.” bentak Yase.

“Sudah, Yas.” kata Shopia yang coba menenangkan keadaan dan menutup pertemuan dengan 4 sekawan yang cukup mencekam. Semua mulai mereda setelah Erlin dan Sandra pergi. “Yas, maaf, gara-gara aku, 4 sekawan berantakan.” sesal Shopia.
“Gak apa-apa, Shop. Mereka aja yang sirik.” jawab Yase.
“Kak, kamu kok diam aja toh? Gak membela sama sekali. Gimana sih?” Shopia menyalahkanku.
“Entah aku bingung mau membela gimana? Aku gak tahu arah pikiran cewek.” jawabku.

Semenjak terbongkarnya hubunganku dengan Shopia, 4 sekawan terbelah menjadi dua kubu selama beberapa bulan. Namun, setelah Erlin dan Sandra memiliki pacar masing-msing mereka sadar, bahwa memendam perasaan itu adalah hal yang sulit. Apalagi kalau setiap hari berkumpul bersama. Akhirnya 4 sekawan mulai berkumpul bersama lagi. Setelah itu bukan berarti hubunganku dengan Shopia berjalan lancar, karena tak perlu menjalin hubungan dengan sembunyi lagi. Masalahnya yang lebih rumit kami hadapi, aku yang telah naik ke kelas 9, jarang ada waktu untuk bertemu. Rasa curiga saling mempengaruhi hatiku dan Shopia, walaupun masih satu sekolah. Karena aku yang mulai memfokuskan diri ke ujian nasional, membuat jarak imajinasi kita semakin jauh.

“Kak, kamu ngerasa nggak sih kalau jarak kita semakin jauh. Padahal kelas kita tidak terlalu jauh.”
“Iya, Shop. Mungkin karena aku udah kelas 9 wajib bagiku fokus di ujian.”
“Tapi, Kak. Kita masih satu sekolah aja udah jarang ketemu, gimana kalau kamu udah SMA, Kak?”
“Shop, percaya sama aku. Tolonglah kamu ngertiin aku.”
“Ya udah, terserah kamu!”

Begitulah pertanyaan dan jawaban yang sama selalu memenuhi himpunan pertemuan kita yang telah jarang. Sampai akhirnya aku pun lulus dengan nilai 35,25. Nilai yang cukup bagus untuk anak kabupaten kediri. Namun, tidak cukup untuk masuk SMA favorit di kota yang hanya menyediakan 10% untuk luar wilayah kota kediri. Nilai itu memaksaku untuk sekolah di luar sana dengan catatan grade yang hampir sama. Hanya saja yang membedakan tempatnya di nganjuk, yang sama saja membentuk dinding besar dan tinggi di antara aku dan Shopia.

Pertemuan antara aku dan Shopia semakin jarang. Jarang, bahkan terlalu jarangnya bisa disebut tidak pernah bertemu. Rasa cinta terbalut curiga, akankah di sana Shopia mampu setia. Tepat, 13 september 2014 adalah ulang tahunnya ke-15. Untung saja, jatuh tepat hari sabtu dimana pulang lebih awal. Motor ku pacu menuju toko roti. Membawa sebuah kejutan untuk Shopia aku datang ke SMP, sekaligus melepas kerinduan dan menghilangkan keraguan yang perlahan melubangi benak. Namun, harapan tak sesuai kenyataan.

Di sana aku malah disambut pemandangan tak enak, Shopia sedang duduk di samping cowok yang tak asing bagiku yaitu teman seangkatannya. Nampak raut bahagia dari keduanya, rasa kecewa dalam hati tak cukup tega untuk mengganggu kebahagiaan mereka. Kabar burung menancap dalam membuat telinga panas. Seketika aku mengurungkan niatku dan langsung pulang sebelum tubuh hangus terbakar cemburu. Keesokan harinya aku menitipkan surat ke Yase. Entah, apa surat itu sampai atau tidak. Disimpan atau terbuang, yang penting sebuah niat yang tulus.

“Yas, aku nitip surat ini buat Shopia ya?”
“Tapi, Kak. Shopia udah…”
“Iya, Ys. Aku udah tahu kok. Sampaikan ke Shopia ya?”
“Sabar ya, Kak. Pasti aku sampaikan surat ini.”
“Makasih loh, Yas.”
“Iya, Kak. Sama-sama.”
Surat pendek pengganti sebuah kejutan yang berisi secarik puisi,

‘Selamat ulang tahun ya, Shop. Semoga tercapai segala hasrat dan keinginanmu. Maaf ya gak bisa ngasih apa-apa. Tapi, aku punya sebuah puisi untukmu, Shop. Karyaku sendiri, sesuai yang ku rasakan, semoga kau mengerti semua.’

Harus melepasmu
Jarak dan cinta
Dua hal yang tak sanggup bersama
Dua tahun, waktu yang cukup lama
Untuk cinta tumbuh menjadi dewasa
Namun, meneruskan sekolah di kota orang
Membuat cinta mengambang
Melayang dengan sayap penuh duri
Yang selalu menyayat hati

Tatkala cinta berpeluk dusta
Sirnalah janji setia
Perlahan bayangmu kabur dari pikiran
Menerobos angan. Merusak harapan

Memang bukan hanya salahmu
Akulah yang sering tiada waktu
Hilanglah kau mencari pundak lain tuk bersandar
Saat cinta dalam jiwamu tak mampu lagi tegar

Kini di sisimu ada dia
Jujur ku kecewa
Tapi, mengertilah sayangku
Bahwa kepastian kebahagianmu
Membuatku harus rela melepasmu

Seiring dengan surat itu, tanpa ada kata putus aku mulai menjauh dari Shopia. Aku sadar memang salahku, yang mungkin tak pernah ada saat dia butuh. Melepas bukan karena telah tak cinta, Shopia mengajariku arti cinta sesungguhnya. Bahwa cinta sejati akan bahagia bila mendapatkan kepastian orang yang dicintainya bahagia, walaupun tanpa hidup bersama dan bahagia bukan karenanya. Jarak mengajariku arti menunggu, berjuang melawan terpaan waktu. Namun, ketika takdir memeluk erat, ku harus rela menerimanya. Walaupun duri di sela-sela sayapnya menghujam hati.

Cerpen Karangan: Arfian Pratama
Facebook: https://www.facebook.com/arfianrizky.cop
Anak Kediri yang bersekolah di salah satu SMA di Kabupaten Nganjuk.

Cerpen Harus Melepasmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Setengah Hati

Oleh:
“Aku bahagia. Karena Tuhan tak membiarkanku larut dalam kesedihan karena kepergianmu,” seruku kepada Dimas. Dimas. Dia pria yang aku sayang. Pria yang baik hati dan penuh pengertian. Kita pernah

Melepas Cinta

Oleh:
Aku bagai tersihir oleh seyuman dan tatapannya. Oh God apa yang harus aku lakukan? Aku tak dapat mengontrol lagi perasaanku kepadanya, dia benar-benar telah mengalihkan duniaku. Aku sekarang merasa

Ilusi Hati (Part 1)

Oleh:
LAKI-LAKI itu menekan beberapa tuts di atas piano melantunkan sebuah nada. Matanya terpejam rapat di tiap alunan melodi yang menyayat. Terkadang tangannya bergetar begitu melodi yang ia mainkan membawa

Pertemuan Singkat

Oleh:
Pertemuan antara kau dan aku terjadi begitu saja. Semuanya terasa begitu sederhana, tidak ada hal yang manis. Kau mengenalkan namamu begitu saja padaku, aku hanya bisa tersenyum mendengar namamu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *