Here (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Beberapa buku berserakan di atas meja. Tugas-tugas terlantar, karena tak kunjung ku kerjakan. Kertas-kertas masih kosong, putih, dan bersih tanpa coretan. Yang ku pikirkan hanya seseorang yang saat ini ku kagumi, teramat sangat ku kagumi. Masih terbayang jelas dalam ingatanku saat pertama kali aku berjumpa dengannya. Parkiran sekolah, itulah tempat awal pertemuanku dengannya.

Saat itu aku tengah menunggu temanku untuk pulang bersama. Ku lihat laki-laki yang mengenakan sweater warna hitam berjalan menuju motornya yang terparkir tepat di samping motorku. Aku benar-benar terpaku menatap sosok tampannya. Jantungku berdegup kencang kala ku lihat sepasang mata indahnya. Hingga tak ku sadari, Rossa teman yang ku tunggu dari tadi sudah berada di sampingku.

“lihatin siapa, Ra?” Tanyanya padaku yang sedang asyik menatap sosok laki-laki tampan tengah memarkirkan motornya.
“Hah, eu a, anu aku sedang mencari motorku. Aku lupa tempat motorku diparkirkan” Jawabku berdusta. Padahal aku tau tempat di mana aku memarkirkan motorku.
“Oh, aku nunggu di depan gerbang ya. Jangan lama-lama nyarinya!” Usul Rossa yang kemudian beranjak pergi.
Melihat laki-laki tampan yang sudah tidak berada di tempatnya pun, aku segera memarkirkan motorku dan beranjak pulang.

Ingatan itu adalah peristiwa yang tak pernah ingin aku lupakan. Rasa cinta pun tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku selalu diam-diam memperhatikannya. Aku pun mulai mencari informasi tentangnya kepada teman sekelas atau teman satu SMP-nya dulu. Akhirnya aku tahu namanya, kelasnya, hobinya, alamatnya, dan banyak hal lainnya. Beberapa orang pun juga sudah tahu perasaanku padanya, terutama Rossa, karena dialah orang yang pertama kali ku beritahu tentang perasaanku.

“Ra, Lyra, lihat! Itu Dio kan?” Ucapnya sambil menunjuk seseorang yang sedang bermain bola basket bersama teman-temannya.
Rona merah pun muncul di kedua belah pipiku saat ku dapati dirinya di antara anak-anak yang sedang bermain bola basket.
“Iya, jangan kencang-kencang dong! Nanti ada yang dengar” Pintaku pada Rossa sembari meletakkan jari telunjukku di atas bibirnya. Rossa hanya mengangguk.

Dio, dia adalah laki-laki yang ku ceritakan tadi. Laki-laki yang saat ini ku kagumi dan ku sukai. Laki-laki yang baik, pintar, rajin, dan seperti yang sudah ku bilang ‘dia tampan’. Setiap hari aku memikirkannya, merindukannya, mendoakannya. Ku simpan dalam-dalam perasaanku padanya, rasa cinta dan sayang yang teramat besar kepada sosok tenang Dio. Aku selalu bahagia tiap kali memandang wajah tampannya yang menenangkan. Aku selalu tersenyum saat menatap sepasang mata teduhnya yang mendamaikan perasaan. Dio, aku mencintai dia apa adanya.

Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai sadar. Aku sadar, aku bukan orang yang dicintainya, aku bukan orang yang disayanginya, aku bukan orang yang dirindukannya, dan yang pasti aku bukan orang yang berarti baginya. Aku selalu berharap dapat memiliki hatinya, tapi justru aku malah dapat luka darinya. Ia balas semuanya dengan mengabaikanku, mengacuhkanku, mencampakkan diriku. Dia balas senyumku dengan tatapan tajam bin sinis, seolah dirinya sangat tidak ingin melihatku. Namun, apa daya. Karena cinta yang sudah dalam inilah yang membuatku sulit melupakannya.

Biar pun Dio sudah mengabaikan, dan mencampakkanku, dengan bodohnya aku masih saja berharap lebih padanya. Aku masih suka menatapnya diam-diam, memikirkannya dalam sunyi, dan merindukannya dalam sepi. Tapi, sebenarnya hal itulah yang selalu membuatku menjatuhkan air mata. Mengingat bagaimana ia mengabaikanku, mengacuhkanku, mencampakkanku membuat hati ini terasa diiris, dan tertimpa jutaan batuan keras yang menghujam diriku. Semuanya terasa suram, aku merasa telah jatuh ke lubang yang sangat dalam dan gelap. Begitu menyakitkan, begitu menyayat hati sampai air mata pun tak lagi mampu mengungkapkan semua kepedihanku.

Ini semua seperti De Javu. Ini adalah peristiwa yang kedua kalinya aku dicampakkan dan diabaikan. Kenapa aku begitu bodoh sampai bisa jatuh dalam perangkap yang sama namun pelaku yang berbeda. Aku hanya ingin merasakan rasanya dicintai oleh orang yang aku cintai Ya Rabb! Tidak lebih. Air bening itu terus berjatuhan membasahi kertas-kertas putih bersih yang berserakan di atas meja. Rasa perih dan sesak menyerangku, hingga ku sulit bernapas.

Kepalaku terasa berat dan berputar-putar. Aku baru ingat, dari sepulang sekolah aku sama sekali tidak menyentuh makanan dan obat-obatku. Rasa sakit terus mendera. Ku raih obatku yang ada di dalam laci dan langsung ku minum sesuai takaran dokter. Sakit di kepalaku pun mulai reda. Aku adalah penderita kanker otak. Dokter memvonisku mengindap penyakit ini saat aku masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku yang saat itu baru menyadarinya bagai tersambar petir, namun Mama dan Papa selalu menyemangatiku.

“Lyra? Kamu belum tidur?” Terdengar suara Mama dari balik pintu.
“Lyra masih ngerjain tugas, ma” Jawabku, lagi-lagi aku berbohong.
“Kalau sudah selesai, langsung tidur ya!” Perintahnya yang hanya ku jawab dengan gumaman kecil.
Mengingat waktu yang kini menunjukkan pukul 21.00 WIB, aku pun mulai menekuni tugas-tugas sekolahku dan sesegera mungkin menyelesaikannya.

Pagi ini, dengan berat ku langkahkan kaki menuju sekolah, tempat di mana aku bertemu orang yang saat ini tidak ingin ku temui. Dalam hati ku berharap, hari ini aku sama sekali tidak ingin melihatnya. Namun, Tuhan tidak mengabulkan harapanku. Saat aku berjalan menuju ruang kelasku, di depan lab komputer aku berpapasan dengannya, Dio. Ku tundukan kepalaku agar aku tak melihatnya, dan ia pun hanya melewatiku begitu saja, seolah aku ini tidak ada dan tidak nampak. Ku hirup oksigen dalam-dalam, mencoba mengeluarkan beban dalam diriku. Ku lanjutkan langkahku menuju kelasku yang berada di lantai 3.

Di kelas, sudah ada Rossa yang menungguku. Ia sambut kedatanganku dengan senyum manisnya.
“Selamat pagi Lyra? Semoga harimu menyenangkan!” Sapanya ketika aku baru saja duduk di kursiku tepat di samping kirinya.
“Pagi juga Rossa. Sayangnya ini hari yang menyebalkan” Jawabku sembari mengerucutkan bibirku.
“Loh, memangnya kenapa?” Tanyanya, sambil memandangiku dengan tatapan yang sangat serius.
“Aku sedang tidak ingin bercerita, lain kali saja ku ceritakan” Ucapku, yang berhasil membuat dia layu.
“Oh ya, Rossa aku mau nitip sesuatu sama kamu” Ujarku sembari mengeluarkan secarik amplop berwarna ungu muda. Itu adalah surat yang ku tulis tadi malam setelah selesai mengerjakan tugas, surat yang ku tulis khusus untuk Dio.

“Nitip apa?” Ucapnya antusias.
“Tolong berikan surat ini kepada Dio jika aku tak dapat lagi menginjakkan kakiku ke sekolah ini” Jelasku sambil menyerahkan sepucuk surat tersebut kepada Rossa.
“Apa maksudmu?” Tanyanya kebingungan saat menerima surat itu dariku. Rossa memang tidak ku beritahu mengenai penyakitku ini. Maka dari itu aku menitipkan surat itu padanya.
“Lakukan saja apa yang sudah ku beritahu padamu!” Jawabku singkat, lalu mulai menekuni hobiku membaca novel.
Rossa hanya mengangguk pelan.

Cerpen Karangan: Luluah Nurwijaya
Facebook: http://facebook.com/ulue.wijaya
Tweet: @NurwijayaLuluah
Luluah Nurwijaya, siswi kelas X(10) SMA. Hobi menulis cerita, puisi, menggambar, dan membaca. Tinggal di daerah Karawang-Jawa Barat. Bagi yang ingin berteman Add facebook dan twiter saya.

Cerpen Here (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Terdiam

Oleh:
Berawal dari sebuah ketidak sengajaan. Aku tau dia bukan pria bisu. Usai menjalankan kewajibanku sebagai umat Islam -sholat, dan beristirahat aku membeli dua kantong kecil makan ringan untuk sebagian

Teristimewa

Oleh:
Semua berawal dari kesalahanku yang terlalu peduli akan setiap detail situasi, hingga pada suatu siang yang terik, aku menempatkan pandang pada sebuah objek spesial di antara objek lainnya. Hanya

Kenapa Harus Sahabat Ku

Oleh:
Dimulai dengan pagi yang sangat cerah. Seperti biasa Rangga selalu menjemputku untuk berangkat bersama ke sekolah. Hubunganku dengan Rangga sudah berjalan dari mulai kelas 2 SMA. Selama ini belum

Best Day of My Life

Oleh:
Mengagumi dalam diam itu sulit diungkapkan rasanya. Aku memang lebih suka mengagumi orang dalam hati, aku tak pernah bilang kepada siapapun karena aku tahu apa yang akan terjadi jika

Senyumanku Bukan Buatmu Lagi

Oleh:
Awalnya aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Melihat senyummu, dan melihat kedipan matamu ke arahku, dan kuterpana oleh lirikan dan senyumanmu. Ku mencari tau tentang dirimu bukan karena aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *