Here (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Rossa tengah duduk termangu sendirian. Wajahnya ia tekuk, tak ada senyuman yang biasanya selalu menghiasi wajahnya. “Where are you Lyra?” Gumamnya dalam hati. Ia amat sangat merindukan Lyra yang sudah seminggu lebih tidak pernah menampakkan dirinya di sekolah.
“Rossa, ini ada titipan surat dari Lyra. Tadi aku dititipi surat ini oleh Papa dan Mamanya” Ucap Siska yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Rossa.
“Dari Lyra? Iya terima kasih, Sis” Jawabnya yang langsung saja membaca surat itu.

“Dear Rossa,
Kesepian yah?! Maaf kalau aku menghilang begitu saja tanpa ada sebab. Aku tak bermaksud tidak ingin memberitahumu, aku hanya ingin kau tenang. Rossa, terima kasih sudah menjadi teman baikku selama ini. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku. Terima kasih sudah menemani dan mewarnai hari-hariku walau sedikit kusam. Maaf Rossa, aku tak dapat bermain dan bersenda gurau bersamamu lagi. Maaf aku tidak bisa menemanimu jajan di kantin lagi. Aku harus pergi! Tugasku sudah selesai. Aku percaya kau akan menemukan orang yang lebih baik dari aku. Jangan pernah tangisi kepergianku, Rossa! Doakanlah aku agar aku tenang dan ditempatkan di tempat yang indah ‘surga’. Jangan pernah berhenti untuk menebarkan senyummu kepada semua orang. I Miss You My Best Friend. Lyra.”

Air mata mengalir deras di pipinya. Rossa tak menyangka Lyra akan secepat ini meninggalkannya. Masih banyak yang ingin Rossa tunjukkan pada Lyra. Masih banyak hal bahagia yang ingin Rossa bagi bersama Lyra. Tapi, takdir sudah menentukan semuanya. Rossa terus menangis, kertas surat yang ada di genggamannya pun kini sudah basah oleh air mata. Ingatannya bersama Lyra terus berputar dalam pikirannya bagai sebuah film. Rossa lalu teringat akan surat yang dititipkan Lyra untuk Dio. Dengan secepat kilat Rossa langsung menemui Dio.

“Dio, tunggu!” Teriak Rossa saat Dio baru saja akan melajukan motornya.
“Ada apa?” Tanya Dio sambil membuka helmnya.
“Ini ada surat titipan dari Lyra” Jawab Rossa sembari menyerahkan sepucuk surat berwarna ungu muda kepada Dio.
“Lyra?” Gumam Dio sambil mengernyitkan dahinya berusaha mengingat gadis yang namanya disebutkan oleh Rossa.
“Tolong dibaca ya! Ku mohon” Pinta Rossa memohon agar Dio membaca surat dari Lyra.
Tanpa menjawab, Dio pun membuka amplop itu dan membaca suratnya.

“Dear Dio,
Mungkin kau tidak mengenalku. Ketahuilah, aku adalah gadis yang diam-diam selalu memperhatikanmu, mengagumimu, menyukaimu. Aku tahu, aku bukan orang yang pantas memiliki cintamu. Tapi, apakah salah jika aku mengagumimu, menyukaimu, mencintaimu, dan menyayangimu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, pelangi di setiap hariku, bintang di setiap malamku, dan mimpi di setiap tidurku. Terima kasih juga kau telah memberitahuku arti dari rasa sakit, rasa sesak, dan rasa perih yang mendera hati. Terima kasih sudah mengajariku arti patah hati dan rasa sakit dari sebuah perasaan.”

“Memang tidak mudah mencintai orang yang bahkan dia tidak mengenalku. Memang sakit ketika aku menyadari bahwa bukan aku orang yang ada di hatinya. Sangatlah perih memang, saat perasaanku hanya diabaikan, diacuhkan, dan dicampakkan oleh orang yang teramat kusukai. Apa kau pernah merasakan saat cintamu tak terbalaskan. Ketahuilah, aku hanya orang yang haus akan kasih sayang dan cinta. Aku pun mulai merasa letih dan lelah dengan semua balasan tak mengenakkan darimu.”

“Namun, melupakanmu bak mencoba mengingat seseorang yang tak pernah aku jumpai. Entah sampai kapan aku akan mencintai orang yang tak pernah mencintaiku, memperhatikan orang yang tak pernah ingin melihat keberadaanku, menyayangi orang yang tak pernah menyayangiku, merindukan orang yang tak pernah mengingatku, mengharapkan orang yang tak pernah mengharapkanku, dan membutuhkan orang yang sudah mencampakkanku. Aku tahu, bahkan sangat tahu, aku hanya sebuah angin yang tak akan pernah kau lihat keberadaannya.”

“Tapi ku mohon! Sekali saja aku ingin kau melihatku, sekali saja kau tersenyum padaku, sekali saja kau menyapaku dan berbicara padaku, sekali saja kau perhatikan dan kau pedulikan keadaanku, sekali saja kau ingat dan kau pikirkan aku, dan sekali saja kau beri aku kesempatan untuk merasakan kebersamaan berada di dekatmu, di sampingmu walau hanya sebentar saja. Terlalu berharap itu menyakitkan, Dio.”

“Mungkin, sekarang aku tak bisa lagi melihat wajah tampanmu, menatap mata teduhmu, dan memandang sikap tenangmu. Aku pun tak akan pernah bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh orang aku cintai. Asal kau tahu, Dio. Meski ragaku telah pergi jauh, aku tetap dan selalu mencintai dan teramat amat sangat menyayangimu. Jangan pernah menyesal setelah kau tak lagi bisa menemukanku! I Always Love You Now and Forever, Dio.
Lyra.”

Setelah membaca surat itu, Dio sadar telah mengabaikan orang yang sangat menyayanginya. Dia terlalu sibuk memperhatikan orang yang disayanginya sehingga tanpa ia sadari ada sesosok malaikat yang selalu melindunginya dalam setiap doa. Hingga akhirnya malaikat itu pergi saat Dio mulai menyadari arti kehadirannya.

The End

Cerpen Karangan: Luluah Nurwijaya
Facebook: http://facebook.com/ulue.nurwijaya
Tweet: @NurwijayaLuluah
Luluah Nurwijaya, umur 15 tahun yang hobinya bikin dan membaca cerita. Gadis berzodiak pisces ini penggemar cerpen dan novel. Bahkan legenda mengenai hal yang menyeramkan pun jika menarik akan menjadi bahan bacaannya.

Cerpen Here (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Ingin Kuungkapkan

Oleh:
Aku mengagumimu bukan karena tampanmu, kulit putihmu, harta orangtuamu, tapi aku mengagumimu karena ilmumu, imanmu, dan rendah hatimu. Aku memang bukan wanita salihah, berilmu, juga bukan anak orang kaya.

If You Know

Oleh:
Rishta Denia Tatapannya nanar, nafasnya terasa berat seketika. Berdiri tegak dengan pelengkap kerapuhan untuk kemudian berusaha ditutupinya. Perlahan, air matanya memanas, tetapi sekuat tenaga ia tahan hingga dadanya terasa

Karena Dia Melanggar Prinsipku

Oleh:
Sulit rasanya jika harus pura-pura tidak mencintai. Aku menyukainya dari pertama aku melihatnya. Tapi rasa cinta itu hanya aku yang tahu karena prisipku dan janjiku kepada diri sendiri bertolak

Love Takes A Hurt

Oleh:
Semburat cahaya jingga masuk melalui jendela kamarku yang berada di lantai dua. Senja. Senja telah tiba menyapaku yang sedang merebahkan badanku di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarku yang

Cinta Dan Cita

Oleh:
Gak.. Ini semua gak bisa kita mulai tanpa ada surat pernyataan bahwa kita yang akan mengurus acara ini “Kata-kata yang keluar dari bibir indahmu dan beberapa percikan air ludah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *