Hujan Dan Air Mata (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 21 April 2016

Sore itu aku jadi tahu, apa alasanmu mempertahankan kesendirianmu dan menolak banyak Royal Prince yang berusaha untuk memilikimu. Aku biarkan kau diam. Ya… ya, dan akhirnya lagu Jamrud itu terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Aku menatapmu iba. Wajahmu sendu, namun ku lihat matamu memerah. Ku tahu kantung matamu sudah penuh dengan air mata. Mengapa tak kau teteskan saja? Seolah terhipnotis, tanpa sadar tangan kananku menggenggam tangan kananmu. Aku sedikit geli melihat perbedaan kulitku dan kulitmu, bagaikan susu vanilla dan susu cokelat. Tentu milikkulah yang menjadi susu cokelat.
“Nangis aja Sa, jangan ditahan.” Ucapku sambil menatapmu sendu.
Kau mengatupkan kedua kelopak matamu, dan saat itu juga aliran sungai terbentuk di kedua pipimu, bersamaan dengan langit yang juga menangis.

Aku takut, setelah aku mendengar ceritamu. Kini Royal Princess telah bertemu dengan Royal Princenya. Aku selalu berusaha meyakinkan diriku. Tenang Stev, Lissa kan masih marah sama Kak David. Lissa kan udah bilang kalau sepertinya dia nggak akan nerima Kak David lagi. Lo nggak perlu khawatir. Itu yang selalu ku katakan pada diriku. Aku berusaha untuk tenang dan tak terlalu khawatir, namun tetap saja aku selalu takut. Terlebih ketika pelajaran musik, dimana aku selalu melihat Kak David memberikan pandangan yang berbeda untukmu tak seperti pandangan yang ia berikan untukku dan anak-anak lainnya.

Oktober 2013
Tadi sore seusai rapat tim jurnalistik, gerimis mengiringi tiap langkahku menyusuri koridor sekolah. Hatiku tak sekelabu awan sore tadi, aku merasa begitu bersemangat untuk pulang. Itu karena aku berharap kau tengah menunggu jemputanmu, sehingga aku dan kamu bisa menunggu jemputan bersama, karena ku tahu saat itu kau tengah latihan bersama tim orkestra. Langkahku ku percepat, ketika ku lihat kau tengah berdiri seorang diri beberapa meter di hadapanku. Namun mendadak langkahku terhenti, rasanya kakiku kaku ketika ku lihat Kak David tengah menghampirimu dari arah yang berlawanan denganku.

Ku lihat Kak David mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, lalu ia mulai mengusap hidungmu. Bisa ditebak, benda itu adalah sapu tangan atau tisu lalu dia membersihkan darah yang mengalir dari hidungmu. Oh, betapa perhatiannya dia, bahkan semenjak pertama kali aku tahu ada yang tak beres darimu, aku tak pernah berani untuk mengusap darah yang mengalir dari lubang hidungmu. Bahkan aku pun tak pernah melihat Agatha, Zahra, dan Azizah membersihkan darah itu. Berengsek! Kalian layaknya William dan Kate Middleton. Kau tahu? Benda kecil dalam diriku yang sering ku sebut hati ini terasa perih. Rasanya aku terserang penyakit Hepatitis B. Sakit sekali, meski aku tak pernah tahu bagaimana rasa sakit jika mengidap penyakit itu.

Februari 2014
Apakah kau ingat di sore itu, hari dimana kau memanggil-manggil namaku namun aku tak menghiraukanmu, hingga akhirnya kau terengah-engah dan membuat cairan merah itu mengalir dari kedua lubang hidungmu? Lalu aku mendekatimu dan berkata, “Maaf ya, aku nggak denger. Tadi lagi dengerin musik.”
Tahukah kau jika aku berbohong? Sadarkah kau jika aku menghindarimu? Maaf, sore itu aku harus bersandiwara karena aku tak ingin bersamamu. Kau harus tahu, jika aku terus bersamamu, maka aku harus menerima kenyataan bahwa kau dan Kak David adalah pasangan serasi. Sebuah kenyataan yang dengan terpaksa harus ku terima.

Maret 2014
Agatha mengatakan padaku bahwa kau mengira aku marah padamu karena aku selalu menghindar. Lalu ia mengatakan bahwa aku harus menghentikan semua ini. Jujur, aku ingin menghentikannya, tiga bulan menjauh darimu rasanya ada yang aneh dalam hari-hariku. Sungguh, aku ingin kembali dekat denganmu. Namun keinginan itu selalu saja hilang bila aku melihatmu dan Kak David pulang bersama, terlebih di kala hujan turun.

Agustus 2014
Hari ini kau masuk rumah sakit. Aku segera menuju ke sana begitu mendengar kabar itu. Setibanya di rumah sakit ku lihat Papa, Mama, dan Kak Eizel tengah menunggu di koridor rumah sakit. Di sana juga ada Agatha dan Azizah juga… Kak David. Berengsek! Kenapa ia sudah berada di rumah sakit? Kenapa dia tiba lebih dahulu dibandingkan denganku? Tidak..tidak, bukan masalah siapa yang datang duluan, namun masalahnya adalah mengapa aku harus berada di rumah sakit bersamanya?

April 2015
Aku senang kau sudah sadarkan diri dari tidur panjangmu semenjak bulan Agustus tahun lalu. Ingin rasanya aku menjengukmu, namun ada bisikan yang mengatakan agar aku membatalkan niatku. Bisikan itu mengatkan bahwa tentu ada Kak David di sisimu, maka ku urungkan niatku. Aku tidak benci Kak David, namun aku hanya tak ingin kalian tahu bahwa aku selalu salah tingkah jika hadir di antara kalian berdua.

Plakkk!!

Panas! Sebuah tamparan keras dari Agatha mendarat di pipi kananku. Membuat pipiku menjadi lebih hangat dari anggota tubuhku yang lain.
“Udah berapa kali gue memohon ke lo supaya lo dateng buat jenguk dia? Udah berapa kali gue minta ke lo buat muncul di hadapan dia walau cuma sepuluh menit aja Stev?” Tanya cewek bermata sipit itu sambil menatapku lekat. Tatapannya seperti serigala yang sudah dua malam belum makan yang tengah mengintai seeokor anak kijang yang baru lahir.
Aku diam sambil mengelus pipiku yang masih terasa panas.
“Sekali aja Stev, gue mohon banget. Sekali aja muncul di hadapannya. Apa lo nggak pengen ketemu sama dia?”

Aku masih diam. Kedua bola mataku menatap ke luar kafe dari balik jendela kaca ini. Di luar sana, orang-orang berlari kecil mencari tempat berteduh. Mereka yang mengendarai sepeda bermotor berhenti di bawah pohon untuk mengenakan mantel. Rintik hujan semakin deras.
“Stev, lo bisa ketemuan sama dia di suatu tempat yang hanya ada lo dan dia. Nggak ada orang lain, dan tentunya nggak ada Kak David.”
Aku tetap diam. Kedua bola mataku masih menatap jalan raya.
“Nggak ada yang tahu berapa lama lagi dia masih bisa hadir di dalam hari-hari kita. Gue mohon Stev.”
Ku dengar Agatha mulai terisak.

Juli 2015
“Steven..” Ku dengar suaramu dari arah kiri.
Ku putar badanku, ku dapati dirimu tengah berdiri di hadapanku sambil tersenyum manis. Aku menatapmu dengan datar. Kau segera menundukkan wajahmu, lalu menggigit bibir atasmu. Kau tatap tanah. Entah apa yang kau tatap. Mungkin kakimu, bebatuan atau mungkin kakiku.

“Oh ya, aku mau ngasih ini ke kamu.” Kau sodorkan sebuah buku padaku.
Mataku bertanya, “ini apa?”
“Itu, hasil hunting foto kita selama ini. Tiga minggu yang lalu, aku iseng aja lihat-lihat hasil hunting kita, dan tiba-tiba aja muncul ide buat nyetak itu dan dijadiin album.” Jawabmu seolah kau bisa membaca pertanyaan tak terucap dari kedua bola mataku.
Kedua bibirku mengerucut. Ku anggukkan kepalaku sambil menatap buku tadi. Sejujurnya kedua mataku ingin menatapmu, namun hatiku enggan melakukannya.

Ku lihat kau mengepalkan kedua tanganmu. Kau gigit bibir bawahmu. Kau kernyitkan keningmu, kedua alismu bertaut. Aku yakin pasti kau kesal dengan sikap diamku. Maaf jika sikapku membuatmu kesal, namun aku benar-benar merasa canggung.
“Ada yang mau diomongin lagi nggak?” Tanyaku tiba-tiba.
Bodoh! Ya Tuhan, mengapa aku melontarkan pertanyaan seperti itu padamu? Pertanyaan itu sama saja dengan kalimat “Udah nggak ada yang mau diomongin lagi kan? Kalau nggak ada gue mau pergi.” Kau menatapku dengan mimik wajah kaget, kau terlihat gelagapan. “E..eng..nggak ada kok. Udah, cuma mau kasih itu ke Steven.” Ucapmu kikuk. Kau segera membuang pandanganmu.

Lima menit berlalu. Segurat cahaya panjang berbentuk zig-zag tampak di langit pucat, sedikit menggantikan peran sinar sang mentari untuk menerangi pucatnya langit.
“E..Kamu pasti banyak acara ya? Maaf ya kalau udah ngebuang waktumu. Aku cuma mau kasih itu aja kok.” Ucapmu terbata-bata.
Kau menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahmu, menaruhnya di belakang kuping kananmu. Ku dengar napasmu terengah-engah, begitu jelas seperti suara kucing yang sedang tidur. Mau tak mau, aku terpaksa memandang wajahmu. Ku lihat darah mengalir dari kedua lubang hidungmu. Aku tak memberikan titah pada tangan kananku, tanpa izin dariku tangan kananku segera membersihkan darah itu. Kau terhenyak, segera menyingkirkan tanganku dengan lembut.

“Hidung kamu berdarah Sa.” Ucapku lirih, aku khawatir.
“Eh..nggak apa-apa kok.” Kau segera membersihkan darah itu.
“Sa, aku antar ke kamar ya?”
“Eh, nggak usah. A..Aku ke kamar sendiri aja.” Kau segera membalikkan badanmu sehingga memunggungiku, namun sesaat kemudian kau kembali membalikkan badanmu, hingga berhadapan denganku, “Aku ke kamar dulu.” Ucapmu lalu menarik napas dalam. “Maaf, kalau selama ini udah bikin Steven kesel.”

Dadamu kembang kempis. Aku yang hanya melihatmu merasa tersiksa, bagaimana denganmu yang mengalami susahnya bernapas?
“Sa, biar aku antar ke kamar.” Ucapku sambil meraih pergelangan tanganmu, menghentikan langkahmu. Kau menggeleng. Wajahmu sama dengan sore itu, pucat sepeti mayat hidup. Kulit tanganmu sedingin es batu. Bibirmu kering.
“Aku bisa sendiri.” Ucapmu nyaris tak terdengar.
Kau berusaha menepis tanganku, namun tak berhasil. Bukan genggamanku yang terlalu erat, namun tepisanmu ku rasa tanpa kekuatan.

Kau mengusap hidungmu lagi. Sungguh, aku tak akan membiarkanmu menuju kamar rawatmu seorang diri.
“Sa, ayo aku antar ke kamarmu.”
Kau menggeleng. Dadamu kembang kempis, kau pejamkan kedua matamu. Ada sebuah garis berwarna lebih tua dari warna kulitmu di kedua pipimu. Kau mengusap garis itu, membuatnya tampak samar.

“Sa…”

Kau mulai terisak. Kau pandang aku lekat, aku balas memandangmu lekat. Air bening kembali mengalir dari kedua matamu. Aku menatapmu lembut. Ingin rasanya ku hapus air matamu, namun pergerakan tanganku tertahan. Kau memandangku sayu lalu dengan sekali gerakan kau rangkulkan kedua tanganmu pada tengkukku. Aku terhenyak, lagi. Isakanmu semakin jelas, dicampur dengan suara napasmu yang semakin tak beraturan.
“Ke mana aja selama ini?” Tanyamu sesenggukkan.
“Jangan pergi lagi. Aku minta maaf kalau udah bikin kamu marah.”

Lissa, kau tahu? Aku tak pernah marah padamu, aku hanya marah pada perasaanku. Mengapa harus ada sakit yang ku rasa? Ah, aku benci perasaan itu.
“iya, aku nggak akan pergi lagi.” Ucapku sambil mengusap rambut hitammu dengan lembut.
“Aku sayang sama kamu. Jangan pergi.”
“Aku juga sayang kamu. Sayang banget..” Ucapku lirih, dan… perih.
Gerimis perlahan turun. Kau masih terisak. Kau tahu? Aku bersyukur hujan mulai turun, karena tanpa kau sadari aku menangis.

Menangis karena akhirnya aku bisa mengucapkan kata itu padamu. Menangis karena aku tahu sayangmu padaku sama dengan rasa sayangmu untuk Adit, Vano, Agatha, dan sahabatmu yang lainnya. Menangis karena aku yakin bahwa memang rasa sayangmu untukku tak sama dengan rasa sayangku untukmu, karena saat ini, di hadapanku, Kak David tengah berdiri sambil membawa payung. Aku yakin kau menyadari kehadirannya. Dan aku yakin Kak David mendengar kau mengucapkan kata sayang padaku.

Selesai di Wonosobo, Selasa 24 Juni 2014 06:30 WIB

Cerpen Karangan: ImaRosyi
Blog: http://imarosyi.blogspot.com
ImaRosyi merupakan pelajar SMK yang membutuhkan sumbangan suplemen peninggi badan.

Cerpen Hujan Dan Air Mata (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Julita

Oleh:
Dipagi hari, aku ditemani oleh secangkir kopi mocacino. Pandanganku terpaku pada sudut jendela kamarku yang terlihat oleh cahaya matahari pagi, dan diselimuti hawa dingin yang terasa sampai dalam hati.

About You

Oleh:
Oke, cinta memang tak pernah salah. Ia akan menentukan sendiri kemana muara yang ia tuju. Tapi bagaimana nasib cintaku? Salahkah aku bila mencintai cowok seperti ini. Agustus 2015 “Lagi

Kau, Aku dan Dia

Oleh:
Adakah yang percaya bahwa sepasang sahabat pria dan wanita bisa menyayangi dengan tulus dan tidak berharap saling memiliki? Aku percaya. Dan itulah kami berdua. “Kalau aku suka sama kamu

Jarum Cinta

Oleh:
Melati hari ini datang paling awal di kelas, karena hari ini dia ada tugas untuk piket. Saat dari rumah suasana hati melati sudah sangat gembira bagaikan kupu kupu yang

Terimakasih Sudah Membohongiku

Oleh:
Seperti pagi-pagi biasanya, aku sudah berdiri dengan seragam lengkap dan sebuah sandwich di tanganku. Aku menunggu dengan sedikit gelisah, karena akhir-akhir ini Reno sering sekali datang terlambat menjemputku, terkadang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hujan Dan Air Mata (Part 2)”

  1. Dinbel says:

    Jadi terharu bacanya, kerens banget ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *