Hujan Di Tengah Gerhana Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Hari berganti hari, minggu telah berganti minggu lagi. Tak terasa seiring berjalanya waktu, tubuh manusia akan terus bertumbuh dan usia kita hidup akan terus berkurang. Dimana ada suka cita, di situ juga pasti ada duka. Ya, inilah yang dinamakan hidup. Akan ada berbagai macam kejadian aneh yang mungkin akan terjadi tanpa kita sadari berlalu lalang di kehidupan ini. Mungkin ada kalanya kita kan merasa lelah dengan semua rekayasa dunia yang harus kita hadapi. Rasanya ingin melambaikan tangan ke kamera atau goyang dumang karena sudah tak sanggup lagi dan ingin mengakhiri semua jika semudah itu. Tetapi ada kalanya juga jiwa dan raga kita terasa semakin hidup di dunia. Rasanya seperti telah berada di surga (Tak ada duka dan luka, melainkan hanya ada Kebahagiaan). Itulah yang semua orang akan rasakan, pernah rasakan, bahkan sedang rasakan (termasuk diriku). Terutama setelah mengenal hal kecil yang sering disebut “CINTA”.

“Citraaa!!” sapa Reni dari kejauhan dengan excited.
“Hmm, pasti mau minta diajarin lagi kalau ujian nanti.” Pikirku dalam hati dengan ekspresi lesu.
“Citra, nanti biasa ya!!” katanya seraya merangkul pundakku.
“Biasa apa? Traktir kamu? Aku lagi gak ada uang.” kataku pura-pura gak tahu.
“Ye, yang itu mah udah pasti. Nanti jangan lupa ajarin aku waktu ujian nanti, OK!” katanya kembali.

“Hmm, gimana ya? Wani piro?” kataku sambil menadahkan tangan -seperti meminta uang.
“Ih, kamu mah gitu. Kalau gak mau, nanti tante cium nih 100 kali (bonus hari ini).” Katanya sambil terus menggodaku.
“Aaaaa, takut dicium sama nenek girang.” Teriakku sambil berlari-lari menghindar dari Reni. Sampai pada akhirnya bertabrakan dengan seseorang.
“Aduh! Maaf ya!” kataku refleks latah.
“Aduh, ya gak apa-apa. Lain kali jangan lari-larian ya?” katanya bijaksana.

Terdengar seperti suara seorang lelaki. Refleks aku langsung menatap wajahnya. Kulitnya yang putih dengan sedikit bulu di atas mulutnya, tinggi yang kurang lebih 170 cm, mata yang indah dengan dibalut sebuah kacamata berframe hitam polos, bibir yang tipis dan hidung yang lumayan mancung. Aku dapat melihatnya dengan detail. Sekilas terdengar samar-samar suara setengah berbisik yang berasal dari lelaki itu, “Dasar anak kelas 10, watak TK kok masih dibawa sampai sekarang.” Entahlah, sekilas lelaki itu mirip seseorang yang sangat aku kenal dulu cinta pertamaku.

Saat itu, sekolah dasar kami sedang melaksanakan UTS (Ulangan Tengah Semester). Saat UTS, anak kelas 4 satu ruangan dengan anak kelas 6. Sebelum melakukan ulangan, kami belajar terlebih dahulu di dalam kelas -ruangan. Saat tengah belajar, ada kakak kelas 6 yang memanggil namaku sambil mengejek, “Citra Citra ini Abdul.” Begitulah cara anak SD mengejek. “Cie Citra, cie Abdul.” Begitulah mereka mengejekku.

Pertamanya, aku masih mengacuhkan ejekan mereka. Tetapi makin lama makin banyak juga yang mengejekku, bahkan temanku pun ada yang ikut mengejekku. Abdul adalah cowok kuntet berkulit hitam dengan badan yang kurus -mungkin mirip jenglot berjalan. Karena makin lama, makin banyak yang mengejekku, maka aku bertekad untuk membalas dendam pada kakak kelas itu -kakak kelas yang memulai mengejeku. Setelah mencari tahu tentang dia dari temen-temen kelas, akhirnya aku menemukan nama dan alamat kakak kelas tersebut. Kakak kelas itu bernama Muhammad Reza Farizky yang sering dipanggil Reza. Dia tinggal di komplek yang sama dengan komplek rumahku.

“Citra ini Abdul.” Itulah yang selalu dia katakan jika dia berpapasan denganku. Aku selalu mengacuhkan ejekannya, tetapi terkadang aku balas dengan sebuah timpukan batu kerikil. Jika aku melakukan itu, kita pasti akan perang batu kerikil. Tanpa aku sadari ternyata aku senang melakukan hal-hal itu. Entahlah karena apa, yang pasti aku senang diajak bermain-main dengan Kak Reza. Setelah itu aku sadar bahwa aku menyukainya. Kita bahkan saling mencari nomor Hp masing-masing dari teman-teman kita. Setelah mendapatkan nomor Hp masing-masing, kami pun salling mengirimkan pesan. Sampai pada akhirnya dia mengajakku untuk pulang bareng, ajakannya langsung saja ku terima dengan respon yang sangat baik.

Di hari H -hari yang dinanti-nantikan, pulang sekolah kami pun pulang bersama berdua. Di jalan kami bersenda gurau sambil ketawa-ketawa bahagia. Kami sudah seperti pasangan yang serasi -dari sisi yang kami lihat. Tetapi mungkin pandangan orang lain kami adalah sepasang kakak beradik yang sedang pulang bersama menuju rumah. Selang beberapa hari setelah momen itu, Kak Reza beserta keluarganya pindah ke luar kota karena ada urusan keluarga. Mereka sudah tidak tinggal di rumah itu -rumah lamanya di komplek kita- dan Kak Reza pun sudah tidak bersekolah di sekolahku kembali. Semenjak kejadian pindah itulah aku tak pernah melihatnya lagi. Tak tahu mereka tinggal di mana. Tak tahu Kak Reza bersekolah di mana. Yang jelas kami tahu mereka masih hidup. Yang aku tahu sampai detik ini adalah dialah Cinta Pertamaku.

Hari ini hari pertamaku mengikuti UTS di SMA. Kebetulan kelasku satu ruangan dengan 12 IPA 2. Anak-anak kelas 12 IPA 2 itu terkenal dengan anaknya yang gila-gila -Sekiranya cocoklah dengan kelasku yang sama-sama kelas gila. Saat melihat anak-anaknya, entah mengapa sorot mataku tertuju pada Mysterious -sebutanku pada seorang lelaki yang aku tabrak tadi. “Cit, kira-kira siapa ya pengawas hari ini?” Tanya Reni yang tak ku respon sama sekali. “Cit? Citra?” dia mulai mengguncangkan badanku. Seakan baru sadar, aku sedikit terkejut melihat wajah Reni yang sudah tepat di depan mataku, “Astagfir, RENI..” kataku sedikit berteriak. Sekarang Reni yang lebih kaget dariku, dia hanya bisa nyengir kuda.

Tak lama para pengawas mulai datang, dari mulai yang paling galak sampai yang paling cuek sekaligus. Terlihat jelas seorang pengawas datang dengan membawa map yang di depannya tertulis R. X (ruang kelas ujianku). Pengawas tersebut mulai membuka pintu ruangan dengan sebuah kunci. Setelah itu pengawas masuk ruangan disertai anak-anak dan mulai mencari tempat duduk. Sebenarnya aku sudah mengenal salah satu anak dari kelas 12 IPA 2 ini bernama Koko. Jujur aku punya pengalaman buruk dengan anak yang namanya Koko itu, karena dia adalah mantan dari sahabatku waktu SMP. Jadi, “Semoga kali ini aku gak duduk bersebelahan dengan Koko.” Doaku dalam hati. Tetapi inilah yang dinamakan takdir -yang tidak dapat dipungkiri, aku duduk bersebelahan dengannya. Sedangkan Reni duduk di pojok depan dekat dengan meja pengawas. Aku juga melihat Mysterious duduk di pojok depan dekat dengan pintu ruangan.

Mata pelajaran ujian kali ini adalah PENJASORKES (Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan), pengawasnya adalah bu Nia -guru bahasa jerman. Karena aku gak terlalu pintar dalam bidang Olah raga, akhirnya aku bertanya pada temanku. Contek mencontek ataupun tanya jawab waktu ulangan adalah hal yang biasa dilakukan anak-anak di SMA-ku -bahkan mungkin sekolah lain. Kakak-kakak kelasku justru lebih parah -browsing lewat mbah google. Setelah mendapatkan jawaban, aku pun memberikan jawabanku ke temanku yang lain yang juga meminta jawaban padaku.

Salah satu teman yang bertanya padaku adalah Tina, “Cit, nomor 4 udah?” Tanya Tina.
“Ini jawabannya.” Jawabku sambil memberikan jawabannya pada Tina.
Tak lama kemudian, Luna -temanku yang duduknya di depan Tina- juga menanyakan nomor yang sama. Karena aku sudah memberikan jawabanku pada Tina, agar lebih efektif aku berkata, “Lun, lihat aja jawabannya Tina! Tadi aku udah ngasih tahu jawabanku ke dia.”
“Tinanya gak mau ngasih tahu jawabannya Cit.” kata Luna setengah kesel. “Please bantuin aku.” Lanjutnya sedikit memelas.

Karena aku sedikit iba padanya akhirnya aku memberikan jawabannya. Di tengah-tengah sedang memberi jawaban pada Luna, tiba-tiba bu Nia berbicara, “Citra jangan berkerja sama dengan temannya, sekali lagi Ibu lihat kamu berkerja sama, Ibu ambil kertas jawabanmu.” Katanya dengan tatapan mengerikan.
“Emang mana sih yang namnya Citra?” Kata Mysterious tiba-tiba selang beberapa menit setelah bu Nia selesai berbicara. Koko langsung menunjuk tangannya ke arahku -menandakan bahwa akulah yang bernama Citra. Setengah malu, takut, dan juga kesal, mukaku mulai memerah tanpa tidak sadar.

Sejak kejadian itu, aku jadi lumayan dikenal kakak kelas dengan sebutan Citra Kirana -nama artis yang main di tukang bubur naik haji sebagai Rumanah. Padahal kan nama asliku Citra Amalia Putri -ini semua gara-gara Koko, kalau aja dia gak sering manggil aku Citra Kirana, pasti gak aka nada sebutan itu buatku. Tapi setelah dipikir-pikir, karena Koko juga aku jadi bisa dikenal sama Mas Rizky (si Mysterious). Entahlah aku harus berterima kasih padanya atau justru membencinya. Saat hari terakhir UTS, aku sudah selesai dan mengumpulkan kertas jawaban ke meja pengawas. Kemudian ke luar kelas melewati Mas Rizky yang duduk di pojok kanan depan dekat pintu. Lalu ..

“Citra, Bang Robinya mana? Lagi jual bubur sama Mad Solar ya?” katanya dengan nada mengejekku. Sontak aku langsung cepat-cepat ke luar ruangan karena salah tingkah ketika Mas Rendi memanggilku. Jantungku langsung berdegup kencang, darahku juga mengalir lebih cepat, buluku berdiri menandakan aku merinding -kok jadi kaya abis ngelihat penampakan ya? Intinya itu menandakan aku grogi dan salting (salah tingkah) saat itu.
“DORR..” Reni mengejutkanku dari belakang.

“Lagi mikirin apa sih neng? Kok tatapannya sampai gitu banget? Kaya baru ngelihat Michael Jackson bangun dari kubur.” Lanjut Reni khawatir setengah bercanda -mungkin dikiranya aku lagi kesurupan kali ya. “Cit? Cit? Hello..” Katanya setengah berteriak sambil melambai-lambaikan tangan persis 5 cm di depan wajahku.
“Eh, iya Ren. Kenapa?” jawabku seakan baru tersadar oleh suatu hipnotis.
“Kamu kenapa sih say? Kok jadi aneh gini? Cerita dong sama aku!” Kata Reni mulai mencoba menggodaku lagi.
Aku hanya bisa terdiam dan berbisik dalam hati, “Ya Tuhan, inikah rasanya jatuh cinta kembali.”

Hari terus berganti, pagi hari ini seperti ada yang berbeda. Entahlah, hanya terasa sedikit hawa kegembiraan menyambutnya. Mungkin karena burung-burung yang terus berkicauan seperti saling menyahut satu sama lain. Langit pun seakan bersahabat dengan awan yang terlihat saling tersenyum. Kaki mulai berjalan selangkah demi selangkah menuju gerbang ilmu. Waktu seakan terus berlari cepat sampai bel berbunyi menandakan jam ketiga telah usai dan berlanjut ke jam berikutnya. Saat itu aku dan Tania izin untuk pergi ke kamar mandi. Sebelum masuk kamar mandi, aku melihat Mas Rizky sedang bersama pacarnya duduk di sudut depan kamar mandi. Terlihat air yang terus mengalir dari wajah sang pacar. Aku langsung masuk kamar mandi sambil sedikit mendengarkan yang mereka bicarakan. Tania menungguku di luar kamar mandi sambil ikut mendengarkan yang mereka berdua bicarakan dengan pura-pura tak mengurusi mereka berdua.

“Udahlah, aku udah cape berantem terus sama kamu. Mungkin ini yang terbaik buat kita berdua. Maaf ya? Kita pu..” kata Mas Rizky pada pacarnya. Tetapi belum selesai Mas Rizky bicara pacarnya langsung nangis dan mencegat omongannya, “Jangan ngomong gitu.”
“Tapi kan kamu duluan yang minta kita buat putus.” kata Mas Rizky.
“Aku gak mau..” kata pacarnya yang belum selesai berbicara. Belum selesai mereka berbicara, aku sudah ke luar dari kamar mandi dan menuju kelas kembali. Setelah mendengar semua itu, perasaanku jadi campur aduk. Antara senang atau sedih, aku tak tahu.

TING TONG TING TONG

Waktunya pulang, aku berjalan melewati taman belakang sekolah. Tiba-tiba Mas Rendi ke luar dari kamar mandi taman dan berpapasan denganku sambil menyapa, “Citra Kirana.” Sapa Mas Rizky sambil mengulas senyuman manis di bibir tipisnya. Lagi-lagi karena telanjur grogi dan salting aku hanya menjawab dengan seulas senyum yang penuh makna. Setelah kejadian-kejadian itu, aku mendengar bahwa Mas Rizky telah putus dari pacarnya dan anehnya setiap berpapasan denganku juga sering tegur sapa juga saling mengulas senyum. Hari-hariku jadi lebih indah ku jalani di sekolah ini.

Kabar mengejutkan lagi-lagi datang padaku, setelah kurang lebih 2 minggu Mas Rendi putus, akhirnya mereka balikan lagi. Tetapi sikap Mas Rizky pun berubah padaku. Dari yang dulu suka tegur sapa kalau berpapasan atau saling melempar senyum, sekarang jadi lebih suka diam. Hanya sesekali saling menatap lalu jalan kembali seakan tak pernah kenal sebelumnya. Hati mulai risau, gemuruh dan hujan dalam jiwa mulai berdatangan sehingga membuat sakit di jiwa sampai pada akhirnya pertemuan kembali di ujian semester. Hari terakhir ujian semester tepatnya saat jam istirahat, ruanganku dengan ruangan Mas Rendi berbeda. Aku sedang belajar mata pelajaran berikutnya. Tiba-tiba gerombolan Mas Rizky datang ke arah anak-anak kelasku. Betapa terkejutnya aku Mas Rizky langsung duduk di sebelahku, lalu melihat ke arah mukaku dan berkata, “Citra Kirana.” Sambil memperlihatkan senyum dan lesung pipitnya yang menghiasi wajahnya menjadi lebih manis jika dilihat dari dekat.

“Haaa..” kataku dengan mulut yang dibiarkan menganga.
“Kenapa?” kata Mas Rizky dengan raut wajah heran dan alis yang menekuk.
“Eh, i-iya Mas, Gwaenchanh-a (Gak apa-apa),” kataku sedikit gagap.

Setelah itu Koko menggodaku dengan Mas Rizky yang lama-lama makin menjadi, “Citra Kirana kok sama playboy cap buntut kaya Rizky ya? Amazing. Ren, dewi fortuna sedang memihakmu.” Kata Koko entah mengejek atau justru memujiku. Karena tak tahan dengan ejekan Koko akhirnya aku memutuskan untuk pindah tempat, yang berarti menjauh dari Mas Rizky. Tetapi Mas Rizky masih melihat ke arahku dengan tatapan yang penuh makna. Mata cokelat indah nan jernih satu ini sangat jarang dimiliki orang Indonesia, tapi dia memilikinya dan menatapku dengan mata itu.

Aku merasa Mas Rizky semakin jauh dariku, setelah kejadian itu aku sama sekali tak pernah bertemu dengannya. Saat aku cari tahu tentangnya, banyak hal-hal aneh yang aku temukan. Seperti nama lengkapnya Muhammad Reza Farizky dan tempat tanggal lahirnya yang sama persis dengan Kak Reza. Apa mungkin dialah cinta pertamaku? Pertanyaan itulah yang selalu mengelilingi hati ini. Selain itu mereka juga punya persamaan fisik seperti tahi lalat yang sama-sama ada di pipi kanan dekat bibir. Apa benar mereka adalah satu orang yang sama? Lagi-lagi muncul pertanyaan-pertanyaan itu seketika. Mungkin mereka adalah satu orang yang sama.

Lama tak mendengar kabar Mas Rizky, aku pun melakukan kegiatan seperti biasa. Kali ini aku pergi ke kamar mandi sendiri. Lalu tak sengaja terlihat seorang lelaki dan perempuan yang sepertinya tengah berpacaran. Saat itu aku tak terlalu melihat siapa orangnya. Ku langkahkan kaki mendekati sepasang kekasih itu. Betapa terkejutnya aku saat melihat kawanku Reni tengah asyik berpacaran dengan Mas Rizky di pojokan kamar mandi sekolah. Ku dekap mulutku dengan kedua tangan sebelum aku berteriak. Tanpa sadar air mata mengalir cepat di wajah ini tanpa berhenti. Sakit bukan main hati dan jiwa ini melihat semua kejadian ini. “Mengapa harus sahabatku yang melakukan ini? Mengapa harus bersama orang yang aku cinta? Mengapa ya Tuhan?” teriakku dalam hati.

Benci, marah, sedih, menyesal, tak dapat menerima keadaan, emosi, dan sakit hati rasanya campur aduk jadi satu. “Mengapa harus kalian yang tega melakukan ini? Apa salahku? Siapa yang harus aku salahkan?” pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar-putar seakan tak ada yang bias menjawabnya. Tapi aku lebih memilih diam, berpura-pura tak tahu keadaan yang sebenarnya, berpura-pura menerima semua keadaan, dan menjawab semuanya dengan senyum di seulas bibir tipis ini. Keadaan inilah yang ku takutkan selama ini. Seperti hujan di tengah gerhana matahari. Yang akan datang di saat waktu yang tidak tepat. Aku harap hanya aku yang merasakan kesedihan dan kepahitan cinta seperti ini. Seperti yang aku katakan pada awal cerita. Dimana ada suka cita di situ juga ada duka yang mendalam.

Cerpen Karangan: Cakrawati
Blog: http://cakrawati05.blogspot.co.id
Hai guys kenalin namaku Cakrawati *inget Cakrawati bukan Cakra Khan. Aku lahir di kota Tangerang, 5 Maret 2000, dan saat ini aku tinggal di Kabupaten Pemalang. Ya perubahan drastis, dari yang biasa pakai bahasa Indonesia dalam sehari-hari dan sekarang (terpaksa) harus menggunakan bahasa jawa yang sangat amat tidak bisa ku lakukan. But life must go on, gak ada waktu buat menyerah. Singkatnya, sebagian besar cerita pendek ini adalah pengalaman nyataku yang penuh kegalauan *maklum aku itu langganan jadi korban php. Nikmati tulisan dan persembahan dariku and the last jangan jadi galawers kayak aku yes. Mohon maaf kalau tulisannnya jelek, ceritanya garing, ataupun gak nyambung. Pesan dan saran selalu ditunggu, thanks ^_^

Cerpen Hujan Di Tengah Gerhana Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepenggal Kisah: Necessary 1st (Part 2)

Oleh:
Dengan santai aku hendak melangkahkan kakiku ke luar ketika anak-anak yang tadi berfoto menghampiriku. Ada apa? Tanyaku dalam hati. Mereka menghampiriku dengan wajah sangar dan mulai mengelilingiku. “Heh, mau

Balasannya

Oleh:
Riko, begitulah teman teman memanggilku. Aku sekarang bersekolah di salah satu SMP ternama di Jakarta. Kebetulan hari ini adalah masa penerimaan siswa kelas 7. Belum lama aku pindah dari

Tragedi Sebungkus Siomay

Oleh:
Nama gue Mya. Gue kelas X-C. Baru sekitar 3 bulan ini gue resmi jadi anak SMA. Siang ini, saat istirahat ke-2 Rara ngajakin gue jajan di kantin beli siomay.

Kau Yang Terindah

Oleh:
Kata orang masih cinta monyet jika kita menyukai seseorang di usia kita yang duduk di bangku SD. Bagiku itu mungkin juga, namun yang aku sukai dia jauh di atas

My Love

Oleh:
Perkenalkan nama gue M iqbal saat gue duduk di bangku smp kelas 8 gue baru mengenal yang namanya cinta. Dan cinta pertama gue adalah rachel. ya, dia cewek yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hujan Di Tengah Gerhana Matahari”

  1. cakrawati says:

    makasih cerpenmu udah di achieve cerpen buatanku ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *