Hujan Kemarin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 September 2017

Matahari bersinar malu-malu di balik awan kelabu. Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat matahari yang tak sepenuhnya akan bersinar terang hari ini. Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi. Aku tertegun sejenak, mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam. Aku merasa mataku bengkak. Tak terasa, mataku memanas. Bulir-bulir air menetes di pipiku. Aku segera mengusapnya dan ingin berhenti memikirkan apa yang terjadi semalam. Aku beranjak dan segera pergi mandi.

Aku meringis ketika melihat mataku di pantulan cermin. Mataku menjadi bengkak karena menangis. Sungguh tak bisa dipercaya. Entah berapa lama aku menangis semalam. Dan aku merasa bodoh menangisi cowok itu. Yah, cowok itu. Sejak semalam aku mulai membencinya. Memang kami tidak memiliki hubungan apapun, namun untuk beberapa waktu ia terlibat dalam kehidupanku. Aku merasa nyaman dan tak keberatan ia ada di hidupku.

Suatu hari di bulan November
Seperti biasa, pagi ini matahari bersinar terang. Tak ada awan kelabu yang menghalanginya untuk bersinar. Dan aku sangat menyukainya. Aku berangkat ke sekolah dengan bersemangat. Sesampai di sekolah, untuk menuju kelasku aku harus melewati kelas sebelas. Karena aku adalah anak kelas 12 jadi aku tak terlalu membenci hal ini.

Tapi hari ini, tak seperti biasanya. Ada seorang cowok yang menyapaku. Lesung pipinya dalam, dan dia manis. Tapi aku tak terlalu mengingatnya, tapi wajahnya sangat tak asing. Aku sempat termenung mengingat-ingat di mana kiranya aku pernah melihat cowok ini. Aku melihat cowok di hadapanku dengan tatapan agak menelusup hingga membuatnya mungkin sedikit gugup. Aku hanya menahan tawa karena selalu berhasil membuat seseorang gugup karena tatapanku. Aku balas tersenyum padanya lalu segera pergi.

Aku hanya bisa diam melihat air-air itu jatuh dari langit dan membasahi bumi. Matahari tak lagi brsinar karena ditutupi awan kelabu. Aku tak menyukai ini. Walau aku sendiri tahu hujan adalah rahmat. Jam sekolah telah 1 jam yang lalu usai. Dan aku masih di sekolah. Tak bisa pulang. Tak bisa berbuat apa-apa. Terbersit hal gila di kepalaku. Yaps! Mandi hujan.

Aku langsung mengiyakan apa yang ada di benakku. Dan langsung berlari ke luar kelas. Sudah lama sekali aku tak melakukan hal ini. Aku membasahi diriku tanpa mempedulikan seragamku. Berlari-lari sendiri di lapangan basket. Mencoba menghilangkan kepenatan. Aku terhenti sejenak, aku mulai sadar, saat ini bukan hanya aku yang bermain hujan tapi ada dua anak cowok di lapangan futsal sedang bermain bola. Lalu tanpa berpikir panjang aku menghampiri mereka.
Aku mengenali satu di antara mereka berdua. Cowok tadi pagi yang menyapaku sedang tersenyum melihat kedatanganku. Aku hanya terpaku melihat lesung pipinya, sangat manis. Aku tersenyum kikuk melihatnya. “Hai,” sapanya padaku.

“Ohh hai” balasku gugup. Entah mengapa aku harus gugup berhadapan dengannya saat ini, padahal tadi pagi akulah yang membuatnya gugup karena tatapanku. Dan detik berikutnya aku teringat siapa namanya. Dika. Anak kelas 11 yang saat kelas 10 dulu aku sering menemani sahabatku bertemu dengannya. Mengobrol banyak hal tentang SMP mereka. Mereka satu SMP dulu dan sekarang satu SMA. Aku hanya melongo medengarkan dan menjadi orang sok tahu seperti biasanya.
“Enggak takut sakit kak mandi hujan? Kan dingin,” tanya Dika.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Ditanyain kok malah senyum sih kak. Atau jangan-jangan kakak emang udah sakit?” tanyanya lagi dan sedikit membuatku dongkol. Tapi aku mendengar nada khawatir dari pertanyaan itu.

“Engga kok, aku mah orangnya kuat. Gak gampang sakit Cuma karena kena hujan doang.” Jawabku santai. “Emm.. aku pulang dulu yah, hujannya juga udah mulai berhenti nih, daaahh” tambahku sembari pergi. Sebelum benar-benar pergi, sekali lagu aku menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat wajah itu. Wajah manisnya yang tak bosan untuk dipandang.

Keesokan harinya aku bertemu lagi dengan Dika di depan kelasku. Aneh, pikirku. Mau apa dia di sini. Apa dia mencariku? Oh sungguh, pikiran konyol macam apa itu. Untuk apa dia mencariku, kami pun bukan dua orang yang berteman sangat dekat hingga memerlukan satu sama lain di suatu waktu. Aku segera masuk kelas dan membuang pikiran konyol itu.

Ketika jam sekolah usai, hujan kembali turun. Aku bertanya-tanya kenapa hujan harus turun disaat jam sekolah usai. Apa dia tak mengerti keadaanku? Apa dia tak tahu kalau aku tak menyukainya? Damn it! Lagi-lagi aku tak bisa pulang. Aku hanya bisa duduk di teras sambil memainkan ponselku tak berniat untuk mandi hujan lagi seperti kemarin. Dari kejauhan aku melihat Dika sedang bermain dengan temannya dibawah rintik hujan. Mereka terlihat asik tanpa beban. Berlari-lari layaknya anak kecil tanpa dosa yang tak mengetahui betapa kejamnya hidup di dunia ini. Aku merasa ingin ikut, tapi aku malas. Aku meringis kedinginan lalu kembali pada ponselku.

Ketika aku sedang asyik dengan ponselku, aku merasa ada orang yang sedang memperhatikanku. Dan benar saja, sekarang ada Dika di depanku. Jarak kami kurang dari 1 meter. Dia tersenyum menatapku. Aku terpaku melihatnya. Dia melangkah maju, semakin dekat. Dan sekarang kami sudah benar-benar dekat.

“Engga mandi hujan lagi kak?” tanya Dika sedikit ragu.
“Engga. Emm.. kamu engga usah manggil aku kakak deh, panggil nama aja. Ayu. Kalo aku di panggil kakak kayak yang tua banget. Kan engga lucu” jawabku seenaknya.
“Oke Ayu. Sebenernnya aku juga males manggil kamu pake kakak.”
Aku hanya tersenyum nanar mendengar jawaban itu. Tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Untuk beberapa saat kami hanya diam. Yang terdengar hanya suara rintik hujan. Samar-samar aku melihat Dika menggigil kedinginan. Aku merasa risih dengan keadaan yang seperti ini. Aku ingin bertanya untuk menghilangkan keheningan ini. Namun aku tak tahu apa yang harus aku tanya.

“Kamu suka hujan?” tanyaku basa-basi.
“Emm.. iya. Sepertinya. Awalnya aku tak menyukainya. Tapi karena seseorang, akupun ikut menyukainya. Kalo kamu?” Dika balik bertanya.
“Engga. Aku engga suka hujan. Hujan ngebuat aku menunggu. Aku membenci itu. Menunggu hal yang tak pasti, entah akan berhenti atau tidak. Karena hujan pula aku tak bisa melihat cahaya matahari, indahnya langit biru. Aku sangat menyukai itu.” Kataku panjang lebar.
“Aku dulu juga menganggap hujan kayak gitu. Tapi ternyata hujan engga seburuk itu. Karena dia membuat aku bahagia karena hujan.”
“Dia? Dia siapa?” tanyaku penasaran.
“Seseorang yang sangat istimewa dulunya. Tapi sekarang engga lagi” jawab Dika santai.
“Apa dia pacarmu?” tanyaku lagi. “Oh maaf, tak seharusnya aku bertanya seperti itu.” Sambungku lagi dan hendak mengakhiri obrolan itu.
“Engga apa-apa. Santai aja. Tidak, dia bukan pacarku. Hanya saja dia orang yang istimewa dulunya. Dia merubah pikiranku tentang hujan. Dan kini aku selalu merindukan hujan itu. Dimana hujan itu membuatku lupa dengan segala bebanku, membuatku senang menuggu.”
Aku hanya manggut-manggut mendengarnya. Dan berhenti menjadi orang yang banyak tanya. Hujan pun berhenti. Dan aku langsung pamit pada Dika untuk pulang. Tak seperti biasanya aku seperti itu. Dan entah mengapa aku hanya merasa perlu untuk berpamitan padanya.

Setelah kejadian hari itu, kami makin sering dipertemukan karena hujan. Kami menjadi sering chattingan di BBM. Dia kini hadir dalam hidupku. Dan karenanya pula, kini aku menyukai hujan.
Kami menjadi semakin dekat. Tak ada yang mengetahui hal ini selain sahabatku, Dina. Hanya dia yang ku beritahu soal ini. Tapi dia mengingatkanku untuk tak terlalu dekat dengannya. Dan jangan sampai mempunyai perasaan pada Dika. Yah, untuk saat ini aku tak mempunyai perasaan apapun padanya. Tapi aku tak memungkiri jikalau nanti aku akan mempunyai perasaan itu. Walau sebenarnya untuk saat ini aku sangat menghindari perasaan itu, karena aku tahu hal tersebut takkan selamanya membuatku bahagia. Perasaan seperti itu bisa membuatku terluka dan patah hati.

Hari-hari berikutnya berjalan lancar. Hujan masih sering turun. Dan itu saat yang ku nanti. Karena aku bisa menemui Dika. Dan kini, aku selalu menantikan hujan. Aku selalu merindukan hujan. Karena hujan membuatku bahagia. Hujan tak pernah lagi membuatku bosan menunggu.

Hari itu hujan tak turun. Tapi Dika mengajakku untuk bertemu sepulang sekolah. Aku merasa senang dan tak sabar menantikan waktu itu akan terjadi. Dan akhirnya kami bertemu, di bawah pohon dekat lapangan basket. Untuk beberapa saat kami hanya diam membisu. Semilir angin sejuk menemani kami. Daun-daun berjatuhan dari pohon. Tanpa merasa tersakiti karena terjatuh dari tempat yang tinggi.

“Ada hal penting yang harus aku katakan.”
Aku hanya terdiam dan penasaran mendengar itu. Aku duduk di akar-akar pohon dan dia mengikutiku. “Apa itu?” tanyaku.
Dia langsung terlihat gugup saat aku menanyainya.
“Begini,” jawabnya mula-mula. “Aku… ingin mengakhiri ini semua. Semuanya. Tak dapat kujelaskan mengapa. Kuharap kau mengerti. Maaf.”
“Hah? Apa maksudmu?” aku bukan tak mengerti apa yang dia maksud, hanya saja aku merasa tak percaya dengan apa yang dia lakukan terhadapku. Aku bertanya-tanya kenapa harus dia yang duluan mengajak untuk berhenti. Kenapa bukan aku saja? Tidak-tidak, bukan itu yang kumaksud. Maksudku kenapa dia setega itu padaku. Dan apa alasannya memperlakukan hal itu padaku. Aku pikir dia bercanda. Aku mengulang-ulang kata-kata yang masih cukup jelas di ingatanku. Tapi dari nadanya berbicara, tak terdengar nada bercanda.
Bukannya aku tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi. Karena aku tahu, hubungan seperti ini tak akan berlangsung selamanya. Tapi kenapa harus secepat ini.
“Aku tahu kamu mengerti apa yang aku maksud.”
“Oke aku mengerti. Tapi kenapa? Kenapa secepat ini? Kenapa di saat aku sudah nyaman denganmu, kamu harus berhenti. Saat aku sudah mulai mempunyai perasaan denganmu. Hah. Sungguh tak bisa dibayangkan. Aku tak menyangka kamu sejahat ini.” Aku mulai menangis, seperti orang bodoh. Kenapa aku harus marah. Toh kami tak punya hubungan apapun. Dia juga bukan siapa-siapa. Dan aku merasa dadaku semakin sesak melihatnya yang hanya diam saja mendengar perkataanku.

Aku pun beranjak pergi dengan linangan air mata di pipiku. Karena aku merasa sudah terlalu lama mununggunya yang sepetinya tak ada lagi yang ingin dia ucapkan. Sesampai di rumah aku langsung berlari ke kamarku dan menangis sejadi-jadinya.

Malam harinya aku memikirkan apa yang telah terjadi hari ini. Dan menyadari kebodohanku. Akhirnya, aku mengirimi pesan BBM pada Dika
“Oke Dik kalo itu mau kamu. Aku terima keputusan kamu. Aku enggak bakal maksain kamu. Terima kasih buat semuanya. Kalo bisa kita melupakan apa yang udah terjadi dan bisa temenan kayak gak terjadi apa-apa. Makasih Dik. Terimakasih telah datang lalu pergi. Setidaknya telah memberi tawa walau memberi luka setelahnya.”

Setelah mengirim pesan itu aku langsung tidur sambil menangis. Tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Kecewa, marah, bingung dengan semua ini. Menjadi bodoh karena cowok itu. Mempunyai perasaan padanya? Sangat tak pernah terbersit di kepalaku. Aku membencinya.

Melihat matahari pagi ini, semakin membuatku malas untuk pergi ke sekolah. Di tambah dengan penampilanku saat ini. Dan aku merasa belum siap untuk melihat Dika hari ini. Tapi aku tak mau terlihat lemah olehnya. Aku harus sekolah dan memperlihatkan padanya kalau aku bisa melupakannya.

Sebulan kemudian…
Aku pergi ke sekolah seperti biasa, melakukan hal-hal konyol seperti biasa. Berlagak seolah tak terjadi apapun. Dan sepetinya, aku kembali membenci hujan, sejak kemarin. Sejak Dika memutuskan menghentikan semua ini. Tapi tetap saja, terkadang aku masih terpikir bahwa dia bercanda. Dan akan kembali suatu waktu. Menjelaskan semua dan meminta maaf. Tapi aku membuang jauh-jauh pikiran itu. Masih banyak hal lain yang harus kupikirkan.
Dan aku merasa, mungkin saja kalau Dika hanya menjadikanku pelarian. Menjadikanku tempatnya berteduh saat hujan turun. Dan pergi meninggalkanku saat hujan reda. Aku hanya tersenyum pahit setelah menyimpulkan itu semua. Dan berharap untuk dapat segera melupakannya.

Hari ini hujan kembali turun. Aku membencinya. Aku tak pernah berharap dia akan hadir kembali. Aku pun berharap untuk tak akan pernah merindukan hujan kemarin. Aku menyesal karena pernah merindukan hujan itu. Hujan yang membuatku bahagia untuk sesaat.

Untuk beberapa hari belakangan ini aku harus bertahan dengan perasaan ini. Membiarkan pikiran-pikiran tentangmu membayangi diriku. Aku hanya merasa mual jika mengingat bagaimana kau memasuki kehidupanku, lalu pergi tanapa alasan. Terlalu drama. Seperti ftv-ftv kebanyakan. Tapi yang membedakannya adalah mereka akan kembali dan hidup bahagia. Tidak dengan cerita aku dan dirimu. Hanya aku saja yang merasakan sakit, dan kau? Mungkin kau sudah mendapatkan yang lain. Sebisa mungkin aku harus cepat melupakanmu.

Walau kutahu, melupakan tak pernah mudah. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah kerumitan yang belum tentu kau tahu rasanya. Mengapa di otakku kau tak pernah hilang walau sedetik saja? Perkenalan kita terlalu singkat untuk disebut sebagai cinta dan terlalu dalam jika disebut ketertarikan sesaat. Aku tak tahu harus diberi nama apa kedekatan kita dulu.

Aku tak mengerti mengapa aku yang tak mudah tergoda ini malah begitu saja terjebak dalam perhatian dan tindakanmu yang berbeda. Aku masih menyesali yang sempat terjadi. Bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua harus berakhir sesakit ini? Dan apa tujuanmu selama ini?

Aku tak tahu bagaimana kamu di sana sekarang, perasaanku semakin asing. Tampak rindu yang meminta pertemuan, rindu yang memaksa dua orang yang sekarang berjauhan untuk kembali berdekatan.

Cerpen Karangan: Maisun Najela
Facebook: Maisun

Cerpen Hujan Kemarin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Ann Tapi An

Oleh:
Jam dinding berwarna cokelat yang masih setia menempel di dinding ruang kelas menunjukan pukul 10.15 WIB. “Masih lama” ucapku yan sedari tadi telah menunggu detik-detik berbunyinya bel kebahagiaan, alias

Tak Tersampaikan

Oleh:
“brisik” grutuku mendengar orang-orang di sebelah rumahku sedang melakukan pembangunan rumah. Bangunan tingkat dua sama seperti rumahku. Rumah itu sudah hampir jadi sekarang. Aku tak sabar menuggu rumah itu

Sahabat Sejati

Oleh:
Udara pagi yang sejuk dan segar, sang surya menyinari saentero indahnya desa Grabag, bunga-bunga pun bermekaran dan harumnya menarik perhatian para kumbang dan kupu-kupu yang bercorak warna nan indah

Namanya Juga Sahabat

Oleh:
Velinia Azahra itulah namaku, aku adalah siswi kelas 8 SMP. Kata teman temanku aku itu cewek yang heboh, cerewet, agak bawel, riweuh tapi baik hehe. Suatu hari di taman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *