I Remember

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

Today, 30 Mei 2020
Box coklat besar di sudut kamar itu menjadi tujuan terakhir Ara -dalam rangka menggeledah kamar-. Box besar yang sudah lama tak Ara buka dalam 5 tahun terakhir itu tampak berdebu. Bahkan yang dulunya berwarna coklat muda sekarang sudah tampak tua. Sekarang ia sudah punya contoh benda tak hidup yang tampak menua, ya itu fikiran kecilnya saja.

Semenjak menginjak dunia perkuliahan, ia jarang sekali pulang kerumah orangtuanya. Ya, bisa dibilang ia lagi masa LDRan dengan ayah, ibu, serta sang adik. Jangan tanya ia sekarang kuliah di mana, yang jelas ia jauh dari orangtua. Dan kesempatan pulang hanya liburan semester. Hanya itu.

FUHHHHH!
Ara menghembuskan nafasnya kepermukaan Box kayu itu, mencoba menghilangkan (sedikit) debu yang menempel hebat di sana. Bisa dibilang, ia lupa. Benar-benar lupa akan isi Box ini. Tapi seingatnya ia bukan anak yang jorok, yang suka menyimpan sampah permen Milkita atau snack Lays disana.

270616

Akh, 6 digit angka yang menjadi kode untuk membuka gembok Box ini mengingatnya tentang kenangan (sangat) besar 4 tahun lalu. Mungkin alasan itu yang membuatnya tak ingin lagi membuka Box ini. Eh? Sekarang Ara ingat apa isi box ini.

Dengan gerakan pelan, Ara membuka box itu. Dan benar saja, untung ia masih ingat apa isi box ini karena kode gembok tadi.

Album foto, buku gambar, diary, dan boneka snoopy yang berukuran sedang. Ara tersenyum tipis, ia jadi berfikir bahwa tujuan terakhir ini membuatnya menyesal.

Ara mengangkat boneka snoopy itu sambil tersenyum. Ia menepuk-nepuk pelan kepala si snoopy seperti yang ia lakukan dulu.

“Maaf ya, sudah biarin kamu tidur di box kayu itu, maaf juga udah gak pernah curhat ke kamu lagi tentang dia. Karena apa? Aku gak mau lagi hidup dalam bayang-bayangnya.”

Ara kembali tersenyum, ia mengelus pelan pipi Snoopy yang juga tampak agak berdebu. Kemudian meletakkan Snoopy itu bersandar pada kakinya.

Ia mengambil diary nya. Diary bergambar snoopy berlatar biru itu masih tampak bagus. Meski ya, debu tipis menyelubunginya. Dengan gerakan cepat, Ara menepuk pelan diary itu. Dan membuka lembar pertama. Ia terkikik geli.

Lembar pertama itu menampilkan fotonya yang mengenakan seragam SMA dengan muka yang tegang. Seketika ia jadi rindu masa-masa SMA, teman-teman, dan kenangan 4 tahun yang lalu.

Tak ada yang salah dari lembaran itu, sampai ia kembali membuka lembar ke 6

Seketika ia diam, mencoba meresapi kata demi kata yang tertera di sana

17 september 2013
I always saw you from afar
I thought you will be my love
I thought you felt the same way
Although you were looking elsewhere

Ara mengintip ke jendela. Ia bisa melihat seorang siswa yang duduk disudut kiri sana sambil menatap kejendela yang menampilkan jalanan. Ara tersenyum pelan.

‘Keren banget’

Sekedar informasi, kategori keren bagi Ara adalah lelaki dengan earphone serta gitar yang biasa ia sandang setiap ke sekolah. Jangan lupakan satu hal, yaitu anggota tim basket.

Ara lebih menjinjit kan kakinya untuk bisa lebih jelas menatap si lelaki yang bisa dibilang sangat amat ia sukai. Bahkan ia berani bersumpah disambar gledek saat ini juga.

Saat sedang asyiknya, Pak bongsor ralat pak kurus guru mtk yang sekarang mengajar di kelas wendy (lelaki yang ia sukai) menegurnya.

“Hei!!! Kau yang di jendela…!!! Apa kau tidak ada kelas!!!”

Seluruh murid dikelas itu menatapnya dengan tatapan ‘ni anak ngapain?’ walau sebagian besar sih menatapnya tajam karna mengganggu konsentrasi mereka yang sedang ulangan.

Malu?
Oh sangat
Tak ada yang lebih memalukan daripada mengintai sang calon pacar (mungkin) dan ketauan. Lebih parahnya, bukan cuma wendy saja yang memergokinya tapi semua orang yang ada dikelas itu.

‘Mati deh gue’

Bisik Ara dalam hati sambil lari terbirit-birit

11 oktober 2013
Like wind, like dust
I can’t catch you, I can’t see you

“Bodoh banget!!! Kalo suka tinggak dibilang Ara!!! Kenapa lo gak nyatain duluan?”

Ara menutup kupingnya yang panas saat ocehan Yoan yang panjang lebar itu keluar. Ara membenamkan mukanya pada meja kantin, ia sungguh bingunh dengan perasaannya

Kalo menurut Yoan, itu bukan sekedar rasa kagum karena Wendy cowok populer. Tapi itu benar suka dalam definisi … Ya, kau tau L.O.V.E.

“Tau akh, gelap”
“Ini siang goblok, darimana gelapnya”
“Suasana hati gue gelap”

Yoan memutar bola matanya malas, ini ni yang tak ia suka dari Ara. Kalo udah galau, udah deh… Ngalahin galaunya anak perawan yang abis diputusin pacar padahal masih sayang.

“Kenapa bisa gelap? Lagi ada guntur hm?”
“Ada dua alasan”
“Baiklah, alasan pertama!”

Ara mengangkat kepalanya menatap Yoan lamat-lamat. Hey, jangan tanya seberapa bahagianya ia menemukan teman seperjuang yang perhatian meski kata-katanya agak nyelekik.

“Lo tau kan, udah berapa banyak cewek yang nembak tapi Wendy selalu nolak. Kira-kira ada sekitar 299 orang. Dan gue gak mau jadi yang ke 300”

Busyet dahh ini acara pembagian baksos kalo sampe sebanyak itu. Yoan menggeleng-gelengkan kepalanya maklum.

“Oke, oke… Gak lucu juga kalo lo yang ke 300. But, kok lo bisa tau kalo dia-”
“Gue kan stalker nya dia !”

Yoan menepuk jidatnya, nih anak benar-benar udah kena virus WendyLovers kali ya.

Ara mengerucutkan bibirnya lucu, sejujurnya ia kesal. Karena sebagai sahabat Yoan gak tau kalo dia stalker hebat di dunia (abaikan).

“Oke oke, alasan kedua”
“Alasan kedua”
Ara menunjuk ke arah sisi kanan mereka. Yoan pun melihat kearah yang ditunjuk Ara. Ah, ia paham.
“Sabar ya”
“Mereka deket banget kek Mars ke venus”
“Itu jauh goblok! Yang bener Mars ke Bumi”

Wendy dan Tania tak menyadari jika sedari tadi mereka menjadi topik hangat pembicaraan Ara dan Yoan. Mereka tetap menikmati soto bundo (pemilik kedai di SMA) dengan sesekali tersenyum bahkan tertawa.

Sungguh, melihat itu saja Ara sudah sesak nafas

23 oktober 2014
I am living in your eyes
I answer only to you
Hold me when I sway
My love

Sekelas dengan Wendy? Wahh itu sesuatu banget buat Ara.

Namun kadang ia juga bingung dengan sikap juteknya itu.

Seperti saat ini, ia harus berkelompok dengan Wendy untuk mencoba penelitian ntah tentang apa, yang jelas ia harus menghitung denyut nadinya saat diam dan setelah berlari.

“Gue harus lari?”
“Hm,”

Untung sayang, kalo enggak mungkin Ara udah memenggal kepala Wendy layaknya medusa.

Ara mengelus dadanya pelan

“Lo mau sampe kapan berdiri? Cepat lari!”

‘Serius loh Wen, kalo gak sayang udah gue penggal’ bisik Ara pada hatinya

Seketus, duaketus, sejutek, duajuteknya Wendy. Ara tetap bersyukur bisa sekelompok dengannya. Nikmat mana lagi yang kau dustai?
Udah sekelas, sekelompok lagi. Ahayy, mungkin abis ini Ara bakal ngadain syukuran di rumah.

“Gue itung pake stopwatch. Waktu lo 5 menit ngerti?”

Ya enak 5 menit keliling lapangan, lah ini? Lari-lari kecil antara pilar kelasnya 11 MIPA 1 dengan pilar kelas 11 MIPA 2.

1 menit
Oke Ara masih kuat

2 menit
Hehehehe apalagi ini

3 menit
Mungkin udah gak wajar karna ia bisa melihat wendy jadi seribu orang. Jangan-jangan ia punya jurus kek naruto lagi
Abaikan ngawur di atas

4 menit,
Oke fix, Ara terhuyung kedepan. Namun dengan sigap Wendy menopang tubuh Ara dengan kedua tangannya.
Wendy menatap Ara lekat, sampai-sampai Ara yakin bahwa ia tertinggal dimata jerni itu.

“Kalo lo gak biasa olahraga bilang!”

Ara diam, ia tersenyum manis. Walau sebenarnya ia lagi mendumel didalam hati, ‘kenapa lo pake acara mo pingsan segala Ara!!’

14 Mei 2015
I believed it was love,
I called it destiny

Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, apa persiapan Ara? Bisa dibilang tak ada. Karena ia penganut sistem kebut semalam. Jadi ia santai saja.

Kelewat santai mungkin, karena semua teman sekelas pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku sebagai referensi buat ujian nanti.

Hal seperti itu terlalu berlebihan bagi Ara. Kenapa? Semuanya udah ditentuin tuhan, kalo emang gak dapat nilai memuaskan padahal belajarnya maksimal. Percuma aja kan. (Bagi readers, tolong jangan ditiru :V )

Matanya menyisir keseluruh penjuru kelas. Satu kata, SEPI. bahkan jangkrik sampe berani berbunyi padahal belum malam.

Tapi ia melupakan suatu hal.

Masih ada Wendy!!!

Ara menatap Wendy dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia pintar bahkan dapat peringkat pertama dikelas, tapi ia tak sefanatik yang lain.

“Kalo lo mau tanya kenapa gue di sini. Jawabannya udah jelas, hal kek gitu gak guna. Terlalu berlebihan”

Ara takjub bukan main. Bukan karna runtunan kalimat panjang itu tapi karna ternyata mereka memiliki kesamaan.

Jalan fikir mereka tentang hal tadi sama. Orang bilang kalo punya kesamaan walau cuma satu, bisa dibilang berjodoh. (Abaikan teori ini)

“Hehehhehe”
Ara hanya nyengir kuda, sedangkan Wendy kembali mendengar musik lewat earphone nya dan membenamkan wajah ke meja.

19 Agustus 2015
The tears that fall on the window of my heart

Yoan membuka dengan kuat pintu kamar Ara. Ara yang tadi sedang istirahat seketika terkejut.

“Lo gak papa Ra?”

Ara hanya bisa tersenyum tipis, ia menatap sahabat perempuannya ini. Dia benar-benar peduli padanya. Kalian bisa lihat penampilan Yoan yang masih dengan seragam SMA.

Pasti ia sangat khawatir

Salah Ara juga sih, telat memberitau Yoan tentang keadaannya sekarang.

“Gak papa kok”
“Lo kok bisa demam sih Ra! ”
“Ye, semua orang bisa sakit kali”
“Tapi yang ini, gue rasa ada hubungannya dengan Wendy? Iya?!”

Ara meneguk saliva nya. Haruskah kebohongannya terbongkar sekarang? Padahal saat ini ia hanya ingin istirahat. Ia tak ingin menangis.

“Kemarin ada yang nembak Wendy, live depan gue. Gue syok waktu Wendy ngejawab enggak trus bilang kalo dia gak mau pacaran sama cewek yang jelek. Padahal cewek kemarin cantik banget. Kalah gue”

Ara mulai terisak. Bukannya senang karna Wendy nolak cewek itu, eh ini malah nangis kejer bahkan sampai demam.

“Ahh elahhh gitu aja”
“Lo gak tau sih. Yang cantik gitu aja ditolak, apa kabar gue yoan?”

Oke, mungkin belum saatnya menyanggah perkataan Ara. Belum waktunya. Karena kondisi Ara benar-benar gak stabil.

“Ra… Kalo dia tulus, dia gaakan mandang lo dari fisik doang”

Kata Yoan sambil memeluk Ara, membiarkan sahabatnya itu menangis sesegukan

27 juni 2016
They answer me
You’re someone who I can’t have
A person I have to forget
I need to let you go

Kelulusan?
Hahahahhaha rasanya Ara ingin tertawa, karena ia lulus!
Tapi bukan itu hal yang penting sekarang,
Ara sudah menyiapkan mentalnya setelah menangis tahun kemarin karena ya, you know lah.
Tapi ia yakin, ia bakal tegar banget ngadapin jawaban Wendy nantinya.
Gak mungkin kan perasaan terpendamnya benar-benar jatuh kedalam gamau terangkat.
Ia sudah menghitung semua peluangnya
0,01% . ya, hanya segitu.

Ia berjalan ke arah Wendy yang tampak sedang memberi tanda tangan diseragam sekolah sahabatnya Saif sambil tertawa terbahak-bahak.
Melihat Ara mendekat, Saif mengedikkan dagunya. Dan atensi Wendy pun teralih pada Ara.

“Gu-gue bisa ngomong ama lo? Bentar aja”
Wendy mengangguk, dan Saif pun pergi ke kumpulan teman-temannya yang lain tak jauh dari mereka.

“Lo mau ngomong apa?”
“Gue suka sama lo!”
1 detik, 2 detik, 3 detik bahkan sampai 10 detik belum ada respon dari Wendy. Ara kembali melanjutkan kalimatnya sambil menutup mata

“Gue gak peduli. Mau lo suka juga ama gue atau enggak. Yang pasti gue suka lo!”
“Thanks ra”

Ara melongo, hanya itu? Hanya itu balasan dari pernyataan cintanya barusan. Wah kayaknya Ara jadi ngidam pengen benturin kepala Wendy ke dinding.

“Eh? Sama-sama”
“Makasih buat keberanian ngungkapinnya ke gue. Gue tau lo pasti lagi deg-degan sekarang”
Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sejujurnya ia bingung, barusan itu pujian atau malah kebalikannya.
“tapi, kau tau… aku sudah punya kekasih”

Tak hujan, tapi kenapa rasanya hatinya saat ini basah. Terharu mungkin… Bisa jadi juga sedih.

Ara hanya diam, diam menatap wajah Wendy di depannya. Ia tak tau lagi harus ngomong apa. Walau lega telah mengungkapkan, tetap aja perih rasanya.

Sosok Tania berjalan ke arah mereka dan Wendy dengan senyuman manisnya menatap ke arah Tania.

Ah, Ara mengerti sekarang.

Hahahahhahaha ia merutuki dirinya yang bodoh, harusnya ia percaya rumor 2 minggu belakangan ini tentang pacarannya Wendy dengan Tania.

“Ohh hehehe aku ngerti kok. Kalo gitu gue balik duluan”
“Hmm, moga kita bertemu lagi”

Ara tersenyum dan segera berlari mencoba menahan gejolak hatinya yang memaksa untuk menangis.
Melupakan cara yang terbaik bukan? Ia harap ia benar.

28 Juni 2016
Remember Love you, I love you

Wendy
Itu nama lo kan hahhahah kok gue lupa. Efek ditolak sih
Tapi, terima kasih.
Terima kasih buat kesempatan mengenalmu.
Aku tau dua garis gak bakal jadi sebuah sudut kalo aku hanya punya 1 garis.
Intinya aku gak bakal menyesali semuanya
Tapi izinkan aku untuk melupakan semua.
Ya, semuanya.

30 Mei 2020
Ara menutup Diary itu dan beralih pada album foto, menampilkan sosok Wendy yang menghadao ke jendela. Wendy yang sedang bermain basket. Wendy yang sedang persentase di depan kelas. Dan banyak lagi.

Seketika airmata jatuh di kedua pelu Ara.

Benar kata orang, Nostalgia benar-benar menyakitkan

“I remember once again, how to love you”

END

title song: Lee Hi – My Love

Cerpen Karangan: Sekar Nadya Utami
Facebook: Sekar Nadya Utami

Cerpen I Remember merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Sebatas Kakak dan Adik

Oleh:
Saat itu Ruth adalah seorang siswi kelas X yang berarti juga seorang junior di SMAN Model 3 Palu, hal yang pertama terfikir di benak Ruth adalah bagaimana caranya mencari

Baperan Sama Si Bulog

Oleh:
Hai, namaku Maya. Pasti kalian pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Semua cinta memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang ending yang bahagia dan ada juga yang endingnya sebaliknya. Kalian tau,

Dia, Si Mayla Yang Malang

Oleh:
Minggu sore, di kediaman sepupu Mayla. Aku sudah satu jam berada di sini, mendengarkan ungkapan rindu dan amarah Mayla. Ada rasa sesal terhadap apa yang diucapkannya, bagaimanapun juga aku

Cinta Tak Direstui

Oleh:
Pagi itu, kubuka facebook dan kumelihat ada sebuah permintaan pertemanan dari sorang gadis. Dan cerita asmara aku bermula pada saat aku “konfimasi” permintannya. Awalnya sih aku sedikit canggung padanya

Janji Hujan

Oleh:
Sore menjelang, hampir memuncak menjadi senja. Hujan menetes dari langit-langit cakrawala tanpa henti-hentinya. Sepatu beserta seragamku sudah basah dibuatnya, tak dapat menghindar dari serangan ganas percikan air hujan. Sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *