If You Like Someone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 May 2017

Di sebuah taman sekolah, aku termenung menunggu kedatangan seseorang yang sedari tadi belum muncul batang hidungnya. Beberapa saat kemudian orang yang ditunggu pun datang, dia menuju ke arahku. Aku hanya tersenyum melihat kedatangannya, saat dia tepat berada di depanku, aku pun menyodorkan sebuah kotak makan ke arahnya ”makasih ya Vin buat yang kemarin” ujarku.
“apa ini? Gak perlu repot-repot, aku juga seneng bisa bantu kamu.”
“udah lah gak usah malu-malu. Anggap aja ini sebagai bayaran yang kemarin.” Paksaku
“ya udah deh, makasih ya An” ujar Kevin sembari menerima kotak yang aku sodorkan.

Kevin, dia adalah teman dekatku saat ini. Kemarin dia telah membantuku untuk memperbaiki laptopku yang sekarat. Sebagai imbalannya, aku memberikannya sekotak roti isi selai kacang. Aku yakin itu adalah makanan favoritnya. Aku kenal dengan dia saat kami bertemu di sebuah organisasi sekolah. Dari situ aku mulai mengenal sosok seorang Kevin. Dia adalah orang yang mudah bergaul dan supel. Dia selalu membuat orang lain ikut tertawa bersamanya. awalnya aku sungguh tidak suka melihat tingkahnya yang begitu bodoh, tapi saat aku mulai dekat dan berteman dengannya, dan saat dia selalu siap sedia jika aku membutuhkan bantuan. Tanpa kusadari. Semua yang dia lakukan untukku telah merubah segalanya. Aku tak tau sejak kapan perasaan itu muncul, aku hanya yakin akan satu hal. Aku menyukainya.

”By the way udah jam segini nih. Bentar lagi masuk, aku duluan ya. Soalnya aku ada ulangan, Bye Vin” ucapku sembari menuju kelas. Kevin yang tengah asik menikmati roti isinya hanya menjawab dengan anggukan dan lambaian tangan.
Semakin hari kami semakin dekat, setiap ada waktu luang kami selalu menyempatkan waktu untuk bersama. Walaupun hanya sekedar makan siang atau mengerjakan tugas. Hal itu membuat perasaanku terhadapnya semakin tumbuh. Itu sungguh menyiksaku, terkadang aku berkeingian untuk menyatakan perasaanku terhadapnya. namun, niat saja tak cukup untuk melakukannya, butuh keberanian besar yang sampai saat ini masih belum aku miliki. Entah sampai kapan aku harus memendam perasaanku terhadapnya. aku hanya takut, semakin aku memendam perasaan ini. Maka perasaan ini akan semakin tumbuh. Aku hanya berharap kami bisa bersama dengan status lebih dari sekedar teman.

Saat aku tengah asik bercanda dengan teman-teman satu organisasi. Terlihat beberapa orang berkerumun di lapangan sekolah. Saat itu jam pelajaran telah usai, semua siswa telah pulang. Hanya ada anak-anak yang mengikuti ekstra di sekolah. Karena penasaran, aku pun bergegas untuk ikut melihat. Aku menerobos kerumunan yang begitu antusias untuk melihat. Hal itu membuatku semakin penasaran. Setelah berusaha begitu keras, akhirnya aku berhasil berada di barisan terdepan. Nampak di depan mataku, terlihat sosok yang sangat aku kenal. Kevin, dia membawa setangkai mawar putih dan tengah berdiri mematung di hadapan seorang gadis yang tidak asing pula di mataku. Dia adalah Vivi, teman satu organisasi denganku. Tapi apa yang mereka lakukan di lapangan ini?

“Vi, sejak pertama kita bertemu, sejak saat itu pula aku mulai menyukaimu. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku telah melakukan berbagai cara untuk bisa dekat denganmu. Dan aku lihat, kamu memberikan respon positif terhadap apa yang aku lakukan selama ini. Dari situ, aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya sekarang.” Kevin menjelaskan dengan panjang lebar, dengan tatapan yang penuh arti. Dia menggenggam kedua tangan Vivi dengan penuh perasaan.
Aku yang melihat kejadian itu hanya bisa terpaku, perutku sakit, kepalaku pusing dan pandanganku kabur. Aku sungguh tidak menyangka, seseorang yang sejak dulu aku suka ternyata menyukai orang lain.
“Vivi, kamu mau gak jadi pacarku?” ujar Kevin, sembari menyerahkan mawar putih itu ke tangan Vivi. Vivi sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Kevin, begitu pun denganku. Jantungku Seperti tertusuk bambu runcing yang sangat dalam. Sakit yang luar biasa aku rasakan, membuat mataku semakin kabur. Suara gemuruh dari kerumunan yang berteriak membuatku semakin pusing.
“TERIMA..!! TERIMA..!! TERIMA..!!” kata-kata yang aku dengar dari hiruk pikuknya kerumunan ini, Membuatku semakin jijik dan muak. aku mengedarkan pandang ke seluruh orang, tampak dari wajah mereka yang antusias dengan kejadian ini.. Aku pun menoleh ke arah Vivi, awalnya dia terlihat bingung, tapi sesaat kemudian. Dia menganggukkan kepala dan berkata “Iya, aku mau”
Vivi menerima mawar yang diberikan Kevin dengan senyum bahagia, Nampak dari wajah Kevin yang tidak kalah bahagianya mendengar jawaban itu. Siulan serta kata selamat tercurah dari penonton. Pasangan baru itu tertawa bersama semua penonton yang ikut bertepuk tangan atas hubungan mereka.
Iya, semuanya kecuali aku. Saat melihat kejadian itu, dadaku terasa sesak. Nafasku sudah tak beraturan lagi, kepalaku semakin berdenyut. Aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang aku tahan selama beberapa menit yang lalu. tanpa terasa deraian air matapun telah jatuh. Mencoba membasuh luka dan sakit yang saat ini aku rasakan.

Aku berjalan gontai, menjauh dari kerumunan. aku berfikir lebih baik pulang dan menangis di rumah daripada ketahuan menangis di sekolah, itu akan membuat orang lain curiga. saat aku melewati lorong di sekolah, seseorang memanggilku “ANNA..!!”
Secara refleks aku menoleh, terlihat Kevin yang tengah berlari ke arahku. Aku menghapus air mataku dan mencoba untuk tersenyum menyembunyikan rasa sakitku.
“Anna, kamu mau ke mana? Kamu tadi lihat aku nembak Vivi nggak? Aku gemeteran saat mengungkapkan perasaanku ke dia, aku takut kalau aku ditolak tapi ternyata aku..” Kevin menghentikan kata-katanya dan menatapku semakin dalam. Aku memandanginya, mencoba mencerna setiap kata yang dia keluarkan, memasang wajah yang bahagia atas hubungannya.
“Kok mata kamu bengkak? Kamu nangis?” ujar Kevin sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya yang hangat.
Dengan sigap aku pun berkata sambil melepaskan kedua tangannya yang masih memegang wajahku “nangis? Enggak lah, ngapain aku nangis? Aku bahagia melihat temanku ternyata bisa berhasil mendapatkan gadis yang diinginkannya”. Mendengar jawaban dariku yang terdengar seperti dipaksakan, Kevin hanya bisa diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Vin, aku pulang duluan ya. Aku udah di tunggu mama di rumah, disuruh bantu buat kue” aku berjalan mundur menjauhinya sambil melambaikan tangan. Sebisa mungkin aku menahan tangisku agar tidak jatuh. Kevin hanya berdiri mematung tanpa ada respon, terlihat sorot matanya menatapku penuh arti. Membuatku ingin sekali menangis, aku membalikkan tubuhku membelakanginya. Berjalan perlahan dengan membusungkan dada dan berpura-pura tegar di hadapannya.

“Aku tau Anna kamu menyukaiku.” aku terhenti. Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar. Bersamaan dengan itu, mendung mulai berdatangan. Dan badai pun datang,
“Aku tau dari dulu Anna, terlihat dari sikap dan perhatianmu. Dari tatapan matamu setiap kali kita bertemu. dan bodohnya aku, yang malah memberikan respon positif terhadapmu, menjadikanmu semakin menyukaiku.” Kevin menjelaskan semuanya, dengan suara yang berat karena perasaan bersalahnya terhadapku.
Aku hanya bisa membekap mulutku dengan kedua tanganku. Menahan agar suara tangisku tidak terlalu keras. aku masih tetap berada pada posisi semula, kakiku terasa berat untuk dipindahkan.

“jujur aku juga menyukaimu Anna” Kevin menambahkan dengan suara tercekat.
Mendengar pengakuan itu, mataku terbelalak dan secara refleks aku memutar badanku menghadap ke arahnya, terlihat dia menundukkan kepala sejenak kemudian menatapku penuh arti. Dia berjalan perlahan ke arahku, kakiku seakan mati rasa. Jantungku berdegup sangat kencang, tepat setelah Kevin berada di depanku. Dia memegang kedua tanganku dan berkata “aku telah menyukaimu dari awal kita berteman Anna. Dulu aku memberikan respon positif kepadamu, tapi sesaat kemudian aku menjauhimu. Aku tak bermaksud untuk mempermainkanmu. Aku hanya berharap, dengan menjauhnya aku dari hidupmu perasaanmu terhadapku akan semakin pudar. aku bukan laki-laki yang cocok buat kamu. Aku memang menyukaimu, tapi aku mencoba menganggapmu sebagai saudara, tidak lebih dari itu. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.” Kevin berkata dengan mata berkaca-kaca.
Nampak wajahnya yang sendu, membuatku tak kuasa menahan tangis. aku memeluknya, membenamkan wajahku pada dadanya yang bidang. Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukannya, tak tau lagi harus berkata apa. Terasa tangannya yang kuat membelai rambutku, mencoba untuk menenangkanku.

Kevin melepaskan pelukanku, kedua tangannya memegang kedua lenganku. Aku masih tertunduk dan terisak. Kevin mengangkat wajahku memaksaku untuk menatapnya. Dia menghapus air mata di kedua pipiku dan berkata “kamu mau nangis sampai kapan? Kita masih bisa berteman seperti biasa Anna, memang pasti akan ada yang berubah di antara kita. Tapi setidaknya kita mencoba.”
“kenapa Vin? Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu Cuma anggap aku sebagai teman kamu? Padahal kamu juga menyukaiku.” Suaraku tercekat menahan tangis.
“banyak alasan yang tidak dapat kamu mengerti Anna, satu hal yang pasti. aku bukan orang yang tepat buat kamu, cobalah untuk menerimaku sebagai temanmu” Kevin memohon dengan sangat.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Aku terdiam dan berfikir, setelah sekian lama hening. Akhirnya aku pun angkat bicara “baiklah Vin, kita tidak akan bisa bersama lebih dari teman. Aku akan mencoba menerima hal itu, tapi aku meminta satu hal ke kamu Vin. Bantu aku untuk menghilangkan perasaan ini.” Suaraku terdengar tercekat akibat menahan tangis.
Kevin hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala. Kemudian dia memelukku dengan sangat erat. Dan berbisik “Aku akan membantumu Anna. Kita akan tetap menjadi Teman” mendengar jawaban itu. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Aku miris jika membayangkannya, betapa sakitnya aku saat melihat orang yang aku suka membantuku untuk tidak lagi menyukainya. Lucu memang, tapi inilah yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba untuk menerimanya, entah nantinya akan berhasil atau tidak. Tapi yang jelas, saat ini aku hanya ingin merasakan hangatnya pelukan dari seorang cowok yang gak akan pernah bisa aku miliki selamanya. Seorang cowok yang hanya ingin berteman denganku walau dia sangat menyukaiku. biarkan waktu yang menjawab semuanya, apabila sang waktu tetap tidak mengetahui jawabannya. biarlah semua berjalan apa adanya.

Cerpen Karangan: Lia Farikha N
Facebook: Lia Farikha N
Nama: Lia farikha Nurjanah
sering dipanggil liafar
hobi tidur, dan berimajinasi.
paling benci sosialisasi dan kerja kelompok.
kalau belum kenal emang terkesan cuek, tapi kalau udah kenal bakalan banyak omong kok. hehe

Cerpen If You Like Someone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Kelas Ujung

Oleh:
Aku berlari menuju kelas yang terletak di ujung belakang. Rasanya masih terlalu pagi. Ya tapi peraturan baru harus di taati. Masih terasa embun yang mengenai tangan ku. Wangi pagi

Senandung Kata Hatimu

Oleh:
Ketika fajar mulai menepi. Saat mentari ingin berbagi kehangatan pada setiap insan di muka bumi, aku telah memijakkan kedua kaki di bawah indahnya naungan cakrawala. Masa putih abu-abu yang

Maaf Karena Aku Terlalu Berharap

Oleh:
Hembusan angin dari jendela membangun kan ciara dari tidur nya. Ara melihat jam di meja belajar, “astagfirullah!!! Sudah jam 6 fix aku kesiangan!!!” Ujar ciara atau biasa dipanggil ara.

Ajur? Tidak Sama Sekali

Oleh:
Detik berganti detik, menit berganti menit. Jam berganti menuju ke arah yang salah. Jam 12.00 tengah malam. Aku masih berjaga-jaga, memincingkan mata kantukku dan menahan kelopak mata agar tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *