Ilusi Hati (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 July 2017

LAKI-LAKI itu menekan beberapa tuts di atas piano melantunkan sebuah nada. Matanya terpejam rapat di tiap alunan melodi yang menyayat. Terkadang tangannya bergetar begitu melodi yang ia mainkan membawa sebuah bayangan yang telah mati-matian dia hindari. Malam ini hujan turut mengantarkan sekelebat memori di tiap butirannya. Laki-laki itu mendesah. Alunan melodi itu terpaksa berakhir begitu terbukanya kedua mata. Sejenak laki-laki itu berdiam diri memandang semua butiran air langit yang menempel di jendela. Napasnya tercekat. Hujan di luar kembali mengundang bayangan itu. Bayangan yang selalu mengikuti ke mana laki-laki itu bersembunyi. Penyesalan tak kian mereda itu semakin hari semakin membuat laki-laki itu menyerah dengan keadaan.
Laki-laki itu tampak kokoh, namun rapuh ketika disentuh. Saat penyesalan itu terus merobohkan hatinya, hanya satu alasan yang mampu membuatnya terus bertahan dengan ribuan pilu hingga detik ini; Senyumnya.

“Mau ke mana, Ar?”
Mata Vigo terus memandang ke mana sahabatnya melangkah. Kedua tangannya masih setia memegang stik bilyard. Malam ini, seperti biasa, Arza mengundang Vigo untuk bermain bilyard. Tidak peduli bahwa besok mereka berdua dihadangkan oleh beberapa lembar ujian Fisika. Toh, tanpa perlu belajar malam, Arza selalu bertahan pada peringkat tiga besar di kelasnya.
“Mau ambil minum bentar. Titip?” tanya Arza sambil menyelempangkan jaketnya di sisi bahu.
Vigo tersenyum sumringah. “Pinjem dulu, Bro!”
“Gampang.” jawab Arza singkat, kemudian melangkah ke luar ruangan bilyard yang telah mereka pesan.

Kedua cowok paling beken se-SMA Harmony Internasional ini sering sekali menghabiskan waktu bersama di Bilyard de Bill. Selain bangunan yang sengaja didesain kuno, nuansa yang diciptakan pun tak kalah mendukung tempat ini. Di depan area Bilyard de Bill, terdapat taman yang cukup luas. Sepertinya pemerintahan di kota ini cukup memperhatikan selera rakyat dan juga keindahan lingkungannya —yah, setidaknya taman ini tidak dihuni oleh orang-orang yang berpacaran.
Sebenarnya malam ini Arza tidak hanya mengundang Vigo saja, melainkan ada Roy dan juga Faro. Sayangnya, kedua cowok tersebut sedang sibuk-sibuknya dengan turnamen Judo yang akan digelar sebentar lagi.

Arza memperlambat jalannya begitu melihat rintikan air langit jatuh begitu derasnya. Kemudian matanya menyapu pada sosok gadis yang duduk di pojok kafe ini sendirian. Mata gadis itu terus menatap rintikan air hujan yang menempel pada kaca di sampingnya. Senyumnya terkembang manis layaknya bidadari tanpa sayap. Sesaat Arza hanya diam terpaku pada tempatnya dan memandang setiap pergerakan yang diperbuat oleh gadis itu.
Sayangnya itu tidak bertahan lama. Mata gadis itu bergerak lagi dan tepat menabrak tatapan mata Arza. Saat itu juga cowok itu memalingkan wajah dan berjalan mendekati bartender untuk menutupi kegugupannya.
“Mas, Coca-Colanya dua, ya.” Arza mencoba untuk bersikap tenang seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi.
Cewek cantik kok sendirian aja, batin Arza.

Setelah menerima dua botol Coca-Cola, Arza hendak berjalan kembali. Namun, lagi-lagi tatapan matanya berhenti tepat di meja pojok kafe ini. Gadis yang sempat membuat Arza salah tingkah itu lagi-lagi memandang tetesan hujan di luar sana.
Entah hasrat apa yang mendorongnya untuk menghampiri gadis itu. Yang pasti jarak antara mereka kini hanya berselisih dua langkah. Hingga beberapa detik kemudian, mata yang sempat membuat detak jantung Arza berhenti berdetak, kembali menatap keberadaan Arza di depannya. Namun kali ini terlihat kerutan di dahi gadis tersebut.

“Iya? Cari saya?”
Suara lembut itu menampar halus pikiran Arza untuk kembali menyadari keadaannya. Matanya bergerak untuk mencari sebuah jawaban. Namun apa yang dilakukannya sekarang sama sekali diluar kendalinya. Cowok itu mengulurkan tangannya yang masih menggenggam satu botol Coca-Cola.

“M… mau Coca-Cola?”
Sialan! Arza terus mengumpat. Batinnya berperang terus dengan otaknya. Kini Arza tampak tolol di depan gadis itu yang memandangnya dengan bingung. Bagaimana tidak? Seorang cowok asing yang tiba-tiba mendatangi seorang gadis hanya untuk menawarkan sebotol soda? Yang benar saja.

Arza mengira bahwa gadis di depannya akan memandangnya sebagai cowok paling tolol sedunia. Namun perkiraannya melesat jauh. Gadis di depannya tersenyum—sangat manis yang lagi-lagi membuat Arza mati kutu di tempat. Gadis itu mengangguk dan menerima botol soda Arza.
“Boleh. Makasih ya.” katanya masih menyunggingkan seulas senyum.
“I-iya sama-sama.” jawab Arza kikuk.

Melihat cowok itu yang hanya berdiam diri di dekat meja, gadis itu tertawa dalam hati. Seorang cowok asing yang tiba-tiba mendatanginya hanya untuk memberikan sesuatu, sudah biasa bagi gadis itu. Jangankan Coca-Cola, belasan cokelat Toblerone yang masih berstempel impor saja sering menyelinap masuk ke dalam loker buku-bukunya. Gadis itu tahu, apa alasan cowok asing ini tiba-tiba saja mendatanginya. Apalagi kalau bukan untuk modus? Namun yang sekarang harus ia lakukan, adalah bersikap ramah seperti yang ia lakukan kepada semua cowok yang mendekatinya.

“Kalau mau duduk, duduk aja.” kata gadis itu tersenyum.
Arza mengangguk cepat dan duduk tepat di hadapan gadis itu. Jantungnya berpacu cepat. Bahkan alasan mengapa ia merasa tertarik dengan gadis di depannya ini saja ia tidak tahu. Ini kali pertamanya bagi Arza merasakan jantungnya berpacu dengan cepat hanya dengan sekali pandang. Jujur, ini sangat melenceng jauh dari reputasinya di sekolah.
Arza Ganendra, cowok populer yang murah senyum, ganteng, beken, pentolan SMA Harmony Internasional, namun tidak pernah terdengar desas-desus Arza sedang menyukai seorang cewek.
Semua kabar percintaan seorang Arza Ganendra layaknya sebuah koran kosong, hening, dan tidak ada apa-apanya. Dengan kata lain, Arza tidak pernah pacaran.
Surat-surat dan segala macam benda lainnya yang menyelinap di loker sekolahnya bagaikan santapan Arza sehari-hari. Surat cinta dari adik kelas, hadiah dan kado-kado dari kakak kelas, itu sudah biasa bagi Arza. Namun cowok itu hanya membalas semua perjuangan penggemarnya dengan senyuman. Dan itu dia berikan untuk semua cewek yang naksir padanya.

“Kenalin, saya Diandra.” Gadis itu mengulurkan tangannya.
Arza tersenyum sembari menerima uluran tangan Diandra. “Saya Arza.”
“Sering ke sini?” tanya Diandra.
“Ini tempat favorit kami buat nongkrong. Kalo kamu?” Arza bertanya balik.
“Nggak sering-sering juga sih. Kebetulan aja lagi lewat sini.” jawab Diandra sambil sesekali melirik hujan di luar.

Arza yang sempat menangkap ke mana tatapan Diandra, kini hanya termanggut-manggut. “Suka hujan ya? Dari tadi saya lihatin kok ngelihatin hujan terus.”
Diandra terkekeh pelan. “Suka banget. Saya suka semua yang berhubungan dengan air.”
Arza mengangkat satu alisnya. “Kenapa?”
Diandra tersenyum. “Nggak tahu. Cuma saya merasa tenang aja. Apalagi kalo hujan turun. Seakan-akan semua beban saya hilang seketika.”
“Oh gitu.” Arza mengangguk-angguk.

Kemudian Diandra melanjutkan perkataannya, “Apa hujan juga bisa ya ngerasain apa yang saya rasakan?”
Arza memandang hujan sekilas, kemudian bibirnya menarik sebuah senyuman yang manis—senyuman yang belum pernah ia lontarkan pada siapa pun, tak terkecuali. “Hujan hanya bisa dirasakan tanpa perlu merasakan balik.”
Diandra sedikit terkejut dalam hati mendengar penuturan Arza. Pertanyaan yang sangat sederhana, namun beberapa orang yang sempat Diandra tanya, tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Kecuali Arza. Arza seorang.

“Ini udah malem. Kamu nggak pulang? Besok kan masih sekolah.” lanjut Arza sambil melirik jam tangannya.
“Kampus saya libur.” jawaban Diandra menyentak Arza sekilas.
“Loh? Kamu sudah kuliah?” Arza menatap gadis di depannya dengan mata yang membulat sempurna.
Diandra menyipitkan mata. “Jangan-jangan…” Diandra semakin mengerutkan dahinya, “kamu masih SMA ya?”
“Lebih tepatnya, saya masih kelas dua belas.” sahut Arza. “Kamu anak kuliahan?” tanyanya lagi masih dengan hati penasaran.
“Semester dua.” tambah Diandra sambil memasuk-masukkan barang-barangnya ke dalam tas. “Ya udah. Saya pulang dulu ya, permisi.”
Arza menatap kepergian Diandra dari hadapannya hingga punggung gadis itu menghilang dari tatapannya. Cowok itu mendesah pelan dan menyandarkan dirinya di kursi. Mata itu kini beralih menatap butiran air langit yang menempel pada kaca di sampingnya.

Diandra. Cewek kuliahan yang bisa bikin gue acak-acakkan begini. Kapan gue bisa ketemu dia lagi, batin Arza.
Pikirannya kembali bergulat dengan bayang-bayang Diandra barusan. Kalau dibilang soal kecantikan, banyak cewek-cewek di SMA-nya yang jauh lebih cantik daripada Diandra. Tapi kali ini lain. Entah apa yang membuat Arza melangkah menuju Diandra. Yang cowok itu rasakan hanyalah tertarik. Tertarik akan apa ia juga tidak tahu. Terlebih lagi saat menatap senyum Diandra bersama hujan. Seakan ada sesuatu yang ingin gadis itu ucapkan namun tidak bisa terucapkan oleh kata-kata.
Gadis itu misterius.

“Coy!”
Arza mengerjapkan matanya berulang kali. Kini di hadapannya sudah ada Vigo yang menatapnya dengan terheran-heran. Kemudian hidungnya mengendus-endus sesuatu.
“Lo abis sama cewek?” tanyanya lagi.
Arza hanya diam.
“Siapa? Kok lo nggak ngenalin ke gue? Eh sumpah lo abis sama cewek?!” Lagi-lagi Vigo langsung menyerbu Arza dengan berbagai pertanyaan. “Gue kira lo nggak bakal pernah tertarik sama cewek. Gue sampe mikir kalo lo ini h*mo.”
Arza menyundul kepala Vigo. Cowok yang satu ini kalau ngomong asal ceplos. Nggak tahu apa kalau Arza sedang dilanda rasa galau karena bingung apakah ia akan bertemu dengan gadis itu lagi atau tidak.

“Gue cabut.” Arza tiba-tiba berdiri dan menyelempangkan jaketnya di sisi bahu.
“Eh, tunggu, Coy! Perasaan gue tadi pesen minuman deh ke lo.”
Arza melemparkan botol Coca-Cola miliknya kepada Vigo dan langsung ia tangkap dengan sigap.
“Ambil aja punya gue.”
Vigo hanya memandang sahabatnya yang tiba-tiba melangkah pergi keluar kafe. Tak peduli bahwa di luar sedang dilanda hujan deras.

Lagi-lagi sore ini hujan kembali turun. Cowok itu menghela napas kasar. Mimik wajahnya menyiratkan bahwa cowok itu benar-benar merasa kesal. Belum lagi seharian tadi harus main petak umpet dulu sama guru tatib. Apalagi kalau bukan soal seragam yang kinclong dari berbagai macam atribut.
Bukan hanya itu saja. Sebelum pulang sekolah, Arza harus mendapatkan hukuman lain lagi dari guru Kimia yang terkenal killer dan nggak jelas. Sebenarnya ini juga salah Arza yang tidak mengerjakan pr dan membuat kelas gaduh dengan lawakannya. Sehingga Bu Luk—oke, nama sebenarnya adalah Bu Luki Mia Atomnisa. Nama yang cantik, namun mereka semua sepakat untuk memanggilnya Bu Luk. Biar style gitu, menyuruh Arza untuk membawa lima buku mengenai teori-teori atom. Kalau Arza menolak, hukumannya adalah mengerjakan satu buku penuh soal stokiometri.
Memang angker tuh guru.

Arza memasuki mobilnya dan mengendarainya asal-asalan. Arza nggak suka hujan. Menurutnya, hujan hanya mempersulit keadaan. Jalanan yang sudah macet, jadi tambah macet perkara hujan. Belum lagi seragam jadi basah.

Setelah menunggu bermenit-menit di jalanan, akhirnya cowok itu dapat bernapas lega dan memasuki toko buku.
Ia berjalan mengitari rak satu ke rak buku lainnya. Jaket cokelat yang bertuliskan band favoritnya terpampang manis di bagian belakang jaket; Bring Me The Horizon. Arza celangak-celinguk mencari di mana kumpulan buku-buku pelajaran. Karena dasarnya si Arza memang jarang atau bahkan tidak pernah memasuki toko buku jadi bingung di mana harus mencari.

Kakinya terus melangkah menelusuri rak demi rak. Hingga ia berhenti pada rak kumpulan buku-buku sastra. Matanya mengamati seorang gadis yang cukup tinggi —setinggi telinga Arza, memakai sweater merah muda, rambut yang dibiarkan tergerai indah, sedang membaca buku. Arza menyipitkan mata. Gadis itu terlihat familier. Cowok itu berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengannya.
Hingga pada akhirnya, Arza menyadari bahwa gadis itu adalah Diandra.

Secepat kilat Arza langsung menyapa gadis itu. “Hai.”
Gadis yang Arza asumsikan adalah Diandra itu menoleh. Lagi-lagi senyuman itu tercetak manis di wajahnya. Gadis itu menutup bukunya dan menyapa Arza, “Hai, Za.”
“Kebetulan banget.” Arza tersenyum senang sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
Diandra terkekeh. “Saya nggak percaya sama yang namanya ‘kebetulan’. Pasti kamu ngikutin saya, ya?”
Arza menggelengkan kepalanya cepat. “Eng-enggak! Suer deh.” Jari-jarinya membentuk tanda piece.
Diandra terkekeh lagi. “Hahaha. Iya-iya saya bercanda.”
Arza tersenyum. Dirinya mati-matian menahan agar teriakannya tidak terdengar siapa pun. Rasanya itu bagaikan melihat bidadari jatuh dari kahyangan begitu bertemu Diandra. Nggak nyangka aja bakal bertemu dengannya di toko buku.

“Nggak nyangka ya. Cowok kayak kamu mau dateng ke toko buku.” kata Diandra membuat Arza gelagapan sendiri. Pasalnya, cowok itu ke toko buku perkara Bu Luk menyuruhnya untuk membawa lima buku tentang atom. Kalau bukan karena beliau, sudah pasti toko buku adalah satu dari banyak tempat yang Arza hindari.
Pokoknya, tempat favorit Arza itu warnet, Bilyard de Bill, sama kamarnya sendiri. Nggak ada yang lain.
“Ah enggak. Cuma mau lihat-lihat aja.” kata Arza tersenyum kikuk. “Oh ya, kamu tau di mana tempat buku-buku Kimia nggak?”
Diandra berpikir, kemudian dia berjalan mendahului Arza. “Ikutin saya.”

Tanpa perlu menjawab, Arza mengikuti Diandra hingga mereka berdua berada di rak buku-buku Kimia. Arza mulai meneliti judul demi judul yang berhubungan dengan atom. Diandra hanya mengamati adik kelasnya yang sepertinya antusias sekali dengan Kimia, padahal jauh di lubuk hati Arza, dia mengutuki semua penemu-penemu Kimia.

“Kamu suka Kimia ya?” tanya Diandra begitu mereka berdua keluar dari toko buku. Kini keduanya sedang meneduh di depan pintu masuk menunggu hujan sedikit reda.
Lagi-lagi Arza terkekeh dalam hati. “Biasa aja sih.” Lalu matanya memandang plastik yang digenggam Diandra. “Kalo kamu suka baca puisi-puisi ya?”
Diandra tersenyum. “Iya, penulis puisi yang saya idolakan salah satunya Khalil Gibran.”
“Oh…” Arza termangut-mangut. “Salah satu contoh puisinya yang mana?”
“Um…” Diandra mengingat-ingat. “Oh yang judulnya Cinta.”
Arza menganggukkan kepala. Sebenarnya pertanyaannya bersifat modus. Tidak ada sedikit pun unsur yang mengandung rasa penasaran akan puisi. Cowok itu hanya modus bertanya agar percakapan tidak berhenti sampai di situ saja. Ini sebuah keberuntungan bisa bertemu dengan gadis yang sempat membuat tidurnya nyenyak beberapa hari ini.

“Oh ya. Kamu pulang naik apa?” tanya Arza.
“Kayaknya saya pesan taksi aja deh.” Diandra mulai mengeluarkan ponselnya.
Buru-buru Arza menghentikan aktivitas Diandra. “Nggak usah. Bareng saya aja, Kak –eh Di –eh…” Arza menggaruk tengkuknya bingung.
“Diandra aja.” sahut Diandra dengan tawaan kecil.
“Diandra.” kata Arza tersenyum menatap wajah gadis di depannya.
Tatapan mata Diandra ikut terpaku di bola mata hitam pekat milik Arza. Belum pernah dilihatnya bola mata sehitam itu. Dan kini Diandra dihadangkan dengan senyuman dari cowok di depannya. Tanpa sadar, Diandra turut menyunggingkan senyumannya.

Cerpen Karangan: Aisy Permata
Blog: www.aisypermata.blogspot.com
Hai 🙂
Terimakasih sudah membaca. Kalau ingin membaca karya saya lainnya, bisa mampir di Wattpad @Snowonfire_

Cerpen Ilusi Hati (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dira

Oleh:
“Andira Maharani Putri” teriak mamahku yang dibarengi siraman air yang membuatku mengerejab seketika. “Ma, Dira ini anak mamah, tega banget sih.” Gerutuku kesal. “Jangan salahkan mamah.” pergi dengan santai

Oreyn Love

Oleh:
“Suka?” “iya rey, gua suka lo. udah lama gua mendam perasaan ini. sakit rey ternyata. gua tau lo mungkin gak suka gua tapi gak papa. gua terima kok” kata

Pengagum Si Tukang Curhat

Oleh:
Seiring matahari terbit, meskipun hari ini aku tidak punya jadwal kuliah pagi, aku ingin segera berangkat ke kampus. Aku pun bergegas menyelasaikan sarapan dan langsung pergi berpamitan. Kuhidupkan motor

Hani Si Miss Free

Oleh:
Dengan lesu siang itu sepulang sekolah Hani berjalan menuju halte tempatnya biasa berteduh dari terik maupun hujan sambil menunggu angkutan umum. Tepat pukul dua siang ketika sejenak ia menengok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *