Ilusi Hati (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 July 2017

Arza berbeda. Begitu yang Diandra tangkap sejak awal pertemuannya dengan cowok itu. Namun gadis itu tidak ingin jatuh kembali. Sudah cukup hatinya diremukkan oleh masa lalu. Semua cowok sama saja. Datang lalu pergi. Semudah itu. Namun meninggalkan sayatan yang datang namun tidak mudah pergi. Diandra cukup terluka. Bahkan ketika otaknya memutar kembali saat itu, hanya rasa sakit yang masih membekas di hatinya. Cukup kali ini, Diandra hanya akan menganggap Arza sebagai adik kelasnya. Catat itu. Adik kelas.
Prinsip Diandra sudah sangat kuat. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan yang namanya asmara. Cukup dia yang terakhir. Gadis itu tidak ingin membukakan hatinya untuk diremukkan kembali.

“Ekhm… nggak ngerepotin, nih?” Diandra berusaha menghilangkan semua hal yang berbau asmara di antara mereka. Kalau bisa, Diandra yang akan memberikan luka pada siapa pun yang mendekatinya. Tak terkecuali Arza.
“Enggaklah. Santai aja. Yuk.” Arza membukakan pintu mobilnya untuk Diandra. Kemudian cowok itu duduk di balik kemudi.

Selama perjalanan hanya deru mesin yang mengisi keheningan di antara mereka. Diandra yang sibuk memainkan ponselnya, dan Arza yang fokus menyetir. Hingga beberapa saat kemudian, kedua bibir itu saling berucap.
“Di.”
“Za.”
Diandra menatap Arza sekilas, begitu juga Arza. Detik selanjutnya mereka berdua tertawa.

“Kamu duluan aja, Di.” kata Arza mempersilakan.
“Kamu nggak laper gitu? Makan dulu yuk.” tawar Diandra.
“Lah? Saya juga mau ngomong itu.” Arza tertawa.
“Cie… samaan.” tambah Diandra.
“Jodoh kali ya.” timpal Arza membuat Diandra terdiam.
Melihat respon Diandra yang tiba-tiba terdiam, langsung saja perasaan tidak enak menyeruak hati Arza. “Canda kali, Di. Nggak usah ditanggepin serius.”
“Oke.”

Arza memarkirkan mobilnya di sebuah warung makan bakso. Kemudian keduanya buru-buru menghindar dari tetesan air hujan. Sebenarnya hanya Arza yang menghindar, sedangkan Diandra justru melambatkan jalannya untuk merasakan tetesan air hujan. Kalau saja pergelangan tangannya tidak ditarik oleh Arza.

“Baksonya dua porsi ya, Mbak.” pesan Arza kepada pelayan. “Kamu minum apa, Di?”
Diandra melihat daftar menunya. “Es jeruk satu, Mbak.”
“Dua.” sahut Arza.
Pelayan itu tersenyum dan memutar haluan.
Lima menit kemudian, pesanan mereka berdua datang.

“Kayaknya main hujan-hujanan seru kali ya, Za.” kata Diandra sambil menyesap kuah baksonya yang super-duper pedas.
Arza menggeleng-geleng. “Apa enaknya main hujan, Di. Masuk angin.”
“Ish!” elak Diandra. “Main hujan itu enak tau. Kita bisa bebas berekspresi tanpa perlu orang lain ketahui.”
“Enggak ah. Entar sakit.”
Diandra menciutkan bibirnya. Lalu sendok berisi kuah bakso itu disodorkannya pada Arza.
“Apaan nih, Di?” tanya Arza bingung.
“Buka mulut aaa.” Diandra memasukkan sendoknya yang penuh dengan kuah bakso paling pedas.
“Anjrit!!!” Buru-buru Arza meneguk es jeruknya dengan mata berair. Sedangkan Diandra tertawa terpingkal-pingkal melihat Arza menangis.
“Kamu mau bunuh saya, Di?” Arza mengusap air di sekitar kelopak matanya.
Diandra masih tertawa. “Ya enggaklah, Za. Cuma minta kamu buat nyicipin kuah bakso saya.”
Arza melipat kedua lengannya di atas meja. “Kalo nyicipin buat tinggal di hati kamu, saya boleh nggak?”
Diandra sedikit terkejut. Namun gadis itu bisa segera mungkin menetralkan ekspresinya. “Gombalan basi tau nggak, Za.” Diandra tertawa.

“Ngomong-ngomong,” Arza menarik napas, “kamu sudah ada yang punya belum?”
“Coba tebak.” Diandra memajukan wajahnya dan tersenyum jahil.
Arza berpikir. “Pasti belum. Yakan? Yakaaan???”
Diandra bertepuk tangan sambil tertawa. “Benar sekali.”
“Ya udah kalo gitu kita jadian aja.”
DEG!
Seketika tawa Diandra terhenti. Jantungnya berpacu cepat. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Asmara bukan kehidupan Diandra. Jadi, Diandra nggak boleh jatuh cinta lagi kalau nggak mau remuk untuk yang kedua kalinya. Cukup dia yang terakhir.

Gadis itu tersenyum. “Za, saya punya tempat yang bagus banget. Mau tau nggak?”
Arza mengerutkan dahinya. “Tempat apa?”
“Udah deh ikut aja. Ayo.”

Di sinilah mereka berdua. Berada di atas pohon bersama hujan. Memandang aliran sungai yang mengalir, ditemani dengan luasnya hamparan rumput hijau di sekitaran mereka. Arza terus menggigit apelnya.

“Kamu ternyata liar juga ya, Di. Hujan-hujan nekat manjat pohon.” kata Arza diiringi kekehan kecil.
“Ya iya dong. Hidup saya itu nggak mau semulus jalan tol. Nggak menantang! Saya lebih suka yang bernyali.” kata Diandra sambil menggigit apel yang ke-lima gadis itu makan.
“Termasuk terjun dari tebing tanpa pengaman, gitu?”
“Wah!” sahut Diandra. “Itu sih menantang banget! Ayo aja kalo kamu mau. Kapan?” tanya Diandra antusias.
Azra menepuk dahinya. Nih cewek diajak mati malah seneng banget, batin Arza.
“Daripada terjun dari tebing, mendingan kita loncat dari atas sini aja deh ya, Di. Lebih aman. Paling jauh cuma kepeleset terus patah leher.” kata Arza bersiap-siap lompat dari atas pohon.
Senyuman miring seakan meremehkan itu tersungging di bibir Diandra. Dia melipat kedua tangannya dan menganggukan kepala seolah ia menyilakan Arza untuk loncat sekarang.

HUP!
Arza menapak aman di atas rerumputan yang licin tanpa goyah sedikit pun. Kemudian tangannya terulur untuk menangkap Diandra agar tidak terjatuh. Namun diluar dugaan. Diandra justru meloncat menjauhi tangkapan Arza, melainkan gadis itu ingin menunjukkan bahwa ia tidak memerlukan bantuan Arza.

Hebatnya, Diandra menapak aman tanpa goyah sedikit pun di atas rerumputan yang licin. Tetapi saat Diandra berjalan mendekati Arza, kakinya terpeleset dan tubuhnya terhuyung ke depan. Dan saat itulah Diandra menyadari bahwa dirinya menibani Arza.

“Harusnya kamu terima tangkapan saya. Karena saya nggak bakal biarin kamu terjatuh untuk yang kedua kalinya.” bisik Arza di tengah-tengah tetesan hujan yang menjatuhi wajah serta rambutnya. Jujur, Arza saat ini tampak sepuluh kali lebih keren dibanding biasanya. Rambut yang basah karena hujan dan mata yang terpancar dari balik tetesannya. Harus berapa kali Diandra menolak hal tersebut, jika pada faktanya Arza memang tampan.
Namun lagi-lagi Diandra terus memegang teguh prinsipnya. Ia tidak boleh jatuh cinta jika tidak ingin remuk untuk yang kedua kalinya.

“Di.” panggil Arza lembut membuyarkan lamunan gadis itu. “Jadi pacar saya ya?”

Malam ini, Arza berguling-guling di kamarnya yang bersuhu nyaris sedingin kutub utara. Arza paling suka suhu dingin. Mungkin sekarang bisa saja dia membuka baju atasnya dan tidur tanpa selimut. Itu yang biasa dia lakukan. Tapi untuk kali ini tidak. Dia sedang gelisah galau merana perkara perasaannya yang ditolak mentah-mentah oleh Diandra.

Hal selanjutnya adalah Arza meloncat dari kasur dan langsung bertatapan dengan cermin besar di kamarnya. Dia memandang tiap-tiap detail wajahnya. Nggak jelek kok. Tetap ganteng seperti biasanya. Lantas mengapa Diandra menolak?

“Sialan!” Arza memukul kasurnya berulang kali. Mungkin Arza bakal kelihatan bego banget bisa jatuh cinta sama kakak kelas. Tapi yang namanya cinta kan nggak tau bakal jatuhnya ke siapa. Yang hanya ingin Arza akui saat ini adalah; Dirinya mencintai Diandra.

Arza mengambil ponselnya yang tergeletak manis di dekat jendela kamarnya. Dia membuka aplikasi hijau dan men-chat Diandra.

081234xxxxxx: Hai, Di.

Diandra tengah mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut di kamarnya. Kemudian ponselnya berdentung. Gadis itu membaca pesan dari seseorang dengan nomor yang tidak dikenal.

081552xxxxxx: Siapa?

Tak lama, Diandra menerima kembali jawaban dari pesannya.

081234xxxxxx: Arza yang paling ganteng.

Diandra mematikan alat pengering rambutnya dan berjalan menuju kasurnya. Gadis itu menyikap gorden yang menutupi keindahan malam kota metropolitan. Ya, gadis itu tinggal sendirian di sebuah apartemen yang kebetulan kamarnya berada di atas, sehingga dapat leluasa melihat pemandangan kota. Sedangkan kedua orangtua Diandra berada di Kanada.

081552xxxxxx: Maaf, sepertinya saya tidak pernah memberikan nomor ponsel saya pada siapa pun, termasuk Arza.

Diandra berpikir sejenak. Sejak kapan ia memberikan nomor ponselnya pada Arza? Ah, ini pasti kerjaan orang iseng yang ngaku-ngaku sebagai Arza saja. Tapi darimana orang iseng ini tahu kalau akhir-akhir ini Diandra sering bersama Arza?

Ponselnya berdentung kembali. Namun kali ini dentungannya panjang.

081234xxxxxx is calling…

Diandra memperhatikan layar ponselnya sejenak sebelum memutuskan untuk mengangkatnya. Barulah di detik yang ke sepuluh gadis itu mengangkat teleponnya.

“Halo?” sapa Diandra ragu-ragu.
“Sekarang percaya kan?” sahut sosok di seberang telepon.
“Dapet nomor saya dari mana?” tanya Diandra kini berdiri dan memandang pemandangan di luar.
Sosok di seberang sana tertawa kecil. “Saya selalu tau apa saja tentang kamu.”
Diandra tersenyum miring. “Oh ya? Apa saja?”
Arza terdiam sejenak. “Evelly Diandra. Cewek yang hobinya main kick-boxing dan nggak suka basa-basi. Cewek yang nggak gampang marah tapi selalu menyusun siasat untuk membalas. Cewek yang sukanya minum jus alpukat dan jambu. Hobinya renang. Tapi cita-cita pingin jadi dokter relawan dan penulis. Tapi kuliahnya ambil teknik Kimia.” Arza terdiam sejenak membuat napas Diandra tercekat di tenggorokan.
“Yang pasti,” lanjut Arza, “kamu nggak mau jatuh cinta karena nggak ingin diremukkan untuk yang kedua kalinya.”
Kalimat terakhir Arza sukses membuat Diandra bungkam seribu bahasa. Kakinya melemas dan dirinya terduduk di dekat jendela besar yang membatasi kamarnya dengan pemandangan di luar. Kini pemandangan indah itu tertutupi dengan derasnya hujan yang tak segan-segan menghantam kaca jendela Diandra.

“K-kamu tau dari mana?” Diandra menyandarkan kepalanya di kaca.
“Sekarang saya tahu kenapa saya sulit sekali mendapatkan pacar.” kata Arza. “Itu karena hati saya sudah menyukai seseorang yang pernah membuat saya menangis saat umur tujuh tahun karena didorong hingga terjatuh.”
Diandra terkejut dan memejamkan matanya rapat-rapat.

“Mamaaa!!! Di ngambil mobil-mobilanku!!!” tangis bocah laki-laki di tengah lapangan.
“Apaan sih? Cengeng banget jadi cowok!” Seorang bocah perempuan yang jauh lebih tinggi dibanding bocah laki-laki tersebut mendorongnya hingga terjatuh.
“Mamaaa!!!” tangis bocah itu.
“Jadi cowok itu harus yang kuat, nggak boleh cengeng!” Bukannya meminta maaf, tetapi bocah perempuan itu justru semakin memaki-maki bocah laki-laki yang terus menangis perkara dengkulnya berdarah.
Diandra membuka kedua matanya. Tangannya bergerak untuk menyentuh wajahnya. Gadis itu menangis. Diandra menekuk lututnya.

“Arza Ganendra. Bocah cengeng sahabatku.” kata Diandra tersenyum di balik tangisannya. “Apa kabar, Za? Lama ya kita nggak ketemu.”
Arza tersenyum di seberang telepon. “Sejak kamu pindah ke Kanada. Aku kangen kamu, Di.”
“Aku juga kangen kamu, Za.” jawab Diandra masih tersenyum. “Jadi selama ini kamu tau kalo aku ini Diandra sahabat kamu sejak kecil?”
Arza tertawa pelan. “Aku nggak pernah ngelupain cinta pertamaku, Di.”

Diandra tersenyum miring seakan perkataan Arza barusan hanyalah perkataan anak SMA yang masih sebagai bualan semata. Bocah SMA yang sok ngerti tentang apa itu cinta, namun tidak mengerti betapa sakitnya cinta. Bocah SMA yang datang dan pergi seenak jidat. Bocah SMA yang nggak ngerti apa itu arti perjuangan dan pengorbanan. Semua itu hanyalah bocah SMA yang nggak ngerti apa-apa.

“Malam minggu besok jalan yuk, Di.”

Cerpen Karangan: Aisy Permata
Blog: www.aisypermata.blogspot.com
Hai 🙂
Terimakasih sudah membaca. Kalau ingin membaca karya saya lainnya, bisa mampir di Wattpad @Snowonfire_

Cerpen Ilusi Hati (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


7200 Hari

Oleh:
Hari ke 6120 dalam hidupku. Dari pertama aku lahir, sampai tepat pada ketujuh belas usiaku. Aku tidak setua itu, kan? Tujuh belas tahun adalah masa di mana aku harus

Mulki

Oleh:
Kini aku tinggal sendiri di rumah. Pagi-pagi sekali kudapati yang lain pergi menjenguk nenekku yang sakit. Aku bermaksud untuk beristirahat total sekarang. Sebab akhir-akhir ini aku merasa badanku kurang

Titisan Dewi Siwa

Oleh:
Aku hidup di sebuah gubug yang menurutku layak untuk ditempati daripada harus hidup nomaden atau berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Aku bersyukur bisa mempunyai rumah. Walaupun

Broken Heart

Oleh:
What happen? Ini cuma pencampakan konyol ternyata, rudy nggak punya hati. Kenapa dia memutuskan hubungan ini. Aku bahkan hampir mati sekarang. Aku lupa kapan terakhir aku mandi dan mungkin

My Dreams

Oleh: ,
Namaku Liana murid IPA-2 di SMU GARUDA. Teman-teman dan sahabat-sahabatku sering menganggap aku ini telmi -telat mikir- tapi menurutku biasa saja. Seperti biasa, sebelum aku berangkat ke sekolah. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ilusi Hati (Part 2)”

  1. your life says:

    ilusi hati part 3 kok gak bisa di buka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *