I’m Feeling Blue (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Pukul 2 dini hari aku belum tidur. Insomnia lagi. Hujan deras turun di malam selarut ini mengerikan sekali kedengarannya. Tapi, menurutku dedemit dan kuntilanak malas bergentanyangan karena takut kostum mereka basah terkena hujan. Aku mencoba tidur, karena bila aku tak tidur cukup, kepalaku bisa pusing pagi nanti. Ku pikirkan yang menyenangkan, agar aku cepat tidur. Tak bisa. Ku pikirkan tentang ujianku, malas sekali. Akhirnya aku membaca novel. Novel favoritku, dari pengarang favoritku. Baru satu halaman, aku bosan, karena puluhan kali kubaca novel ini, sampai hafal betul seluk beluk ceritanya.

Ku lirik jam di layar handphone, 03.04 WIB, masih dini hari. Aku bingung harus melakukan apa agar aku bisa tidur. Sesuatu dalam kepalaku seolah menggangguku. Pikiran-pikiran yang aku sendiri pun tak tahu, tapi terus membuatku terjaga. Gelisah, cemas, ingin. Perasaan macam apa itu! Mengerikan sekali aku tak dapat membuat diriku sendiri tertidur. Aku benar-benar akan sakit kepala pagi nanti. Gila! Ku coba memejamkan mataku. Membebaskan otak kanan kesayanganku. Membiarkan dia mau melakukan apa. Aku pasrah saja, yang penting aku harus segera tidur. Di luar akalku, dia menemukan memori setahun lalu. Kenangan tentang keindahan pantai dan cinta masa lalu yang timbul tenggelam seperti lumba-lumba di lautan.

Libur lebaran 2014.
Seperti kampung-kampung lain di luar sana, kampung kami pun memiliki sebuah organisasi remaja yang disebut karang taruna. Karang taruna mungil kami yang bernama Prabumas dibentuk setahun lalu atas prakarsa ketua kami, Akhmad Muzayin. Dan, anak rumahan seperti Pras, akhirnya bergabung dengan karang taruna ini. Ketika libur lebaran, Prabumas dan remaja kampung kami berlibur ke Pantai Menganti, Kebumen. Pantai itu populer akhir-akhir ini. Letaknya jauh di balik bukit-bukit kecil berbaris-baris. Dari Pantai Ayah, yang sudah lama terkenal, tinggal menanjak saja melewati jalanan beraspal yang meliuk-liuk.

Dari kampung kami berangkat pukul 23.00. Perjalanan jauh ini semakin tidak mudah ketika hujan turun ke bumi. Rombongan kami yang hanya dengan dua mobil bak terbuka, terkena percikan-percikan hujan. Sempit, berdesakkan, dingin, mengantuk dan lelah. Malam jatuh semakin larut, membuat suasana semakin mencekam. Pras di sampingku. Menjagaku, diam-diam. Saat yang lain sudah mulai terlelap, hanya aku, Pras, dan sopir di depan masih terjaga. Ku tahu Pras juga bergabung dengan Organisasi Siswa Pecinta Alam di sekolahnya, sama sepertiku. Namun Pras lebih senior daripada aku. Kami rasa, kami punya topik obrolan yang sejalan. Pras bercerita tentang pengalaman Diklatsar-nya. Juga tentang pendakian pertamanya ke Gunung Sumbing. Dia begitu antusias menceritakan pengalaman hebat itu.

“Jangan coba kau mendaki ke sana. Tanjakannya, Masya Allah, luar biasa menanjak tegak.” Katanya.
“Hmm, begitu? Lalu, kau tidak menyerah? Kau mendaki hingga puncaknya?”
“Menyerah itu untuk para banci. Petualang sejati sepertiku tak akan mungkin menyerah. Ya, puncak Sumbing sangat indah. Di hadapanku Gunung Sindoro menjulang tegak. Di pandangan yang jauh, Merapi, Merbabu dan kawanannya berdiri kokoh, puncak-puncaknya ditimpa hangat cahaya matahari pagi. Subhanallah indahnya.” katanya kagum. Aku tersenyum menanggapi ceritanya. Aku terlalu tersihir caranya berbicara. Awesome…

Dan malam berganti dini hari, yang lebih sepi. Aku mulai mengantuk, dia juga. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Ku pikir tak masalah baginya. Lengannya melingkar, memeluk punggungku agar aku tak terlalu kedinginan.

Pantai Menganti, 03.00 WIB.
Saat aku terbangun, kami sudah sampai. Tikar lebar digelar. Beberapa laki-laki membakar daging ayam yang kami bawa dari kampung, di atas kayu bakar yang menyala-nyala. Beberapa perempuan masuk angin, memilih untuk diam saja. Dan berapa lagi bernyanyi sambil memainkan gitar mengelilingi api unggun yang hangat. Di sudut tikar yang lain, aku memilih untuk tidur lagi, berbantal boneka Baby Bear-ku yang gemuk. Langit di atasku cerah bertabur bintang, suara debur ombak di bawah, angin laut bertiup kencang, dingin mencakar tulang belulang. Tak pernah ku rasakan perasaan sedamai ini. Tak ku sangka Pras meletakkan tasnya di dekat kepalaku, dia berbaring di sampingku.

Aku terkejut, menoleh padanya. Mata dinginnya tertuju ke langit penuh bintang. Perasaan saat kelas empat sekolah dasar dulu, jatuh bertaburan dari langit, dari bintang-bintang itu, menghujaniku. Menakjubkan. Indah tak terperi. Ketua menyuruh kami untuk segera makan selagi ayam bakarnya hangat. Ah, entah makan malam, ataukah pagi, kami menyantap ayam bakar dengan ketupat yang dibawa dari rumah. Suasananya hangat walaupun angin dingin menyerang kami. Dada kami dipenuhi suka cita. Bercengkerama, canda, tawa di antara kawanan kami. Lelah tadi, sirna sama sekali.

Selesai makan, Pras dan aku bergabung dengan pemain gitar dan tam-tam. Aku tidur, berbantal pahanya, sementara dia duduk bersila memainkan gitar dan menyanyi dengan teman-teman yang lain. Suaranya berubah, tak sama lagi ketika kami kanak-kanak, karena dia sudah mengalami pubertas. Di masa pubertas, remaja laki-laki akan mengalami perubahan suara. Suara Pras menjadi lebih berat. Tapi untuk laki-laki seusianya, itu cukup wajar. Ini di luar dugaanku. Rasanya seperti mimpi, aku ditidurkan di pahanya, dinyanyikan lagu-lagu cinta sambil memainkan gitar ditingkahi suara debur ombak. Unbelieveable sekali!

Dan seperti biasa, di mana-mana aku menggigil jika terkena angin malam. Dingin merayap dari kaki hingga ubun-ubun. Telapak kakiku rasanya beku. Dan terus menggigil seperti kucing tercebur kali. Urat-urat leherku tegang sekali, badanku bergetar-getar, gigiku beradu dan aku mendengus-dengus seperti hewan sembelihan, dingin tiada tara. “Aku mati. Aku mati. Hipotermia hingga mati. Mati, mati, mati. Mati di paha Prasandi. Segera mati. Beberapa detik lagi.” kataku putus asa dalam hati. Mataku terpejam rapat. Rupanya Pras kemudian sadar aku kedinginan. Dia mengambilkanku selimut dari mobil. Lalu menyelimuti sekujur tubuhku. Aku masih terpejam.

Darah perlahan hangat mengalir lagi dalam tubuhku. Dia mengusap rambutku. Dia hanya melakukannya, tanpa berkata. Yang selalu ku suka darinya adalah sedikit berkata namun banyak melakukan hal yang menakjubkan untukku. Waktu kami masih bersama, dia jarang sekali mengatakan, “Aku menyayangimu.” padaku. Tapi, ku tahu dia menyayangiku, ku temukan itu di sinar mata polosnya yang indah. Dan ketika kami tak lagi ‘bersama’, sinar mata yang dulu masih tersisa. Tapi aku takut, aku salah menerjemahkan matanya. Aku takut terlalu berharap akan dia. Aku takut aku akan terluka yang lebih perih dari yang selama ini ku rasakan. Aku takut, dia tak punya lagi rasa yang tersisa untukku, bahkan bila ku mengemis padanya.

Pukul enam pagi, kami turun ke pantai. Sunrise merekah di balik bukit-bukit di belakang kami. Sekarang, pantai pasir putih terhampar di depan kami. Terlalu luas, tak terbatas. Hingga yang tampak hanya garis lurus laut biru. Ku dekati garis bibir pantai. Kepiting berwarna-warni bermain di antara bebatuan karang, berkejaran bersama kawanannya. Menggemaskan sekali. Di sisi yang lain, hewan bulu babi tampak melekat di karang-karang kecil. Juga bintang laut, yang ku rasa tak mirip Patrick Star. Yang ini terlihat cokelat gelap, berduri keras dan cukup tajam di lengan-lengan kurus panjang. Tidak menggemaskan seperti Patrick Star.

Ketua mengajak rombongan ke atas bukit. Jalanan sedikit menanjak dan licin karena hujan semalam. Bukit ini ditumbuhi semak-semak, pinus dan keluarga tumbuhan Conifer. Di puncaknya, ada sebuah mercusuar. Untuk meraihnya, kami harus menanjak sedikit lagi. Di kiri bukit terdapat tebing batu yang curam. Tak ada pasir lagi di sudut ini. Bukit, tebing, langsung laut. Ombak besar bergulung dari tengah laut menampar bibir tebing. Kapal-kapal nelayan tampak hanya noktah hitam tercepuk-cepuk di mangkuk biru raksasa yang ombaknya ganas. Pras mengajakku naik ke bahu mercusuar lapuk ini. Dari atas sini, lautan lebih jelas terlihat. Nusakambangan pun tampak, seperti punggung buaya muara. Pantai ini sungguh indah, tapi lebih indah karena Pras di sisiku. Pantai ini lebih berkilauan tertimpa cahya matahari yang mulai meninggi. Dan mungkin juga, karena aku melihatnya melalui mata Pras.

Benarlah sakit kepala saat aku bangun. Kesiangan pula. Padahal hari ini aku akan mengikuti Try Out Bersama UGM pukul 7 pagi. Jamku sudah menunjuk pukul 06.55, ku banting karena aku tak percaya. Aku kebut-kebutan di jalan raya karena panik dan takut terlambat, padahal memanglah sudah terlambat saat aku sampai sana. Di jalan, motor Pras menyalipku. Melihat malaikat sepagi ini, hatiku mengembang. Ku harap tujuan kami sama. Aku kembali kebut-kebutan dengan sepeda motor bapakku. Setelah kebut-kebutan dan hampir menabrak orang, lalu ditolak oleh panitia, itu sungguh menghancurkan hatiku. Sakit hati! Sakit hati! Namun, saat aku ke luar kompleks gedung, aku berpapasan dengan Pras. Dengan Harley-nya, ia membonceng perempuan cantik yang telah 4 tahun ini ku kenal. Itu lebih membuatku sakit hati. Dan aku bertanya pada diriku sendiri mengapa aku menangis, tak ada jawabannya.

Ke luar dari sana, aku kebut-kebutan lagi, lebih parah, karena emosiku sedang tidak stabil. Tak sadar, aku berbelok ke keramaian GOR Satria. Sial! Aku tak tahu jalan pintas sekitar sini. Cepat, ku putuskan untuk berbelok masuk ke dalam GOR. Sial tiga kali lipat! Kepalaku tidak mampu berpikir jernih karena air mata menggenang di dalam batok kepalaku. Ku rasa beberapa saraf di sana mulai konslet. Kaki-kakiku membawaku ke stadion sepak bola. Entah, aku tak tahu. Aku duduk di sudut tribun, menghadap matahari. Cahayanya beku sekali. Di sana aku menangis kesakitan, remuk sekali hatiku. Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa aku tidak cantik, mengapa aku tidak putih, mengapa aku tidak pintar, mengapa aku tidak kaya?! Mengapa, Tuhan?!

Baru kali ini aku merasa cemburu sedahsyat ini. Ombak cemburu itu membawa karang-karang kecil tajam yang disebut iri, menghantam hatiku. Berkali-kali, hingga tersayat, berdarah. Aku menangis sejadi-jadinya. Semuanya bak telah direnggut dariku. Seluruh makhluk seakan dinaikkan ke bahtera Nabi Nuh, Pras juga. Aku sendirian, tak diajak. Aku yang tersisa, sebentar lagi menunggu penghabisanku. Menerima kenyataan bahwa aku tak lagi bersamanya rasanya seperti mimpi buruk. Ternyata, takdir buruk! Pras sudah empat tahun ini bersama Jee, pacarnya. Dia hanya dua atau tiga senti lebih tinggi dariku. Namun, dia cantik, imut seperti bocah, cute, manis, dan menarik. Kaya, baik, penuh pengertian, rendah hati, sabar, dan pintar.

Jee, cantiknya seperti peri. Yang terbang malam hari, bercahaya, menaburkan kebaikan di bumi. Sedangkan aku, lebih mirip musuh peri itu. Nenek sihir yang tinggal di gua kelelawar dan tak pernah mandi, jika mandi kulitnya mengelupas saking tuanya. Miris sekali keadaanku. Empat tahun terlewat, dia punya pacar, aku pun. Tapi tak sedikit pun aku mampu melupakannya. Bahkan, untuk melupakan bentuk jemari tangannya saja aku tak mampu. Aku harus bagaimana, kawan? Melupakan, lupakan, terlupa, lupa, tak ingat. Itu adalah kata-kata yang sungguh sulit ku lakukan. Saat dia mulai terlupakan, dia datang lagi ke kehidupanku. Menampakkan batang hidungnya. Lalu ku coba melupakannya, bayangnya makin lekat. Aku tak tahu persis apa yang ku rasakan. Cinta yang lama, timbul tenggelam memainkan hatiku yang masih ngilu karena ditinggalkan.

“Pras, aku yakin. Sepuluh juta persen aku yakin bahwa kita akan ‘bersama’ lagi seperti dulu! Pras, tunggu aku, jangan pergi dan berpaling. Aku memperjuangkan cintaku padamu. Aku akan buktikan padamu bahwa aku pantas bersamamu! Ini janjiku, janji seorang forester!!!” pekikku dalam hati, air mataku makin deras.

Sering kali semangat itu merasuki setiap jaringan tubuhku, di belakangku api berkobar, menjadikannya bara. Aku belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa menjadi pintar seperti Pras. Aku berusaha menjadi perempuan yang lebih girly, lembut, dan baik hati. Aku berusaha menjadi perempuan yang rapi. Aku mengusahakan segalanya agar aku pantas mendapatkannya. Tapi, aku juga manusia biasa, yang bisa lemah dan tak berdaya. Setiap kali ku berkaca pada mataku sendiri. Lalu bertanya, ‘Aku ini siapa? Aku punya apa yang patut ku persembahkan untuknya? Aku sehebat apa hingga berani mengharapkan Pras?’

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menyakitkan sekali sebenarnya, tapi memanglah kenyataan. Itu terkadang merontokkan kepercayaan diriku yang susah payah ku bangun sejak lama. Lantas, aku bisa berbuat apa untuk menolong diriku sendiri? Hati Pras adalah sebuah tembok beton yang kokoh, dan usahaku selama ini hanya seperti melemparkan lumpur ke tembok itu. Lumpur selamanya tak akan pernah membuat tembok itu jebol ataupun roboh. Tapi, lumpur itu akan meninggalkan bekas di tembok. Dan yang ku lakukan itu, mungkin akan terkenang dan membekas dalam hatinya.

Aku tahu, aku tahu harus menghargai pacarku sendiri yang selalu mengorbankan dirinya untukku, dan menghargai Jee yang juga selalu baik padaku. Diam-diam, ku khianati mereka. Jahat sekali. Pras, Jee, pacarku, dan orang-orang yang ku mintai nasihat, apakah mereka mengerti yang terjadi padaku sebenarnya? Aku takut disebut penjahat, duri dalam daging, serigala berbulu domba. Namun aku sendiri tidak berdaya, tahu! Setiap sahabat yang ku mintai nasihat tentang ini, pada intinya jawaban mereka sama.

“Lupakan dia. Dia sudah punya pacar dan kau juga. Jadi, mudah saja untuk melupakannya. Pikirkan perasaan pacarmu sendiri.”

‘Kalian pikir aku bodoh? Aku juga sudah berusaha melupakannya selama 4 tahun ini. Aku juga menjaga perasaan pasanganku. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini sebelum dia tahu dan sebelum aku menyesal karena kehilangan dia. Tapi usahaku selalu sia-sia, dan kalian hanya bisa memakiku.’ belaku dalam hati. Di sudut tribun sepak bola ini, menghadap matahari yang mulai meninggi, dan dengan hati yang luluh lantak, ku tulis puisi. Semoga bisa menegarkan hati.

Aku ini siapa
Tak sepatutnya aku cemburu
Aku benci pada jiwaku
Yang terlalu mengharu biru
Pada perasaan cemburu

Aku hanya gadis kecil
Yang benar-benar kecil
Tak cantik, tak menarik
Aku hanyalah orang kampungan
tak pandai bicara bahasa inggris
bila terluka hanya bisa menangis
mau diapakan saja, mau direparasi segala
aku tetap orang kampung udik
tak dapat kubasuh-basuh

Yang terluka, Amalia Aris Saraswati
GOR Satria Purwokerto, 25/01/2015

Tak ada lagi rencanaku setelah ini. Ikhlaskan saja dia pergi. Aku ingin lebih menghargai orang-orang di sekitarku yang telah menyayangiku dengan tulus. Menghargai diriku sendiri. Dan membuat orang lain senang karena ada aku. Biarlah Pras dan Jee bahagia, ku harap selamanya. Ku harap Pras akan menikah duluan dengan Jee, dan aku bisa segera melupakannya. Dilematis-dilematis tak mampu ku akhiri. Ku harap dia tak pernah mengerti. Biarkan aku sendirian terluka. Meredakan gemuruh dalam dada. Entah bagaimana selanjutnya diriku tentang dia. Mungkin masih sama. Atau Tuhan telah menyiapkan takdir yang lebih indah untukku esok. Aku pada Pras, aku pada cinta pertamaku, aku pada kenangan masa kecilku.

Aku salah, ternyata ketika kau sangat sangat mencintai seseorang, ketika ada orang yang mengasihinya, mencintainya, maka kau akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia bahagia selamanya.

*Untuk cinta pertamaku, terima kasih kau telah mengenalkanku pada cinta yang begitu lugu dan indah. Tetaplah kenang aku, sebagai sahabat yang selalu mengharapkan kesuksesanmu. Aku, segenap hatiku, mendoakan yang terbaik untukmu.

Cerpen Karangan: Amalia Aris Saraswati
Facebook: Amalia Aris Saraswati
Amalia Aris Saraswati lahir di Banyumas, 24 November 1997. Sekarang saya adalah mahasiswa semester 2 di Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Saya senang menulis sejak Sekolah Dasar. Cerita pendek ini ku persembahkan untuk cinta pertamaku, Prasandi. Untuk pembaca setiaku, sahabat- sahabatku, teman-teman yang selalu mendukungku, dan Novelis favoritku, Andrea Hirata. Selamat membaca!

Cerpen I’m Feeling Blue (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Kira Kau Mencintaiku

Oleh:
“Aku kira kau mencintaiku, ternyata persepsi-ku salah selama ini menilaimu” Pagi itu tampak mendung, tak ada cahaya dari matahari sama sekali. Rasanya aku tak mau berangkat sekolah pagi ini.

Kau Lewati Begitu Saja

Oleh:
Kamu selalu sama. Aku selalu kamu lewati begitu saja. Dan perkataanku bukan apa-apa untukmu. Kamu juga berpikir kisahku tak ada artinya. Bagai angin yang berhembus di telingamu, dan kamu

Patah Hati

Oleh:
“Mami, Mima berangkat dulu ya..” Ucap Mima kepada Maminya. “Iya.. Hati-hati ya di Bekasi,” Pesan Mami. Mima hanya mengangguk kecil sambil menebarkan seulas senyum manis. Sesampainya di Bekasi, Mima

Cerita Cinta Ku

Oleh:
Aku termenung duduk sambil mengenang kejadian beberapa bulan lalu saat dia merayuku, saat dia tersenyum penuh makna kepadaku, saat aku sadar telah mencintaimu. Saat itu aku dan sahabatku, Ella

Kado Cinta Pertamaku

Oleh:
Suasana subuh yang dingin membuatku enggan untuk menuju kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Aku harus bangun untuk menunaikan sholat subuh. Kulihat telepon genggamku sejenak, ada SMS

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “I’m Feeling Blue (Part 2)”

  1. Rana Dakka says:

    Huaaaa … cerpennya bagusss … bahasanya juga bagus .. 2 jempoolll ..

  2. Nurma A Yuanita says:

    Tata bahasanya sangat diperhatikan, aku suka

  3. Ahmus says:

    So sweet. . . .
    Bagus & oke cerpenmu ni,,,,
    Terus berkarya ya. . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *