Intuisi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

“Mug kok kamu motret terus sih?”
“Ge, dunia ini terlalu indah untuk hanya kamu lihat sekali”
“Terus apa harus motret ke tempat yang jauh?”
“Di tempat yang jauh aku bisa menemukan banyak arti”
“Apa itu perlu?, saat di tempat yang dekat saja kamu sudah menemukan satu arti yang pasti”

Hai aku Ghaitsa, kau bisa memanggilku Ge, aku adalah perempuan dengan kegemarannya pada melukis, jika kau datang ke rumahku lalu diizinkan masuk ke kamar maka kau akan menemui dimana dinding-dinding kamar penuh dengan lukisan hasil karyaku, itu sangat bermacam tapi kau tahu ada satu lukisan yang untuk waktu yang lama sengaja tak kuselesaikan karena satu buah alasan. Itu adalah lukisan yang telah aku mulai rangkai sejak tiga tahun lalu. Entah, walau aku tahu aku bisa menyelesaikannya sendiri aku memilih tidak melakukan itu, aku semacam berintuisi bahwa lukisan itu baru bisa selesai jika warna yang kumau bersedia menyempurnakannya.

Kau tahu kukira setiap manusia itu punya minimal satu hal yang tidak bisa ia selesaikan sendirian, maksudku itu pun termasuk jika kau sudah merasa sangat bisa, kau akan tetap merasa butuh orang lain untuk menyelesaikan satu keinginanmu, kukira kau setuju dan itu sekarang yang sedang aku rasakan.

Dan mari kenali dia, maksudku adalah Mugy, laki-laki yang kukenal berawal dari teman SMA, aku tak akan pernah lupa momen awal aku kenal dengan dia.
Aku masih ingat saat itu sepulang sekolah di antara detik-detik akhir senja dia menjadi orang yang menemaniku menunggu selain juga ada Nadine, temanku.
“Aku masih nunggu yang jemput” Ucapku pada Mugy yang ada disebelah
“Oh ya sudah kalau begitu aku temani tunggu di sini”
“Huh?”

Kau tahu waktu itu aku berpikir “Kenapa dia tidak bilang saja ingin mengantarku”, maksudku kan dia di situ bersama motornya, aku juga lihat dia bawa helm dua, jadi seharusnya dia tidak punya alasan untuk tidak bilang begitu apalagi beberapa saat kemudian Nadine pulang duluan dan aku masih menunggu.

Peristiwa itu masih tak aku dapati jawabannya, bahkan sampai sekarang, ketika aku dan dia sudah sangat dekat dan sampai pada waktu yang membawa aku dengannya ada di sini, di Situ Patenggang, salah satu tempat indah yang ada di kawasan Ciwidey, Jawa Barat, aku ada di sini karena diminta menemaninya memotret, dan entah aku selalu merasa senang ketika dia memintaku begitu, mungkin semacam karena aku yang selalu merasa betah atau nyaman saat berjarak dekat dengannya, kau tahu ada perasaan lain ketika itu.

Masih tentang dirinya, dia memang begitu sangat menyukai kegiatan Photography atau mungkin sekarang bisa dibilang itu memang pekerjaannya walau kadang juga dia suka menghentak ketika aku bilang begitu “Engga Ge, ini tuh bukan masalah pekerjaan, ini tuh hobi, lebih dari itu”.
Aku suka heran dengan kalimatnya yang itu karena di saat bersamaan dia tidak pernah menolak setiap uang yang diberi untuk hasil fotonya.

“Aku mah duduk di sini aja ah” Kataku ke Mugy.
Maksudku aku membiarkannya berada di sudut sana sendiri, memfokuskan diri untuk mendapatkan sudut terbaik untuk bisa dipotret, aku cukup hanya duduk di sini di depan batu kerikil besar yang kemudian aku tutupi dengan satu kanvas, itu adalah satu kanvas berpenghuni lukisan yang lama tak selesai itu, kau tahu aku memang selalu membawa ini ketika jalan berdua dengan Mugy karena aku masih berintuisi jika warna yang bisa menyelesaikan lukisan ini tersedia di tempat yang paling dekat.

“Serius, ini pemandangannya enak dilihat banget lho”
“Ini juga enak dilihat” Yang ku maksdud adalah lukisanku.
“Ha Ha, mau sampai kapan lukisanmu itu gak diselesain?”
Mugy memang tahu itu tapi aku heran karena ia selalu hanya bertanya satu pertanyaan seperti itu saja tanpa pernah bertanya hal lain seperti alasanku tidak menyelesaikannya, seharusnya dia bertanya begitu karena dia harus tahu alasanku.

“Aku bingung saja kalau harus menyelesaikan ini sendiri”
“Masa perlu aku bantu” Dengan masih memegang kameranya Mugy bicara begitu.
“Huh?”
“Nanti sudah selesai motret aku bantu lukisanmu itu”
Kau tahu aku sangat senang dengan jawaban itu, aku merasa seperti sedang didatangi oleh suatu hal yang sudah lama aku tunggu.
Apa mungkin ini adalah waktu yang baik untuk membuat dia akhirnya tahu tentang warna yang aku tunggu itu.

Sedianya untuk sekarang ini hatiku sedang merasa seperti sebuah gelombang yang kembali menemukan jalur untuk berarus di lintasan yang panjang, kau tahu untuk beberapa waktu gelombang itu sempat hanya diam karena merasa lintasannya terputus-putus, walau tidak pernah keluar dari lintasan gelombang itu selalu seolah tak ingin sampai pada tujuan yang diingini karena lintasan yang ia pijak tak pernah memberi kepastian untuk menjadi satu kesatuan utuh bagi si gelombang.
Kuharap sekarang ini lintasan itu akan menjawab penantian si gelombang.

“Sudah motretnya?” Tanyaku ketika Mugy mendekat
“Sudah, sini mana aku lihat lagi lukisanmu”
Ia menyingkirkan dirinya untuk ada di depan lukisanku, ia nampak akan memenuhi janjinya itu.
“Aku itu sebenarnya gak bisa ngelukis” Lanjutnya “Tapi gak apa-apalah, demi kamu“
Jika ada ungkapan yang melebihi istimewa kurasa aku akan menggunakan itu untuk memposisikan diri bagi telinga yang baru mendengar kalimat manis barusan, kau tahu bahkan dalam hati aku terus berteriak “Akhirnya Mugy, akhirnya, akhirnya”.

“Ini tuh sebenarnya kamu mau lukis apa sih Ge, dua orang terus ada motor lagi”
“Ehmm, gak tahu aku pengen aja lukis itu”
Kau tahu aku berusaha memancing pada rasa pekanya, di antara matanya aku berharap dia bisa mengingat satu moment yang berkaitan dengan dua orang dan satu motor itu.
“Pantas saja gak selesai selesai, orang kamunya aja gak tahu ngelukis apa, Ha Ha..”

Di sini angin makin mengencang sebagai bukti bahwa langit sudah senja, di antaranya batu-batu hitam itu menjadi palang untuk mereka yang merasa kedinginan. Ciwidey memang begitu ada rasa lebih yang membuat tubuhmu bisa merasa sangat dingin walau bisa juga membuatmu tidak merasa begitu terutama bagiku yang sekarang ada di pulau asmara.

“Mug, kita tuh ada di Pulau Asmara lho ini” Aku mencoba mengajaknya bicara saat ia sedang membantu lukisanku.
“Iya, tahu aku”
“Kamu tahu gak sih mitosnya kalau pasangan yang datang ke sini berdua itu bakal jadi pasangan abadi”
“Udah jaman gini masih percaya aja kamu sama mitos”
Ada ucapan ketus dari jawabannya tapi bisa aku pahami karena mungkin dia sedang fokus pada lukisan.

Aku sering heran dengan Mugy yang begitu, terkadang ia terlalu sering sibuk dengan dirinya, disaat dia melakukan sesuatu ia hanya ingin fokus pada itu saja dan entah sengaja atau tidak membuat beberapa yang di dekatnya terabaikan, aku sering merasakan itu apalagi jika sudah menyangkut hal ini, menyangkut tentang yang namanya perasaaan, denganku Mugy seperti tidak bisa untuk aku ajak membicarakan perasaan, padahal aku sangat ingin membicarakan itu dengannya.

“Ini kalau lukisannya bisa aku selesaikan, kamu mau ngasih apa buat aku?” Bicara Mugy
“Kamu maunya apa?”
“Serius apa aja?”
“Iya”
Kau tahu bagiku jika Mugy bisa menyelesaikan lukisan ini, itu sudah menjadi satu kebahagiaan erat untukku, Ini memang yang aku ingin dan tunggu karena kiranya sekarang dia sudah ada di jalur untuk merasa peka, bagiku sih begitu.

Untuk itu sebagai bentuk terima kasih aku akan dengan senang hati mengiyakan apa yang ia ingini sekarang, aku tahu permintaannya takkan aneh atau bahkan aku pun ada fikiran bahwa yang ia minta adalah “Ge, aku boleh minta kamu ngebolehin aku gak untuk bilang aku sayang kamu”
Ahhh Intuisi dan imajinasiku seperti melayang diatas angin-angin rasa senang.

“Nah selesai, gimana?” Mugy memperlihatkan lukisan yang sudah ia selesaikan itu.
“Bagus banget”
“Iya dong, Nah buat feedback aku boleh dong minta sesuatu dari kamu”
“Ha Ha iya boleh apa?”
“Lukisannya boleh buat aku aja gak?”
Tentu ini adalah lukisan yang sangat berkesan untukku dan sangat senang jika aku bisa memajang ini di kamar, tapi jika memang Mugy ingin memilikinya itu tak apa, setidaknya aku masih bisa melihat lukisan ini jika berkunjung ke rumahnya.
“Iya boleh kok”
“Serius, Ge?”
“Iya gak apa-apa ambil saja”
“Ah, terima kasih banyak Ge. Kira-kira Nadine senang gak ya kalau aku tembak pakai lukisan ini?”
“Hah?”
“Iya kira-kira dia nerima aku gak ya, Ge?”

Mendengar itu aku serasa ingin bisu saja saat ini, aku benci dengan ungakapan patah hati, tapi bagaimana, sekarang aku sedang merasakan itu.
Ternyata ada yang lebih buruk dari satu lukisan yang tidak selesai, yaitu saat dia memilih warna yang tak sesuai untuk menyelesaikannya. Aku menyesal kenapa harus memuji bagus pada sesuatu yang ternyata menyakitiku, aku menyesal kenapa harus memiliki intuisi yang justru itu salah.

Seharusnya dari waktu itu aku bisa peka bahwa Mugy memang tidak berperasaan sama sepertiku, seharusnya aku sudah bisa mengetahuinya sejak dia lebih memilih menemani menunggu daripada mengajak pulang bersama, atau dari yang terbaru harusnya aku bisa peka ketika dia memang tidak pernah mau diajak membicarakan perasaan denganku.
Intuisi tentang Mugy adalah cinta sejatiku ternyata salah dan lukisan yang aku buat itu juga hasilnya tak sesuai.

Mungkin sekarang yang paling penting adalah jika kau punya intuisi pahamilah saja itu dulu, pastikan dengan betul apa itu benar intuisi yang nyata atau hanya sekedar membuatmu bahagia dalam angan-angan.

Cerpen Karangan: Ridwan Handani
Blog: bacasatutangandani.blogspot.com

Cerpen Intuisi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Semua Harus Berakhir

Oleh:
Kertas berwarna hitam bertuliskan UNDANGAN, terus kupandangi dari tadi. Huruf demi huruf, kata demi kata kuteliti dengan seksama. Antara yakin dan tidak. Sejenak ku intip di balik jendela kamarku

Lautan Biru

Oleh:
Kutatap selembar foto kecil usang yang berada di tanganku. Melihat foto ini seakan aku tidak ingin melepasnya dari tanganku. Sebuah foto enam orang anak remaja perempuan dengan gaya foto

Teman Bukanlah Teman

Oleh:
Bayangkan jika kamu melihat laki-laki yang kamu cintai bersama temanmu. Bersama maksudnya dekat, Apa yang kamu rasakan? Sakit bukan. Begitu juga aku, rasanya sakit sangatlah sakit. Kadang teman bukanlah

Tangis Di Setiap Ketulusanku

Oleh:
Bruukk.. “Maaf, Kak.. Maaf” ujarku merasa bersalah pada sosok lelaki di depanku. Aku dengan tidak sengaja menabraknya sehingga buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan. “Maaf ya, Kak” ujarku sekali lagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *