Janji di Pelabuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 20 June 2016

Sore itu ia duduk di teras rumah, bertemankan kopi yang sekali-dua diseruput dengan mata tetap tertuju pada deretan abjad dari sebuah novel. Tiba-tiba pandangannya berkhianat pada sosok perempuan muda yang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum, menandakan gadis yang bernama Gita itu spesial.
Wanita berambut panjang itu membalas senyum. Bibirnya merekah manis, namun matanya tak dapat berbohong, ada masalah. Rante melihat jelas segurat kesedihan pada rona mata hitam gadis itu.
“Iya, makasih Rante, kamu memang selalu menjadi teman cuhat terbaik” ucapnya ketika Rante bersedia menerima curahannya. Rante biasa saja, tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya yang amat teratur. Tampak mukanya sangat tulus mendengar segala uneg-uneg hati Gita yang sedari tadi terus mengoceh, komat-kamit tanpa henti.
Si pria mendengar seksama, mencerna matang-matang perkataan Gita, lantas dengan cepat ia memberi solusi jitu seperti psikiologi cinta. Ia sangat telaten dan lincah membeberkan pemecahan masalah hubungan Gita dan Doni.
Anggukan kepala terus Gita lakukan mengiringi setiap jeda dari ucapan Rante. Ia mengerti, paham, lantas tersenyum puas atas segala usulan-usulan luar biasa dari Rante. Merasa cukup, ia beranjak berdiri, menyungging senyum pada pria sipit itu, memulai langkah mantap untuk pulang.

Rante berdiri, berjalan mengekori Gita dari belakang, membukannya pintu taksi, dan melambai padanya sedetik setelah mesin mobil dihidupkan. Ia kembail ke teras rumah persis sedetik setelah Gita membalas lambaian tangannya. Matanya lanjut menyusuri deretan abjad dari novel tebalnya, kopi sudah seperdua cangkir, mungkin lima menit kemudian sudah habis.

Pagi yang indah, apalagi untuk sepasang calon suami istri yang siap menempuh hidup baru. Kabar gembira, Gita dan Dino ingin menikah. Tepat hari ini, di pagi yang cerah ini, Doni siap membaca ijab qabul. Gita siap dipersunting oleh Doni. Tentu sang penasehat tak kalah senang, pernikahan itu hasil dari segala ketulusan Rante menerima dan memberi usul kepada Gita atas masalahnya dengan Doni.
Entah adat apa yang dipakai pada perhelatan itu. Gita memakai kebaya putih yang senada dengan Doni, sementara pengunjung dan sanak saudara memakai jas tutup dan baju Bodo khas Bugis Bone. Mungkin itu yang dinamakan penggabungan budaya, antara adat Bugis dan Jawa.
Rante sendiri dengan balutan jas dan kopiah hitam tampak memutar pandangannya, mengelilingi seluruh isi Masjid. Tampak wajah-wajah berseri nan bahagia.

“Wah selamat yah, semoga nanti lancar ijab qobulnya. Mas Doni jangan grogi” tegur salah satu pengunjung pada Doni, berusah menghibur Doni yang sudah kasat-kusut dengan kekhawatiran, takut salah. Rante memperhatikannya, ia tersenyum manis, sangat manis, rona bahagia memancar. Namun entah apa, dari pancaran itu ada sesuatu yang tersembunyi dari matanya.
Ia tidak tinggal diam. Ia terus menyapa, mengobrol, mengajak para pengunjung berinteraksi. Ia tidak ingin pesta pernikahan teman curhatnya biasa-biasa saja. Pengunjung agak heran, mengapa penganut agama lain ikut memeriahkan pernikahan Islam? Rante keturunan Cina.

Beberapa waktu kemudian, semua lengang. Penguhulu sudah datang dengan jas tutup, kopiah hitam dan sorban berkotak merahnya. Sementara Doni sudah bersimpuh di depan meja kecil, mengumpulkan segenap kepercayaan diri, menunggu diulurkan tangan oleh penghulu dan mengucap kata-kata yang sudah dihafalnya seminggu lalu. Bagaimana dengan Gita? Ia tersenyum di samping Doni, tersipu malu saat sesekali calon suami meliriknya. Kain sudah dipasang di antara kepala mereka, menyatakan prosesi akan dimulai.

Rante duduk rapi di belakang mempelai wanita di antara sanak sudara Gita. Entah apa, ia mulai tak nyaman duduk, ia mulai menata sesuatu, namun bukan duduknya, ada hal lain yang lebih tak nyaman. Ia tak tahan, ia berdiri tepat saat Doni menggenggam jemari tua sang penghulu, mulut Doni mulai bergetar, dan saat itu pula kaki Rante lebih bergetar, lebih goyah membuat Rante hampir jatuh. Ia harus melepas beban itu, ia lepas, ia berlari, lari yang membuncahkan heran satu ruangan. Ia tak sadar, carut-marut pikirannya, keluar ia dari masjid agung itu, mencari sesuatu, tepatnya tempat, tempat menumpahkan sesuatu, sesuatu yang cair dari matanya.

Acara agak kacau, pengunjung membolak-balikkan kepalanya, menyumbang tanda tanya orang yang di samping. Penguhulu? Memaksa agar acara dilanjutkan, ada calon lain yang ingin dinikahkan. Kedua calon? Demikian bolak-balik pula kepalanya, saling tatap, tanda tanya sudah melekat di dua bola mata mereka? Ada apa dengan sang PHB? Sosok psikiolog cinta? Seseorang yang memperkokoh hubungan mereka? Ah! Sudah cukup majas repetisi menggambarkan perasaan Rante.

Matahari sudah sembunyi di belahan bumi lain saat belahan bumi Rante memijaki cahaya rembulan. Ia berjalan menyusuri jembatan menuju pelabuhan, pelabuhan Bajoe yang sering digunakan untuk bolak-balik lintas provinsi maupun pulau-pulau kecil sekitar Sulawesi Selatan. Raut wajahnya tak dapat bersembunyi, ia bersedih. Kantung matanya mengembang, bukan karena menangis. Mengembang karena menahan tangis yang tak ingin ditumpahkan.
Ia berhenti sejenak di pagar jembatan, melipat tangan di atas besi pagar sambil membenamkan dagu dalam lipatan itu. Ia memandang ujung pelabuhan, indah dengan lampu kerlap-kerlip di sana, berwarna-warni. Suara kapal Feri sudah mendengung dari hujung sana sampai di pangkal telinganya. Begitu keras, namun lebih keras hatinya terdebam jatuh dari ujung pengharapan.

Ia berhenti disana, duduk menyandar pada pagar besi, berselonjor lesu. Matanya kokoh ke depan, sebentar matanya kosong, lalu diselaputi cairan bening memenuhi sudut mata dan perlahan jatuh dari mata Cina itu. Menetes sudah kristal air yang ditahannya dari tadi. Ia meratap, entah meratapi apa.
Ia mengacak-acak rambutnya, seperti mahasiswa yang ditolak mentah-mentah skripsinya.
“Aaaaaa!” ia tiba-tiba berteriak, membuat air mata jatuh lebih deras. Sejenak kemudian ia diam menafakuri lantai jembatan berdebu. Menemukan sesuatu di depannya.
“Aku tak apa-apa Gita. Aku cuma menangis bahagia melihat kalian” ia tersenyum berbicara pada sosok angin malam yang dianggapnya Gita. Ia menutup mata lalu mengeleng-geleng, menghilangkan siluet wajah Gita.
“Ya Tuhan maafkan aku” ia menunduk “Maafkan aku yang tak bisa menahan sedihku. Tapi sungguh aku sudah mengikhlaskannya. Aku sudah janji pada-Mu di pelabuhan ini, untuk mencintainya karena-Mu” jatuh lagi butir air matanya “Engkau masih ingatkan saat pertama aku mengucap dua kalimat itu? Di masjid yang tadi Gita pakai untuk menikah? Kemudian aku datang ke sini untuk mengikrarkan janji itu” ia berdialog mesra dengan Tuhan, Tuhan yang masih kaku ia sebut nama-Nya, Allah. Ia kemudian menghela napas, membuang sedih itu yang sekarang berganti ketenangan.
Ia diam, mendengarkan kata dari seluk-beluk hatinya, menggali fakta yang mungkin menghiburnya “Lagi pula Gita memang lebih cocok dengan Doni, pria sempurna untuk wanita sempurna pula.”
Rante berdiri, hatinya berkata harus kembali ke rumah penggantin baru, memberi selamat kepada Gita dan Doni. Ia rapikan posisi jas tutupnya, serius ia menepuk-nepuk celana yang berdebu jembatan. Ia mulai melihat ke depan. Ia kaget, heran melihat Gita berdiri membelah jembatan, matanya berlinang namun bibirnya merekah senyum. Hawa dingin memenuhi jarak di antara mereka, merasuk di ulu hati yang menantiakan permulaan kata. Bungkam mereka saling tatap.

Cerpen Karangan: Dahdawi Anka
Blog: dahdawi-anka.blogspot.co.id

Cerpen Janji di Pelabuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Berujung Persahabatan

Oleh:
Aku sudah mulai nyaman dengan Alfin dia adalah teman satu kelasku. Wajahnya bisa dibilang pas-pasan tetapi aku sangat nyaman padanya. Aku sering bercanda dengan dia dan suatu hari entah

Cinta Buram Abu Abu

Oleh:
Nadia bintang. perempuan yang awalnya periang itu selalu mempunyai sikap yang berubah ubah. nadia selalu mendambakan pria yang mirip kayak oppa oppa korea menjadi pacarnya, dan selalu bermimpi mempunyai

Tulisan Di Balik Sepotong Ubin

Oleh:
“Hidup ini ibarat labirin yang hanya mempunyai dua pintu, pintu masuk dan pintu keluar. Ketika telah masuk maka akan ada simpangan berliku yang harus dihadapi walau tanpa seteguk kopi”

Cintaku Bukan Cintamu

Oleh:
Aku? Aku? Aku ya Aku.. aku hidup sebagai aku, hidupku sepenuhnya di tanganku, gak ada yang boleh dan bisa mempengaruhi aku, apalagi mencampuri semua urusanku, karena satu-satunya yang berhak

Blue Heart

Oleh:
“Nanti aku jemput kamu jam 7 malam ya, aku udah reserve tempat makan malam ini. Gak usah takut napa aku yang bayar kok, cukup dandan yang cakep, nanti aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *