Janji Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Sore menjelang, hampir memuncak menjadi senja. Hujan menetes dari langit-langit cakrawala tanpa henti-hentinya. Sepatu beserta seragamku sudah basah dibuatnya, tak dapat menghindar dari serangan ganas percikan air hujan. Sudah sekitar dua jam kuhabiskan waktuku berdiri di depan ruko dekat sekolah, menunggu angkutan yang akan mengantarku pulang. Tapi hasilnya nihil. Semua angkutan selalu penuh sesak oleh orang-orang yang menghindari hujan, sama sepertiku –tetapi mereka lebih beruntung–.

Tak lama, sebuah motor melintas dan berhenti di depanku. Aku berpikir, mungkin ia juga akan berteduh sepertiku. Tapi, pengendara motor itu malah menawariku tumpangan.
“Eh, kamu? Nggak kedinginan? Sini, ayo aku anter pulang,” katanya sedikit tidak jelas karena ia belum membuka helmnya. Aku masih bergeming menatapnya.
“Ayo aku anter. Aku serius. Aku nggak akan macem-macem, kok,” kata pengendara motor itu sambil membuka penutup helmnya. Wajahnya sekarang terlihat jelas. Wajah putih, hidung mancung, rahang tegas. Ah, aku tahu. Ia juga anak yang satu sekolah denganku.

Dengan sedkit mengenali identitasnya, aku mengiyakan tawarannya. Lagipula, hari sudah semakin sore dan hujan seperti menolak untuk berhenti. Aku segera menaiki jok motor belakangnya, lalu berlindung di bawah mantel panjang yang dipakainya. Selama perjalanan, kami saling diam. Kami hanya berbicara ketika ia menanyakan lokasi rumahku.

Lelaki itu sungguh-sungguh mengantarku hingga depan rumah. Sebelum berpisah, kami sempat berkenalan.
“Namamu siapa?” tanyanya.
“Adira. Kamu?” tanyaku balik.
“Aku Farrel. Ya udah, sampai jumpa,”
“Iya. Terima kasih, Rel.”
Setelahnya, aku memasuki rumah dengan hati yang berbunga-bunga.

Sejak hari itu, entah kebetulan atau bukan, aku jadi semakin dekat dengan Farrel. Ia sering menyapaku setiap kali kami berpapasan di kantin, dan mengantarku pulang setiap kali kami bertemu saat jam pulang. Kami sering mengobrol. Ia juga meminta nomor handphoneku, sehingga kami juga sering chatting satu sama lain.

Pada hari Sabtu, tiba-tiba Farrel mengajakku untuk menonton penampilan bandnya di sebuah acara festival band pada malam harinya. Sebagai gadis SMA yang belum pernah pacaran, ajakannya membuat hatiku dag dig dug tak karuan. Itu berarti, untuk pertama kalinya Farrel mengajakku bermalam minggu. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga yang mengajakku bermalam minggu.
“Tapi aku takut nggak dibolehin Papa, Rel,” jawabku pada chatnya.
“Biar aku yang izin nanti. Kamu tinggal dandan aja yang cantik,” jawab Farrel.

Aku segera meloncat kegirangan dari tempat tidurku dan menuju Mama yang tengah membaca majalah di ruang tamu. Aku segera bercerita semuanya pada Mama, dan beliau nampak mendukungku.
“Ya udah, sekarang pilih baju sana. Biar Mama nanti yang ngerias,” kata Mama.

Aku segera berpindah menuju kamarku lagi, dan membuka lemariku lebar-lebar. Aku memilih beberapa baju terbaikku, lalu menunjukkannya pada Mama. Akhirnya, setelah sekian lama mencari, pilihanku jatuh pada dress pendek berwarna merah muda dengan motif bordiran bunga.

Malamnya, Mama mendandaniku. Beliau meriasku dengan make up natural, namun tetap cantik, menurutku. Beberapa saat setelah berdandan, Farrel benal-benar datang. Ia menemui Papa, dan berbincang-bincang dengan beliau. Sesekali mereka bergurau. Farrel terlihat akrab dengan Papa.
Kemudian, aku turun dengan Mama. Farrel menatapku dengan tersenyum. Kemudian, ia pamit dan kami pun segera berangkat.
Aku sempat berpikir kami akan berangkat menggunakan motornya. Ternyata salah. Farrel membawa mobilnya untuk menjemputku. Malam itu, mendadak aku merasa seperti seorang tuan puteri yang mengendarai kereta kencana bersama pangeran.

Kami tiba sepuluh menit sebelum acara dimulai. Aku begitu menikmati acara, apalagi ketika band Farrel yang tampil. Lagu yang dibawakan begitu indah. Selesai tampil, Farrel terlihat menatapku sambil tersenyum. Aku memberikan tepuk tangan untuk penampilannya. Begitu acara selesai, tiba-tiba hujan deras mengguyur.

“Untung aku bawa mobil. Kalau nggak bisa kehujanan lagi kita, Dir,” kata Farrel padaku.
Saat ini kami tengah makan malam di sebuah restoran cepat saji. Aku dan Farrel duduk di dekat jendela kaca, sehingga kami bisa melihat lalu lintas kendaraan serta guyuran hujan dengan jelas.
Kami berbincang berbagai hal, sampai akhirnya, entah mengapa mulutku begitu gatal menanyakan sesuatu hal.

“Rel, omong-omong, gak apa ya kalau aku sering kamu anter terus kalau pulang sekolah? Aku ngerasa nggak enak,”
“Nggak apa lah, Dir. Emang kenapa?”
“Ya nggak enak aja. Apalagi sekarang. Kamu baik banget ngajak aku keluar,”
“Ya.. soalnya kamu mau ya nggak apa,” jawab Farrel sambil meringis.
“Kalau seandainya aku nggak mau gitu kamu mau apa?”
“Ya datang lagi ke kamu di hari lain,”
“Niat banget,”
“Aku ke kamu mau kayak hujan, Dir.”
“Hah? Hujan?”
“Iya. Hujan. Tetap datang walaupun tahu rasanya jatuh berkali-kali,”
“Gombal ah,”
“Dan kamu bisa kayak Dora buat nolak tawaran dan kedatanganku. Nyanyi aja, ‘Hujan hujan pergilah, datanglah lain hari’,”
Lalu kami tertawa.

Sejak hari itu, entah mengapa, mendadak hubunganku dengan Farrel merenggang. Kami jarang berkomunikasi lagi, dan ia juga jarang menemuiku lagi. Sampai akhirnya, aku mendapat kabar kalau sekarang Farrel menjalin hubungan dengan salah seorang anak kelas sebelah.
Tentu saja hatiku ngilu mendengarnya. Apalagi, saat pulang, aku mendapatinya pulang bersama gadis barunya itu sambil bercengkrama ria seperti yang ia lakukan padaku dulu. Hujan turun deras lagi hari ini, dan kali ini, aku tahu takkan ada yang menawariku pulang bersama seperti dulu.
Padahal, dulu ia bilang akan seperti hujan untukku. Tetap datang meskipun tahu rasanya jatuh berkali-kali. Sekarang, mana?
Pikiranku begitu kalut. Sampai akhirnya, hujan mulai mereda, lalu berhenti.

Ah, aku lupa. Meskipun hujan jatuh berkali-kali, ia juga bisa pergi dan berhenti membasahi bumi. Seperti Farrel. Lagipula, ia pasti hanya menganggapku sebatas teman dekat saat itu. Aku yang terlalu berharap.
Tapi dari semuanya, barangkali kita semua perlu untuk tidak percaya dengan segala bentuk rayuan pria.

Cerpen Karangan: Farra M
Blog: www.farramaghfiroh.blogspot.com

Cerpen Janji Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Broken Heart Twice

Oleh:
Hari ini aku pulang dengan membawa tanda tanya besar di kepalaku. Tanda tanya yang selama ini memenuhi kepalaku. Setelah meletakkan tasku di atas ranjang kecilku. Aku langsung menutup pintu

Email Misterius (Part 1)

Oleh:
Rian, adalah sosok kekasih hangat yang sangat ku cintai. Berawal dari perkenalan saat satu kelas dulu dan menjadikan kami dekat namun saat ini kami sudah lulus dan Rian kuliah

Di Ambang Ramadhan

Oleh:
Allahhu akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar Hari ini terakhir ramadhan, esok sudah tiba lebaran. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru desa. Tak beda dengan masjid yang satu ini, aku

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Semuanya berawal dari persahabatanku dengan Sindy sejak kami SMP sampai sekarang kami berdua sudah masuk SMA. Walaupun kami berdua tidak satu kelas tetapi kami sering bertemu pada saat bel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *