Janji Yang Terucap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Aku menunggu di kesunyian waktu. Tepatnya dimana kau berjanji kita akan bertemu. Detik demi menit, menit demi jam telah berlalu aku duduk di atas kursi taman yang berwarna putih. Gelisah hati ini, melihat jam di tangan kananku yang terus berputar melewati angka 12.

Kulirik handphoneku, berharap kau memberi kabar kepada kekasihmu ini. Hati semakin tak tenang, banyak pertanyaan di dalam pikiranku “Ravy? Ravy? Di mana kau?”, seakan-akan pikiranku pecah dengan namanya dan membuatku resah. Kucoba perlahan-lahan kutekan contact di handphoneku RavyLOVE. Beberapa kali kucoba, ternyata handphonenya tidak aktif, dan yang kudengar hanyalah suara operator.

Hati ini mulai kacau, apa yang ada di pikiranku kali ini? Antara ketakutan dan curiga menyelimuti diriku. Takut? Iya, takut terjadi apa-apa padanya. Curiga? Iya, curiga ini karena ketakutan diriku kehilangannya.

Aku mulai mondar-mandir melewati dan memutari meja yang beralaskan kain berwarna merah itu. Cuaca semakin malam, semakin dingin. Perlahan-lahan udara ini menusuk tulang rusukku.
“Tutt…tutt…”, suara handphone bergetar. Langsung sigap ku baca pesannya, dan ternyata pesan itu dari seseorang yang kutunggu dari jam 5 sore.
“Rina sayang, maaf sekali aku tidak bisa menempati janjiku kepadamu karena ada pekerjaan yang harus segera kukerjakan. Love you Rina”
Hatiku pun terjatuh membacanya, “Bisa-bisanya kamu membatalkan janjimu? Mengapa baru bilang sekarang, setelah kau memberikan harapan yang tak pasti dan membiarkanku menunggumu sendirian di sini?”, balasku.
Teganya dirimu vy, tapi aku tahu mungkin kamu sedang sibuk dan aku mengertinya, tetapi mengapa kamu membiarkanku menunggu dan baru setelah berjam-jam kamu baru menngabariku? Oh Tuhan, tapi aku berpikir positif, mungkin Allah tidak menghendakinya.

Aku pun pulang, dengan air mata kekecewaan. Ravy seorang sosok yang sangat ku percaya. Dia telah membuat hatiku seperti tak ada kegairahan lagi, kecewa. Aku melaju dengan taksi. Di sana aku tak tahu, sengaja atau tidak sengaja, Diriku tercengang tak menduga semua itu. Mata ini tak salah melihat seorang Ravy yang sedang dinner dengan seorang wanita cantik berambut panjang dengan gaun berwarna merah muda yang dikenakannya. “Stop!!!” teriakku. Taksi yang kutumpangi pun berhenti di seberang cafe itu.

Segera ku keluar dari mobil berwarna biru ini, dan kuinjakkan kaki kananku di atas jalan aspal dengan tergesa-gesa ingin memastikan semua kebenarannya. Dengan hati yang kecewa olehnya, dan mata pun tak bisa salah, ia memang Ravy yang kulihat dari kaca mobil tadi.

“Ravy!!!”, segera ku memanggilnya.
“Ri… Ri.. Rinaa”, jawabnya dengan mata melotot seakan-akan tak menduganya.
“Oh jadi ini pekerjaanmu yang penting itu? Aku kecewa kepadamu. Tak percaya Ravy yang kukenal seperti ini, berkhianat dan janjinya hanya ucapan saja.” Ucapku kesal dengan air mata kemarahan yang tak bisa kupendam.
“Aku bisa jelaskan!”, jawabnya untuk menenangkan suasana.
“Siapa dia sayang?”, ucap sosok wanita di sampingnya.
“Aku pacarnya. Gak ada yang harus kau jelaskan. Semua kejadian ini sudah memberikan jawabannya. Hubungan ini harus diakhiri!”, ucapku dengan mata yang penuh kekecewaan, sakit dikhianati, semuanya menyatu menjadi kemarahan.

Aku segera meninggalkan tempat itu. Aku tak bisa membohongi perasaan ini. Sakit rasanya, benci dan kecewa. Diriku seakan bodoh, percaya kepada orang yang hanya bisa menyakitiku dan membalas kepercayaanku ini dengan kebohongan belaka.

Aku pun terbangun, dengan jam yang telah menunjukkan angka 7. Dan Aku pun berpikir bahwa tak bagus menyimpan harapan lebih dari seseorang, karena pada dasarnya kenyataan terkadang tak sesuai harapan.

Cerpen Karangan: Enis Nistriani
Facebook: niezz.girlleotheaa[-at-]facebook.com

Cerpen Janji Yang Terucap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tali Sepatu

Oleh:
Boja, Musim Kemarau 2005 Pemuda itu melepas tali sepatunya. Tak lama setelah ia berhasil, ia memasang kembali tali sepatu itu, kemudian ia lepaskan lagi, dan ia pasang lagi. Aku

Tak Seindah Yang Nampak

Oleh:
Di dalam sebuah foto yang bergantung di dinding, aku melihat wajah Doni. Tampan dan misterius. Di dalam foto berbingkai cokelat itu, aku tak melihat ada senyum di wajah Doni.

Ketika Senja Datang

Oleh:
Kasih. Telah kuterima pesan walimah darimu. Telah ku baca dengan kerapuhan jiwa tiada daya. Telah ku ucapkan “aku turut bahagia” meski tersimpan dusta lara. Kasih.. Telah kau ajarkan mencinta

Kenangan Indah Sulit Dilupakan

Oleh:
Libur pun telah tiba, aku merindukan semua teman-teman sekolahku dan termasuk dia. Hari kedua, ketiga aku bete di rumah tanpa ada hiburan apapun hanya ditemani oleh keluargaku dan handphone

Menunggu Senja Di Terminal Giwangan

Oleh:
Sebelum pukul 07.00, aku telah bergegas menuju kampus, aku berjalan menuju halte trans jogja tak jauh dari rumah kost tempat aku tinggal. Selama beberapa menit kemudian, sebuah bus berwarna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *