Jauh Semakin Jauh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 December 2015

Ingatkah kamu di saat menggengam erat tanganku, mengucapkan janji cinta mengutarakan maksud dan niat sucimu untuk meminangku. Katakan bahwa itu nyata, bukan hanya sekedar angan belaka. Lalu, cinta apa yang kau persembahkan padaku jika hanya menggoreskan luka sepedih ini? Aku masih terdiam merenung beberapa saat, sampai sesekali melihat dan mengusap dengan lembut cincin bertahtakan berlian ini. Di sini, di tempat ini tepatnya di sebuah danau berairkan hijau gelap aku biasa menghabiskan waktuku seharian hanya untuk merenung dan berpikir. Angin semilir pun, tak menggoyahkan peraduanku di sore ini. Ku putuskan untuk beberapa jam lagi berada di sini.

Apakah kau di sana memikirkaan aku kasih? Akankah kau datang untuk mencariku? apakah cinta ini hanya aku yang rasa? Mengapa kau pergi di saat aku benar-benar yakin untuk memilikimu? Jika waktu bisa terulang kembali, aku mungkin tak akan menerimamu pada saat itu. Ah! sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lembek dan berair tak mungkin menjadi keras kembali. Aku anggap ini semua salahku yang begitu saja mudah percaya dengan omongan lelaki masa kini. Tapi, apa aku harus kembali pada masa tahun 80-an untuk mendapatkan laki-laki yang benar-benar menyangiku? hm, Impossible. Dia katanya yang dulu, rela mati demi aku. Toh, sekarang rela pergi demi wanita lain. Dan mengumbar janji cinta untuk kesekian kalinya. Entah, ini hanya cobaan atau memang karma tapi tolong lepaskan aku dari bayang-banyangnya.

Pelan tapi pasti, pandanganku mulai menggelap. Seperti pergantian pemain. Tempat ini yang tadinya disinari matahari sekarang telah disinari oleh rembulan yang tampak malu menyinari bumi. Sudah berjam-jam aku berada di sini, dan mengabaikan perutku yang sedari tadi meronta minta diisi. Oke fine ku putuskan untuk meninggalkan tempat ini, dan mencari tempat makan di sekitar danau. Beberapa menit aku berjalan, akhirnya aku menemukan penjual bubur ayam, entah ini sebuah keberingasan atau memang lapar tapi aku menghabiskan kurang lebih 3 mangkuk bubur.

Setelah selesai mengisi lambung, aku memutuskan untuk segera pulang, aku ringan berjalan menghampiri mobilku yang sejak sore tadi terparkir di bawah pohon beringin nan besar. TUKK! TUKK! TUKK! bunyi ketukan terdengar dari dalam tasku, percayalah kalau itu bukan bunyi ketukan pintu melainkan pertanda jika ada sms masuk dari handphone-ku.
“My BoyFriend” tulisan itu jelas sekali tertera di layar kaca handphone-ku. Astaga demi apa dia mengirimkan sms kepadaku, setelah 2 bulan dia tak memberikan kabar apa-apa.

“Kamu di mana sekarang? Tolong temuin aku di dermaga tempat kita pertama kali pertama bertemu” katanya singkat.
Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas menuju dermaga yang berada tepat di belakang rumah Neneknya. Dag, dig, dug, bunyi detak jantung itu jelas sekali terasa. Sekitar 15 menit berada di jalanan ibu kota, akhirnya tiba pada suatu tempat yang sangat tak asing buatku, yaitu dermaga merah yang jauh menjorok ke tepi laut. Aku melihatnya di sana, sendiri merenung entah apa yang dia pikirkan pada saat itu. Aku mendekatinya, perlahan dekat dan semakin dekat.

“Kamu ke mana selama ini?” Tanyaku pelan.
“Maaf, untuk beberapa bulan terakhir ini kalau aku gak ngabari kamu tentang keadaan aku.”
“Oke, tapi alasannya kenapa?
“Aku akan menikah!”
“Hah! menikah dengan siapa?” tanganku sontak membalikkan badannya ke hadapanku.
“Dengan wanita yang sudah aku hamili.” wajahnya muram, serta matanya mulai berkaca-kaca.

Jedeerrr!! Bagaikanada petir, yang langsung menyambar tubuhku. Antara percaya dengan tidak, aku berusaha mencerna apa yang ia katakan pada saat itu.
“Kamu, kok tega?”
“Maafin aku, Din. Maafin aku. Padahal dulu aku cuma main-main”
“Main-main apa? Main-main kalau kamu cuma melamar aku, iya?
“Bukan, tapi main-main kalau aku tidur sama wanita itu.”

PLAKK!! Sebuah, tamparan mendarat tepat di pipi laki-laki ber*ngsek itu.
“Main-main katamu? Kalau kamu ngelakuin hal itu, jelas kamu sudah tahu resikonya Dimas. Apa aku juga termaksud dalam list cewek yang kamu mainin? Iya?! Untuk apa janji 3 bulan yang lalu haa?! Untuk apa?!”
“Maaf, beribu-ribu maaaf Din, kalau sama kamu, aku benar-benar serius. Kalau nggak, gak mungkin aku berani ngelamar kamu. Aku khilaf ngelakuin itu, dia itu mantan yang masih ngejar-ngejar aku.”

Aku kembali terdiam.
“Jadi, kita akhiri hubungan kita sampai di sini ya Dina, sekali lagi maafin aku. Aku yakin kamu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih-lebih baik ketimbang aku. Aku cuma laki-laki bejat, yang gak tahu arti cinta dan kasih sayang sesungguhnya.”
Bibirku lantas masih mengatup, tanda tak ingin bicara. Aku melepaskan cincin pemberiannya, lalu pergi dari hadapannya. Membiarkan dia berdiri sendiri di tepi dermaga itu, ku menghela napas panjang. Serta menagis sejadi-jadinya.

Cerpen Karangan: Eka Yunita Rahayu

Cerpen Jauh Semakin Jauh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry, Gak Galau Lagi

Oleh:
“Ah.. aku bisa gila.. aku bisa gila!” Ucapku sendiri dalam hati seraya memegangi kepalaku. Kenapa wajah pria itu selalu menghantuiku. Senyumnya, kenapa senyumnya ada di mana-mana. Ada apa denganku!

Kita

Oleh:
Aku duduk termenung di atas sebuah kursi di teras kamarku. Menatap bintang dan bulan, berharap mereka mengerti perasaanku yang tak menentu. Ya, sangat tak menentu. Beberapa bulan lalu aku

Antara Resa dan Resi

Oleh:
Siang menjelang, seperti biasa Resa dan Resi kedua saudara kembar ini mengisi waktu luang mereka bersama anak-anak di masjid tidak jauh dari rumah mereka. Namun, keadaan berubah saat dusun

Mantanku Tercinta

Oleh:
Namaku Nadia aku duduk di bangku SMP, yah kebetulan kelas 9. Aku punya sahabat namanya Dewi, dan Anisa. Awalnya aku polos gak tau apa apa, bahkan yang namanya cowok

Cinta Berujung Persahabatan

Oleh:
Aku sudah mulai nyaman dengan Alfin dia adalah teman satu kelasku. Wajahnya bisa dibilang pas-pasan tetapi aku sangat nyaman padanya. Aku sering bercanda dengan dia dan suatu hari entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *