Jingga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 28 March 2018

Kampusku tidak pernah menyisakan ruang untuk jiwa beristirahat. Langit kota yang telah sesak dengan angan ribuan mahasiswa melamun di siang bolong, akhirnya menghembuskan napas panjang. Angin membelai jutaan rambut dan punggung, menyadarkan setiap perasaan, kecuali aku.

Gubahan rumus di papan tulis maupun alunan kapur yang memerkosa telinga tidak mampu mengalihkan pikiranku yang bercampur antara hijau, biru, merah, dan ungu; seperti lambung naik mendesak paru-paru dan jantung meronta ingin keluar. Ini adalah saatnya. Kugenggam secarik kertas berisi coretan samar yang telah kucoret ratusan kali sambil komat kamit memanjatkan doa. Pak Bandi bak Jack Sparrow yang menceritakan letak pulau-pulau geometris di perairan Euclid, sedang kau asik mencatat rapi, menyisakan punggung untukku yang diam-diam mencuri pandang.

Aku terlampau gugup sampai tidak menyadari kelas yang sudah berakhir.

“Nulis puisi lagi?” Wajah tirusmu itu muncul di hadapanku begitu saja. Membuatku ingin memuntahkan merah muda yang meledak di ulu hatiku.
“Hah? Ng… iya.” Buru-buru aku lipat kertas itu dan kujejalkan ke dalam saku.
“Habis ini ke mana?”
“Rapat. Mau pulang bareng nggak?”
Harap-harap cemas, aku menelisik wajahmu yang sedikit berkeringat.
“Wah, kayaknya nggak bisa. Aku ke tempat biasa. Ada yang baru nih, hehehe.”
Lesung pipi tercetak jelas di samping tawamu, menari di samping kumis tipis yang tidak tercukur rapi. Tak kuasa menahan diri, aku tersenyum simpul. Mungkin tidak hari ini.

“Novel baru? Oke, SMS saja kalau ada apa-apa ya.”
“Iya. Aku pergi duluan. Hati-hati!”
“Jangan lupa kerjakan PR…”
Punggungmu bergerak menjauh, berpendar di bawah lampu koridor yang tidak pernah padam.

Malang terbakar terik.
Baru kali ini aku menyesal tidak menuruti omelan ibu. Botol sunblock kuning oranye itu sengaja kutinggalkan di rumah, tergeletak di kamar. Sekarang, aku hanya bermodalkan segelas pasrah dan dua sendok makian -dalam porsi racikan jus pisang.

Setelah berjalan lima ratus meter di setapak berbatu, sebuah pintu mahogani menyambutku. Rumah tua itu bernuansa cokelat muda, dengan dipan kayu tersusun rapi di teras. Wangi lemari dan kopi begitu kental mendominasi perpustakaan kecil ini.

Aku, tanpa prasangka, melangkahkan sepatu lusuhku ke dalam.

“Cari buku apa, mbak?” Denting sapa berlogat jawa kental membuatku tergelitik -asing, sekaligus rindu.
“Ah, belum tahu. Saya cari-cari dulu ya, mbak.”
Sang penjaga mengacungkan jempol sambil tersenyum manis.

Usai serangkaian proses registrasi, aku berbelok ke sebelah kanan, menghampiri petak nostalgia. Puluhan judul kubaca seksama, sambil sesekali merapikan tas selempang yang bertekad kuat untuk turun ke siku, menarik kerudung jinggaku. Aku pun bergeser dua langkah, meninggalkan bilik romansa yang sebagian besar, ternyata, sudah pernah kubaca.

Novel fantasi.

Lebih dari setengah jam kuhabiskan bolak balik mengambil novel -membaca sinopsis- -meresapi nuansa sampul- -lalu mengembalikannya lagi. Akhirnya, lelah, aku mundur beberapa langkah, meregangkan leher.

Kiri, kanan… dan aku tertegun.

Senja itu, lembayung terlihat jelas dari sela daun jendela. Jatuh di atas siluet seorang pria yang tenggelam dalam dunia fiksinya, bersama segenggam buku dan cangkir beserta kepul uapnya.
Sudah sekian ribu kali senja berlabuh di pelupuk mataku.
Ini adalah yang paling indah.

Bisa kurasakan warna-warna yang bercampur di dalam telah memudar, berganti hijau samar yang melambatkan debar jantungku.

Aku berjalan santai melewati pilar-pilar muram di antara gedung fakultas. Atap yang tinggi menyediakan tempat untuk dingin bersemayam, menyapa rambutku yang berkibar diterpa sejuk. Kolam di seberang jalan berpendar di bawah matahari yang menyala dengan sombongnya, mengingatkanku akan perjumpaan pertama kita.

Kau memakai kemeja hitam dengan tas hijau kusam bertengger di punggung kanan. Di saat orang lain sibuk mengenal dan ingin dikenal, kau hanya diam memerhatikan. Seperti bulan di pagi hari, indah tanpa kentara. Aku mendekat, setengah kasihan.

Kau datang dari sebuah kota yang selalu sejuk. Aku yang tidak pernah pergi dari lingkup kecil ini seperti menemukan tong besar berisi campuran warna yang mengendap, menungguku untuk mencelupkan kuas dan menjatuhkannya di atas kanvasku yang bermandikan monokrom -menggambarkan pelangi di atas jutaan teorema yang bertumpuk di kepalaku.

Sering sekali kau mengeluh kepanasan. Aku tertawa. Lalu kau bandingkan pepohonan kecil di kota ini dengan juntaian tinggi di dekat sekolah lamamu. Kemudian aku mencibir sambil mencatat biru dan kuning berpendar di matamu yang rindu pulang, dalam ingatan.

“Al! Melamun?” Sang ketua menagih rapat yang belum juga kuhampiri.

Aku setengah berlari, membiarkan rona merah berjatuhan dari kedua pipiku.

Langsung kusambar novel bersampul biru di hadapanku, lalu melihat sekeliling dengan seksama. Banyak ruang kosong, namun belum ada yang tepat… Ah! Ya. Tujuh meter di hadapannya, sebuah bangku rotan menanti.

Aku duduk sambil senyum-senyum sendiri.

Sampul buku yang ia baca tidak kelihatan, tapi sepertinya menarik.
Terlalu menarik sampai alisnya berkerut, lalu matanya meredup di halaman berikutnya. Mungkin si tokoh utama patah hati, atau kalah di pertempuran -tak jadi masalah. Yang penting, setelah lima menit berselang, tetiba ia terpingkal. Cangkir kopinya tersenggol sampai ke ujung meja.

Aku hampir tertawa, jika tidak ingat sedang mengintai dari ujung mataku yang pura-pura membaca.

Kebijakan pemerintah menutup setiap gerbang telah menimbulkan gejolak. Sebagian mencurigai doktrin yang ditiupkan ke penjuru gedung perlahan, seperti angin kemarau yang melipur lara tapi diam-diam membawa benih penyakit.

Sebagian lainnya mengangkat pengalihan isu mengenai bengkaknya anggaran yang dipakai untuk membuat kalung emas berliontin perak yang disematkan di leher raksasa yang hidup di dalam gedung bertingkat lima.

Kepalaku berdenyut cokelat hijau mendengar argumen kosong para pejabat kampus yang belum mandi entah berapa hari, sedikit muak. Tiba-tiba saja, ponselku bergetar. Sebuah nama tertera di layar.

Peningku memudar seketika.

Al, bisa temani aku? (Kau pasti sudah bosan di sana kan? Hehe)

Segera kusambar ranselku, melesat pergi.

Sekitar tiga puluh menit aku membaca, tak juga beranjak dari bab pertama. Kemeja kotak-kotak dan rambut keriting kecokelatan itu membuat konsentrasiku musnah, terbang bersama debu diterpa angin. Bosan, aku menghampiri kantin kecil di sayap kanan. Aku semakin menyukai tempat ini, surga bagi siapapun yang ingin mengasingkan diri dengan satu buku tebal dan setumpuk camilan.

“Bu, pisang goreng satu, ya! Nuhun… Eh, terima kasih.”

Grogi, aku melangkah mundur. Keputusan pintar untuk tidak melihat ke belakang mengantarkan kakiku pada ujung bangku.
Aku sukses tersandung, dengan suara gesekan kayu dan lantai yang memancing semua mata tertuju padaku. Perih aku menanggung malu.

Saat duduk, kulihat ia terkekeh padahal bukunya tergeletak di meja.

‘Aduh, dia menertawakanku? Habislah sudah!’

Wajahku terasa panas, seperti tiga potong pisang yang tertata manis di piring.

Aku menyeka keringat yang terus mengalir meskipun jemariku terasa dingin. Secarik itu kubaca lagi, lagi, dan lagi sambil menunggu pak supir menginjak rem angkotnya di depan daerah yang kutuju.
Sesungguhnya, aku tak pernah yakin apakah kau harus mengetahui perasaanku. Tapi, sudahlah. Mungkin ini saatnya.

“Kiri, Pak!”

Setiap langkah seakan menyumpalkan belasan warna ke dalam lambung, membuatku mual.

Langit menanggalkan petang.

Aku bersumpah untuk tidak lagi melihat ke depan. Harapanku sirna ketika aksi bodohku tadi ditertawakan. Namun, tak bisa kutahan rasa ingin tahuku saat seseorang berambut hitam sebahu mendekat pada si pria keriting dengan santai, lalu duduk di hadapannya. Perawakannya langsing ideal, dengan kharisma yang tidak sampai hati lidahku menjelaskannya. Mereka berbincang hangat sambil sesekali tertawa.

Ada kedekatan yang begitu pekat. Tanpa alasan yang jelas, aku tak suka melihatnya.

Kau sedang berkutat dengan novel sastra ketika aku menghampiri mejamu. Dekat jendela, seperti biasa. Kau nyengir ketika tengadah melihatku.

“Nggak apa-apa kan, Al, kamu ke sini?”

Sebenarnya, kami sedang membicarakan strategi demo besar-besaran besok. Mungkin akan terjadi kericuhan, akibat kebijakan membekukan seluruh kegiatan sejak lima tahun yang lalu. Ratusan, bahkan ribuan massa akan ikut turun memboikot si raksasa yang berlindung di balik kawanan berloreng. Desas desus beredar bahwa kami memerlukan senjata untuk berjaga-jaga, bahkan siap kehilangan nyawa.

“Rapat ndak penting kok. Ada apa, Gi?”

Aku tak akan berterus terang. Kau pasti
menolak mentah-mentah rencana kami untuk menyuarakan kegelisahaan ini. Meskipun matamu tajam dan bahasamu lugas, hatimu bak Cinderella. Kau akan memilih diam asalkan semua tetap aman. Aman dengan kebohongannya.

“Pengen aja ditemenin, hehehe. Maaf ya.”

Untuk ini, meninggalkan kabinet sekalipun, aku rela. Astaga, sejak kapan aku menjadi budak sebuah ironi bernama cinta-cintaan?

Aku mengeluarkan kertas rompal dari
saku. Membuka dan merapikan lipatannya, ragu-ragu.

“Itu puisi yang tadi?” Tanyamu yang ternyata memerhatikan.
“Iya…”
‘Aku membuat puisi ini untukmu.’
Lidahku kelu. Gumpalan hitam bersemayam di pangkal tenggorokan, mencekik dari dalam. Rasanya seperti akan mati saja.

“Al?”
“Um… Nugi, ini…”
“Kau lihat gadis di bangku sebelah sana?” Wajahmu merona.
“…?” Aku tercekat.
“Aduh, bagaimana ya. Aku tadi dengar dia bicara, sepertinya dari daerahku. Tapi, dia berkerudung. Aktivis partai?”
Matamu berbinar jingga, seperti jilbabnya.
“Eh.. Aku tidak tahu.”
“Ayolah… kau paling jeli tentang hal seperti itu. Paling pintar menilai wanita pula. Menurutmu, bagaimana?”

Detik itu, aku adalah debu yang hinggap di pundakmu, merasakan degup jantungmu yang naik turun dengan cepatnya. Menyatu dengan partikel parfum yang tertutup wangi lembaran buku lama, sesaat sebelum hanyut ke atas langit -menuju tiada.

“Sepertinya dia bukan aktivis. Sepertinya kalian cocok..”

Sebelum malam larut aku bersiap pulang. Kutandai bab enam yang belum selesai dengan kertas kuning, lalu mengembalikannya ke dalam rak. Mungkin besok aku akan mampir, melanjutkan petualangan yang terhenti, sambil setengah berharap bertemu dengan si pria keriting itu lagi.

“Mbak, saya duluan ya.”
“Ya, hati-hati mbak Putri!”

Belum sepuluh langkah berlalu ketika seseorang menepuk bahuku. Aku berbalik.
“Teh, dari Jawa Barat ya? Boleh kenalan? Saya Nugi.”
Ia menyodorkan tangannya sambil tersenyum sopan. Lesung pipi tercetak jelas di bawah matanya yang menyipit ramah. Rambutnya keriting berantakan.
Aku tersenyum.

Langit malam ini cerah bertaburkan jutaan bintang, hangat mendekap hatiku.


Siluet punggungmu yang berjalan di sampingnya, putri jingga idamanmu, hilang ditelan gelap jalan setapak.
Tidak bisa kusalahkan Tuhan atas penantian yang sia-sia ini.

Tidak lama, sebuah pesan tertera di ponselku.

‘Big thanks, Aldo. Maaf aku pergi duluan.’

Aku tertawa, tak tahu sebabnya. Besok, aku siap pergi tanpa takut kehilangan apa-apa.
Kulipat secarik perasaanku, menyimpannya dalam saku -entah sampai kapan.

Cerpen Karangan: Wedyata Larasartika
Blog: butweareallaliens.blogspot.co.id

Cerpen Jingga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahkah Dengan Cinta

Oleh:
Kasih … Aku mengenalmu tanpa sengaja. Menjalani kebersamaan, hingga Allah menanamkan benih cinta yang belum tepat waktunya, untuk menguji keimanan kita. Hingga kita terlena akan hakikat cinta tersebut. Memaknai

Aku Sudah Lulus

Oleh:
Pekik kegirangan membahana di tiap sudut sekolahku. Aku hanya bisa melihat kebahagiaan dalam tiap jengkalnya. Tawa dan peluk yang akrab ada dimana-mana. Jadi, hari ini memang hari kelulusan kami!

Awal Yang Salah

Oleh:
Kisah ini berawal dari pesan singkat yang dikirim temanku atas nama kakak kelasku yang sebelumnya tak aku kenal, mungkin ini konyol, tapi inilah yang aku rasakan, perasaan yang sebelumnya

Pagi, Maaf Kuselingkuh Dengan Hujan

Oleh:
Dulu, aku cukup setia menyukai pagi. Wujud harapan baru yang mendekap hangat setelah gelap. Ia tak pernah ingkar janji untuk datang. Tapi, setiaku runtuh sebab aku mulai selingkuh karenamu.

Puisi Untuknya

Oleh:
Suasana laboratorium sangat terlihat ricuh, para laboran sibuk menganalisis bahan-bahan pangan. Begitu juga dengan laboran cantik nan anggun, dia terlihat sangat nyaman dan tenang menggeluti pekerjaannya itu. Orang-orang sering

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *