Kamu, Dia dan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Rintikan hujan mengiringi langkahku, hanya ada aku dan bayangan aku pulang ke kosan yang tidak jauh dari tempat kerjaku.

“De, hati-hati ya” Ucap lelaki itu sembari menepuk pundakku.

Aku diam mematung tak terasa tetesan air mata jatuh membasahi pipiku.

“De, aih nangis?” Ucapnya lagi sembari melihat wajahku yang murung.

“Nanti kakak yang bilang sama Aldi” Ucapnya seolah memberi titik harapan.

“Aley?” Sapaku lalu ia menengok dan menghentikan langkahnya.

“Apo?” Tanyanya.

“Gak usah, aku baik-baik saja” Jawabku lalu pergi melewati parkiran belakang.

“ya wis” Ucapnya melihatku berlalu.

Siang hari aku berdiri mematung mataku terpaku pada eksalator, sedang apa Aldi? Biasanya jam segini aku membawakan nasi dan ikan teri kesukaannya. Tanyaku dalam hati.

“Nyil udah gak usah dipikirin, aku mau ke atas ngasiin nota ke toko Aldi” Jelasnya, lalu aku memeluk fey sahabatku.

“Aku gak bisa diem kayak gini” Ucapku terisak tangis.

“Mela!” Bentak kepala toko lalu menghampiriku menatapku tajam

“Iya Pak” Aku menundukkan kepala.

“Kerja yang bener! Mikirin Aldi kerja kamu nol besar gada hasilnya, jangan salahin saya kalo Bos tau kinerja kamu kayak gini!” Jelas kepala toko.

“Maaf Pak” aku meneteskan air mata, dadaku terasa sesak.

“Hay fans aduh udah deh tante gak usah mikirin A Aldi, tuh liat Aldi lagi PDKT sama Fey haha kasian banget sih dikhianatin sama batur dewek” Celoteh Putri anak baru yang cerewet.

Apakah kecurigaanku benar tentang kedekatan Fey dan Aldi?

“Fey lama banget sih ngapain aja?” Tanyaku penasaran.

“Lucu tadi A Aldi bikin ketawa HaHaHa” Ucapnya, aku hafal tingkah laku Aldi, dulu setelah ia putus dengan kasir cantik ia PDKT denganku dan betapa bodohnya aku menerima cintanya.

“Fey, parah kamu udah tau Teh Mel lagi sedih kamu malah ketawa-ketawa ceritain A Aldi” Jelas Ayu.

“Ora papa Yu, wis biasa” Ucapku lalu izin kepada kepala toko untuk sholat dzuhur. Aku menaikki eskalator tatapan kosong aku malah belok ke Toko yang dijaga oleh Aldi, dengan spontan aku menatap wajahnya, ia terlihat santai tanpa kesedihan sekalipun, tatapan mata itu seolah berbicara bahwa ia membenciku.

“Apa ira?” Tanyanya dengan nada tinggi.

“Biasa bae!” Ucapku, lalu segera pergi dengan mempercepat langkah kakiku.

Di setiap sujudku air mata berderaian, dalam do’a aku memohon petunjuk, aku lelah hidup dalam kesendirian, lelaki yang 11 bulan selalu mengertiku, merawatku, dan selalu menuruti keinginanku kini telah berubah karena pertengkaran kecil, perbedaan di antara kita yang membuat semua berakhir.

Aku kembali ke toko aku hanya menundukkan kepala aku menabrak lelaki dengan memakai jaket abu-abu sudah kuduga pasti Aley lagi, ia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri sekaligus sahabatnya Aldi aku bisa menanyakan kabar Aldi padanya, tetapi tidak sekarang.

“De senyum” Ucapnya sembari mencubit pipiku.
Aku hanya mengangguk.

Aley pergi menuju toko Lantai 2 ditemuinya Aldi yang tengah asik bermain game di ponselnya.

“Di, ira beneran putus sama mel?” Tanyanya penasaran.

“Ya, isun wis lako urusan karo Mela” Jelasnya.

“Terus?” Tanyanya lagi.

“Isun lagi PDKT karo Fey” Ucap Aldi tanpa rasa bersalah.

“Ya udah terserah situ” Ucapnya.

“Salahnya Mela yang nuduh kita bakal selingkuh karo Fey” Jelasnya.

“Paniang” Ucapnya sembari menggelengkan kepala. Lalu turun ke lantai dasar.

“De tunggu ya nanti jangan pulang dulu” jelasnya.

“Ano apo Bang?” Tanyaku penasaran.

“Ya tunggu aja De” Ucapnya dengan santai.

“Terus mau kemana sih Bang?” Tanyaku

“Mau nyari pitih” Ucapnya lalu menghampiri customer yang kiosnya di belakang tokoku.

Aku terdiam memikirkan apa itu pitih? Aku menghampiri Uda

“Uda mau nanya pitih itu apa?” Tanyaku dengan wajah polos.

“Duit itu” Jawabnya dengan logat yang membuatku tertawa terbahak-bahak.

Aku melihat Aldi lewat dan melihat ekspresiku dengan penuh kebencian, aku terdiam kembali dalam kegalauanku, Uda melirik ke arah Fey yang tersenyum begitu juga Aldi yang tersenyum kepada Fey, lesung pipi itu andai aku bisa memegangnya, Aldi aku masih mencintaimu.

Malam Tiba pukul 9 malam aku ketemu Aley di depan tokoku, saat itu hujan kembali membasahi tubuh mungilku, Aley menggandengku menuju parkiran atas, saat itu perasaanku mulai tak enak, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Aldi dan Fey saling bertatapan, aku dan Aley mengendap sembunyi di balik tembok yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Aku sayang sama kamu Fey, kamu mau kan jadi pacarku?” Tanyanya sembari mendekatkan wajahnya kepada Fey.

Fey hanya mengangguk lalu memeluk hangat Aldi.

Jangan ditanya bagaimana rasa kecewaku ketika Kamu dan Dia jadian, rasanya tidak adil untukku, aku lari meninggalkan Aley, aku lari menghampiri hujan.

Aley memanggil keras namaku sehingga terdengar oleh mereka tapi mereka tak menghiraukanku mereka menyalip langkahku dengan motor, aku hanya terpaku menatapnya hingga berlalu.

Adilkah ini tuhan? Aku sayang sama Aldi, dan aku tidak bisa menatap mata mereka dan tertawa bahagia seperti itu. Aku benci kamu Fey, penghianat! Makiku dalm hati.

Aku hanya memandang hujan dan berteriak menyebut nama “ALDI” Aley memelukku seolah ia mengerti apa yang saat ini aku rasakan.

Cerpen Karangan: Dita Annisa Wijaya
Facebook: Dita Annisa Wijaya

Cerpen Kamu, Dia dan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Jam 2 siang bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Begitupun aku dan Imink. Imink adalah sobatku dari pertama mulai sekolah di SMA ini. Dia

Secret Admirer

Oleh:
Aku selalu memperhatikanmu dari jauh, kepo tentang dirimu. Sangat ingin tau kau sedang apa, apakah kau baik-baik saja? Aku tak bisa menggapaimu, kau terlalu jauh untuk ku raih. Ingin

Bukan Permainan

Oleh:
“Hai angin bisakah kau berhembus kencang dan menerbangkan rasa sakit yang kini hinggap di hatiku? Atau bisakah kau mengatakan kepadaku apa kau bisa menghilangkan rasa sakit? Tolong… bawa semilir

Remah Remah Yang Tersisa

Oleh:
Siang ini, aku menepati janji bertemu dengan seorang teman, mahasiswi satu tingkat di bawahku, membahas tentang pengkaderan yang sudah di luar batas kewajaran. Seperti biasa, kantin kampus menjadi tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *